
Bagian dari Seri: Atlas Konsumsi Ikan Indonesia 2025
Di tengah keragaman sumber daya ikan Indonesia, terdapat satu komoditas yang hampir selalu hadir di pasar tradisional, supermarket, hingga meja makan rumah tangga, yaitu ikan kembung. Selama bertahun-tahun, kembung dikenal sebagai ikan yang sederhana, mudah diperoleh, dan memiliki harga yang relatif terjangkau. Namun, di balik kesederhanaannya, ikan ini ternyata memiliki peran yang sangat besar dalam sistem pangan nasional. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa kembung merupakan salah satu komoditas ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan menempati posisi kedua berdasarkan besarnya pengeluaran rumah tangga.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pasar domestik Indonesia tidak hanya ditopang oleh komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti tuna atau udang, tetapi juga oleh ikan konsumsi sehari-hari yang menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, tingginya konsumsi kembung mencerminkan pentingnya komoditas ini dalam menjaga ketahanan pangan, memenuhi kebutuhan protein hewani, serta menggerakkan ekonomi perikanan dari tingkat nelayan hingga pedagang pasar.
Artikel ini disusun berdasarkan hasil analisis data Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan per Kabupaten/Kota Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dataset tersebut mencakup 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pola pengeluaran masyarakat terhadap berbagai kelompok ikan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025. Melalui analisis ini dapat diketahui posisi kembung dalam struktur konsumsi nasional, wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi, serta implikasinya terhadap pembangunan sektor kelautan dan perikanan.
Baca juga: Atlas konsumsi ikan Indonesia 2025: potret nasional
Kembung Menempati Posisi Kedua Nasional
Hasil pengolahan data BPS menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk ikan kembung mencapai sekitar Rp1.297 per kapita per minggu. Nilai tersebut menempatkan kembung sebagai komoditas ikan dengan pengeluaran rumah tangga terbesar kedua di Indonesia, hanya berada di bawah tongkol yang mencapai Rp1.398 per kapita per minggu.
Apabila dibandingkan dengan komoditas lainnya, posisi kembung berada di atas cakalang (Rp1.262), nila (Rp1.201), udang dan lobster (Rp1.112), serta berbagai jenis ikan budidaya lainnya seperti lele, mujair, dan bandeng. Temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat mengandalkan kelompok ikan pelagis sebagai sumber protein utama.
Dominasi tongkol dan kembung juga menunjukkan bahwa preferensi konsumen tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kombinasi antara ketersediaan, cita rasa, nilai gizi, serta kemudahan dalam mengolahnya menjadi berbagai menu masakan.
Mengapa Kembung Sangat Disukai?
Ada beberapa faktor yang menjadikan kembung sebagai salah satu ikan paling populer di Indonesia. Pertama adalah ketersediaannya yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Kembung merupakan ikan pelagis kecil yang hidup di perairan pantai dan laut lepas. Nelayan menangkap ikan ini hampir di seluruh Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), mulai dari Selat Malaka, Laut Natuna Utara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Flores, Laut Banda, hingga Laut Arafura. Sebaran sumber daya yang luas menyebabkan pasokan kembung relatif stabil sepanjang tahun.
Kedua adalah harga yang terjangkau. Dibandingkan ikan tuna besar maupun berbagai jenis seafood lainnya, harga kembung relatif lebih murah sehingga mudah dijangkau oleh berbagai kelompok masyarakat. Karakteristik ini menjadikan kembung sebagai pilihan utama rumah tangga, terutama pada kelompok pendapatan menengah dan bawah.
Ketiga adalah kemudahan pengolahan. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki resep khas berbahan dasar kembung. Ikan ini dapat digoreng, dibakar, dipindang, dibuat pepes, dimasak gulai, rica-rica, balado, maupun dijadikan bahan baku produk olahan. Fleksibilitas tersebut membuat kembung dapat diterima oleh berbagai budaya kuliner Nusantara.
Kaya Gizi, Murah, dan Menyehatkan
Popularitas kembung tidak hanya didorong oleh harga yang ekonomis, tetapi juga karena kandungan gizinya yang sangat baik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan kembung merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan asam lemak omega-3, vitamin B12, vitamin D, selenium, fosfor, dan berbagai mineral penting lainnya.
Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa kandungan asam lemak omega-3 pada ikan kembung dapat menyaingi bahkan melebihi beberapa jenis ikan yang lebih mahal. Oleh karena itu, kembung sering disebut sebagai “superfood laut yang terjangkau” karena mampu memberikan manfaat kesehatan dengan harga yang relatif rendah.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, tingginya konsumsi kembung menjadi kabar baik karena dapat mendukung upaya penurunan stunting, peningkatan kecerdasan anak, serta pencegahan penyakit tidak menular melalui konsumsi pangan bergizi.
Konsumsi yang Menyebar Hampir di Seluruh Indonesia
Berbeda dengan cakalang yang konsumsi tertingginya terkonsentrasi di kawasan Indonesia Timur, pola konsumsi kembung jauh lebih merata. Hampir seluruh provinsi memiliki masyarakat yang mengonsumsi kembung dalam jumlah cukup besar.
Pulau Jawa menjadi pasar yang sangat penting karena jumlah penduduknya besar. Sementara itu, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku juga menunjukkan tingkat konsumsi yang cukup tinggi. Sebaran yang luas ini menunjukkan bahwa kembung telah menjadi bagian dari pola konsumsi nasional yang melintasi batas budaya, agama, maupun kondisi geografis.
Dengan demikian, pasar domestik kembung jauh lebih stabil dibandingkan komoditas yang hanya dikonsumsi secara lokal atau musiman.
Peran Penting bagi Nelayan Skala Kecil
Sebagian besar produksi kembung berasal dari armada perikanan tangkap skala kecil dan menengah. Ribuan nelayan tradisional menggantungkan penghasilannya pada hasil tangkapan kembung yang dipasarkan langsung ke tempat pelelangan ikan, pasar tradisional, maupun pedagang pengumpul.
Tingginya permintaan domestik memberikan kepastian pasar bagi nelayan. Berbeda dengan komoditas yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga ekspor, pasar kembung lebih ditopang oleh konsumsi rumah tangga Indonesia. Kondisi ini membuat kembung menjadi salah satu komoditas yang memiliki risiko pasar relatif lebih rendah.
Selain itu, rantai pasok kembung juga melibatkan banyak pelaku usaha, mulai dari nelayan, pedagang ikan, pengangkut, industri pengolahan, hingga rumah makan. Dengan demikian, setiap peningkatan konsumsi kembung akan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat pesisir.
Kembung dalam Industri Pengolahan
Walaupun sebagian besar dikonsumsi dalam bentuk segar, kembung juga menjadi bahan baku berbagai produk olahan. Industri pengolahan menghasilkan ikan pindang, ikan asap, ikan beku, abon, bakso ikan, nugget, hingga produk siap saji berbasis kembung.
Potensi pengembangan industri ini masih sangat besar, terutama untuk memperluas akses pasar ke daerah yang jauh dari sentra produksi. Melalui pengolahan yang baik, umur simpan produk dapat diperpanjang sehingga distribusi menjadi lebih efisien.
Pengembangan industri berbasis kembung juga dapat meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan dan membuka peluang usaha baru bagi UMKM perikanan di berbagai daerah.
Tantangan Logistik dan Stabilitas Pasokan
Walaupun memiliki pasar domestik yang kuat, distribusi kembung masih menghadapi beberapa tantangan. Infrastruktur rantai dingin (cold chain) belum merata sehingga kualitas ikan dapat menurun selama proses distribusi. Di sisi lain, perbedaan musim penangkapan menyebabkan fluktuasi pasokan di beberapa wilayah.
Perbedaan harga antarwilayah juga masih cukup besar akibat tingginya biaya logistik, terutama untuk daerah kepulauan dan wilayah timur Indonesia. Oleh karena itu, investasi pada pelabuhan perikanan, gudang beku, pabrik es, dan transportasi berpendingin menjadi sangat penting agar ketersediaan kembung tetap terjaga sepanjang tahun.
Implikasi Kebijakan Perikanan
Data konsumsi BPS memberikan pesan penting bahwa pembangunan sektor perikanan tidak cukup hanya meningkatkan produksi. Pemerintah perlu memahami pola konsumsi masyarakat agar kebijakan dapat diarahkan pada penguatan rantai pasok domestik.
Pertama, pengembangan infrastruktur logistik harus diprioritaskan pada wilayah dengan permintaan tinggi. Kedua, dukungan terhadap UMKM pengolahan berbasis kembung perlu diperluas untuk meningkatkan nilai tambah. Ketiga, sistem informasi harga dan distribusi antarpulau perlu diperkuat agar fluktuasi harga dapat ditekan.
Selain itu, keberlanjutan sumber daya ikan kembung juga harus menjadi perhatian. Meskipun tergolong ikan pelagis dengan produktivitas yang cukup tinggi, peningkatan permintaan domestik memerlukan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan melalui pemantauan stok, pengendalian upaya penangkapan, serta penguatan sistem pencatatan hasil tangkapan.
Kembung sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional
Temuan BPS 2025 memperlihatkan bahwa ikan kembung bukan sekadar komoditas perikanan biasa. Dengan rata-rata pengeluaran Rp1.297 per kapita per minggu, kembung telah menjadi salah satu penopang utama konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia.
Posisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sektor kelautan tidak hanya bergantung pada komoditas ekspor bernilai tinggi, tetapi juga pada ikan konsumsi yang setiap hari hadir di meja makan jutaan keluarga Indonesia. Kembung telah membuktikan bahwa komoditas dengan harga terjangkau dapat memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap gizi masyarakat, pendapatan nelayan, serta stabilitas ekonomi perikanan nasional.
Dus, ikan kembung merupakan salah satu komoditas paling penting dalam sistem pangan Indonesia. Dengan rata-rata pengeluaran rumah tangga sekitar Rp1.297 per kapita per minggu, kembung menempati posisi kedua sebagai ikan dengan pengeluaran terbesar setelah tongkol. Posisi tersebut mencerminkan tingginya penerimaan masyarakat terhadap kembung sebagai sumber protein yang bergizi, terjangkau, mudah diolah, dan tersedia hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Ke depan, penguatan konsumsi kembung perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, pembangunan rantai dingin yang lebih baik, serta pengembangan industri pengolahan berbasis bahan baku lokal. Dengan demikian, kembung tidak hanya akan terus menguasai meja makan masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pembangunan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
