
Sinopsis Jurnal
Oleh : Suhana
Indonesia dikenal sebagai “negeri seribu pulau” dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Potensi kelautannya luar biasa, salah satunya dalam sektor rumput laut. Saat ini, Indonesia adalah salah produsen rumput laut terbesar di dunia, tahun 2023 menyuplai 9,75 Juta ton (FishStat 2025). Namun, sebagian besar komoditas ini diekspor dalam bentuk bahan mentah kering dengan nilai tambah yang sangat rendah.
Sebuah penelitian global yang ditulis oleh Janke, Liam (2024) berjudul “Mapping the Global Mass Flow of Seaweed: Cultivation to Industry” memetakan aliran massa produksi rumput laut dari budidaya hingga berbagai industri hilir. Studi ini memberikan gambaran strategis yang dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha rumput laut Indonesia untuk naik kelas, yaitu dari eksportir bahan mentah menjadi pemain kunci dalam industri global bernilai tinggi.
Temuan Hasil Riset
Janke, Liam (2024) dalam artikelnya menjelaskan bahwa lebih dari 70% hasil budidaya rumput laut dunia digunakan untuk industri pangan, baik konsumsi langsung maupun bahan baku pengolahan (misalnya agar-agar dan karaginan). Sisanya diserap oleh Pakan ternak dan akuakultur, Bioenergi (biofuel berbasis rumput laut), Farmasi dan kosmetik, serta Pupuk organik dan bioplastik
Negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang mendominasi rantai pasok hilir, mengolah rumput laut menjadi ribuan jenis produk olahan yang beredar di pasar global.

Peluang Indonesia
Di peta arus massa global, Indonesia memiliki keunggulan sebagai pemasok utama bahan baku seperti Kappaphycus alvarezii (karaginan) dan Gracilaria sp. (agar-agar). Namun, kita masih tertinggal dalam hal hilirisasi industri. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2024) menunjukkan bahwa 85% ekspor rumput laut Indonesia masih berupa raw dried seaweed. Selain itu juga nilai jual hanya US$1.000–1.500 per ton, jauh di bawah produk olahan yang bisa mencapai US$10.000 per ton untuk kosmetik dan farmasi. Akibatnya, sebagian besar keuntungan dinikmati oleh negara pengimpor yang menguasai teknologi pengolahan.
Hasil riset Janke, Liam (2024) membuka peluang luar biasa bagi pelaku usaha rumput laut nasional untuk masuk ke industri hilir. Berikut langkah strategis yang dapat diambil, pertama hilirisasi produk. Pelaku usaha dapat mulai mengembangkan Makanan fungsional, seperti mie, snack, minuman berbahan rumput laut yang tinggi serat dan antioksidan. Kosmetik organic, seperti serum wajah, masker, lotion berbahan ekstrak rumput laut. Pupuk bio-organik, untuk sektor pertanian berkelanjutan.
Kedua, Inovasi Teknologi dan Kemitraan Industri. Berinvestasi dalam teknologi ekstraksi karaginan, agar-agar, dan biofuel sangat penting. Kolaborasi dengan start-up bioteknologi atau universitas dapat mempercepat proses inovasi. Ketiga, Branding “Rumput Laut Indonesia” di Pasar Global. Konsumen dunia kini menyukai produk eco-friendly dan organic-certified. Pelaku usaha bisa menonjolkan rumput laut Indonesia sebagai produk ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable blue economy).
Dus, riset global tentang aliran massa rumput laut menunjukkan bahwa nilai terbesar ada di hilir, bukan di hulu. Ini adalah saat yang tepat bagi pelaku usaha rumput laut Indonesia untuk bertransformasi, memanfaatkan peluang industri pangan, kosmetik, dan bioenergi yang sedang tumbuh pesat. Jika Indonesia berhasil memposisikan rumput laut sebagai “green gold”, maka bukan hanya kesejahteraan nelayan yang meningkat, tetapi juga ketahanan ekonomi nasional yang semakin kuat.
