Oleh: Suhana
Peta perikanan global tahun 2021 (FishStat 2026) mencatat pencapaian luar biasa bagi sektor maritim nasional. Berdasarkan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia mengukuhkan posisinya di peringkat ketiga dunia dalam hal total produksi perikanan. Dengan angka produksi mencapai 12,66 juta ton, Indonesia berdiri kokoh tepat di bawah Tiongkok yang menghasilkan 64,15 juta ton dan India dengan 14,39 juta ton.
Angka 12,66 juta ton ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Angka ini mencerminkan betapa melimpahnya kekayaan laut dan potensi akuakultur (perikanan budidaya) yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Namun, jika kita melihat lebih jauh ke dalam struktur perdagangan internasional, muncul sebuah kontradiksi yang menyentil: Mengapa negara produsen raksasa seperti Indonesia belum mendominasi nilai ekspor perikanan global?
Data neraca bahan pangan perikanan (Food Balance) memberikan gambaran berharga. Dari total produksi 12,66 juta ton, Indonesia mengalokasikan sebanyak 11,36 juta ton untuk pasokan konsumsi dalam negeri (food availability) dan hanya mengekspor sekitar 1,38 juta ton. Sebaliknya, Tiongkok mampu mengekspor 7,32 juta ton, dan Vietnam yang produksinya di bawah Indonesia (8,27 juta ton) justru berhasil mengekspor hingga 2,78 juta ton.
Artinya, ada kesenjangan besar antara besarnya volume produksi dengan daya tembus produk perikanan lokal di pasar mancanegara. Bagi para pelaku usaha, pembudidaya, nelayan, hingga eksportir perikanan Indonesia, kondisi ini bukanlah alasan untuk berkecil hati. Sebaliknya, ini adalah sebuah panggilan kesadaran sekaligus peluang bisnis yang belum sepenuhnya tergarap.

Membaca Celah Impor Raksasa Global
Untuk memenangkan persaingan global, pelaku perikanan Indonesia harus jeli melihat ke mana arus impor dunia mengalir. Data FAO (FishStat 2026) memperlihatkan dua peta pasar utama yang sangat lapar akan pasokan perikanan dari luar negeri, yaitu Pertama, pasar negara maju dengan impor raksasa. Diantaranya, (1) Amerika Serikat (AS): Mengimpor lebih dari 6,28 juta ton produk perikanan saban tahun. Merekalah konsumen terbesar di dunia dari segi nilai dan volume impor; (2) Jepang: Mengimpor sebesar 3,33 juta ton produk perikanan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestiknya; dan (3) Uni Eropa (seperti Prancis dan Jerman): Negara-negara Eropa memiliki tingkat ketergantungan impor yang sangat tinggi. Jerman, misalnya, mengimpor lebih dari 1 juta ton produk perikanan karena produksi domestiknya yang sangat terbatas (hanya sekitar 240 ribu ton).
Kedua, celah pasar tetangga dekat (Regional), khususnya (1) Singapura: Negara tetangga terdekat Indonesia ini merupakan contoh paling ekstrem dari ketergantungan pangan. Dengan produksi lokal yang hanya sekitar 5,5 ribu ton, Singapura mengimpor hingga 313 ribu ton produk perikanan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk dan industri kuliner serta pariwisatanya; dan (2) Tiongkok: Meskipun Tiongkok adalah produsen terbesar di dunia (64,15 juta ton), mereka juga mengimpor hingga 5,07 juta ton perikanan setiap tahunnya. Tiongkok mengimpor bahan baku (raw material) bernilai tinggi untuk konsumsi lokal yang terus meningkat serta untuk kebutuhan industri pengolahan ulang (re-processing).
Baca juga: pasar-seafood-eropa-tantangan-komoditas-ekspor-ri
4 Hambatan Utama Eksportir Lokal
Mengapa produk kita sering kalah bersaing dari Vietnam atau India di pasar-pasar raksasa tersebut? Jika dibedah secara kritis, ada empat akar masalah utama yang sering menjadi batu sandungan bagi pelaku perikanan local, yaitu pertama, masalah rantai dingin (Cold Chain) dan mutu. Banyak hasil tangkapan nelayan atau panen pembudidaya mengalami penurunan mutu sebelum sampai ke pabrik pengolahan. Minimnya kesadaran penanganan pascapanen, keterbatasan fasilitas es di atas kapal nelayan kecil, serta belum meratanya infrastruktur cold storage bermutu tinggi di luar Pulau Jawa menyebabkan hilangnya kesegaran produk. Di pasar ekspor, penurunan mutu sekecil apa pun berarti penurunan harga atau bahkan penolakan total (rejection).
Kedua, ekspor bahan baku, lemah nilai tambah. Sebagian besar ekspor perikanan Indonesia masih didominasi oleh bahan baku mentah (raw/frozen whole) atau olahan primer berskala rendah. Kita belum maksimal menggarap produk bernilai tambah (value-added products), seperti produk siap masak (ready-to-cook), produk siap makan (ready-to-eat), fillet berkualitas premium, hingga produk sampingan (by-products).
Ketiga, hambatan standar ketat dan sertifikasi. Pasar tujuan utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang menetapkan standar keamanan pangan serta keberlanjutan yang sangat ketat. Persyaratan seperti sertifikasi keberlanjutan (misalnya MSC atau ASC), ketaatan terhadap aturan pencegahan pencemaran, jaminan bebas antibiotik/bahan kimia, serta ketertelusuran (traceability) kerap menjadi tembok tebal bagi UMKM perikanan yang hendak naik kelas menjadi eksportir.
Keempat, tingginya biaya logistik domestic. Infrastruktur logistik antarpulau di Indonesia masih menjadi tantangan efisiensi. Biaya pengiriman kontainer berpendingin (reefer container) dari kawasan timur Indonesia—wilayah dengan produksi tangkapan melimpah—menuju pelabuhan ekspor utama di bagian barat sering kali lebih mahal daripada biaya pengiriman dari pelabuhan ekspor ke negara tujuan di Asia atau Amerika.
Strategi Membongkar Celah Pasar
Lantas, bagaimana pengusaha lokal dan ekosistem perikanan nasional dapat merebut pangsa pasar yang ada? Berikut adalah strategi adaptif yang bisa diterapkan, diantaranya, pertama, bidik pasar jarak dekat dengan keunggulan kesejukan (Freshness). Pelaku UMKM perikanan di Sumatra, Batam, atau Kalimantan Barat tidak harus langsung mengincar pasar Amerika Serikat yang berjarak jauh dan berbiaya tinggi. Pasar Singapura dan Malaysia berada tepat di depan mata. Singapura mengimpor 313 ribu ton produk perikanan setiap tahunnya. Dengan jarak logistik yang pendek, pengusaha lokal dapat mengekspor produk perikanan hidup (live seafood) atau perikanan segar (chilled) yang memiliki margin keuntungan jauh lebih tinggi dibandingkan produk beku.
Kedua, fokus pada komoditas unggulan bernilai tinggi. Daripada mencoba mengekspor semua jenis ikan, pengusaha lokal sebaiknya berfokus pada komoditas yang memiliki permintaan stabil dan nilai tambah tinggi, seperti (1) Udang (Vannamei dan Windu): Pasar AS dan Jepang terus membutuhkan pasokan udang olahan yang bersih dari zat antibiotic; (2) Tuna, Cakalang, dan Tongkol: Pasar Eropa dan Jepang sangat menyukai produk tuna kualitas sashimi serta tuna olahan ramah lingkungan yang ditangkap dengan metode pancing tunggal (pole and line); (3) Cumi-cumi, Gurita, dan Sotong: Tiongkok dan kawasan Asia Timur merupakan pembeli aktif produk cephalopoda ini; dan (4) Ikan Hias dan Perikanan Budidaya Khas: Komoditas niche seperti ikan hias air tawar atau rumput laut olahan menawarkan ruang margin yang lebar.
Ketiga, garap ceruk pasar Non-Food Uses (Industri Non-Pangan). Data FAO menunjukkan bahwa dari total produksi dunia sebesar 182,05 juta ton, sebanyak 21,4 juta ton digunakan untuk kepentingan non-pangan (non-food uses). Ini mencakup industri pakan ternak/akuakultur (tepung dan minyak ikan), industri farmasi, kosmetik (kolagen dari sisik dan kulit ikan), hingga bahan baku industri olahan lanjutan. Pengusaha Indonesia belum banyak yang memanfaatkan limbah pengolahan ikan (fish waste) untuk diubah menjadi produk bernilai jual tinggi ini.
Keempat, perkuat ketertelusuran (traceability) dan digitalisasi. Konsumen global masa kini tidak hanya membeli rasa dan mutu pangan, tetapi juga membeli nilai keberlanjutan. Mereka ingin tahu dari mana ikan tersebut ditangkap, apakah metode penangkapannya merusak terumbu karang, atau apakah pembudidayaannya mencemari lingkungan. Integrasi teknologi digital dalam pencatatan rantai pasok (menggunakan QR code ketertelusuran) akan meningkatkan kepercayaan pembeli (buyers) luar negeri secara drastis.
Dus, posisi Indonesia sebagai produsen terbesar ke-3 di dunia dengan pasokan 12,66 juta ton adalah sebuah fondasi yang sangat kokoh. Namun, modal volume saja tidak lagi cukup untuk memenangkan pertarungan di era ekonomi maritim modern. Tantangan utama para pelaku usaha perikanan Indonesia hari ini adalah beralih dari pola pikir “sekadar menjual apa yang ditangkap/dipanen” menjadi “memproduksi apa yang dibutuhkan oleh pasar global.” Dengan perbaikan penanganan mutu rantai dingin, pemenuhan standar keberlanjutan, inovasi produk olahan bernilai tambah, serta pemanfaatan celah logistik regional seperti Singapura, produk perikanan Indonesia bukan hanya akan menjadi juara di kandang sendiri, tetapi juga mampu menguasai etalase kuliner laut dunia.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
