
Oleh: Suhana
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai sepanjang lebih dari 108.000 kilometer. Di balik angka-angka geografis tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang sangat besar, salah satunya melalui wisata bahari. Namun, menariknya, meskipun wisata bahari menjadi tulang punggung daya tarik pariwisata Indonesia, kontribusinya belum sepenuhnya terlihat secara eksplisit dalam statistik resmi seperti Tourism Satellite Account Indonesia (TSAI)2022-2024([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026). Dalam artikel singkat ini, penulis akan mengupas secara komprehensif mulai dari definisi, klasifikasi industri, kinerja ekonomi, hingga strategi pengembangan wisata bahari di Indonesia.
Apa Itu Wisata Bahari?
Secara sederhana, wisata bahari adalah kegiatan pariwisata yang memanfaatkan sumber daya perairan—baik laut, pesisir, sungai, maupun danau—sebagai daya tarik utama. Aktivitasnya sangat beragam, mulai dari yang santai seperti menikmati pantai, hingga yang berintensitas tinggi seperti menyelam (diving), berselancar (surfing), atau menjelajahi pulau-pulau kecil (island hopping).
Dalam kerangka ekonomi pariwisata, wisata bahari sebenarnya tidak berdiri sebagai satu sektor tunggal. Ia merupakan bagian dari sistem pariwisata yang lebih luas, yang mencakup berbagai konsumsi wisatawan seperti transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, serta aktivitas rekreasi. Hal ini sejalan dengan pendekatan TSAI yang menyatakan bahwa pariwisata adalah sektor lintas industri (cross-cutting sector), sehingga kontribusinya tersebar di berbagai sektor ekonomi([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026) .
Artinya, ketika seseorang berlibur ke pantai atau melakukan diving, dampak ekonominya tidak hanya terjadi pada satu sektor, tetapi menjalar ke banyak sektor sekaligus—dari operator kapal hingga restoran seafood di pesisir.
Baca juga: wisata-bahari-berkelanjutan-menjaga-pulau-kecil-tetap-hidup
Klasifikasi Industri Wisata Bahari
Untuk memahami wisata bahari secara lebih konkret, kita perlu melihatnya dari perspektif industri. Berdasarkan klasifikasi dalam TSAI yang dikaitkan dengan KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia), wisata bahari sebenarnya terdiri dari berbagai jenis industri yang saling terhubung (Tabel 1).
Pertama adalah transportasi air, yang menjadi tulang punggung mobilitas wisata bahari. Ini mencakup kapal wisata, ferry antar pulau, hingga kapal pesiar (cruise). Tanpa transportasi ini, akses ke destinasi bahari seperti pulau kecil atau taman laut akan sangat terbatas.
Kedua adalah akomodasi berbasis pesisir, seperti hotel pantai, resort pulau kecil, dan eco-lodge. Akomodasi ini tidak hanya menyediakan tempat menginap, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri. Banyak wisatawan memilih destinasi justru karena keunikan penginapannya di tepi laut.
Ketiga adalah kuliner bahari, terutama restoran seafood dan usaha makanan di kawasan pesisir. Meskipun terlihat sederhana, sektor ini memiliki kontribusi ekonomi yang besar karena hampir semua wisatawan mengonsumsi makanan selama perjalanan mereka.
Keempat adalah aktivitas rekreasi bahari, yang menjadi inti pengalaman wisata. Ini mencakup snorkeling, diving, surfing, hingga wisata kapal. Dalam klasifikasi KBLI, aktivitas ini termasuk dalam kategori wisata tirta dan olahraga air.
Kelima adalah jasa perjalanan dan pemandu wisata, termasuk agen perjalanan, operator tur, dan pemandu lokal. Mereka berperan penting dalam mengorganisasi pengalaman wisata, terutama untuk aktivitas yang membutuhkan keahlian khusus seperti diving.
Keenam adalah penyewaan alat dan sarana wisata, seperti penyewaan kapal, alat snorkeling, atau jet ski. Industri ini mendukung operasional aktivitas wisata di lapangan.
Ketujuh adalah pengelolaan kawasan konservasi dan taman laut, yang menjadi fondasi keberlanjutan wisata bahari. Tanpa pengelolaan yang baik, daya tarik utama seperti terumbu karang dan ekosistem laut dapat rusak.
Dari klasifikasi ini terlihat jelas bahwa wisata bahari bukan hanya satu industri, melainkan sebuah ekosistem ekonomi yang kompleks dan saling terhubung.
Tabel 1. Daftar Industri Wisata Bahari (Berbasis KBLI – TSA)
| No | Industri Wisata Bahari | Kode KBLI | Deskripsi |
| 1 | Angkutan laut penumpang dalam negeri | 50111 | Transportasi wisatawan antar pulau/destinasi bahari dalam negeri menggunakan kapal laut |
| 2 | Angkutan laut penumpang luar negeri | 50112 | Transportasi wisatawan internasional melalui jalur laut (cruise dan kapal internasional) |
| 3 | Angkutan sungai dan danau | 50211 | Transportasi wisata berbasis perairan darat seperti sungai dan danau |
| 4 | Angkutan penyeberangan (ferry) | 50212 | Transportasi penghubung antar pulau untuk wisatawan |
| 5 | Angkutan laut wisata | 50300 | Kegiatan wisata menggunakan kapal, termasuk cruise, island hopping, dan liveaboard |
| 6 | Hotel berbintang (pesisir/pantai) | 55110 | Penyediaan akomodasi di kawasan pantai atau pulau dengan fasilitas lengkap |
| 7 | Hotel non-bintang | 55120 | Akomodasi sederhana di kawasan wisata bahari |
| 8 | Akomodasi jangka pendek | 55200 | Villa, resort, homestay di kawasan pesisir dan pulau kecil |
| 9 | Akomodasi lainnya | 55900 | Penginapan alternatif seperti eco-lodge di kawasan bahari |
| 10 | Restoran | 56101 | Penyedia makanan termasuk seafood di kawasan wisata bahari |
| 11 | Rumah makan | 56102 | Usaha kuliner lokal di wilayah pesisir |
| 12 | Bar/kafe | 56301 | Tempat minum dan rekreasi di kawasan pantai |
| 13 | Wisata tirta (rekreasi air) | 93221 | Aktivitas wisata berbasis air seperti snorkeling, diving, dan wisata pantai |
| 14 | Aktivitas wisata lainnya | 93229 | Kegiatan rekreasi tambahan di kawasan bahari |
| 15 | Aktivitas olahraga air | 93192 | Kegiatan olahraga seperti surfing, jet ski, parasailing |
| 16 | Agen perjalanan wisata | 79110 | Perencanaan dan penjualan paket wisata bahari |
| 17 | Biro perjalanan wisata | 79120 | Penyedia layanan tur wisata termasuk paket bahari |
| 18 | Jasa pemandu wisata | 79920 | Pemandu wisata khusus aktivitas bahari (diving guide, tour guide) |
| 19 | Penyewaan alat rekreasi | 77210 | Penyewaan alat seperti snorkeling gear, diving equipment |
| 20 | Penyewaan kapal/alat transportasi air | 77300 | Penyewaan kapal wisata, yacht, atau perahu |
| 21 | Pengelolaan kawasan konservasi | 91030 | Pengelolaan taman laut dan kawasan konservasi bahari |
| 22 | Taman rekreasi alam | 93291 | Kawasan wisata alam termasuk taman laut dan pantai |
| 23 | Jasa kepelabuhanan | 52221 | Layanan pelabuhan untuk mendukung wisata bahari |
| 24 | Penunjang angkutan air lainnya | 52229 | Aktivitas pendukung seperti marina, dermaga wisata |
Catatan: (1) Tabel ini disusun berdasarkan konkordansi KBLI dalam kerangka TSA; (2) Tidak semua industri ini eksklusif bahari, tetapi menjadi bagian utama dalam ekosistem wisata bahari; dan (3) Industri kunci (core) adalah Transportasi air, Wisata tirta, dan Penyewaan kapal & alat. (Sumber: [BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026)
Kinerja Ekonomi Wisata Bahari
Salah satu pertanyaan penting adalah: seberapa besar sebenarnya kontribusi wisata bahari terhadap ekonomi? Karena tidak dicatat secara eksplisit dalam TSA, kita perlu melakukan pendekatan estimasi. Berdasarkan distribusi konsumsi pariwisata dan karakter destinasi Indonesia, wisata bahari diperkirakan menyumbang sekitar 32% hingga 42% dari total ekonomi pariwisata nasional([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026). Artinya bahwa hampir setengah dari aktivitas ekonomi pariwisata Indonesia terkait dengan air dan laut.
Jika dikaitkan dengan kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang berada di kisaran sekitar 4–5%, maka wisata bahari diperkirakan menyumbang sekitar 1,5% hingga 2% terhadap PDB nasional([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026). Ini adalah angka yang sangat signifikan, terutama jika dibandingkan dengan banyak sektor lainnya.
Dari sisi wisatawan, kontribusi wisata bahari bahkan lebih menonjol pada wisatawan mancanegara. Banyak turis asing datang ke Indonesia justru karena daya tarik lautnya—seperti Bali, Raja Ampat, atau Labuan Bajo. Oleh karena itu, kontribusi wisata bahari pada segmen ini diperkirakan bisa mencapai 40–55%. Sementara pada wisatawan domestik, kontribusinya sedikit lebih rendah, sekitar 25–35%, karena wisatawan lokal juga banyak mengunjungi destinasi non-bahari seperti pegunungan atau kota ([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026).
Selain kontribusi langsung, wisata bahari juga memiliki multiplier effect yang besar. Aktivitas wisata di laut dapat menggerakkan berbagai sektor lain seperti perikanan, transportasi lokal, UMKM pesisir, hingga industri kreatif. Hal ini menjadikannya sebagai salah satu motor penting dalam pembangunan ekonomi daerah, khususnya di wilayah pesisir dan pulau kecil. ([BPS] Badan Pusat Statistik RI, 2026)
Namun, ada satu paradoks penting: meskipun kontribusinya besar, wisata bahari masih tergolong sebagai sektor yang “under-measured” atau belum terukur secara optimal dalam statistik resmi. Ini membuat perencanaan kebijakan sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan potensi sebenarnya.
Tantangan Utama Wisata Bahari
Di balik potensi besar tersebut, wisata bahari Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan. Pertama adalah keterbatasan data dan klasifikasi. Karena tidak ada kategori khusus dalam TSA, sulit untuk mengukur kontribusi wisata bahari secara akurat. Hal ini berdampak pada kebijakan yang kurang tepat sasaran.
Kedua adalah ketimpangan pengembangan destinasi. Saat ini, wisata bahari masih sangat terkonsentrasi di beberapa lokasi seperti Bali. Padahal, Indonesia memiliki ribuan destinasi potensial yang belum tergarap. Ketiga adalah rendahnya nilai tambah. Banyak aktivitas wisata bahari masih bersifat mass tourism dengan harga murah, sehingga belum maksimal dalam menghasilkan pendapatan. Keempat adalah tekanan lingkungan. Aktivitas wisata yang tidak dikelola dengan baik dapat merusak ekosistem laut, seperti terumbu karang dan habitat ikan.
Strategi Pengembangan Wisata Bahari
Untuk memaksimalkan potensi wisata bahari, diperlukan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan. Pertama, Indonesia perlu mengembangkan sistem statistik khusus, seperti Marine Tourism Satellite Account. Dengan data yang lebih akurat, kebijakan dapat dirancang lebih tepat dan berbasis bukti.
Kedua, fokus harus diarahkan pada high-value tourism, bukan sekadar jumlah wisatawan. Segmen seperti diving premium, yacht tourism, dan eco-marine tourism memiliki potensi pendapatan yang jauh lebih tinggi. Ketiga, penting untuk memperluas pengembangan destinasi ke luar Bali. Kawasan seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara memiliki potensi bahari kelas dunia yang masih belum optimal.
Keempat, integrasi dengan konsep ekonomi biru (blue economy) harus menjadi prioritas. Wisata bahari tidak boleh hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga harus menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Kelima, pemberdayaan masyarakat pesisir perlu diperkuat. UMKM lokal, nelayan, dan komunitas setempat harus menjadi bagian dari rantai nilai wisata agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara luas.
Dus, wisata bahari Indonesia adalah sebuah paradoks: potensinya sangat besar, kontribusinya signifikan, tetapi belum sepenuhnya terlihat dalam sistem statistik dan kebijakan. Dengan kontribusi yang diperkirakan mencapai hingga 40% dari ekonomi pariwisata, sektor ini seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional.
Ke depan, kunci keberhasilan terletak pada kemampuan Indonesia untuk mengelola wisata bahari secara cerdas—menggabungkan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Jika dikelola dengan baik, wisata bahari bukan hanya akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga simbol keberlanjutan Indonesia sebagai negara maritim.
Referensi
[BPS] Badan Pusat Statistik RI (2026) Tourism Satellite Account Indonesia 2022-2024. Jakarta. Available at: https://www.bps.go.id/id/publication/2026/03/16/aa06ecfee0864e824b9a5f97/tourism-satellite-account-indonesia-2022-2024.html (Accessed: March 21, 2026).
