
Oleh: Suhana
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai lebih dari 108 ribu kilometer dan wilayah laut yang mencapai sekitar dua pertiga dari total luas wilayah nasional. Kekayaan sumber daya ikan yang melimpah menjadikan ikan sebagai salah satu sumber protein hewani paling penting bagi masyarakat Indonesia. Namun, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji: apakah masyarakat Indonesia benar-benar mengonsumsi ikan sesuai dengan potensi yang dimiliki negaranya? Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari angka produksi perikanan, tetapi juga harus ditelusuri melalui pola konsumsi masyarakat.
Data Rata-rata Pengeluaran Per Kapita Seminggu Menurut Kelompok Ikan per Kabupaten/Kota Tahun 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran yang sangat kaya mengenai bagaimana masyarakat Indonesia membelanjakan uangnya untuk berbagai jenis ikan. Dataset yang mencakup 514 kabupaten/kota ini tidak hanya menunjukkan besarnya pengeluaran untuk ikan secara umum, tetapi juga memperlihatkan preferensi masyarakat terhadap berbagai komoditas, mulai dari ikan pelagis seperti tongkol dan cakalang, ikan budidaya seperti nila dan lele, hingga udang, cumi-cumi, dan produk ikan olahan.
Data ini menjadi penting karena konsumsi ikan tidak sekadar mencerminkan pola makan masyarakat, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi ekonomi rumah tangga, budaya lokal, ketersediaan sumber daya, sistem distribusi pangan, hingga arah pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Dengan kata lain, memahami konsumsi ikan berarti memahami hubungan antara laut, masyarakat, dan ekonomi Indonesia.
Berdasarkan data BPS tahun 2025, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk kelompok ikan, udang, cumi, dan kerang mencapai sekitar Rp16.918 per kapita per minggu. Angka tersebut merupakan akumulasi dari berbagai jenis ikan yang dikonsumsi rumah tangga di seluruh Indonesia. Meskipun terlihat sebagai satu angka nasional, di balik rata-rata tersebut terdapat perbedaan yang sangat besar antarwilayah. Ada kabupaten yang mencatat pengeluaran lebih dari Rp50.000 per kapita per minggu, tetapi ada pula daerah yang pengeluarannya bahkan belum mencapai Rp5.000. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konsumsi ikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor geografis, budaya, harga, dan akses terhadap komoditas perikanan.
Salah satu temuan paling menarik dari data ini adalah dominasi beberapa jenis ikan tertentu dalam pola konsumsi nasional. Komoditas dengan rata-rata pengeluaran terbesar adalah tongkol, disusul kembung, cakalang, nila, udang, ikan segar lainnya, mujair, layang, dan lele. Daftar tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung mengonsumsi ikan yang memiliki kombinasi antara harga yang relatif terjangkau, pasokan yang stabil, dan mudah diperoleh sepanjang tahun.
Dominasi tongkol, kembung, cakalang, dan layang menunjukkan bahwa ikan pelagis masih menjadi tulang punggung konsumsi ikan laut di Indonesia. Keempat komoditas tersebut tersebar luas di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia dan menjadi target utama armada perikanan tangkap skala kecil maupun menengah. Selain memiliki cita rasa yang disukai masyarakat, ikan-ikan tersebut juga relatif mudah dipasarkan karena tersedia dalam berbagai bentuk, baik segar, beku, maupun olahan.
Di sisi lain, tingginya konsumsi nila, mujair, dan lele mencerminkan keberhasilan perkembangan sektor akuakultur Indonesia selama dua dekade terakhir. Produksi ikan budidaya yang terus meningkat telah memperluas akses masyarakat terhadap sumber protein dengan harga yang relatif stabil. Di banyak wilayah, khususnya Pulau Jawa, ikan budidaya bahkan menjadi pilihan utama rumah tangga karena lebih mudah diperoleh dibandingkan ikan laut segar.
Jika pola konsumsi dianalisis secara spasial, terlihat adanya perbedaan yang cukup mencolok antarwilayah. Kawasan Indonesia bagian timur, seperti Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Barat, menunjukkan tingkat pengeluaran ikan yang relatif tinggi. Sebaliknya, sejumlah kabupaten di Pulau Jawa justru memiliki pengeluaran ikan yang lebih rendah. Fenomena ini bukan berarti masyarakat Jawa kurang mengonsumsi protein, melainkan menunjukkan adanya perbedaan struktur konsumsi pangan. Rumah tangga di Jawa memiliki akses yang lebih besar terhadap ayam, telur, tahu, tempe, maupun ikan budidaya, sehingga proporsi pengeluaran untuk ikan laut menjadi lebih kecil.

Wilayah timur Indonesia memperlihatkan karakteristik yang berbeda. Di daerah-daerah kepulauan, ikan bukan hanya salah satu pilihan lauk, tetapi merupakan makanan pokok sumber protein yang dikonsumsi hampir setiap hari. Budaya makan masyarakat pesisir telah berkembang selama ratusan tahun dengan menjadikan hasil laut sebagai bagian dari identitas kuliner lokal. Oleh karena itu, tingginya pengeluaran ikan di wilayah tersebut mencerminkan kombinasi antara budaya konsumsi, ketersediaan sumber daya, dan ketergantungan terhadap hasil laut.
Baca juga: data-pengeluaran-ikan-2025-papua-barat-daya-paling-tinggi
Menariknya, tingginya pengeluaran tidak selalu berarti harga ikan murah. Di beberapa wilayah terpencil, terutama di Papua dan daerah kepulauan kecil, biaya distribusi pangan yang tinggi menyebabkan harga berbagai bahan pangan, termasuk ikan, ikut meningkat. Dengan demikian, nilai pengeluaran rumah tangga dipengaruhi oleh dua faktor sekaligus, yaitu volume konsumsi dan tingkat harga. Oleh sebab itu, interpretasi data pengeluaran perlu selalu mempertimbangkan konteks geografis dan ekonomi masing-masing daerah.
Data BPS juga memperlihatkan bahwa konsumsi ikan di Indonesia semakin beragam. Selain ikan segar, masyarakat mulai mengalokasikan pengeluaran untuk berbagai produk olahan seperti ikan asap, ikan asin, abon ikan, maupun makanan olahan berbasis hasil laut. Meskipun nilai rata-rata pengeluarannya masih relatif kecil dibandingkan ikan segar, tren ini menunjukkan berkembangnya industri pengolahan hasil perikanan yang memberikan nilai tambah bagi sektor perikanan nasional.
Dari perspektif ekonomi, pola konsumsi ini memiliki implikasi yang sangat penting. Selama ini perhatian terhadap sektor perikanan sering kali lebih banyak diarahkan pada produksi dan ekspor. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen tuna, cakalang, udang, dan rumput laut terbesar di dunia. Namun, data konsumsi menunjukkan bahwa pasar domestik juga memiliki peranan yang tidak kalah strategis. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, sedikit saja peningkatan konsumsi ikan per kapita akan menghasilkan tambahan permintaan nasional yang sangat besar. Artinya, pertumbuhan konsumsi domestik dapat menjadi motor penggerak baru bagi kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan industri pengolahan.
Bagi pemerintah, informasi mengenai pola konsumsi ikan menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Program peningkatan konsumsi ikan tidak lagi dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Wilayah yang telah memiliki budaya konsumsi ikan tinggi memerlukan dukungan berupa peningkatan kualitas rantai dingin, stabilisasi harga, dan pengembangan industri pengolahan. Sebaliknya, daerah dengan konsumsi yang masih rendah membutuhkan edukasi gizi, peningkatan akses terhadap produk ikan yang berkualitas, serta penguatan jaringan distribusi agar masyarakat memperoleh ikan dengan harga yang terjangkau.
Selain itu, data konsumsi juga dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai program pemerintah, seperti Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). Selama ini keberhasilan program sering diukur berdasarkan peningkatan angka konsumsi ikan nasional. Padahal, analisis pada tingkat kabupaten/kota dapat memberikan gambaran yang jauh lebih rinci mengenai daerah mana yang mengalami peningkatan konsumsi dan daerah mana yang masih memerlukan intervensi kebijakan.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, peningkatan konsumsi ikan harus berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Permintaan yang terus meningkat tidak boleh mendorong eksploitasi berlebihan terhadap stok ikan di alam. Oleh karena itu, penguatan perikanan budidaya, pengelolaan perikanan tangkap berbasis kuota, peningkatan ketertelusuran (traceability), serta pengembangan rantai pasok yang efisien menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan dan keberlanjutan sumber daya laut.
Seri Atlas Konsumsi Ikan Indonesia 2025 ini disusun untuk mengupas lebih dalam berbagai pola konsumsi tersebut. Pada artikel-artikel berikutnya, setiap komoditas utama akan dibahas secara khusus, mulai dari cakalang, tongkol, kembung, nila, lele, patin, hingga udang. Analisis juga akan diperluas pada aspek geografis, ekonomi, budaya pangan, dan keterkaitannya dengan produksi, perdagangan, serta kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.
Dus, data BPS tahun 2025 mengajarkan satu hal yang sangat penting. Indonesia bukan hanya negara penghasil ikan, tetapi juga negara dengan keragaman pola konsumsi ikan yang luar biasa. Setiap daerah memiliki karakteristiknya sendiri, dipengaruhi oleh laut, sungai, budaya, harga, dan sejarah masyarakatnya. Memahami pola konsumsi tersebut merupakan langkah awal untuk merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan nelayan, sekaligus memastikan bahwa kekayaan sumber daya ikan Indonesia benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat. Melalui pendekatan berbasis data, kita tidak hanya mengetahui berapa banyak ikan yang ditangkap, tetapi juga siapa yang mengonsumsinya, jenis ikan apa yang dipilih, dan bagaimana pola konsumsi tersebut membentuk masa depan pembangunan perikanan Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
