Tinjauan Jurnal

Oleh : Suhana

 

Para pelaku perikanan dan kelautan di Indonesia, bersiaplah! Pasar global, terutama Tiongkok, sedang mengalami revolusi besar-besaran yang didorong oleh e-commerce. Untuk tetap kompetitif dan bahkan unggul, kita perlu memahami betul bagaimana perilaku konsumen digital di pasar raksasa tersebut terbentuk.

Sebuah studi mendalam yang dilakukan oleh Budhathoki, M. et.al (2026) dalam artikel Jurnal Aquaculture Volume 610, January 2026 berjudul Market dynamics and E-commerce satisfaction in China’s aquatic food sector: Machine learning and data insights. Studi tersebut menganalisis puluhan ribu ulasan di platform e-commerce Tiongkok, JD.com, dan mengungkap tiga temuan penting yang bisa kita jadikan peta jalan strategis.

Sumber : https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2025.742904

1. Kualitas dan Kesegaran: Permintaan yang Terus Meningkat

Tiongkok saat ini merupakan produsen sekaligus konsumen produk akuatik terbesar secara global. Permintaan domestik akan makanan akuatik sangat kuat, terutama didorong oleh pesatnya pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan urbanisasi di negara tersebut. Meskipun produksi akuatik domestik Tiongkok terus meningkat, impor tetap memainkan peran yang amat penting dan vital untuk menjembatani kesenjangan antara pasokan lokal dan permintaan konsumen yang melonjak.

Kualitas dan kondisi produk saat diterima konsumen menjadi pelajaran utama dalam pasar ini. Ulasan positif dari konsumen sering kali menyoroti pentingnya atribut seperti “fresh” (segar), “delicious” (lezat), dan “quality” (kualitas). Selain itu, konsumen menunjukkan preferensi yang signifikan terhadap produk impor, terutama yang berasal dari Eropa, yang dihargai tinggi berkat persepsi kualitas, keamanan, dan atribut keberlanjutan. Tingginya standar dan ekspektasi konsumen ini bahkan menimbulkan tekanan besar bagi produsen domestik Tiongkok untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produk mereka

2. Membongkar Mitos: Mengapa Produk Beku Unggul di E-commerce?

Temuan dalam penelitian ini mengungkapkan tren yang menarik dan bertentangan dengan kebiasaan tradisional. Meskipun secara umum konsumen Asia sangat menghargai produk perikanan yang masih hidup (live) atau segar, dinamika di ranah e-commerce menunjukkan hasil yang berbeda. Produk beku impor justru mendominasi tingkat kepuasan konsumen, mencapai 68,5% , dan model regresi menegaskan bahwa produk beku impor berhubungan positif signifikan dengan kepuasan. Konsumen menilai pembekuan sebagai metode efektif untuk mempertahankan kualitas selama proses transportasi jarak jauh , yang secara efektif menghilangkan risiko logistik. Di sisi lain, produk hidup secara konsisten mencatatkan skor kepuasan terendah , karena e-commerce belum mampu meniru pengalaman interaktif di pasar basah (memilih langsung) , serta menghadapi tantangan logistik yang besar dalam menjaga vitalitas dan kesegaran produk selama pengiriman.

Namun, muncul ironi ketika melihat pasar domestik, di mana produk beku domestik Tiongkok justru menunjukkan asosiasi negatif dengan kepuasan , kemungkinan karena persepsi konsumen bahwa produk tersebut kurang segar dibandingkan produk segar/hidup domestik yang pengirimannya lebih cepat. Berdasarkan kondisi pasar ini, langkah strategis yang perlu diambil oleh pelaku perikanan Indonesia adalah mengalihkan fokus dari pengiriman produk hidup yang berisiko tinggi dalam logistik digital. Sebaliknya, investasi harus diarahkan untuk memperkuat teknologi pembekuan dan rantai dingin. Dengan reputasi kualitas seafood yang sudah dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan produk beku sebagai komoditas premium yang sangat kompetitif di pasar e-commerce global, meniru keberhasilan dan persepsi kualitas produk dari Eropa.

3. Logistik dan Pengalaman Keanggotaan Kunci Kepuasan

Efisiensi logistik terbukti menjadi faktor krusial yang berada di luar atribut produk itu sendiri, dan sangat memengaruhi keputusan pembelian ulang. Dalam analisis model LDA (Latent Dirichlet Allocation), salah satu topik terpenting yang muncul adalah mengenai “Kesegaran Produk dan Kondisi Saat Tiba.” Keluhan utama dari pelanggan yang tidak puas sering kali terkait dengan masalah seperti pengiriman yang “slow” (lambat), produk yang mengalami “damage” (kerusakan), atau kondisi produk yang “melt” (mencair) atau “rotten” (busuk). Hal ini mengindikasikan bahwa diperlukan investasi pada teknologi mutakhir, seperti sistem pelacakan kesegaran berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pemantauan suhu berbasis Internet of Things (IoT), guna meminimalkan kerugian yang terjadi setelah panen.

Faktor pendukung penting kedua adalah Peran Keanggotaan PLUS. Konsumen yang memiliki keanggotaan premium (PLUS membership) pada platform JD.com secara konsisten melaporkan tingkat kepuasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan non-anggota. Menariknya, keanggotaan PLUS ini memiliki dampak positif yang lebih besar terhadap produk impor dibandingkan dengan produk domestik (OR =1.623 berbanding OR=1.456). Temuan ini secara jelas menunjukkan bahwa layanan yang dipersonalisasi dan program loyalitas premium bertindak sebagai pendorong utama kepuasan, terutama dalam segmen pasar yang lebih makmur. 

Mengoptimalkan Portofolio Produk Indonesia

Melihat jenis produk, pasar Tiongkok didominasi oleh krustasea (seperti udang dan lobster) dan finfish impor. Untuk itu, Indonesia disarankan untuk memaksimalkan keunggulan produksi krustasea dan moluska yang kita miliki, sekaligus berupaya meningkatkan kualitas produk finfish domestik untuk membidik segmen premium. Faktor asal-usul produk sangat menentukan tingkat kepuasan konsumen, di mana produk dari Eropa secara konsisten mendapat nilai yang sangat tinggi.

Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem pelabelan dan ketertelusuran yang transparan untuk menjamin bahwa produk perikanan Indonesia dipersepsikan aman dan berkualitas tinggi, selaras dengan isu keberlanjutan global. Revolusi e-commerce ini merupakan peluang emas bagi industri perikanan nasional. Dengan mengadopsi strategi logistik yang fokus pada kualitas beku dan berinvestasi pada transparansi digital, produk perikanan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dan kompetitif di pasar e-commerce dunia.

 

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!