Dinamika Pasar Cephalopoda Dunia dan Pelajaran Penting bagi Indonesia

Oleh Suhana

Laporan Quarterly Cephalopods Analysis – May 2026 yang diterbitkan oleh FAO-GLOBEFISH menunjukkan bahwa pasar global cephalopoda (gurita, cumi-cumi, dan sotong) sedang mengalami perubahan struktural yang signifikan. Perubahan tersebut ditandai oleh terjadinya divergensi antara pasar gurita yang mengalami kenaikan harga akibat keterbatasan pasokan dan pasar cumi-cumi serta sotong yang mengalami tekanan harga akibat melimpahnya produksi dunia. Fenomena ini bukan hanya mencerminkan dinamika perdagangan internasional, tetapi juga memberikan indikasi penting mengenai kondisi sumber daya perikanan global, perubahan struktur rantai nilai, serta implikasi strategis bagi negara produsen seperti Indonesia.

Secara umum, pasar gurita dunia memasuki tahun 2026 dalam kondisi pasokan yang semakin terbatas. Maroko, salah satu pemasok utama gurita dunia, melaporkan bahwa pendaratan cephalopoda selama Januari–Maret 2026 hanya mencapai 25.841 ton atau turun 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara tahunan, produksi cephalopoda Maroko pada tahun 2025 tercatat sebesar 49.876 ton, turun 18% dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, Mauritania sebagai pemasok utama lainnya melaporkan pendaratan cephalopoda sebesar 13.760 ton pada tahun 2025 atau turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan pemerintah Mauritania memberlakukan moratorium penangkapan cephalopoda mulai Mei 2026 sebagai bagian dari kebijakan pemulihan stok biologis.

Penurunan pasokan dari kedua negara tersebut secara langsung memengaruhi pasar global. Harga gurita di Uni Eropa meningkat sekitar 9% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, sementara indeks harga konsumen gurita di Jepang meningkat 5,03% pada triwulan pertama tahun 2026. Di Amerika Serikat, harga grosir gurita bahkan mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah akibat kombinasi antara keterbatasan pasokan dari Afrika Utara dan meningkatnya kebutuhan impor dari Asia Tenggara. Kondisi ini menunjukkan bahwa gurita sedang mengalami apa yang dalam ekonomi disebut sebagai scarcity premium, yaitu kenaikan harga yang dipicu oleh berkurangnya ketersediaan pasokan di pasar.

Sebaliknya, pasar cumi-cumi dan sotong menunjukkan kondisi yang sangat berbeda. Argentina mencatat produksi cumi (Illex argentinus) sebesar 169.592 ton selama Januari–Maret 2026, meningkat 73,35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, produksi cumi Argentina mencapai 208.743 ton atau meningkat 34,7% dibandingkan tahun 2024. Di Peru, situasinya bahkan lebih ekstrem. Produksi jumbo squid pada tahun 2025 mencapai 712.200 ton, melonjak sekitar 278% dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencapai 188.300 ton. Pada triwulan pertama tahun 2026 saja, produksi cumi Peru telah mencapai 200.211 ton atau hampir dua pertiga dari kuota semester pertama yang ditetapkan sebesar 305.417 ton. Melimpahnya pasokan ini menyebabkan tekanan harga yang cukup besar di pasar global.

Indeks Harga Cumi Oseanik China (China Oceanic Squid Index) menunjukkan bahwa indeks harga global cumi turun dari 288,81 poin pada Maret 2025 menjadi hanya 207,16 poin pada Maret 2026 atau turun 28,27%. Penurunan terbesar terjadi pada wilayah Pasifik Tenggara yang turun 33,4% dan Samudra Hindia yang turun 34,3%. Data tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan pasokan dunia secara langsung mendorong penurunan harga, sesuai dengan prinsip dasar hukum permintaan dan penawaran.

Namun demikian, jika ditinjau dari perspektif bioekonomi perikanan, fenomena ini memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar perubahan harga pasar. Teori Bioekonomi Gordon-Schaefer (Gordon, 1954; Schaefer, 1957) menjelaskan bahwa sumber daya perikanan memiliki batas biologis yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Dalam model tersebut, peningkatan upaya penangkapan (fishing effort) akan meningkatkan produksi hingga mencapai titik optimal ekonomi (Maximum Economic Yield/MEY). Setelah titik tersebut terlampaui, stok ikan mulai menurun sehingga produktivitas penangkapan menurun dan biaya penangkapan meningkat.

Kondisi yang terjadi pada perikanan gurita di Maroko dan Mauritania menunjukkan indikasi bahwa pemanfaatan sumber daya mulai mendekati batas biologisnya. Penurunan produksi yang berlangsung beberapa tahun terakhir, diikuti dengan kebijakan moratorium dan pembatasan musim penangkapan, mengindikasikan bahwa pemerintah mulai merespons tekanan terhadap stok sumber daya. Dalam kerangka Gordon-Schaefer, situasi ini dapat diinterpretasikan sebagai pergeseran menuju kondisi ketika biomassa stok mulai berkurang sehingga hasil tangkapan tidak lagi meningkat meskipun upaya penangkapan relatif tinggi. Dengan kata lain, kenaikan harga gurita saat ini tidak hanya mencerminkan peluang ekonomi, tetapi juga merupakan sinyal adanya kelangkaan sumber daya yang perlu diwaspadai.

Lebih lanjut, teori Gordon-Schaefer juga menjelaskan adanya risiko yang dikenal sebagai high-price exploitation trap. Ketika harga suatu komoditas meningkat akibat pasokan yang menurun, nelayan memiliki insentif untuk meningkatkan upaya penangkapan demi memperoleh keuntungan yang lebih besar. Jika tidak diimbangi dengan pengelolaan yang efektif, kondisi ini dapat mempercepat eksploitasi sumber daya dan memperburuk penurunan stok. Oleh karena itu, kenaikan harga gurita dunia seharusnya dipandang sebagai sinyal perlunya penguatan tata kelola perikanan, bukan semata-mata sebagai peluang ekspor.

Sebaliknya, lonjakan produksi cumi-cumi di Peru dan Argentina belum tentu menunjukkan bahwa stok sumber daya berada dalam kondisi yang lebih sehat. Cephalopoda merupakan kelompok organisme yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan laut. Faktor-faktor seperti El Niño, La Niña, suhu permukaan laut, dan perubahan arus laut dapat memengaruhi distribusi serta kelimpahan stok secara signifikan. Oleh karena itu, peningkatan produksi jumbo squid Peru hingga 278% dalam satu tahun kemungkinan besar tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas penangkapan, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang sangat mendukung. Dengan demikian, surplus pasokan yang terjadi saat ini belum tentu dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Laporan FAO juga memperlihatkan perubahan penting dalam struktur perdagangan global cephalopoda. China semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat rantai nilai dunia. Pada tahun 2025, impor cumi-cumi dan sotong China mencapai 551.614 ton atau meningkat 40,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar pasokan berasal dari Peru (180.603 ton), Indonesia (84.522 ton), dan Amerika Serikat (56.378 ton). Pada saat yang sama, China mengekspor kembali sekitar 498.721 ton produk cumi dan sotong yang telah melalui proses pengolahan ke berbagai negara tujuan utama seperti Jepang, Thailand, dan Korea Selatan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dalam industri cephalopoda global tidak lagi berada pada aktivitas penangkapan, melainkan pada penguasaan rantai nilai (global value chain). Negara yang mampu mengendalikan pengolahan, penyimpanan dingin, distribusi, dan pemasaran memperoleh nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan negara yang hanya berperan sebagai pemasok bahan baku. Dalam konteks ini, China berhasil memosisikan diri sebagai pusat pengolahan dunia, sementara banyak negara produsen masih bergantung pada ekspor produk primer.

Baca juga: bisnis-cumi-sotong-gurita-makin-menggurita 

Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, berkurangnya pasokan gurita dari Afrika Utara dan meningkatnya harga dunia membuka peluang ekspor yang cukup besar bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir utama gurita dunia. Permintaan dari Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat berpotensi terus meningkat selama pasokan global masih terbatas. Namun peluang tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan agar Indonesia tidak mengalami tekanan stok sebagaimana yang terjadi di negara-negara produsen utama lainnya.

Di sisi lain, kondisi surplus pasokan cumi-cumi global menunjukkan bahwa strategi peningkatan ekspor berbasis volume menjadi semakin kurang efektif. Ketika harga dunia mengalami tekanan, peningkatan volume ekspor belum tentu meningkatkan pendapatan. Oleh karena itu, Indonesia perlu menggeser orientasi pembangunan industri cephalopoda dari ekspor bahan baku menuju pengembangan produk bernilai tambah tinggi, seperti produk siap saji, produk olahan premium, dan berbagai bentuk diversifikasi produk yang mampu meningkatkan nilai ekonomi per satuan bahan baku.

Dus, laporan FAO ini menunjukkan bahwa industri cephalopoda dunia sedang memasuki era baru yang ditandai oleh meningkatnya pentingnya keberlanjutan sumber daya, efisiensi rantai nilai, dan penguasaan pasar hilir. Jika dianalisis menggunakan teori bioekonomi Gordon-Schaefer, kenaikan harga gurita dapat dipandang sebagai sinyal kelangkaan sumber daya yang memerlukan pengelolaan lebih hati-hati, sementara surplus cumi-cumi menunjukkan pentingnya memahami hubungan antara dinamika lingkungan dan produktivitas stok. Dengan demikian, tantangan utama Indonesia bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, melainkan memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya cephalopoda berlangsung secara berkelanjutan sekaligus menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dalam rantai perdagangan global. Dalam konteks tersebut, pertanyaan “Mengapa Harga Gurita Naik Saat Cumi Melimpah?” sesungguhnya memiliki jawaban yang lebih luas: karena masa depan perikanan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang ditangkap, tetapi juga oleh bagaimana sumber daya dikelola, nilai tambah diciptakan, dan keberlanjutan dijaga.

 

Referensi

Anderson, L. G., & Seijo, J. C. (2010). Bioeconomics of Fisheries Management. Wiley-Blackwell.

Clark, C. W. (2010). Mathematical Bioeconomics: The Mathematics of Conservation (3rd ed.). Wiley.

Food and Agriculture Organization. (2026). Quarterly Cephalopods Analysis – May 2026. FAO GLOBEFISH. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Gordon, H. S. (1954). The economic theory of a common-property resource: The fishery. Journal of Political Economy, 62(2), 124–142.

Schaefer, M. B. (1957). Some considerations of population dynamics and economics in relation to the management of marine fisheries. Journal of the Fisheries Research Board of Canada, 14(5), 669–681.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!