Oleh: Suhana
Perikanan skala kecil sering dipandang sebagai aktivitas ekonomi tradisional yang sekadar berhubungan dengan laut dan hasil tangkapan. Padahal di balik aktivitas melaut terdapat jaringan sosial-ekologis yang sangat kompleks: nelayan berhubungan dengan musim, spesies ikan, pembeli, tengkulak, pasar lokal, hingga perdagangan global. Artikel ilmiah berjudul Connecting Sea to Market: Using Network Analysis to Understand Social–Ecological Dynamics in Seafood Value Chains in Pisco, Southern Peru karya Kluger dkk. (2025) memperlihatkan bagaimana dunia perikanan sesungguhnya adalah sistem jaringan yang hidup, adaptif, dan penuh dinamika.

Artikel ini tidak hanya penting bagi akademisi perikanan, tetapi juga menjadi inspirasi besar bagi mahasiswa dan peneliti Indonesia. Di tengah krisis iklim, ketidakpastian ekonomi global, dan tekanan terhadap sumber daya laut, penelitian seperti ini menunjukkan bahwa masa depan perikanan tidak cukup dipahami hanya melalui produksi ikan. Yang lebih penting adalah memahami hubungan antara manusia, ekologi, dan pasar.
Penelitian Kluger dkk. dilakukan di San Andrés, wilayah Pisco, Peru Selatan, sebuah kawasan perikanan skala kecil yang sangat dipengaruhi dinamika El Niño Southern Oscillation (ENSO). Kawasan ini menjadi laboratorium sosial-ekologis yang menarik karena nelayan harus terus beradaptasi terhadap perubahan suhu laut, migrasi ikan, fluktuasi pasar, dan ketidakpastian musim.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan Social–Ecological Network Analysis (SEN), yakni metode yang memetakan hubungan antara spesies ikan, nelayan, pembeli, dan pasar sebagai sebuah jaringan terpadu. Pendekatan ini sangat menarik karena berbeda dari riset perikanan konvensional yang biasanya hanya fokus pada stok ikan atau pendapatan nelayan. Dalam penelitian ini, nelayan diposisikan sebagai aktor sentral yang menghubungkan dunia ekologi dan ekonomi.
Data penelitian diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 45 nelayan, 8 pembeli ikan, dan 4 informan kunci dari otoritas perikanan setempat. Dari data tersebut, penulis membangun jaringan hubungan antara 28 spesies target tangkapan, nelayan, pembeli, dan pasar tujuan produk perikanan.
Hasilnya sangat menarik. Penelitian menemukan bahwa nelayan yang memiliki fleksibilitas lebih besar—yakni menangkap lebih banyak spesies dan memiliki lebih banyak pembeli—cenderung lebih resilien terhadap perubahan lingkungan maupun ekonomi. Dengan kata lain, ketahanan nelayan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ikan di laut, tetapi juga oleh luasnya jaringan sosial dan pasar yang mereka miliki.
Dalam penelitian tersebut, terdapat 28 spesies tangkapan yang dibagi berdasarkan musim penangkapan: musim panas, musim dingin, dan sepanjang tahun. Spesies yang paling banyak ditangkap nelayan adalah Eastern Pacific Bonito (Sarda chiliensis chiliensis), South Jack Mackerel (Trachurus murphyi), dan Pacific Chub Mackerel (Scomber japonicus). Keanekaragaman spesies ini menunjukkan bahwa nelayan Peru memiliki strategi adaptasi melalui diversifikasi tangkapan.
Konsep diversifikasi ini sangat penting dalam konteks perubahan iklim global. Ketika satu spesies mengalami penurunan akibat anomali suhu laut atau perubahan arus, nelayan masih dapat bertahan dengan beralih ke spesies lain. Strategi seperti ini menjadi bentuk adaptasi ekologis yang muncul secara alami dalam sistem perikanan skala kecil.
Namun artikel ini juga memperlihatkan bahwa adaptasi ekologis saja tidak cukup. Faktor pasar ternyata memiliki peran sangat besar. Sebagian besar produk perikanan dari San Andrés dipasarkan ke Lima, ibu kota Peru, sementara sebagian kecil masuk pasar internasional setelah melalui proses pengolahan. Artinya, akses pasar menentukan daya tahan ekonomi nelayan.
Salah satu kontribusi paling menarik dari artikel ini adalah pengembangan konsep adaptive fisher archetypes. Penulis membagi nelayan menjadi empat tipe berdasarkan jumlah spesies yang ditangkap dan jumlah pembeli yang dimiliki:
- Low/low,
- High/low,
- Low/high,
- High/high.
Kelompok high/high dianggap paling resilien karena memiliki diversifikasi tangkapan sekaligus jaringan pasar yang luas. Sebaliknya, kelompok low/low dianggap paling rentan terhadap gangguan iklim maupun ekonomi.
Temuan ini memiliki implikasi besar bagi pembangunan perikanan di Indonesia. Selama ini banyak kebijakan perikanan masih terjebak pada pendekatan produksi: meningkatkan hasil tangkap, memperbesar kapal, atau meningkatkan ekspor. Padahal ketahanan nelayan tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal fleksibilitas sosial-ekologis.
Di Indonesia, banyak nelayan kecil justru terjebak dalam ketergantungan pada satu jenis komoditas. Nelayan rajungan, misalnya, sangat bergantung pada pasar ekspor Amerika Serikat. Ketika permintaan turun atau harga jatuh, pendapatan nelayan langsung terpukul. Situasi serupa terjadi pada nelayan tuna, rumput laut, maupun udang.
Dalam perspektif ekonomi politik, artikel ini sebenarnya membuka ruang kritik yang sangat menarik. Meskipun penelitian Kluger dkk. berhasil menjelaskan adaptasi nelayan melalui jaringan sosial-ekologis, pembahasan mengenai relasi kuasa dalam rantai nilai masih relatif terbatas. Artikel ini belum cukup dalam membahas dominasi tengkulak, ketimpangan harga, atau posisi tawar nelayan dalam pasar global.
Padahal dalam banyak kasus di negara berkembang, termasuk Indonesia, relasi patron-klien masih menjadi inti dari sistem perikanan skala kecil. Nelayan sering kali tidak benar-benar bebas memilih pembeli karena terikat utang, modal operasional, atau jaringan sosial tertentu. Situasi ini menyebabkan fleksibilitas pasar menjadi semu.
Selain itu, artikel ini juga belum banyak membahas dimensi gender. Padahal perempuan memiliki peran penting dalam rantai nilai perikanan, terutama pada sektor pengolahan, pemasaran, dan ekonomi rumah tangga pesisir. Absennya perspektif gender membuat analisis sosial-ekologis dalam artikel ini masih belum sepenuhnya komprehensif.
Meskipun demikian, artikel ini tetap sangat penting karena berhasil menunjukkan bahwa ketahanan sistem perikanan tidak bisa dipahami secara sektoral. Laut, manusia, pasar, dan perubahan iklim merupakan satu kesatuan jaringan yang saling memengaruhi.
Baca juga: Krisis struktural konflik laut dan ancaman nelayan kecil
Pelajaran Bagi Peneliti Indonesia
Pendekatan jaringan sosial-ekologis seperti ini sangat relevan diterapkan di Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kompleksitas sistem perikanan yang bahkan lebih tinggi dibanding Peru. Nelayan Indonesia menghadapi perubahan iklim, degradasi pesisir, konflik ruang laut, tekanan pasar global, digitalisasi perdagangan, dan transformasi sosial pesisir.
Sayangnya, banyak penelitian perikanan di Indonesia masih bersifat parsial. Penelitian ekologi sering terpisah dari penelitian sosial-ekonomi. Penelitian pasar terpisah dari studi perubahan iklim. Akibatnya, kebijakan yang lahir juga sering tidak integratif.
Karena itu, penelitian seperti Kluger dkk. perlu menjadi inspirasi baru bagi generasi peneliti Indonesia. Mahasiswa tidak lagi cukup hanya menghitung produksi ikan atau pendapatan nelayan. Penelitian masa depan harus mampu membaca jaringan, memahami relasi kuasa, dan memetakan ketahanan sosial-ekologis secara utuh.
Indonesia memiliki banyak lokasi potensial untuk pengembangan riset serupa, misalnya rantai nilai rajungan di Pantura, jaringan perdagangan tuna di Maluku, adaptasi nelayan kecil di Laut Jawa, sistem sosial-ekologis budidaya rumput laut di Sulawesi, hingga transformasi ekonomi pesisir di Papua Barat dan Tambrauw. Pendekatan Social–Ecological Network Analysis juga dapat dikembangkan untuk mina wisata, ekonomi biru, UMKM perikanan, digitalisasi pemasaran ikan, dan tata kelola kawasan konservasi.
Ke depan, riset-riset di Indonesia perlu memperluas pendekatan ini dengan memasukkan analisis ekonomi politik, perspektif gender, teknologi digital, perubahan generasi nelayan, dan dinamika pasar global. Selain itu, integrasi antara data ekologi, data sosial, dan data perdagangan perlu diperkuat melalui kolaborasi multidisiplin. Peneliti perikanan tidak bisa lagi bekerja sendiri-sendiri. Masa depan riset pesisir membutuhkan kerja bersama antara ahli perikanan, ekonom, sosiolog, ahli data, antropolog, hingga ilmuwan iklim.
Dus, artikel Kluger dkk. memberikan pelajaran penting bahwa laut bukan sekadar ruang produksi, melainkan ruang jaringan kehidupan. Ketika jaringan itu kuat, nelayan lebih mampu bertahan. Ketika jaringan itu rapuh, krisis iklim dan tekanan pasar dapat dengan mudah menghancurkan kehidupan pesisir.
Bagi mahasiswa dan peneliti Indonesia, pesan paling penting dari artikel ini adalah bahwa riset tidak boleh berhenti pada deskripsi masalah. Penelitian harus mampu membangun cara pandang baru untuk memahami kompleksitas dunia pesisir. Di tengah perubahan global yang semakin cepat, Indonesia membutuhkan lebih banyak peneliti muda yang berani menghubungkan laut, manusia, dan masa depan dalam satu kerangka berpikir yang utuh.
Referensi
Kluger, L. C., Mercer, S., Partelow, S., Roque-Sánchez, M. A., Higaki Moyano, K. O., & Salazar, M. (2025). Connecting sea to market: Using network analysis to understand social–ecological dynamics in seafood value chains in Pisco, Southern Peru. People and Nature, 7(10), 2465–2485. https://doi.org/10.1002/pan3.70063
Cinner, J. E. (2011). Social-ecological traps in reef fisheries. Global Environmental Change, 21(3), 835–839.
Folke, C. (2006). Resilience: The emergence of a perspective for social–ecological systems analyses. Global Environmental Change, 16(3), 253–267.
Kininmonth, S., Beger, M., Bode, M., Peterson, E., Adams, V. M., Dorfman, D., Brumbaugh, D., Possingham, H. P., & Klein, C. J. (2017). Disabling fishing permits can help manage ecological and economic sustainability in fisheries. Fish and Fisheries, 18(4), 699–713.
