Ilustrasi ketersediaan ikan di pasar Tradisional Jambu Dua Kota Bogor (Sumber : Dokumen pribadi)

Oleh : Suhana

Provinsi Jawa Barat tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan populasi terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai pasar potensial bagi industri perikanan. Data BPS (2025) mencatat jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat mencapai 50.759.000 jiwa. Sementara itu rata-rata pengeluaran per kapita untuk ikan di Jawa Barat tahun 2024 mencapai Rp10.035 per minggu. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah sinyal kuat tentang peluang ekonomi yang menanti untuk digarap lebih serius.

Dalam artikel singkat ini, penulis akan mengupas secara mendalam potensi bisnis ikan di Jawa Barat, mengidentifikasi tren konsumsi masyarakat, hingga memberikan rekomendasi strategis yang bisa diimplementasikan oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Tren Konsumsi Ikan di Jawa Barat

Berdasarkan data rata-rata pengeluaran per kapita seminggu tahun menurut jenis ikan tahun 2024, terlihat bahwa masyarakat Jawa Barat memiliki preferensi yang jelas terhadap ikan air tawar (Lihat Tabel).

Tabel Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Jenis Ikan di Provinsi Jawa Barat (Rupiah/Kapita/Minggu) 2024

Jenis Ikan Rata-rata Pengeluaran Perkapita Seminggu Menurut Jenis Ikan di Provinsi Jawa Barat (Rupiah/Kapita/Minggu) 2024
Mas                               1,225
Mujair                               1,139
Nila                                  889
Udang, lobster                                  643
Lele                                  586
Teri diawetkan                                  552
Kembung, lema/tatare, banyar/banyara                                  523
Tongkol/tuna/cakalang diawetkan                                  496
Cumi-cumi, sotong, gurita                                  397
Tongkol                                  392
Bandeng                                  335
Kembung diawetkan/peda                                  322
Cumi-cumi, sotong, gurita diawetkan                                  280
Ikan diawetkan lainnya                                  251
Bandeng diawetkan                                  239
Sepat diawetkan                                  215
Gurame                                  176
Bawal                                  175
Ikan segar/basah lainnya                                  166
Selar diawetkan                                  145
Ikan dalam kaleng (sardencis, tuna dalam kaleng, dsb)                                  125
Patin                                  106
Tuna                                    95
Kakap                                    76
Ekor kuning                                    75
Gabus                                    73
Udang diawetkan (ebi, rebon)                                    72
Gabus diawetkan                                    72
Udang dan hewan air lainnya yang segar lainnya                                    58
Selar                                    51
Ketam, kepiting, rajungan                                    38
Kerang, siput, bekicot, remis                                    37
Tenggiri                                    37
Teri                                    34
Cakalang,dencis                                    26
Tenggiri diawetkan                                    18
hewan air lainnya yang diawetkan                                    17
Baronang                                      7
Total Produk Ikan                             10,163

Sumber : BPS 2025

Berdasarkan Tabel terlihat bahwa ikan-ikan air tawar seperti Mas, Mujair, Nila, dan Lele mendominasi konsumsi. Hal ini mengindikasikan ketersediaan yang baik dari budidaya lokal serta tingginya preferensi masyarakat terhadap ikan yang mudah diolah.

Ilustrasi ikan segar air tawar dan laut di Pasar Tradisional Jambu Dua Kota Bogor (Sumber : Dokumen pribadi)

Di sisi lain, konsumsi ikan laut seperti Tuna (Rp95), Kakap (Rp76), dan Tenggiri (Rp37) masih relatif rendah, padahal jenis-jenis ikan ini kaya akan omega-3 dan nutrisi penting lainnya.

Sementara itu menurut wilayah di Jawa Barat pada tahun 2024 menunjukkan pola konsumsi yang sangat bervariasi antar kabupaten/kota. Wilayah perkotaan seperti Kota Bekasi (Rp. 21.063) dan Kota Depok (Rp. 20.546) menduduki posisi teratas dalam hal pengeluaran, diikuti oleh Kabupaten Bekasi dan Pangandaran. Tingginya pengeluaran di kawasan ini dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang relatif tinggi, ketersediaan produk ikan segar dan olahan di pusat perbelanjaan modern, serta preferensi konsumsi yang lebih beragam. Sebaliknya, wilayah seperti Kuningan, Majalengka, dan Kabupaten Cirebon menunjukkan angka pengeluaran yang rendah, yang diduga terkait dengan keterbatasan akses distribusi ikan segar dan dominasi konsumsi sumber protein alternatif seperti ayam atau tempe.

Pola ini mengindikasikan adanya peluang strategis untuk pengembangan pasar ikan di wilayah dengan pengeluaran rendah melalui program edukasi gizi dan peningkatan akses distribusi. Di sisi lain, daerah dengan pengeluaran tinggi dapat menjadi target utama pengembangan bisnis seafood premium, layanan pengantaran ikan segar, dan inovasi produk olahan. Hal ini menunjukkan akan pentingnya memperkuat rantai pasok perikanan dan kampanye peningkatan konsumsi ikan untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi di seluruh wilayah Jawa Barat.

Peluang Bisnis yang Menggiurkan

Provinsi Jawa Barat, dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk produk perikanan. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa total rata-rata pengeluaran ikan per kapita/minggu mencapai Rp10.163. Dengan estimasi penduduk sekitar 50 juta jiwa, total pengeluaran potensial mencapai Rp. 501 miliar/minggu atau Rp. 26 triliun/tahun. Tingginya permintaan ikan, terutama ikan air tawar (Mas, Mujair, Nila, Lele), menunjukkan peluang bisnis besar pada sektor budidaya, distribusi, dan pengolahan ikan.

Berdasarkan tren konsumsi tersebut, ada beberapa peluang bisnis yang dapat dimaksimalkan, yaitu Pertama, Budidaya Ikan Air Tawar. Permintaan tinggi terhadap ikan air tawar menjadi peluang besar bagi pelaku usaha perikanan. Investasi pada teknologi budidaya modern seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) dapat membantu meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas air.

Kedua, Produk Olahan Bernilai Tambah. Konsumsi produk olahan seperti teri diawetkan (Rp552) dan tongkol diawetkan (Rp496) menunjukkan bahwa masyarakat masih membutuhkan ikan dalam bentuk praktis. Inovasi seperti nugget ikan, bakso ikan, dan abon ikan dapat menyasar pasar milenial dan keluarga muda.

Ketiga, Distribusi Ikan Laut Segar. Konsumsi ikan laut yang rendah bukan berarti tidak ada peluang. Masalah utama terletak pada distribusi dan rantai dingin (cold chain) yang belum optimal. Perbaikan sistem distribusi bisa menjadikan ikan laut segar lebih mudah diakses masyarakat perkotaan Jawa Barat.

Ilustrasi Logistik Ikan Segar by ChatGPT

Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan potensi pasar ikan di Jawa Barat tersebut, penulis merekomendasikan beberapa strategi yang dapat diterapkan, yaitu Pertama, pemerintah daerah perlu membangun sentra distribusi ikan segar: Dengan fasilitas cold storage untuk menjaga kesegaran ikan laut dan meningkatkan akses masyarakat. Selain itu juga diperlukan untuk terus melakukan kampanye “1 Hari 1 Ikan” guna mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi ikan untuk kesehatan. Hal yang sama juga diperlukan dukungan Kredit Mikro untuk UMKM Perikanan perlu terus ditingkatkan agar dapat berkembang dengan baik.

Kedua, bagi para pelaku usaha perikanan perlu melihat peluang dalam investasi pada Budidaya Berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi untuk produksi yang lebih efisien. Digitalisasi Penjualan dengan mengembangkan aplikasi marketplace khusus ikan segar dan olahan. Hal yang tidak kalah penting juga adalah melakukan inovasi produk olahan untuk menyasar segmen pasar baru dengan kemasan modern dan siap saji.

Ketiga, kampanye konsumsi ikan kepada komunitas masyarakat perlu terus dilakukan dan diedukasi terkait manfaat gizi dan variasi olahan ikan tawar dan laut. Sementara itu bagi masyarakat yang ada di wilayah perkotaan perlu didorong untuk melakukan urban aquaculture, yaitu budidaya ikan skala rumah tangga di kawasan perkotaan.

Pengembangan pasar ikan di Jawa Barat tidak hanya berdampak pada perekonomian, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi masyarakat. Dengan strategi yang tepat, industri perikanan dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah.

Dus, Pasar ikan di Jawa Barat memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Tingginya konsumsi ikan air tawar membuka peluang bisnis budidaya, sedangkan sektor pengolahan ikan dapat menyasar pasar yang lebih luas melalui inovasi produk. Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Jawa Barat dapat menjadi pusat industri perikanan modern yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga berorientasi ekspor.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!