Oleh: Suhana

Kawasan Asia merupakan pusat gravitasi industri perikanan dan akuakultur dunia. Berdasarkan data Food Balance dari Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2021, tiga negara Asia memimpin daftar produsen perikanan terbesar di planet bumi, yaitu Tiongkok (China) di urutan pertama dengan produksi fantastis mencapai 64,15 juta ton, disusul India di posisi kedua dengan 14,39 juta ton, dan Indonesia menempati posisi ketiga dengan 12,66 juta ton.

Bagi para pembudidaya, nelayan skala besar, serta pelaku industri perikanan nasional, angka-angka ini memicu pertanyaan strategis: Mengapa ada jarak yang begitu lebar antara produksi Indonesia dengan China, dan seberapa dekat posisi kita untuk menyalip India? Serta strategi apa yang dimainkan oleh ketiga raksasa ini di panggung ekspor global?

Dalam artikel ini penulis membedah secara ringkas komparasi strategi produksi, kekuatan akuakultur vs perikanan tangkap, hingga efisiensi rantai pasok dari China, India, dan Indonesia untuk memberikan wawasan taktis bagi pelaku usaha perikanan di tanah air.

Peta Kekuatan Tiga Raksasa Perikanan Asia

Data neraca bahan pangan perikanan dunia tahun 2021 memperlihatkan kontras yang tajam dalam hal produksi dan arus perdagangan internasional(Tabel 1). Dari Tabel 1, terlihat jelas bahwa China berdiri di liga tersendiri dengan menyumbang lebih dari sepertiga total produksi ikan dunia. Sementara itu, persaingan sengit sejatinya terjadi antara India dan Indonesia yang hanya terpaut sekitar 1,73 juta ton produksi.

Tabel 1. Perbandingan Neraca Bahan Pangan Perikanan China, India dan Indonesia Tahun 2021

Indikator Tiongkok (China) India Indonesia
Total Produksi 64,15 juta ton 14,39 juta ton 12,66 juta ton
Pangsa Pasar Produksi Dunia 36% 8% 7%
Volume Ekspor Pangan 7,32 juta ton 1,37 juta ton 1,38 juta ton
Volume Impor Pangan 5,07 juta ton 65,5 ribu ton 170,0 ribu ton
Pasokan Konsumsi Domestik 59,84 juta ton 12,55 juta ton 11,36 juta ton

Sumber: FishStat 2026, diolah

China bukan sekadar produsen terbesar, tapi mereka adalah integrator industri perikanan paling efisien di dunia. Apa yang membuat China begitu dominan? Pertama, industrialisasi akuakultur dan teknologi pembenihan. Lebih dari 80% produksi perikanan China berasal dari perikanan budidaya (akuakultur). Mereka mengindustrialisasi akuakultur dari skala kolam tradisional menjadi kawasan akuakultur terpadu (mega-aquaculture hubs). China memanfaatkan teknologi pemuliaan induk (selective breeding), pakan berbasis riset nutrisi presisi, serta pengaplikasian sensor otomatisasi air.

Kedua, strategi ekspor dan impor seimbang (Re-Processing Hub). Data menunjukkan China mengekspor 7,32 juta ton sekaligus mengimpor 5,07 juta ton. Mengapa impornya sangat besar? China menjadikan negaranya sebagai pusat pengolahan ulang dunia (global re-processing hub). Mereka mengimpor bahan baku mentah (raw/frozen whole) dengan harga rendah dari berbagai negara, mengolahnya di pabrik-pabrik lokal menjadi produk value-added (fillet, olahan siap masak), lalu mengekspornya kembali dengan margin keuntungan yang berlipat ganda.

Ketiga, efisiensi biaya pakan dan infrastruktur logistic. China memiliki industri pakan mandiri yang didukung oleh subsidi energi dan pelabuhan ekspor modern. Hal ini membuat Cost of Goods Sold (COGS) produk perikanan China sangat kompetitif di pasar internasional.

Sementara India berhasil mengamankan posisi kedua dunia dengan produksi 14,39 juta ton. Strategi India sangat bertumpu pada segmen-segmen khusus yang digarap secara masif. Pertama, revolusi Udang Vannamei ekspor. India melakukan transformasi besar-besaran di sektor akuakultur pesisir dengan memfokuskan tambak-tambaknya pada udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Dengan standarisasi tambak semi-intensif dan intensif di wilayah Andhra Pradesh dan Gujarat, India menjadi pemasok utama udang beku ke pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kedua, perikanan air tawar (Inland Fisheries) skala besar. Sebagian besar volume produksi India disokong oleh budidaya air tawar (seperti ikan karper/carp, pangasius, dan tilapia) yang tersebar di sepanjang aliran sungai besar. Produk air tawar ini menjadi tumpuan utama pasokan pangan dalam negeri yang mencapai $12,55$ juta ton.

Ketiga, keterbatasan India terkait Infrastruktur Rantai Dingin. Meski berhasil mengekspor 1,37 juta ton, India masih menghadapi masalah klasik penanganan pascapanen. Keterbatasan cold storage dan pasokan listrik di pedesaan sering kali menurunkan grade mutu produk ekspor mereka, sebuah kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.

Baca juga: produsen-ke-3-dunia-mengapa-kita-belum-menguasai-pasar 

Posisi Indonesia: Potensi Laut Raksasa yang Belum Terolah Maksimal

Dengan produksi 12,66 juta ton, Indonesia merupakan pemain perikanan tangkap terbesar di Asia Tenggara dan kekuatan akuakultur yang berkembang pesat. Namun, ada beberapa karakteristik utama yang membedakan Indonesia dari China dan India, diantaranya, pertama keseimbangan antara perikanan tangkap dan budidaya. Indonesia dianugerahi wilayah perairan laut (Zona Ekonomi Eksklusif) yang sangat luas. Berbeda dengan India yang sangat dominan air tawar, Indonesia memiliki keunggulan komparatif pada komoditas perikanan tangkap bernilai tinggi seperti Tuna, Cakalang, Tongkol, Cumi-cumi, dan Kakap, di samping komoditas budidaya seperti Udang dan Rumput Laut.

Kedua, tantangan logistik kepulauan (Archipelagic Logistics). Jika China dan India merupakan daratan benua (continental landmass) dengan jalur darat yang terintegrasi, Indonesia adalah negara kepulauan. Biaya pengiriman kontainer berpendingin (reefer container) dari wilayah tangkapan utama di Indonesia Timur (seperti Maluku dan Papua) menuju pelabuhan ekspor utama di Jawa kerap menjadi beban biaya terbesar bagi pelaku usaha ekspor.

Ketiga, ekspor masih terfokus pada komoditas mentah. Volume ekspor Indonesia sebesar 1,38 juta ton hampir setara dengan India (1,37 juta ton). Namun, mayoritas ekspor Indonesia masih dalam bentuk bahan baku mentah beku (frozen raw), bukan produk olahan bernilai tambah tinggi (value-added).

Bisakah Indonesia Menyaling India dan Memperkecil Jarak dengan China?Jawabannya tentu sangat bisa untuk menyalip India, tetapi membutuhkan lompatan teknologis untuk mengejar China.

Selisih produksi Indonesia dengan India hanya sekitar 1,73 juta ton. Angka ini sangat realistis untuk dilampaui dalam kurun waktu beberapa tahun jika Indonesia mampu mengeksekusi langkah-langkah strategis berikut, pertama, transformasi yambak tradisional ke modul intensif berkelanjutan. Bagi pelaku usaha budidaya udang dan ikan, kunci utama mengalahkan India adalah peningkatkan produktivitas per hektar. Pembudidaya skala besar harus bertransisi dari tambak tradisional/ekstensif ke sistem intensif yang dilengkapi teknologi Automatic Feeder, aerasi optimal, dan pengelolaan kualitas air berbasis IoT.

Kedua, hilirisasi dan integrasi industri Value-Added. Eksportir lokal tidak boleh lagi nyaman hanya menjadi pengirim ikan beku mentah. Pelaku industri harus berinvestasi pada mesin pengolahan untuk menghasilkan produk ready-to-cook, fillet tanpa tulang, hingga kemasan siap saji retail. Produk value-added memberikan marjin keuntungan lebih tinggi dan tidak gampang terpengaruh fluktuasi harga bahan baku global.

Ketiga, optimalisasi sentra perikanan atau kampung nelayan merah putih. Untuk menekan biaya logistik, nelayan skala besar dan pengusaha pengolahan harus membangun kemitraan strategis di sentra-sentra produksi luar Jawa. Pembangunan fasilitas cold storage bertenaga surya/energi terbarukan dan pabrik es di dekat pelabuhan tangkapan utama akan menjaga mutu ikan tetap pada grade ekspor (premium quality).

Keempat, garap segmen industri non-pangan (Non-Food Uses). Data FAO mencatat ada 21,4 juta ton produk perikanan dunia yang diserap oleh industri non-pangan (pakan, kosmetik, farmasi). Industri perikanan skala besar di Indonesia harus mulai mengolah limbah sisa fillet (sisik, tulang, jeroan) menjadi tepung ikan berkualitas tinggi, minyak kaya Omega-3, dan kolagen. Ini adalah sumber pendapatan baru (revenue stream) yang belum dimaksimalkan oleh pelaku usaha lokal.

Dus, peta persaingan perikanan Asia memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki modal geografis dan biologis yang sangat lengkap. Kita memiliki laut lepas yang kaya dan lahan akuakultur yang masih sangat luas. Menyalip posisi India di peringkat kedua dunia bukan sekadar impian di atas kertas. Kuncinya terletak pada keberanian para nelayan skala besar dan pembudidaya nasional untuk bertransformasi: dari penanganan pascapanen tradisional menuju industrialisasi modern, dari sekadar menjual bahan baku mentah menjadi penguasa produk bernilai tambah. Dengan efisiensi pakan, integrasi teknologi rantai dingin, dan kepastian standar keberlanjutan, perikanan Indonesia siap menjadi penguasa sejati di lautan Asia.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca