
Oleh: Suhana
Bulan Mei 2026 menghadirkan sebuah paradoks menarik bagi sektor perikanan Indonesia. Di satu sisi, indikator makro menunjukkan bahwa kesejahteraan nelayan masih berada pada level yang relatif baik. Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat sebesar 107,48, jauh di atas angka 100 yang secara teoritis menandakan bahwa pendapatan yang diterima nelayan masih lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus mereka tanggung. Namun di sisi lain, data juga memperlihatkan gejala yang perlu diwaspadai: kenaikan pendapatan nelayan mulai melambat, sementara biaya hidup dan biaya produksi terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kesejahteraan nelayan benar-benar membaik, atau justru sedang menghadapi tekanan yang belum sepenuhnya tercermin dalam angka NTN?
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Mei 2026 meningkat 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya karena kenaikan Indeks Harga yang Diterima (It) sebesar 2,53 persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar (Ib) sebesar 0,53 persen. Namun berbeda dengan subsektor pertanian lainnya yang mengalami peningkatan, subsektor perikanan justru mengalami penurunan. NTNP (Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan) turun 0,64 persen, NTN turun 0,47 persen, dan NTPi turun lebih dalam sebesar 0,90 persen.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sektor perikanan sedang bergerak berlawanan arah dengan sebagian besar subsektor pertanian lainnya. Ketika petani hortikultura menikmati lonjakan NTP hingga 7,08 persen akibat kenaikan harga cabai dan bawang merah, nelayan justru menghadapi kondisi harga hasil perikanan yang stagnan dan biaya usaha yang meningkat.
Harga Ikan Stagnan
Data Mei 2026 menunjukkan bahwa Indeks Harga yang Diterima Nelayan (It) hanya naik 0,03 persen dibandingkan April 2026. Kenaikan tersebut praktis menunjukkan kondisi stagnasi harga hasil tangkapan. Pada kelompok penangkapan perairan umum, indeks hanya naik 0,21 persen, sedangkan pada kelompok penangkapan laut hanya meningkat 0,01 persen.
Jika dilihat dari data tahunan, kondisi sebenarnya masih cukup baik. IT nelayan meningkat dari 125,08 pada Mei 2025 menjadi 134,19 pada Mei 2026 atau naik sekitar 7,3 persen. Namun yang perlu diperhatikan adalah tren bulanan yang mulai melambat. Kenaikan harga hasil tangkapan yang sangat kecil pada Mei 2026 menunjukkan bahwa pasar mulai kehilangan momentum pertumbuhan.
BPS mencatat bahwa kenaikan kecil tersebut terutama berasal dari komoditas rajungan dan kepiting laut pada perikanan tangkap, serta ikan gabus dan ikan sepat di perairan umum. Akan tetapi, kenaikan tersebut tidak cukup kuat untuk mengimbangi peningkatan biaya yang dihadapi nelayan.
Dalam perspektif ekonomi perikanan, kondisi ini sering disebut sebagai price stagnation under cost pressure, yaitu situasi ketika harga output cenderung stagnan sementara biaya produksi terus meningkat. Apabila berlangsung dalam jangka panjang, margin keuntungan usaha akan semakin menyempit.
Biaya Produksi Menjadi Ancaman Utama
Masalah utama yang muncul pada Mei 2026 bukan terletak pada turunnya harga ikan, melainkan meningkatnya biaya yang harus ditanggung nelayan.
Indeks Harga yang Dibayar Nelayan (Ib) naik 0,51 persen dari 124,22 menjadi 124,85. Kenaikan ini lebih besar dibandingkan kenaikan It yang hanya 0,03 persen. Akibatnya, NTN turun dari 107,99 menjadi 107,48 (Tabel 1).
Kenaikan biaya tersebut berasal dari dua sumber utama, yaitu konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.
Tabel 1. Perubahan Indikator Utama Nelayan April–Mei 2026
| Indikator | April 2026 | Mei 2026 | Perubahan (%) |
| IT Nelayan | 134,15 | 134,19 | +0,03 |
| IB Nelayan | 124,22 | 124,85 | +0,51 |
| NTN | 107,99 | 107,48 | -0,47 |
| IKRT | 129,28 | 129,77 | +0,38 |
| BPPBM | 118,54 | 119,43 | +0,74 |
Sumber: Diolah dari data BPS Mei 2026.
Yang paling menarik adalah kenaikan Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 0,74 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan kenaikan konsumsi rumah tangga yang sebesar 0,38 persen. Dengan kata lain, tekanan terbesar yang dihadapi nelayan saat ini bukan hanya berasal dari kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi juga dari meningkatnya biaya operasional usaha penangkapan ikan.
Hal ini sejalan dengan berbagai temuan internasional yang menunjukkan bahwa biaya energi, logistik, dan transportasi merupakan faktor paling menentukan profitabilitas usaha penangkapan ikan. Ketika harga bahan bakar, transportasi, dan jasa pendukung meningkat, nelayan skala kecil menjadi kelompok yang paling rentan.
Inflasi Pangan Menggerus Kesejahteraan
Kondisi lain yang patut dicermati adalah meningkatnya biaya konsumsi rumah tangga nelayan. Pada Mei 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) secara nasional. BPS mencatat bahwa secara nasional kelompok ini meningkat 0,58 persen selama Mei 2026.
Dalam data nelayan, indeks kelompok makanan dan minuman meningkat dari 135,26 pada April menjadi 135,79 pada Mei 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa tambahan pendapatan yang diterima nelayan sebagian besar kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Fenomena ini menjelaskan mengapa peningkatan pendapatan tidak selalu diikuti peningkatan kesejahteraan riil. Secara nominal pendapatan mungkin meningkat, tetapi secara riil kemampuan membeli barang dan jasa tidak bertambah secara signifikan karena harga kebutuhan pokok juga naik.
Pembudidaya Menghadapi Tekanan Lebih Berat
Jika nelayan tangkap mengalami penurunan NTN sebesar 0,47 persen, pembudidaya ikan menghadapi situasi yang lebih berat. NTPi turun 0,90 persen pada Mei 2026. Penurunan ini terjadi karena harga yang diterima pembudidaya turun 0,46 persen, sementara biaya yang dibayar justru naik 0,45 persen (Tabel 2).
Tabel 2. Kinerja Perikanan Mei 2026
| Indikator | April 2026 | Mei 2026 | Perubahan (%) |
| NTNP | 107,69 | 107,01 | -0,64 |
| NTN | 107,99 | 107,48 | -0,47 |
| NTPi | 107,22 | 106,25 | -0,90 |
Sumber: BPS, 2026.
Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas bandeng payau dan udang payau. Ini menjadi sinyal penting karena kedua komoditas tersebut merupakan tulang punggung produksi budidaya nasional. Ketika harga keduanya melemah, dampaknya langsung terasa pada pendapatan pembudidaya.
Baca juga: ntpi-mei-2026-alarm-senyap-pembudidaya-ikan
Dibanding Tahun Lalu Masih Lebih Baik
Meskipun secara bulanan terjadi penurunan, jika dilihat dalam perspektif tahunan kondisi perikanan sebenarnya masih lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Januari–Mei 2026, NTN rata-rata mencapai 108,16, meningkat 4,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sementara NTPi meningkat 3,22 persen. Secara keseluruhan, subsektor perikanan mencatat kenaikan 4,10 persen dibandingkan periode Januari–Mei 2025 (Tabel 3).
Tabel 3. Perbandingan Januari–Mei 2025 dan 2026
| Indikator | Jan–Mei 2025 | Jan–Mei 2026 | Perubahan (%) |
| NTN | 103,36 | 108,16 | 4,65 |
| NTPi | 103,21 | 106,53 | 3,22 |
| Perikanan | 103,30 | 107,53 | 4,10 |
Sumber: BPS, 2026.
Artinya, secara umum kesejahteraan nelayan dan pembudidaya masih lebih baik dibandingkan tahun lalu. Namun tren penurunan pada Mei 2026 menunjukkan bahwa momentum perbaikan mulai melemah.
Pelajaran Penting bagi Kebijakan Perikanan
Analisis data Mei 2026 memberikan tiga pelajaran penting bagi pembangunan sektor perikanan Indonesia. Pertama, peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi. Ketika biaya operasional meningkat lebih cepat dibanding harga ikan, tambahan produksi tidak otomatis meningkatkan pendapatan.
Kedua, stabilisasi harga hasil perikanan menjadi agenda yang semakin penting. Data menunjukkan bahwa NTN turun bukan karena harga ikan anjlok, melainkan karena harga ikan tidak naik cukup cepat untuk mengimbangi kenaikan biaya usaha. Ketiga, kebijakan efisiensi biaya produksi perlu menjadi prioritas. Kenaikan BPPBM yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga ikan menunjukkan bahwa ruang peningkatan kesejahteraan dapat diperoleh melalui pengurangan biaya logistik, distribusi, energi, dan input produksi.
Dus, data Mei 2026 memperlihatkan bahwa sektor perikanan Indonesia sedang memasuki fase yang perlu diwaspadai. Nelayan dan pembudidaya masih menikmati NTN dan NTPi di atas angka 100, yang berarti secara agregat usaha mereka masih menghasilkan surplus. Namun di balik angka tersebut terdapat sinyal perlambatan. Harga hasil tangkapan cenderung stagnan, harga komoditas budidaya mulai melemah, sementara biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi terus meningkat.
Dengan kata lain, tantangan utama sektor perikanan saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, melainkan menjaga agar kenaikan biaya tidak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Jika tren Mei 2026 berlanjut pada bulan-bulan berikutnya, maka kesejahteraan nelayan yang saat ini masih terlihat baik berpotensi mengalami tekanan yang lebih besar pada semester kedua tahun 2026.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026). Perkembangan Nilai Tukar Petani Bulan Mei 2026. Berita Resmi Statistik No. 54/06/Th. XXIX, 2 Juni 2026.
