Suasana pengumuman pengurus baru DPP HA IPB periode 2025–2029 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (Selasa/17/02)

Oleh: Suhana

 

Dalam pengumuman pengurus baru DPP HA IPB periode 2025–2029 di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (Selasa/17/02), Dr. Jamil Azzaini—motivator nasional lulusan IPB—membekali para pengurus dengan materi “Naik Kelas Sebagai Pengurus: dari Peran Struktural ke Transformasional.” Paparan ini menjadi suntikan motivasi bagi kepengurusan baru, yang saya ulas secara singkat dalam tulisan berikut.

Setiap organisasi hampir selalu memulai perjalanannya dengan energi yang sama, yaitu semangat yang menyala, harapan yang tinggi, dan rencana yang tersusun rapi. Di awal masa kepengurusan, ruang-ruang diskusi dipenuhi gagasan, agenda kerja dipadati program, dan optimisme terasa begitu nyata.

Namun waktu memiliki cara sendiri untuk menguji ketahanan semangat itu. Perlahan, energi mulai menurun. Rapat tetap berlangsung, program tetap berjalan, tetapi ruh perubahan mulai memudar. Aktivitas masih ada, bahkan terkadang semakin padat, tetapi dampaknya tidak selalu terasa. Organisasi bergerak, namun tidak benar-benar melompat ke tingkat yang lebih tinggi.

Di titik inilah kita sering menemukan sebuah ironi: pengurusnya hebat, tetapi organisasinya biasa saja.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal yang aneh. Dalam kajian organisasi, terdapat pemahaman bahwa pertumbuhan organisasi tidak akan melampaui kapasitas para pengurusnya. Artinya, sejauh mana organisasi berkembang sangat ditentukan oleh sejauh mana para pengurusnya bertumbuh.

Organisasi tidak akan naik kelas jika pengurusnya tetap berada pada level yang sama.

Ketika Peran Berubah Menjadi Makna

Banyak pengurus menjalankan perannya dengan baik secara struktural. Mereka hadir dalam rapat, menyusun program, menjalankan kegiatan, dan menyelesaikan laporan. Semua dilakukan sesuai prosedur, sesuai mandat, dan sesuai harapan.

Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang sering luput kita ajukan, yaitu apakah kita sekadar menjalankan peran, atau benar-benar menciptakan perubahan?

Perbedaan antara keduanya sangat mendasar. Pengurus yang hanya menjalankan peran akan memastikan organisasi tetap berjalan. Tetapi pengurus yang memahami makna perannya akan memastikan organisasi terus berkembang.

Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang harus dilakukan?”, tetapi juga, “Mengapa ini penting?” dan “Apa dampak yang ingin kita ciptakan?”

Di sinilah awal dari transformasi, yaitu ketika peran tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk memberi makna.

Dr. Jamil Azzaini—motivator nasional lulusan IPB menyampaikan materi pembekalan pengurus DPP HA IPB

Menemukan Alasan yang Lebih Dalam

Perjalanan untuk menjadi pengurus yang berdampak selalu dimulai dari satu pertanyaan sederhana, namun sering dihindari, yaitu mengapa saya berada di sini?. Jawaban atas pertanyaan ini menentukan arah langkah kita ke depan.

Sebagian orang mungkin menjawab dengan alasan yang rasional, yaitu untuk belajar, menambah pengalaman, atau memperluas jaringan. Semua itu benar, dan penting. Namun alasan rasional saja sering kali tidak cukup untuk menjaga semangat tetap menyala ketika menghadapi tantangan.

Ada lapisan lain yang perlu ditemukan, yaitu lapisan emosional, yaitu kesadaran bahwa apa yang kita lakukan memberi manfaat bagi orang lain. Bahwa kehadiran kita membawa perubahan, sekecil apa pun, bagi lingkungan sekitar.

Dan lebih dalam lagi, lapisan spiritual, yaitu bahwa apa yang kita lakukan adalah bentuk pengabdian. Bahwa setiap upaya, setiap waktu, dan setiap energi yang kita curahkan memiliki nilai yang lebih luas dari sekadar pencapaian pribadi.

Ketika ketiga lapisan ini bertemu, lahirlah apa yang disebut sebagai tujuan luhur. Sebuah alasan yang tidak mudah goyah, yang tetap bertahan bahkan ketika kondisi tidak ideal.

Pengurus yang bekerja dengan tujuan seperti ini tidak mudah lelah. Ia tidak sekadar menjalankan tugas, tetapi menjalani panggilan.

Keberanian untuk Meninggalkan Kenyamanan

Meski memiliki tujuan yang kuat, perjalanan tidak akan berubah jika kita tetap berada di tempat yang sama. Tantangan terbesar dalam organisasi bukanlah kurangnya ide, melainkan keengganan untuk keluar dari zona nyaman.

Zona nyaman sering kali menipu. Ia terasa aman, stabil, dan terkendali. Tidak ada risiko besar, tidak ada konflik berarti, dan semuanya tampak berjalan baik-baik saja. Namun di balik kenyamanan itu, pertumbuhan berhenti.

Untuk memahami hal ini, bayangkan perjalanan bersepeda. Ketika kita berada di jalan yang datar, kayuhan terasa ringan. Kita bisa melaju tanpa banyak usaha. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa lelah yang berarti. Inilah zona nyaman—kita bergerak, tetapi tidak meningkat.

Namun ketika jalan mulai menanjak, semuanya berubah. Kayuhan menjadi berat, napas mulai tersengal, dan tubuh dipaksa bekerja lebih keras. Bahkan muncul keinginan untuk berhenti.

Inilah zona takut. Zona yang sering dihindari, tetapi justru di sanalah pertumbuhan dimulai.

Seorang pesepeda yang ingin mencapai pemandangan yang lebih tinggi tidak bisa menghindari tanjakan. Ia harus melewatinya, meski berat. Ia harus terus mengayuh, meski lelah. Ia harus bertahan, meski ragu.

Begitu pula dengan pengurus organisasi. Jika ingin menciptakan perubahan, kita harus berani menghadapi ketidaknyamanan, seperti mengambil keputusan yang tidak popular, mencoba pendekatan baru, meninggalkan cara lama yang sudah tidak relevan, dan menghadapi kemungkinan gagal

Zona takut bukan tanda bahwa kita berada di jalur yang salah. Justru sebaliknya, ia adalah tanda bahwa kita sedang bertumbuh.

Jika kita mampu bertahan, kita akan memasuki fase berikutnya, yaitu zona belajar. Di sini, kita mulai memahami ritme. Kita belajar dari kesalahan, memperbaiki strategi, dan menemukan cara yang lebih efektif.

Dan pada akhirnya, kita akan mencapai zona bertumbuh—di mana kapasitas meningkat, kepercayaan diri menguat, dan dampak menjadi nyata.

Semua itu tidak akan pernah terjadi jika kita memilih untuk tetap berada di jalan yang datar.

Kekuatan dari Langkah Kecil

Sering kali kita menunda perubahan karena merasa belum siap melakukan sesuatu yang besar. Kita menunggu momentum, menunggu sumber daya, atau menunggu kondisi yang sempurna. Padahal, perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia sering kali dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan kesadaran.

Dalam organisasi, langkah kecil ini bisa berupa memperbaiki cara kita berkomunikasi, memastikan setiap rapat memiliki arah yang jelas, mendengarkan anggota dengan lebih serius, atau menjalankan satu program dengan kualitas yang lebih baik. Hal-hal sederhana ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya akan terasa.

Seperti bersepeda, perjalanan panjang tidak ditentukan oleh satu kayuhan besar, tetapi oleh ribuan kayuhan kecil yang tidak pernah berhenti. Konsistensi adalah kunci.

Mengubah Cara Pandang: Dari Sibuk ke Berdampak

Salah satu jebakan terbesar dalam organisasi adalah kesibukan. Kita merasa produktif karena banyak kegiatan yang dilakukan. Jadwal penuh, agenda padat, dan aktivitas berjalan tanpa henti.

Namun kesibukan tidak selalu berarti kebermaknaan.

Pengurus yang naik kelas mulai menggeser cara pandang ini. Ia tidak lagi mengukur keberhasilan dari seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi dari seberapa besar dampak yang dihasilkan.

Ia mulai bertanya (1) apakah program ini benar-benar dibutuhkan?, (2) apakah kegiatan ini memberi perubahan?, dan (3) apakah waktu dan energi yang kita gunakan sebanding dengan manfaatnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin sederhana, tetapi mampu mengubah arah organisasi secara signifikan. Dari sekadar sibuk menjadi benar-benar berdampak.

Menjadi Pengurus yang Menggerakkan

Pada akhirnya, menjadi pengurus bukan sekadar soal posisi atau jabatan. Ia adalah kesempatan untuk berkontribusi, untuk belajar, dan untuk menciptakan perubahan.

Pengurus yang naik kelas adalah mereka yang memiliki tujuan yang jelas dan bermakna, berani menghadapi ketidaknyamanan, terus belajar dan bertumbuh, serta konsisten mengambil tindakan nyata. Mereka tidak hanya memastikan organisasi berjalan, tetapi memastikan organisasi hidup.

Mereka tidak hanya bekerja, tetapi menggerakkan.

Dus, menjadi pengurus organisasi transformasional bukanlah proses yang instan. Ia adalah perjalanan. Akan ada fase mudah, fase sulit, dan fase yang menantang. Seperti bersepeda, kita akan melewati jalan datar, tanjakan, dan turunan. Setiap fase memiliki maknanya sendiri. Namun satu hal yang perlu diingat, yaitu kita tidak akan pernah sampai ke tujuan jika kita berhenti mengayuh.

Organisasi tidak akan berubah hanya karena sistem diperbaiki. Ia berubah ketika orang-orang di dalamnya bertumbuh. Maka, jika hari ini kita diberi kesempatan menjadi pengurus, jangan hanya menjalankan peran itu. Jalani dengan kesadaran. Jalani dengan keberanian. Jalani dengan tujuan.

Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa besar makna yang kita hadirkan.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!