
Oleh: Suhana
Istilah Godzilla El Niño memang bukan terminologi ilmiah resmi, tetapi julukan ini sangat tepat untuk menggambarkan kekuatan luar biasa dari El Niño ekstrem seperti kejadian 2015–2016. Saat itu, dunia menyaksikan bagaimana satu fenomena iklim mampu memicu kekeringan panjang di Asia Tenggara, kebakaran hutan di Australia, banjir di Amerika Selatan, serta gangguan produksi pangan di banyak negara.
Bagi Indonesia, ancaman terbesar Godzilla El Niño sering dipersempit hanya pada isu sawah kering dan turunnya curah hujan. Padahal, sebagai negara maritim, dampak paling serius justru bisa datang dari laut yang memanas. Jika daratan mengalami kekeringan, maka lautan dapat mengalami “demam tinggi” yang memukul sektor perikanan, ekosistem pesisir, dan ketahanan pangan nasional.
Temuan penting itu diperlihatkan dalam studi Beliyana and Tarya (2024) yang berjudul Extreme Marine Heatwaves in the Southern Java during 2016. Penelitian tersebut meneliti karakteristik gelombang panas laut atau marine heatwaves (MHWs) di selatan Jawa selama periode 1982–2021. Hasilnya menunjukkan bahwa tahun 2016 menjadi salah satu peristiwa paling ekstrem dalam empat dekade terakhir. Peneliti menulis, “the most prolonged durations and the highest cumulative intensities of MHWs in southern Java were recorded during 2016, spanning approximately 255 days and 419.28 °C, respectively.” Dengan kata lain, perairan selatan Jawa mengalami gelombang panas laut terpanjang dan terkuat yang pernah tercatat, berlangsung sekitar 255 hari dengan intensitas kumulatif 419,28°C.

Angka 255 hari itu bukan sekadar statistik. Itu berarti hampir sepanjang tahun laut di selatan Jawa berada dalam kondisi panas abnormal. Studi tersebut juga mencatat bahwa suhu permukaan laut saat itu sekitar 2°C di atas kondisi normal. Bagi manusia, kenaikan 2°C mungkin terasa kecil. Namun bagi ekosistem laut, perubahan itu sangat besar. Kenaikan suhu beberapa derajat saja bisa mengubah perilaku ikan, menekan produktivitas plankton, merusak terumbu karang, dan mengganggu rantai makanan laut. Beliyana and Tarya (2024) menegaskan bahwa pemanasan ekstrem tersebut “increases stratification in the ocean, weakens mixing process, and suppresses the intensity of upwelling.” Artinya, laut menjadi lebih berlapis, pencampuran air melemah, dan proses upwelling menurun.
Padahal, perairan selatan Jawa dikenal sebagai salah satu kawasan produktif karena adanya upwelling, yaitu naiknya air dingin kaya nutrien dari dasar laut ke permukaan. Nutrien inilah yang menjadi fondasi keberlimpahan plankton, lalu menopang populasi ikan ekonomis penting seperti tuna, tongkol, dan cakalang. Jika upwelling melemah akibat gelombang panas laut, maka produktivitas perikanan ikut terancam. Karena itu, studi tersebut mengingatkan bahwa kejadian ekstrem seperti ini “may cause significant damage to important fisheries resources, aquaculture production, and other ecosystems in southern Java.” Dengan kata lain, Godzilla El Niño tidak hanya soal cuaca, tetapi juga ancaman nyata terhadap mata pencaharian nelayan dan industri kelautan.
Yang menarik, penelitian Beliyana and Tarya (2024) juga menunjukkan bahwa pemanasan ekstrem di selatan Jawa tidak semata-mata disebabkan oleh panas lokal dari atmosfer. Peneliti menemukan bahwa faktor jarak jauh berupa interaksi antara El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) memainkan peran penting. Mereka menyebut, “the combination of El Niño decay and negative IOD led to optimal warm conditions for long-lasting MHWs.” Saat El Niño mulai melemah dan bersamaan dengan fase IOD negatif, massa air hangat bergerak mendekati wilayah Indonesia, menciptakan kondisi ideal bagi pemanasan laut berkepanjangan.
Penelitian ini juga menemukan hubungan statistik penting antara ENSO dan gelombang panas laut di selatan Jawa. Korelasi maksimum antara intensitas MHW dan indeks ONI tercatat r = 0,40 dengan jeda waktu sekitar 6 bulan. Ini berarti dampak El Niño terhadap pemanasan laut Indonesia bisa diperkirakan beberapa bulan sebelumnya. Bagi pembuat kebijakan, informasi seperti ini sangat berharga. Seharusnya ada cukup waktu untuk menyiapkan strategi adaptasi bagi nelayan, pembudidaya, serta pengelola kawasan pesisir. Sayangnya, Indonesia masih sering lambat mengubah sinyal ilmiah menjadi kebijakan lapangan.
Selama ini, narasi nasional tentang El Niño lebih banyak berpusat pada beras, sawah, dan kekeringan daratan. Fokus itu memang penting, tetapi tidak cukup. Indonesia adalah negara kepulauan dengan jutaan warga yang bergantung pada laut. Ketika suhu laut melonjak, ikan dapat berpindah jalur migrasi, hasil tangkapan turun, biaya operasional nelayan naik, budidaya laut rentan gagal, dan harga ikan di pasar domestik berfluktuasi. Dampak ini bisa terasa senyap, tetapi luas dan mahal. Dalam konteks tersebut, Godzilla El Niño adalah ancaman ekonomi maritim yang sering luput dari perhatian.
Perubahan iklim global membuat risiko ke depan semakin besar. Laut dunia saat ini sudah lebih hangat dibanding beberapa dekade lalu. Ketika El Niño datang di atas baseline laut yang sudah panas, maka peluang terjadinya marine heatwave ekstrem menjadi lebih tinggi. Peneliti dalam studi tersebut menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap fenomena ini, dengan menulis bahwa “an in-depth and comprehensive understanding of MHWs due to ongoing climate change becomes an urgent matter.” Pesannya jelas: gelombang panas laut bukan ancaman masa depan, tetapi ancaman yang sudah berlangsung sekarang.
Karena itu, Indonesia perlu memperluas sistem peringatan dini. Bukan hanya prakiraan hujan dan musim tanam, tetapi juga prakiraan suhu laut, potensi bleaching karang, migrasi ikan, dan zona rawan gangguan perikanan. Informasi ini harus sampai ke pelabuhan perikanan, koperasi nelayan, pembudidaya rumput laut, hingga pemerintah daerah pesisir. Jika tidak, maka data ilmiah hanya berhenti di seminar dan jurnal.
Baca juga: pesisir-jakarta-terancam-tenggelamrumah-terapung-solusinya
Dus, Godzilla El Niño mengajarkan satu hal penting: negara kepulauan tidak cukup hanya menjaga sawah, tetapi juga harus menjaga laut. Peristiwa 2016 di selatan Jawa membuktikan bahwa laut Indonesia dapat mengalami pemanasan ekstrem selama berbulan-bulan, cukup untuk mengguncang ekologi dan ekonomi pesisir. Jika Indonesia terus melihat El Niño semata sebagai urusan daratan, maka kita sedang menutup mata terhadap ancaman yang jauh lebih besar—yakni krisis iklim maritim.
Referensi
Beliyana and Tarya (2024). Extreme Marine Heatwaves in the Southern Java during 2016. Conf. Series: Earth and Environmental Science 1350 (2024) 01200. Doi:10.1088/1755-1315/1350/1/012001
