Bagian dari Seri: Atlas Konsumsi Ikan Indonesia 2025

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan kekayaan sumber daya ikan yang sangat besar. Namun, tidak semua jenis ikan memiliki tingkat konsumsi yang sama. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS 2026) menunjukkan bahwa ikan tongkol merupakan komoditas dengan pengeluaran rumah tangga tertinggi di antara seluruh kelompok ikan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia. Temuan ini memberikan perspektif menarik mengenai preferensi konsumsi masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa tongkol memiliki posisi yang sangat strategis dalam sistem pangan nasional.

Selama ini perhatian terhadap tongkol lebih banyak diarahkan pada aspek produksi, ekspor, dan industri pengolahan. Padahal, pasar domestik justru menjadi fondasi utama keberlanjutan komoditas ini. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang telah melampaui 280 juta jiwa, sedikit perubahan dalam pola konsumsi rumah tangga dapat menciptakan permintaan yang sangat besar terhadap komoditas tertentu. Oleh karena itu, memahami mengapa tongkol menjadi ikan favorit masyarakat menjadi penting, tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi pemerintah, pelaku usaha, dan nelayan.

Analisis ini menggunakan data Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan per Kabupaten/Kota Tahun 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dataset tersebut mencakup 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan memberikan gambaran mengenai besarnya pengeluaran rumah tangga terhadap berbagai jenis ikan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025.

Baca juga: Atlas konsumsi ikan Indonesia 2025 potret nasional 

Tongkol Menempati Posisi Pertama

Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk komoditas tongkol mencapai sekitar Rp1.398 per kapita per minggu. Nilai tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan seluruh kelompok ikan yang dianalisis.

Urutan lima besar komoditas dengan pengeluaran rumah tangga terbesar adalah sebagai berikut:

Peringkat Komoditas Rata-rata Pengeluaran (Rp/Kapita/Minggu)
1 Tongkol 1.398
2 Kembung 1.297
3 Cakalang 1.262
4 Nila 1.201
5 Udang/Lobster 1.112

Temuan ini memperlihatkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia masih didominasi oleh kelompok ikan pelagis yang hidup di laut lepas. Tongkol berhasil mengungguli cakalang, tuna, bandeng, lele, mujair, maupun ikan budidaya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mempertimbangkan nilai gizi, tetapi juga harga, ketersediaan, dan kemudahan memperoleh ikan tersebut.

Tongkol: Murah, Bergizi, dan Mudah Ditemukan

Keberhasilan tongkol menjadi ikan favorit nasional bukanlah sebuah kebetulan. Ada kombinasi berbagai faktor yang membuat komoditas ini sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Pertama adalah ketersediaan pasokan. Tongkol merupakan salah satu hasil tangkapan utama armada perikanan tangkap Indonesia. Hampir seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), mulai dari Selat Malaka, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Banda, hingga Samudra Hindia dan Samudra Pasifik menghasilkan tongkol dalam jumlah yang cukup besar. Dengan sebaran produksi yang luas, pasokan tongkol relatif stabil sepanjang tahun dibandingkan beberapa jenis ikan lainnya.

Kedua adalah harga yang relatif terjangkau. Dibandingkan tuna sirip kuning atau tuna mata besar yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk pasar ekspor, tongkol lebih banyak dipasarkan untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini membuat harga tongkol tetap kompetitif sehingga dapat dijangkau oleh berbagai kelompok pendapatan rumah tangga.

Ketiga adalah kemudahan pengolahan. Tongkol dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan, mulai dari tongkol balado, tongkol suwir, gulai tongkol, tongkol asap, pepes tongkol, hingga abon tongkol. Variasi olahan tersebut menjadikan tongkol sangat fleksibel dan diterima oleh berbagai budaya kuliner di Indonesia.

Sebaran Konsumsi Tongkol Sangat Luas

Berbeda dengan cakalang yang konsumsi tertingginya terkonsentrasi di Indonesia bagian timur, pola konsumsi tongkol jauh lebih merata. Tongkol dikonsumsi hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik di daerah pesisir maupun wilayah pedalaman.

Pulau Jawa menjadi salah satu pasar terbesar karena jumlah penduduknya yang sangat besar. Meskipun beberapa daerah di Indonesia Timur memiliki konsumsi per kapita lebih tinggi, secara total permintaan tongkol nasional sangat dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

Hal ini menunjukkan bahwa tongkol telah menjadi komoditas lintas budaya. Hampir setiap daerah memiliki resep khas berbahan dasar tongkol. Di Sumatra dikenal gulai tongkol, di Jawa terdapat tongkol balado dan tongkol pindang, di Sulawesi tongkol dimasak rica-rica, sedangkan di Nusa Tenggara banyak diolah menjadi ikan asap maupun ikan bakar.

Peran Penting dalam Ketahanan Pangan

Tingginya konsumsi tongkol memberikan sinyal positif bagi ketahanan pangan nasional. Sebagai sumber protein hewani yang relatif murah, tongkol membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah dan menengah.

Tongkol juga kaya akan protein, asam lemak omega-3, vitamin B12, selenium, fosfor, dan berbagai mineral penting lainnya. Kandungan gizinya menjadikan tongkol sebagai salah satu pilihan ideal dalam mendukung program peningkatan konsumsi ikan yang selama ini digalakkan pemerintah melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Dari sisi ekonomi, tingginya konsumsi domestik juga memberikan kepastian pasar bagi nelayan. Berbeda dengan komoditas yang sangat bergantung pada ekspor, permintaan tongkol berasal dari jutaan rumah tangga Indonesia sehingga lebih stabil terhadap gejolak pasar internasional.

Tongkol dan Industri Pengolahan

Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, tongkol juga menjadi bahan baku penting bagi industri pengolahan ikan. Produk berbasis tongkol sangat beragam, mulai dari ikan pindang, ikan asap, abon, bakso ikan, nugget, sarden, hingga berbagai makanan siap saji.

Keunggulan ini membuat rantai nilai tongkol menjadi sangat panjang. Nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh nelayan, tetapi juga oleh pelaku usaha pengolahan, distributor, pedagang pasar tradisional, ritel modern, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bagi industri pangan, tongkol memiliki karakteristik yang sangat menguntungkan karena bahan bakunya tersedia relatif stabil dan dapat diolah menjadi berbagai produk dengan umur simpan yang lebih panjang. Hal ini penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi kehilangan hasil (post-harvest loss).

Tantangan Distribusi dan Rantai Dingin

Walaupun menjadi ikan favorit masyarakat, distribusi tongkol masih menghadapi sejumlah tantangan. Di beberapa wilayah Indonesia Timur, hasil tangkapan melimpah tetapi fasilitas rantai dingin, gudang beku, dan transportasi berpendingin masih terbatas. Sebaliknya, daerah dengan permintaan tinggi seperti Jawa membutuhkan pasokan yang stabil sepanjang tahun.

Perbedaan ini menyebabkan fluktuasi harga antarwilayah. Ketika pasokan melimpah di daerah produksi, harga tongkol dapat turun drastis. Namun, di daerah konsumsi yang jauh dari pusat produksi, harga dapat meningkat akibat biaya logistik.

Karena itu, pembangunan sistem rantai dingin (cold chain system), pelabuhan perikanan yang modern, pabrik es, serta distribusi antarpulau menjadi investasi penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Implikasi bagi Kebijakan Perikanan

Temuan bahwa tongkol menjadi komoditas dengan pengeluaran rumah tangga tertinggi memiliki implikasi kebijakan yang luas. Pertama, pembangunan sektor perikanan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Pemerintah juga perlu memahami pola konsumsi masyarakat sehingga kebijakan distribusi dapat disesuaikan dengan wilayah yang memiliki permintaan terbesar.

Kedua, tingginya konsumsi tongkol membuka peluang pengembangan industri hilir berbasis bahan baku lokal. Dukungan terhadap UMKM pengolahan ikan, koperasi nelayan, serta industri pengemasan akan meningkatkan nilai tambah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Ketiga, keberlanjutan sumber daya tongkol harus menjadi prioritas. Walaupun tongkol memiliki produktivitas yang relatif tinggi, peningkatan permintaan domestik harus diimbangi dengan pengelolaan perikanan yang berbasis ilmu pengetahuan. Penguatan sistem pemantauan stok, pencatatan hasil tangkapan, dan penerapan praktik penangkapan yang bertanggung jawab menjadi langkah penting agar pemanfaatan tongkol tetap berkelanjutan.

Tongkol sebagai Simbol Kekuatan Pasar Domestik

Data BPS (2026) menunjukkan bahwa kekuatan pasar domestik Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan rata-rata pengeluaran Rp1.398 per kapita per minggu, tongkol menjadi bukti bahwa konsumsi rumah tangga mampu menciptakan pasar yang sangat besar bagi sektor perikanan.

Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan perikanan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan ekspor, tetapi juga oleh kemampuan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di dalam negeri. Dalam konteks ketahanan pangan, tongkol menjadi salah satu pilar utama yang menghubungkan laut, nelayan, industri pengolahan, dan meja makan masyarakat Indonesia.

Dus, Mengapa tongkol menjadi ikan favorit masyarakat Indonesia? Jawabannya terletak pada kombinasi antara ketersediaan sumber daya yang melimpah, harga yang terjangkau, kandungan gizi yang tinggi, kemudahan pengolahan, serta penerimaan yang luas di berbagai budaya kuliner Nusantara. Data BPS (2026) memperkuat fakta tersebut dengan menunjukkan bahwa tongkol merupakan komoditas ikan dengan pengeluaran rumah tangga tertinggi di Indonesia, melampaui kembung, cakalang, nila, maupun komoditas lainnya.

Ke depan, informasi mengenai pola konsumsi tongkol perlu menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan perikanan nasional. Penguatan infrastruktur logistik, pengembangan industri pengolahan, peningkatan kualitas rantai dingin, dan pengelolaan stok yang berkelanjutan harus berjalan seiring agar tongkol tetap menjadi sumber protein yang terjangkau sekaligus memberikan kesejahteraan bagi jutaan nelayan Indonesia.

Sebagai bagian dari Atlas Konsumsi Ikan Indonesia 2025, analisis ini menunjukkan bahwa memahami pola konsumsi sama pentingnya dengan memahami produksi. Di balik setiap kilogram tongkol yang dikonsumsi masyarakat, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan nelayan, pedagang, industri, hingga konsumen. Oleh karena itu, tongkol bukan hanya sekadar ikan konsumsi, tetapi juga representasi nyata dari bagaimana kekayaan laut Indonesia berkontribusi terhadap ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan sektor kelautan yang berkelanjutan.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca