Oleh: Suhana
Transformasi industri seafood di China saat ini tidak lagi hanya terjadi pada sisi produksi atau ekspor, tetapi telah bergerak jauh menuju perubahan besar pada sistem pemasaran modern berbasis digital. Laporan Chinese Fish Price Report Issue 1/2026 yang diterbitkan FAO-GLOBEFISH bersama China Aquatic Products Processing and Marketing Alliance (CAPPMA) menunjukkan bahwa China sedang membangun model pemasaran seafood baru yang mengintegrasikan teknologi digital, platform media sosial, logistik cepat, e-commerce, dan perubahan perilaku konsumen urban. Transformasi ini penting diperhatikan Indonesia karena dalam beberapa tahun ke depan persaingan industri seafood global kemungkinan besar tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya produksi ikan, udang, atau rumput laut, tetapi juga oleh kemampuan menguasai pemasaran digital, rantai distribusi modern, branding, serta hubungan langsung dengan konsumen.

Selama bertahun-tahun, sistem pemasaran seafood di China bertumpu pada pasar tradisional, wholesale market, restoran, dan distributor besar. Namun laporan tersebut menunjukkan bahwa pola itu mulai berubah secara signifikan. China kini bergerak menuju ekonomi platform berbasis aplikasi digital, livestream commerce, instant retail, dan community group buying. Dalam industri crayfish atau lobster air tawar misalnya, penjualan offline memang masih mendominasi sekitar 93,16 persen, sementara penjualan online baru mencapai 6,84 persen. Namun pengaruh sektor online terhadap arah pertumbuhan pasar, pembentukan tren, strategi promosi, hingga perilaku konsumsi sangat besar. Ini menunjukkan bahwa masa depan industri seafood China sedang bergerak menuju ekonomi digital berbasis platform.
Salah satu perubahan paling revolusioner adalah berkembangnya livestream commerce sebagai mesin baru perdagangan seafood China. Laporan FAO menyebut bahwa topik “crayfish” di Douyin atau TikTok China menghasilkan sekitar 37,37 miliar views sepanjang 2025. Selain itu, livestream gross merchandise value (GMV) menyumbang sekitar 26 persen dari total penjualan online produk crayfish. Angka ini menunjukkan bahwa seafood kini tidak lagi dipasarkan sekadar sebagai bahan pangan, tetapi juga dijual sebagai hiburan, pengalaman visual, budaya nongkrong, dan bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Di China, seseorang bisa membeli seafood bukan hanya karena kebutuhan makan, tetapi karena melihat konten makanan pedas yang viral di media sosial. Dengan kata lain, pemasaran seafood kini semakin dipengaruhi algoritma digital.
Fenomena tersebut juga mengubah struktur pelaku dalam rantai perdagangan seafood. Jika dahulu distributor besar dan pedagang pasar menjadi pemain utama, kini influencer, food vlogger, content creator, hingga host livestream menjadi bagian penting dalam rantai nilai industri seafood. Mereka berperan menciptakan tren konsumsi, membangun daya tarik visual produk, sekaligus mendorong pembelian secara real time melalui platform digital. Dalam konteks ini, seafood telah masuk ke dalam ekonomi perhatian atau attention economy, yaitu ekonomi yang sangat bergantung pada kemampuan menarik perhatian publik melalui media sosial.
Transformasi pemasaran ini turut mengubah jenis produk seafood yang berkembang di pasar China. Produk seafood yang mudah dikemas, menarik secara visual, praktis dikonsumsi, dan cocok dipromosikan melalui video pendek mengalami pertumbuhan pesat. Laporan mencatat bahwa seasoned crayfish mencapai produksi 90.600 ton atau sekitar 34 persen dari total produk pengolahan seafood berbasis crayfish. Produk snack seafood meningkat hingga 67,9 persen, sementara boiled crayfish atau produk siap santap naik sekitar 102,75 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa transformasi pemasaran ikut mendorong transformasi industri pengolahan. Produk seafood tidak lagi sekadar dijual dalam bentuk mentah, tetapi telah berubah menjadi produk gaya hidup yang praktis dan siap konsumsi.
Perubahan lain yang sangat penting adalah berkembangnya instant retail atau layanan pengiriman super cepat. Dalam laporan disebutkan bahwa model “30-minute delivery” menjadi salah satu tren utama pemasaran seafood di China. Seafood yang dahulu identik dengan pasar pagi atau konsumsi keluarga kini menjadi bagian dari budaya konsumsi cepat masyarakat urban. Selama peak season 2025, pesanan crayfish pada jam larut malam meningkat hingga 50 persen dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa seafood kini menjadi bagian dari late-night economy, budaya konsumsi instan, dan pola pembelian impulsif masyarakat perkotaan. Dalam konteks ini, sistem cold chain atau rantai dingin tidak lagi hanya berfungsi menjaga mutu produk, tetapi menjadi instrumen penting dalam persaingan pasar.
China juga memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam membangun segmentasi pasar seafood yang sangat detail. Laporan menjelaskan bahwa pola konsumsi seafood di China semakin terfragmentasi berdasarkan wilayah dan kelas konsumen. East China berkembang sebagai pasar utama, South China fokus pada segmen premium, Southwest China identik dengan cita rasa pedas, sementara kota tier rendah lebih menekankan harga murah dan paket hemat. Strategi ini menunjukkan bahwa China tidak lagi menggunakan pendekatan pemasaran massal, melainkan hyper segmentation berbasis data dan perilaku konsumen. Setiap wilayah memiliki pendekatan produk, harga, dan strategi promosi yang berbeda. Seafood di China kini dipasarkan layaknya produk consumer goods modern yang sangat dipengaruhi analisis data dan algoritma pasar.
Transformasi pemasaran seafood di China juga terlihat melalui berkembangnya community group buying. Model ini memungkinkan masyarakat membeli seafood secara kolektif dalam lingkungan komunitas tempat tinggal. Laporan menyebut customized set meal dalam model community buying memiliki repurchase rate mencapai 65 persen. Sistem ini memotong rantai distribusi, menekan biaya logistik, meningkatkan loyalitas konsumen, dan mempercepat penetrasi pasar. Dalam konteks ekonomi digital, platform online mulai mengambil alih fungsi distributor tradisional. Ini memperlihatkan bagaimana teknologi mengubah struktur perdagangan pangan laut secara mendasar.
Menariknya, laporan juga menunjukkan bahwa konsumen China kini semakin sensitif terhadap harga. Pasca pandemi dan perlambatan ekonomi membuat konsumen lebih berhati-hati dalam belanja makanan premium. Karena itu strategi seperti group buying, paket hemat, promosi livestream, dan diskon online menjadi sangat penting. Artinya digitalisasi bukan hanya tentang modernisasi teknologi, tetapi juga strategi mempertahankan daya beli dan konsumsi domestik masyarakat.
Transformasi paling besar sebenarnya terlihat dari kemampuan China membangun ekosistem seafood modern yang sangat terintegrasi. China berhasil menghubungkan media sosial, restoran, supermarket, delivery service, cold chain, dan e-commerce dalam satu sistem pemasaran terpadu. Model ini dikenal sebagai Online-Merge-Offline (OMO). Dalam sistem tersebut, restoran berfungsi sebagai showroom, livestream menjadi media promosi, delivery menjadi distribusi utama, sementara supermarket berubah menjadi fulfillment center. Integrasi inilah yang membuat pemasaran seafood China sangat efisien dan sulit disaingi.
Baca juga: Potensi ekspor ikan Indonesia ke China analisis pasar strategi
Pelajaran Bagi Indonesia
Bagi Indonesia, transformasi ini memberikan pelajaran yang sangat penting. Selama ini Indonesia masih terlalu fokus pada produksi dan ekspor bahan mentah. Padahal nilai terbesar industri seafood modern justru berada pada branding, pengolahan, pemasaran digital, dan hubungan langsung dengan konsumen. Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa melalui komoditas seperti udang, tuna, rumput laut, kepiting, lobster, dan ikan tropis premium. Namun sebagian besar masih dipasarkan sebagai bahan baku. Jika dibandingkan dengan China, Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan seafood digital economy, cold chain modern, livestream commerce, dan direct-to-consumer seafood market.
Karena itu Indonesia perlu segera melakukan transformasi pemasaran seafood nasional. Pengembangan seafood digital commerce melalui TikTok Shop, marketplace seafood, dan livestream penjualan ikan harus mulai diperkuat. Sistem cold chain modern juga perlu diperluas karena kecepatan distribusi kini menjadi bagian penting dari strategi pemasaran. Selain itu Indonesia perlu memperbanyak produk ready-to-cook dan seafood siap saji agar lebih sesuai dengan gaya hidup konsumen modern. Branding seafood nasional juga harus diperkuat agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga produsen produk seafood bernilai tambah.
Dus, transformasi di China memperlihatkan bahwa seafood kini bukan sekadar komoditas pangan, melainkan bagian dari ekonomi digital, budaya konsumsi, media sosial, dan gaya hidup masyarakat urban. China sedang membangun model pemasaran seafood masa depan berbasis livestream commerce, instant retail, platform digital, dan algoritma media sosial. Perubahan ini kemungkinan besar akan mempengaruhi arah perdagangan seafood global dalam beberapa tahun ke depan. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya meningkatkan produksi ikan dan udang, tetapi juga bagaimana membangun sistem pemasaran modern, memperkuat hilirisasi, membangun branding, dan masuk ke dalam ekonomi seafood berbasis platform digital. Jika Indonesia mampu belajar cepat dari transformasi China, sektor kelautan nasional tidak hanya akan menjadi pemasok bahan baku dunia, tetapi juga dapat menjadi pemain penting dalam ekonomi seafood modern global.
