
Oleh: Suhana
Perdagangan tuna merupakan salah satu segmen strategis dalam ekonomi kelautan global, dengan nilai yang terus berkembang dan jaringan pasar yang semakin kompleks. Dalam dua dekade terakhir, dinamika pasar tuna dunia menunjukkan perubahan signifikan, tidak hanya dari sisi volume dan nilai perdagangan, tetapi juga dari struktur pasar dan distribusi negara importir. Analisis terhadap data rata-rata periode 2006–2024 dan data terbaru tahun 2024 menunjukkan adanya pergeseran dari pasar yang terpusat menuju struktur yang lebih terdiversifikasi, meskipun tetap mempertahankan karakteristik konsentrasi pada negara-negara utama (Tabel 1).
Tabel 1. Rata-Rata Nilai Impor , Pangsa Impor, dan Pertumbuhan Impor TTC Dunia Periode 2006-2024 Menurut Negara Importir
| Negara Importir | Rata-Rata Pangsa Impor (%) | Rata-Rata Pertumbuhan Impor (%) | Rata-Rata Nilai Impor (Ribu USD) |
| United States of America | 12.10 | 4.83 | 1,621,604 |
| Thailand | 10.14 | 5.92 | 1,332,695 |
| Japan | 15.12 | 0.67 | 1,961,421 |
| Spain | 7.40 | 6.39 | 993,004 |
| Italy | 6.86 | 4.97 | 909,018 |
| France | 4.90 | 3.28 | 640,949 |
| United Kingdom | 3.99 | 3.43 | 517,636 |
| Germany | 2.85 | 5.70 | 378,632 |
| Viet Nam | 1.47 | 16.51 | 208,948 |
| Portugal | 1.18 | 11.27 | 162,895 |
| Philippines | 1.13 | 15.78 | 160,206 |
| Netherlands | 1.60 | 12.95 | 225,474 |
| China | 0.79 | 23.12 | 111,950 |
| Australia | 1.59 | 6.30 | 211,549 |
| Canada | 1.46 | 4.77 | 193,391 |
Sumber: International Trade Centre, 2026, diolah
Secara historis, pasar tuna dunia didominasi oleh beberapa negara utama. Jepang mencatat pangsa impor rata-rata terbesar sebesar 15,12% dengan nilai sekitar USD 1,96 miliar, namun pertumbuhan impornya sangat rendah, hanya 0,67%. Amerika Serikat dan Thailand masing-masing memiliki pangsa 12,10% dan 10,14%, dengan pertumbuhan yang lebih moderat, yakni 4,83% dan 5,92%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tradisional cenderung berada pada fase maturitas, di mana nilai besar tidak lagi diikuti oleh pertumbuhan signifikan.
Analisis data tahun 2024 memperkuat temuan tersebut. Amerika Serikat menjadi importir terbesar dengan nilai USD 2,06 miliar, diikuti Thailand (USD 1,65 miliar) dan Jepang (USD 1,63 miliar) (Gambar 1). Secara kumulatif, tiga negara ini membentuk konsentrasi pasar sebesar 32,49%. Ketika ditambah dengan Spanyol dan Italia, konsentrasi meningkat menjadi 47,87%. Bahkan hingga 15 negara utama, konsentrasi mencapai 70,49%. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar tuna global dapat dikategorikan sebagai pasar dengan konsentrasi moderat (moderately concentrated market), di mana tidak terdapat dominasi tunggal, tetapi kelompok negara besar tetap memegang peranan penting.

Di sisi lain, sekitar 30% pangsa pasar tersebar di berbagai negara lain di luar 15 besar, yang menunjukkan adanya tingkat diversifikasi yang cukup tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun struktur pasar masih terkonsentrasi, peluang bagi negara-negara baru untuk masuk dan berkembang tetap terbuka.
Peran Kawasan Eropa: Stabilitas dan Nilai Tambah
Negara-negara Eropa seperti Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasar global. Dalam periode panjang, kawasan ini menyumbang lebih dari 20% pangsa impor dunia. Spanyol dan Italia secara konsisten berada dalam lima besar importir global, dengan nilai impor masing-masing mencapai USD 1,31 miliar dan USD 1,21 miliar pada tahun 2024.
Karakteristik utama pasar Eropa adalah tingginya permintaan terhadap produk olahan serta penerapan standar keberlanjutan yang ketat. Regulasi terkait penangkapan ikan ilegal (IUU Fishing), traceability, dan sertifikasi lingkungan menjadi faktor penentu dalam akses pasar. Dengan demikian, Eropa dapat dikategorikan sebagai pasar dengan nilai tambah tinggi, namun dengan hambatan masuk yang relatif besar.
Asia sebagai Episentrum Pertumbuhan Baru
Berbeda dengan pasar tradisional, negara-negara Asia menunjukkan dinamika pertumbuhan yang jauh lebih tinggi. China mencatat pertumbuhan impor rata-rata sebesar 23,12%, diikuti Vietnam (16,51%) dan Filipina (15,78%) dalam periode 2006–2024. Pada tahun 2024, nilai impor Vietnam mencapai USD 378 juta, sementara China dan Filipina masing-masing sebesar USD 262 juta dan USD 278 juta.
Pertumbuhan ini tidak semata didorong oleh konsumsi domestik, tetapi juga oleh peran negara-negara tersebut sebagai pusat pengolahan dan re-ekspor. Dalam konteks rantai nilai global, negara seperti Vietnam dan China mengimpor tuna sebagai bahan baku, mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, dan mengekspornya kembali ke pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi pasar dari sekadar konsumsi menjadi bagian dari sistem produksi global.
Baca juga: hilirisasi-tuna-nilai-tambah-dan-daya-saing-ekspor-global
Implikasi terhadap Strategi Ekspor Indonesia
Dalam konteks ini, Indonesia sebagai salah satu produsen tuna utama dunia memiliki posisi strategis, namun juga menghadapi tantangan struktural. Selama ini, ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk primer dengan nilai tambah yang relatif rendah. Sementara itu, negara-negara seperti Thailand dan Vietnam telah berhasil mengoptimalkan posisi mereka dalam rantai nilai global melalui pengembangan industri pengolahan.
Berdasarkan struktur pasar yang teridentifikasi, strategi ekspor Indonesia perlu diarahkan pada pendekatan diferensiasi pasar. Pasar Jepang memerlukan produk berkualitas tinggi untuk konsumsi langsung, sementara pasar Eropa menuntut kepatuhan terhadap standar keberlanjutan. Di sisi lain, pasar Asia yang sedang tumbuh dapat dimanfaatkan sebagai mitra dalam pengembangan industri pengolahan dan integrasi rantai pasok.
Analisis terhadap data perdagangan tuna dunia menunjukkan bahwa pasar global saat ini berada dalam kondisi transisi. Struktur pasar masih menunjukkan tingkat konsentrasi yang signifikan, dengan sekitar 70% perdagangan dikuasai oleh 15 negara utama. Namun, di saat yang sama, terjadi peningkatan peran negara-negara emerging yang mendorong diversifikasi pasar.
Kondisi ini menciptakan lanskap perdagangan yang lebih kompleks, di mana stabilitas dan pertumbuhan tidak lagi berada pada kelompok negara yang sama. Pasar tradisional tetap penting sebagai penopang volume, sementara pertumbuhan masa depan justru didorong oleh negara-negara dengan pangsa yang lebih kecil tetapi dinamika yang tinggi.
Dengan demikian, keberhasilan dalam perdagangan tuna global tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan dalam membaca struktur pasar dan menyesuaikan strategi ekspor secara adaptif. Dalam konteks ini, integrasi ke dalam rantai nilai global dan peningkatan nilai tambah menjadi kunci utama bagi negara produsen seperti Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.
