Oleh: Suhana

 

Pasar tuna Amerika Serikat tahun 2025 memperlihatkan tingkat ketergantungan yang sangat kuat terhadap pasokan dari kawasan ASEAN, termasuk Indonesia. Dari total impor tuna Amerika Serikat sebesar 312,59 juta kilogram dengan nilai USD 1,93 miliar, sekitar 198,42 juta kilogram atau 63,5% berasal dari negara-negara ASEAN. Nilai impornya mencapai sekitar USD 1,15 miliar atau hampir 60% dari total nilai impor tuna AS. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan tuna Amerika dipenuhi oleh Asia Tenggara. Fakta ini menegaskan bahwa kawasan ASEAN kini telah menjadi pusat gravitasi rantai pasok tuna dunia, khususnya untuk pasar Amerika Serikat yang merupakan salah satu konsumen seafood terbesar di dunia.

Gambar 1. Top 10 Negara Asal Impor Ikan Tuna Amerika Serikat Tahun 2025 (Sumber: NOAA, 2026, diolah)

Dominasi ASEAN terutama ditopang oleh empat negara utama, yakni Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Thailand masih menjadi pemasok terbesar dengan volume 116,71 juta kilogram senilai USD 574,03 juta, setara dengan 37,3% dari total volume impor tuna AS dan sekitar 29,7% dari total nilai impor. Thailand sangat kuat pada produk tuna olahan seperti canned tuna dan prepared tuna karena memiliki industri pengolahan berskala besar dan jaringan merek global. Posisi kedua ditempati Vietnam dengan volume 45,77 juta kilogram senilai USD 306,64 juta, atau sekitar 14,6% dari total volume impor. Vietnam dikenal unggul dalam efisiensi processing, fleksibilitas ekspor, dan kemampuan memenuhi permintaan buyer besar Amerika. Indonesia berada di posisi ketiga dengan volume 29,87 juta kilogram senilai USD 234,34 juta, setara 9,6% volume impor AS dan 12,1% nilai impor. Sementara Filipina memasok 6,26 juta kilogram senilai USD 37,03 juta.

Namun, jika ditelaah lebih dalam, posisi Indonesia sebenarnya cukup strategis karena memiliki nilai jual rata-rata yang lebih tinggi dibanding banyak pesaing utama. Harga rata-rata tuna Indonesia di pasar AS mencapai sekitar USD 7,85 per kilogram, lebih tinggi dibanding Thailand (USD 4,92/kg), Vietnam (USD 6,70/kg), dan Ecuador (USD 6,02/kg). Ini menunjukkan bahwa tuna Indonesia cenderung masuk ke segmen yang lebih premium, seperti yellowfin berkualitas ekspor, loin, frozen fillet, dan fresh tuna. Dengan kata lain, Thailand menang di volume, Vietnam unggul di efisiensi industri, sementara Indonesia memiliki keunggulan di kualitas dan nilai per unit produk.

Struktur Produk Tuna Impor Amerika Serikat

Jika melihat struktur permintaan Amerika Serikat menurut jenis produk pada tahun 2025, terlihat jelas bahwa pasar tuna AS tidak hanya besar, tetapi juga sangat tersegmentasi. Produk terbesar yang diimpor adalah tuna prepared/canned not in oil sebesar 104,56 juta kilogram senilai USD 442,61 juta. Ini menunjukkan pasar ritel dan supermarket Amerika masih sangat bergantung pada tuna siap konsumsi. Produk terbesar kedua adalah tuna dalam kemasan foil atau flexible pouch not in oil sebesar 43,64 juta kilogram senilai USD 240,52 juta. Tren ini mencerminkan perubahan gaya hidup konsumen AS yang semakin menyukai makanan praktis, sehat, dan mudah dibawa.

Gambar 1. Struktur Impor Ikan Tuna Amerika Serikat Tahun 2025 Menurut Jenis Produk (Sumber: NOAA, 2026, diolah)

Yang paling menarik bagi Indonesia adalah segmen frozen fillet tuna, dengan volume impor 41,56 juta kilogram dan nilai USD 435,78 juta. Harga rata-ratanya mencapai sekitar USD 10,49 per kilogram, jauh lebih tinggi daripada tuna kaleng mass market. Ini merupakan peluang besar bagi Indonesia karena fillet beku adalah produk yang bisa dikembangkan melalui hilirisasi, pemotongan modern, dan peningkatan standar pengolahan. Jika Indonesia mampu memperbesar kapasitas ekspor fillet berkualitas, maka nilai ekspor dapat meningkat signifikan tanpa harus bergantung pada kenaikan volume tangkapan.

Di segmen premium, Amerika juga mengimpor yellowfin fresh sebesar 14,59 juta kilogram senilai USD 126,27 juta, serta bluefin fresh sebesar 6,41 juta kilogram senilai USD 132,28 juta. Selain itu terdapat bigeye fresh sebesar 3,60 juta kilogram senilai USD 33,92 juta. Data ini menegaskan bahwa pasar restoran, sushi, hotel, dan fine dining di Amerika tetap kuat. Bagi Indonesia, ini sangat relevan karena Indonesia memiliki sumber daya yellowfin dan bigeye yang besar. Dengan dukungan cold chain dan logistik udara yang efisien, Indonesia dapat memperluas pasar premium ini.

Baca juga: hilirisasi-tuna-nilai-tambah-dan-daya-saing-ekspor-global 

Hilirisasi Tuna Indonesia Menjadi Kunci

Ketergantungan Amerika terhadap ASEAN terjadi karena beberapa faktor. Kawasan ini berada dekat dengan wilayah penangkapan tuna terbesar dunia di Pasifik Barat dan Samudra Hindia. Negara-negara ASEAN juga memiliki industri pengolahan kompetitif, biaya produksi efisien, serta pengalaman panjang memasok buyer besar Amerika. Selain itu, importir AS ingin melakukan diversifikasi sumber pasok agar tidak bergantung pada satu negara saja. Karena itu, mereka memanfaatkan Thailand untuk tuna kaleng, Vietnam untuk processing, Indonesia untuk premium tuna, dan Filipina untuk segmen tertentu.

Sayangnya, Indonesia belum dominan meskipun memiliki sumber daya yang sangat besar. Salah satu penyebab utama adalah masih tingginya ekspor bahan mentah atau semi-proses, sehingga nilai tambah dinikmati negara lain. Selain itu, tantangan logistik, keterbatasan cold storage, biaya pengiriman, dan proses sertifikasi juga masih menjadi hambatan. Dalam pasar premium, keterlambatan pengiriman satu hari saja dapat menurunkan kualitas dan harga jual secara signifikan.

Padahal peluang Indonesia sangat besar. Jika volume ekspor tuna Indonesia ke AS naik 20% dari posisi sekarang, maka volume dapat meningkat dari 29,87 juta kilogram menjadi sekitar 35,8 juta kilogram. Dengan asumsi harga rata-rata tetap USD 7,85/kg, maka nilai ekspor berpotensi naik menjadi sekitar USD 281 juta. Jika kenaikan itu didorong oleh produk bernilai tambah seperti frozen fillet, loin premium, ready-to-cook, dan fresh yellowfin, nilainya bisa lebih tinggi lagi.

Karena itu, strategi Indonesia harus diarahkan pada penguatan posisi sebagai pemasok premium dan terpercaya. Fokus utama sebaiknya pada frozen fillet, yellowfin fresh, loin premium, dan produk praktis siap saji. Branding Indonesian Sustainable Tuna juga penting untuk menonjolkan keunggulan Indonesia sebagai negara kepulauan tropis dengan sumber daya tuna besar dan keterlibatan nelayan kecil yang berkelanjutan. Buyer Amerika semakin menghargai produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga legal, traceable, dan bertanggung jawab sosial.

Dus, Amerika Serikat saat ini sangat bergantung pada tuna ASEAN, dengan 63,5% volume impor berasal dari kawasan ini. Indonesia sudah menjadi pemasok terbesar ketiga dan memiliki posisi kuat di segmen premium. Namun dominasi pasar belum tercapai karena Indonesia masih tertinggal dalam hilirisasi dan skala industri pengolahan. Padahal data jenis produk menunjukkan peluang terbesar justru ada pada frozen fillet, tuna praktis, dan fresh premium—segmen yang memberikan nilai tambah lebih tinggi. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia punya peluang, tetapi apakah Indonesia siap bertransformasi dari penjual ikan menjadi pemimpin pasar tuna bernilai tinggi.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!