Pasar udang vaname (white shrimp) dunia sedang memasuki fase tekanan harga baru pada minggu ke-10 tahun 2026. Berdasarkan data pada laman seafood.media (2026) terlihat bahwa harga di beberapa negara produsen utama turun cukup tajam setelah berakhirnya musim liburan besar, terutama di Tiongkok dan Ekuador. Bagi pelaku usaha perikanan, khususnya di Indonesia, keadaan ini bisa terasa mengkhawatirkan, tetapi juga menyimpan peluang jika disikapi dengan strategi yang tepat.

Apa yang Terjadi di Pasar Global?

Menurut laporan UCN Global Farmed White Shrimp Price Index dalam seafood.media (2026), harga acuan udang vaname ukuran 60 ekor per kilogram (gabungan beberapa negara produsen besar: Tiongkok, Ekuador, India, Vietnam, Indonesia, dan Thailand) turun menjadi sekitar 3,55 dolar AS per kilogram pada minggu 2–8 Maret 2026. Angka ini berarti penurunan sekitar 5,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penyebab utamanya adalah perlambatan permintaan setelah musim libur besar seperti Tahun Baru Imlek dan musim konsumsi akhir tahun di berbagai negara. Pada periode itu, permintaan biasanya melonjak dan harga naik, tetapi setelahnya pasar memasuki masa “tenang” ketika konsumen dan importir mengurangi pembelian.

Baca juga: Mengapa udang Indonesia ditolak AS pada 2025?

Gambaran Per Negara Produsen Utama

Setiap negara produsen menghadapi situasi yang sedikit berbeda, meskipun trennya sama: harga cenderung melemah. Di Tiongkok, harga udang vaname ukuran 60 ekor per kilogram di Provinsi Guangdong turun lebih dari 10 persen. Di banyak daerah, harga jatuh di bawah 40 yuan per kilogram, atau sekitar 5,80 dolar AS. Menariknya, stok udang impor beku di pasar Tiongkok disebut sudah turun sekitar 70 persen, sehingga permintaan untuk mengisi kembali stok (restocking) mulai muncul.

Di Ekuador, salah satu eksportir udang terbesar dunia, harga di tingkat tambak (farm-gate) juga turun signifikan. Untuk ukuran 30–40 ekor per kilogram, harga turun sekitar 11 persen dalam sebulan menjadi 3,60 dolar AS per kilogram, sedangkan ukuran 20–30 ekor turun menjadi 4,50 dolar AS per kilogram. Ukuran yang lebih kecil seperti 50–60, 60–70, dan 70–80 ekor per kilogram juga mengalami penurunan hingga berada di kisaran 2,50–3,00 dolar AS per kilogram.

Di India, gambarnya lebih campuran. Di negara bagian Andhra Pradesh, harga ukuran besar (30 ekor per kilogram) justru naik sekitar 3 persen dari minggu sebelumnya, namun ukuran kecil hingga sedang turun 3–5 persen. Harga di tambak untuk ukuran 30 ekor per kilogram sekitar 515 rupee India (sekitar 5,68 dolar AS), sedangkan ukuran 60 ekor sekitar 330 rupee India (sekitar 3,64 dolar AS). India juga diperkirakan akan meningkatkan panen mulai April, dan memperoleh keuntungan tambahan dari penurunan tarif impor udang India ke Amerika Serikat.

Di Vietnam, setelah libur Tahun Baru Imlek, pabrik pengolahan melakukan pembelian lebih hati-hati, sementara ekspor berada di musim sepi. Akibatnya, hampir semua ukuran udang vaname turun 8–12 persen. Di Delta Mekong, harga ukuran 20 ekor per kilogram sekitar 195.000 dong Vietnam (sekitar 7,80 dolar AS), dan ukuran 30 ekor sekitar 143.000 dong Vietnam (sekitar 5,70 dolar AS).

Di Thailand, harga juga turun. Ukuran 70–80 ekor per kilogram turun sekitar 3,6 persen, sedangkan ukuran 60 ekor turun sekitar 1,7 persen. Secara tahunan, harga udang putih Thailand berada 11–17 persen lebih rendah dibanding tahun lalu, dan jarak harga dengan India dan Indonesia makin mengecil.

Di Indonesia, situasinya relatif lebih stabil. Harga udang vaname bahkan sedikit naik untuk ukuran 30–50 ekor per kilogram, yakni sekitar 1–3 persen, sedangkan ukuran 60 ekor per kilogram cenderung tetap. Produksi udang vaname diperkirakan meningkat pada Maret untuk ukuran 60–70 ekor, dan ukuran 40 ekor akan naik pada April.

Apa Artinya bagi Pasar dan Harga?

Secara umum, data ini menggambarkan kondisi kelebihan pasokan relatif terhadap permintaan jangka pendek setelah musim liburan. Ketika panen tetap berjalan, sementara pembeli menahan diri, harga wajar jika tertekan. Namun, stok yang sudah menyusut di pasar besar seperti Tiongkok membuka kemungkinan permintaan akan kembali meningkat untuk mengisi gudang. Di sisi lain, rencana peningkatan produksi di India dan Indonesia, serta pemulihan aktivitas ekspor di Vietnam dan Thailand, bisa menimbulkan gelombang pasokan baru dalam beberapa bulan ke depan. Artinya, setelah fase penurunan harga pasca-liburan, pasar dapat masuk ke fase penyesuaian ulang, di mana harga bisa stabil di level baru atau berfluktuasi mengikuti kabar panen dan permintaan impor.

Dampak bagi Pelaku Usaha Indonesia

Bagi pelaku usaha di Indonesia—petambak, pengepul, eksportir, maupun pengolah—perkembangan global ini perlu dicermati. Untuk petambak, tekanan harga di negara pesaing seperti Ekuador, Tiongkok, dan Vietnam berarti udang mereka mungkin akan dijual lebih murah di pasar dunia. Indonesia yang relatif stabil harus menjaga agar biaya produksi tetap efisien, karena margin keuntungan bisa tergerus jika harga ekspor ikut turun.

Pengelolaan waktu tebar dan panen menjadi sangat penting, agar panen tidak menumpuk pada saat negara lain juga sedang panen besar, misalnya saat panen utama India mulai April. Untuk eksportir dan industri pengolahan, persaingan di pasar Amerika Serikat diperkirakan semakin ketat karena penurunan tarif impor udang India ke negara tersebut. Indonesia perlu menguatkan keunggulan lain, seperti kualitas produk, sertifikasi keamanan pangan dan keberlanjutan, serta pengembangan produk olahan bernilai tambah, bukan hanya udang mentah beku. Diversifikasi pasar ekspor ke negara lain di Asia, Timur Tengah, atau Eropa juga bisa menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada satu pasar.

Mengubah Ancaman Menjadi Peluang

Penurunan harga global memang tampak seperti ancaman, khususnya bagi petambak kecil dan menengah yang biaya produksinya sudah tinggi. Namun, bagi pelaku yang mampu menekan biaya, menjaga kualitas, dan mengatur strategi panen, kondisi ini juga bisa menjadi peluang untuk memperkuat posisi di pasar. Kunci utamanya adalah memahami bahwa pasar udang bersifat siklik, yaitu ada masa harga tinggi dan masa harga rendah. Dengan memanfaatkan informasi pasar global seperti laporan harga mingguan ini, pelaku usaha dapat mengambil keputusan lebih terencana—misalnya menunda panen beberapa hari ketika harga sangat jatuh, atau justru mempercepat panen saat ada sinyal permintaan naik di negara tujuan.

Bagi pembuat kebijakan dan asosiasi, data ini juga penting sebagai dasar menyusun program pendampingan petambak, termasuk efisiensi budidaya, akses pakan dan benur berkualitas, serta dukungan pembiayaan saat harga rendah. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi penonton di tengah dinamika harga udang dunia, tetapi mampu memanfaatkan momentum untuk memperkuat daya saing industri udangnya.

 

Referensi utama:

Global Farmed White Shrimp Prices Decline in Week 10 Amid Post-Holiday Demand Slowdown. Diakses dari https://seafood.media/fis/Worldnews/worldnews.asp?monthyear=3-2026&day=6&id=137432&l=e&country=&special=&ndb=1&df=0

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!