Ilustrasi transformasi produk rumput laut (by Gemini)

Sinopsis Jurnal

Oleh : Suhana

Krisis pangan dan perubahan iklim global telah memicu kebutuhan mendesak akan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Lahan pertanian semakin terbatas, emisi dari industri peternakan kian tak terkendali, sementara konsumsi makanan ultraprocessed terus meningkat. Dalam menghadapi tantangan global terhadap ketahanan pangan dan degradasi lingkungan, rumput laut muncul sebagai salah satu solusi pangan masa depan yang berkelanjutan, bergizi, dan ramah lingkungan. Namun, adopsi produk rumput laut di pasar negara-negara Barat, seperti Kanada, masih terbatas.

Rumput laut telah lama menjadi bagian dari kuliner Asia, tetapi masih jarang dikonsumsi secara luas di dunia Barat. Untuk itu, perlu strategi pemasaran yang cermat agar produk rumput laut dapat diterima oleh pasar global, terutama di kawasan urban seperti Toronto, Kanada.

Penelitian yang dilakukan oleh Basha et al. (2025) dalam jurnal Food Chemistry Advances berjudul Seaweed as a Sustainable Food Alternative: A Case Study of Canadian Consumer Behaviour” meneliti perilaku konsumen terhadap produk rumput laut di Toronto.

Sebanyak 600 responden dewasa dilibatkan, dengan metode survei berbasis teori perilaku terencana (Theory of Planned Behaviour). Penelitian menunjukkan bahwa sikap konsumen Kanada terhadap produk rumput laut sangat dipengaruhi oleh empat faktor kunci: kesadaran kesehatan, keprihatinan terhadap lingkungan, selera rasa, dan minat terhadap diet inovatif. Sebaliknya, hambatan seperti unfamiliarity dan persepsi negatif terhadap harga tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Artinya, terdapat peluang besar untuk memperluas pasar melalui pendekatan pemasaran yang strategis dan edukatif.

Selain itu juga Basha et al. (2025) menemukan bahwa konsumen yang lebih muda, berpendidikan tinggi, dan memiliki gaya hidup sehat—terutama vegan dan flexitarian—menunjukkan ketertarikan lebih besar terhadap produk rumput laut. Ini menjadi pijakan penting bagi strategi pemasaran produk rumput laut.

Ilustrasi produk rumput laut (by Gemini)

Strategi Pemasaran Rumput Laut

Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan produk berbasis rumput laut di pasar modern sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk beresonansi secara emosional, fungsional, dan kultural dengan konsumen. Dengan pendekatan yang tepat, rumput laut dapat bertransformasi dari bahan makanan asing menjadi ikon pangan masa depan yang diterima luas oleh masyarakat global. Untuk itu, strategi pemasaran produk rumput laut perlu dibangun di atas pendekatan berbasis nilai dan pengalaman konsumen. Beberapa pendekatan utama yang direkomendasikan dari studi ini meliputi:

  1. Penekanan pada Nilai Kesehatan (Health Value Positioning). Menyoroti manfaat gizi rumput laut—tinggi serat, vitamin, antioksidan, dan mineral penting—sebagai pendorong utama konsumen yang health-conscious. Label produk dan kampanye media sosial harus menyertakan klaim ilmiah dan visual yang menarik terkait manfaat tersebut.
  2. Pemasaran Hijau (Green Marketing). Menampilkan rumput laut sebagai solusi pangan berkelanjutan dengan jejak karbon rendah, tidak membutuhkan lahan subur, dan berperan dalam konservasi laut. Narasi ini akan menarik perhatian konsumen yang peduli lingkungan dan mendukung tren eco-friendly.
  3. Inovasi Produk dan Cita Rasa Lokal. Mengembangkan varian produk rumput laut yang disesuaikan dengan selera masyarakat lokal. Misalnya, rumput laut dalam bentuk keripik, mi instan, atau sebagai topping pada makanan populer. Kolaborasi dengan chef lokal atau influencer kuliner bisa membantu memperkenalkan produk dengan cara yang lebih menarik.
  4. Strategi Edukasi dan Sampling Produk. Mengadakan demo produk, tasting events, atau kelas memasak berbasis rumput laut di pusat perbelanjaan atau komunitas. Tujuannya mengurangi ketidaktahuan (unfamiliarity) dan meningkatkan kepercayaan terhadap rasa dan cara pengolahan produk.
  5. Branding yang Mengangkat Inovasi dan Gaya Hidup. Membingkai produk rumput laut sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan modern. Gunakan visual clean, minimalis, dan komunikatif yang memikat segmen muda dan urban—terutama konsumen vegan, vegetarian, dan flexitarian.
  6. Kampanye Influencer & Komunitas Digital. Melibatkan food blogger, ahli gizi, dan figur publik yang relevan untuk membagikan pengalaman mereka dalam mengonsumsi produk berbasis rumput laut di platform digital. Konten dapat berupa video singkat, resep, atau testimoni jujur.
  7. Segmentasi dan Personal Branding Produk. Menyesuaikan pesan dan kanal distribusi sesuai karakteristik demografis: misalnya, kampanye untuk ibu rumah tangga fokus pada gizi keluarga, sementara untuk kaum muda bisa dikemas dalam narasi sustainability + trendiness.
  8. Kemitraan dengan Ritel Khusus. Menempatkan produk di supermarket yang sudah memiliki konsumen dengan preferensi makanan Asia atau vegan seperti T&T, H Mart, Galleria, dan toko bahan organik. Disertai dengan display khusus, informasi nilai gizi, dan promo bundling.

Implikasi Bisnis dan Peluang Pasar

Dengan pendekatan pemasaran yang tepat, rumput laut dapat menjadi produk unggulan dalam pasar makanan sehat dan berkelanjutan. Apalagi, studi Basha et al. (2025) membuktikan bahwa konsumen sudah mulai menunjukkan sikap positif terhadap produk ini, terutama mereka yang concern terhadap gizi dan ekologi.

Tantangan terbesar terletak pada edukasi konsumen, terutama dalam mengatasi rasa unfamiliar dan anggapan bahwa rumput laut adalah bahan asing. Oleh karena itu, strategi promosi perlu menekankan pada pengalaman positif, uji coba produk, dan narasi keberlanjutan.

Rumput laut tidak lagi hanya milik masakan Asia. Ia adalah bagian dari masa depan pangan dunia. Penuh nutrisi, mudah dibudidayakan, dan ramah lingkungan, rumput laut menyatukan tiga tren utama abad ke-21: kesehatan, keberlanjutan, dan inovasi.

Melalui strategi pemasaran yang cerdas—berbasis pemahaman konsumen, inovasi produk, dan kekuatan narasi digital—rumput laut dapat masuk ke pasar mainstream dan menjadi solusi nyata bagi tantangan pangan global. Saatnya memperluas jangkauan laut ke meja makan dunia.

 

Referensi:

  • Basha, M. B., et al. (2025). Seaweed as a Sustainable Food Alternative: A Case Study of Canadian Consumer Behaviour. Food Chemistry Advances, 8, 101033. https://doi.org/10.1016/j.focha.2025.101033
  • Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes.
  • Aiking, H. (2011). Future protein supply. Trends in Food Science & Technology.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!