Oleh: Suhana

 

Di tengah dominasi komoditas perikanan seperti udang, tuna, dan rumput laut, ada satu sektor yang tumbuh senyap tetapi menjanjikan nilai ekonomi tinggi, yaitu ikan hias. Salah satu bintangnya adalah ikan koi. Dikenal sebagai simbol keberuntungan, ketenangan, dan kemewahan, koi bukan sekadar penghuni kolam taman. Di pasar internasional, koi telah menjadi komoditas bernilai tinggi yang diburu kolektor, pemilik taman premium, hotel mewah, hingga penggemar lanskap air di berbagai negara. Kabar baiknya, Indonesia mulai menempati posisi penting dalam perdagangan koi dunia.

Data ekspor periode 2021–2025 menunjukkan perkembangan yang sangat menarik. Pada 2021, nilai ekspor koi Indonesia masih sebesar US$19.208 dengan volume 1.192 kilogram. Angka tersebut kemudian naik tajam menjadi US$86.873 pada 2022, meningkat lagi menjadi US$108.547 pada 2023, sedikit terkoreksi menjadi US$103.413 pada 2024, dan akhirnya melonjak ke US$156.974 pada 2025. Dalam lima tahun, nilai ekspor koi Indonesia meningkat lebih dari tujuh kali lipat. Ini merupakan sinyal bahwa koi Indonesia semakin diterima pasar global dan memiliki prospek ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Gambar 1. Perkembangan Ekspor Ikan Hias KOI 2021-2025 (Sumber: BPS RI, 2026)

Yang lebih menarik, pertumbuhan nilai ekspor pada 2025 justru terjadi saat volume ekspor menurun. Jika pada 2024 volume pengiriman mencapai 7.660 kilogram, maka pada 2025 turun menjadi 4.023 kilogram. Namun di saat yang sama, nilainya justru melonjak. Fenomena ini menunjukkan perubahan penting: Indonesia tidak lagi hanya menjual koi dalam jumlah banyak, tetapi mulai menjual koi dengan kualitas lebih tinggi dan harga lebih mahal. Harga rata-rata ekspor pada 2025 mencapai sekitar US$39 per kilogram, jauh di atas tahun 2024 yang hanya sekitar US$13,5 per kilogram. Artinya, pasar global mulai menghargai mutu koi Indonesia.

Dalam perdagangan ikan hias, harga bukan hanya ditentukan ukuran ikan. Warna tubuh, simetri pola, kesehatan, keturunan, hingga kemampuan bertahan selama pengiriman ikut menentukan nilai jual. Kenaikan harga rata-rata tersebut dapat diartikan sebagai meningkatnya proporsi koi premium Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional. Ini adalah kabar baik bagi pembudidaya lokal, karena pasar premium selalu memberikan margin keuntungan lebih tinggi.

Baca juga: produksi-ikan-hias-nasional 

Soekarno-Hatta: Pusat Pengiriman Ikan KOI

Dari sisi logistik, ekspor koi Indonesia sangat bergantung pada jalur udara. Hampir seluruh pengiriman utama dilakukan melalui Bandara Soekarno-Hatta. Pada 2025, bandara ini menangani ekspor senilai US$147.549 dengan volume 3.692 kilogram. Artinya, sekitar 94 persen nilai ekspor nasional dan lebih dari 91 persen volume ekspor koi Indonesia keluar melalui satu pintu utama tersebut. Hal ini wajar karena koi merupakan ikan hidup yang membutuhkan pengiriman cepat, aman, dan minim risiko stres. Bandara dengan frekuensi penerbangan internasional tinggi dan fasilitas kargo modern menjadi pilihan utama eksportir.

Selain Soekarno-Hatta, Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Ngurah Rai Bali mulai menunjukkan peran strategis. Juanda sempat mencatat peningkatan ekspor cukup besar pada 2023, sedangkan Ngurah Rai mulai muncul sebagai jalur baru pada 2025. Kehadiran dua pintu ekspor ini penting untuk mendekatkan layanan logistik ke sentra budidaya koi di Jawa Timur, Bali, dan kawasan timur Indonesia. Semakin dekat lokasi produksi dengan pintu ekspor, semakin efisien biaya pengiriman dan semakin baik kualitas ikan saat tiba di negara tujuan.

Eropa dan Timur Tenga Dominasi Tujuan Ekspor KOI

Jika melihat negara tujuan, peta pasar koi Indonesia cukup mengejutkan. Banyak orang mungkin mengira pembeli utama berasal dari negara tetangga Asia. Namun data 2025 justru menunjukkan dominasi Eropa dan Timur Tengah. Czech Republic menjadi pembeli terbesar dengan nilai US$13.750, disusul Belanda sebesar US$11.165 dan Jerman US$11.130. Setelah itu ada Qatar dengan US$9.652 dan Rusia sebesar US$9.648. Negara lain yang juga aktif membeli antara lain Saudi Arabia, Kuwait, Argentina, Malta, dan Malaysia.

Gambar 2. Ekspor Ikan Hias KOI Tahun 2025 Menurut 20 Negara Tujuan Ekspor Utama (Sumber: BPS RI, 2026)

Dominasi Eropa menunjukkan bahwa koi kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban global. Di banyak negara Eropa, koi dipelihara di taman rumah, hotel, restoran, hingga area lanskap publik. Konsumen di kawasan ini umumnya mengutamakan estetika dan kualitas, sehingga bersedia membayar lebih tinggi. Contohnya Czech Republic yang membeli dengan volume hanya 164 kilogram tetapi mencatat nilai tertinggi. Ini menandakan harga satuan yang sangat baik dan karakter pasar premium.

Timur Tengah juga merupakan pasar yang sangat menjanjikan. Negara seperti Qatar, Saudi Arabia, dan Kuwait memiliki daya beli tinggi serta budaya membangun taman mewah dan lanskap premium di kawasan hunian maupun hotel. Koi cocok dengan segmen tersebut karena dianggap menghadirkan nilai artistik dan eksklusivitas. Dengan kata lain, pasar Timur Tengah menawarkan peluang keuntungan besar bagi eksportir Indonesia.

Sementara itu, Asia tetap menjadi pasar penting. Malaysia, Sri Lanka, China, Taiwan, dan Vietnam tercatat aktif mengimpor koi Indonesia. Bahkan Jepang, yang selama ini dikenal sebagai pusat koi dunia, juga tercatat membeli koi dari Indonesia. Ini menjadi penanda bahwa kualitas koi Indonesia mulai diakui, setidaknya untuk segmen tertentu.

Dukungan Kebijakan

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang ekonomi yang luas. Koi bukan hanya soal ikan hias, tetapi juga soal rantai usaha yang panjang: pembenihan, pakan, obat ikan, peralatan kolam, transportasi, karantina, ekspor, hingga jasa pemasaran digital. Satu ekor koi bernilai tinggi dapat menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih besar dibanding nilainya sendiri. Karena itu, pengembangan koi dapat menjadi strategi cerdas untuk mendorong ekonomi daerah berbasis UMKM.

Sentra-sentra budidaya seperti Blitar, Tulungagung, Kediri, Sukabumi, Bogor, dan sejumlah daerah lain memiliki potensi besar menjadi pusat koi ekspor nasional. Dengan dukungan teknologi pembenihan, manajemen kualitas air, seleksi genetik, dan pemasaran modern, daerah-daerah tersebut bisa menjadi penghasil koi premium dunia.

Namun peluang besar ini tetap membutuhkan dukungan kebijakan. Pemerintah perlu mempercepat layanan karantina ekspor, memperkuat fasilitas pengiriman ikan hidup, menurunkan hambatan logistik, serta membantu promosi di pasar global. Pelaku usaha juga perlu membangun merek bersama agar koi Indonesia lebih mudah dikenali. Jepang sukses karena reputasi yang dibangun puluhan tahun. Indonesia pun dapat melakukan hal serupa melalui identitas seperti “Indonesian Premium Koi”.

Pada akhirnya, kisah koi Indonesia adalah contoh bagaimana komoditas yang tampak kecil justru menyimpan potensi besar. Dari kolam budidaya di desa-desa, ikan koi kini berenang menuju Praha, Amsterdam, Doha, Berlin, hingga Buenos Aires. Nilai ekspor US$156.974 memang belum sebesar udang atau tuna, tetapi pertumbuhannya menunjukkan masa depan cerah. Jika kualitas dijaga dan strategi dijalankan dengan tepat, bukan mustahil Indonesia akan dikenal dunia sebagai salah satu pusat koi premium global.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!