Oleh: Suhana

 

Bayangkan seorang pembudidaya ikan yang tidak lagi harus datang ke kolam setiap pagi hanya untuk mengecek kualitas air. Ia cukup membuka telepon genggam. Dalam hitungan detik, layar menampilkan kadar oksigen terlarut, suhu air, tingkat keasaman (pH), salinitas, hingga aktivitas makan ikan secara real time. Ketika kadar oksigen mulai turun, sistem secara otomatis menyalakan aerator. Ketika suhu air berubah drastis, aplikasi memberikan peringatan. Bahkan, sebelum penyakit menyerang ikan, sistem sudah mengirimkan sinyal bahwa terdapat perubahan perilaku yang perlu diwaspadai.

Skenario tersebut bukan lagi gambaran masa depan. Di banyak negara, teknologi seperti ini sudah digunakan dalam kegiatan budidaya sehari-hari. Akuakultur sedang memasuki era digital.

Laporan The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2026 menegaskan bahwa transformasi sektor perikanan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada inovasi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan. Digitalisasi menjadi salah satu pilar penting dalam agenda Blue Transformation yang diusung FAO. FAO juga mencatat bahwa sekitar 70 persen pertumbuhan produksi ikan dunia sejak tahun 2000 berasal dari akuakultur, menunjukkan betapa pentingnya sektor ini dalam memenuhi kebutuhan pangan global.

Bagi Indonesia, negara yang kini menjadi produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia setelah China dan India, transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Akuakultur Tidak Lagi Dikelola dengan Perkiraan

Selama bertahun-tahun, banyak keputusan dalam budidaya masih mengandalkan pengalaman. Pembudidaya menentukan waktu pemberian pakan berdasarkan kebiasaan, memperkirakan kualitas air dari perubahan warna, atau baru menyadari adanya penyakit setelah ikan mulai mati.

Pendekatan seperti ini memang berhasil pada skala kecil. Namun ketika produksi meningkat dan persaingan global semakin ketat, keputusan yang hanya mengandalkan intuisi menjadi semakin berisiko.

SOFIA 2026 menunjukkan bahwa produksi akuakultur hewan akuatik dunia telah melampaui 100 juta ton pada tahun 2024, dengan nilai ekonomi lebih dari USD 300 miliar. Dengan skala produksi sebesar itu, setiap kesalahan kecil dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Karena itulah akuakultur modern mulai beralih dari experience-based farming menuju data-driven aquaculture, yaitu budidaya yang didasarkan pada data dan analisis.

Sensor Menjadi Mata Tambak

Langkah pertama dalam digitalisasi akuakultur adalah penggunaan sensor. Sensor dipasang di kolam, tambak, atau keramba untuk mengukur berbagai parameter penting, antara lain:

  • suhu air,
  • pH,
  • kadar oksigen terlarut (DO),
  • salinitas,
  • kekeruhan,
  • kadar amonia,
  • tinggi permukaan air.

Data tersebut dikirim secara otomatis ke komputer atau telepon genggam sehingga pembudidaya dapat memantau kondisi budidaya kapan saja.

Keuntungan utama sistem ini adalah kemampuan mendeteksi perubahan sejak dini. Penurunan oksigen yang sebelumnya baru diketahui setelah ikan megap-megap kini dapat diketahui beberapa jam lebih awal, sehingga tindakan pencegahan dapat segera dilakukan.

Berbagai studi menunjukkan bahwa penggunaan sensor kualitas air dapat menurunkan tingkat kematian ikan hingga 20–30 persen dan meningkatkan produktivitas hingga 15 persen, terutama pada budidaya intensif seperti udang dan nila.

Internet of Things Menghubungkan Semua Perangkat

Sensor menjadi jauh lebih bermanfaat ketika dihubungkan melalui Internet of Things (IoT). IoT memungkinkan berbagai perangkat saling berkomunikasi secara otomatis.

Sebagai contoh, ketika sensor mendeteksi kadar oksigen turun di bawah batas aman, sistem langsung mengaktifkan aerator tanpa menunggu operator datang ke lokasi.

Begitu pula ketika sensor menunjukkan suhu meningkat tajam, sistem dapat mengirimkan notifikasi ke telepon pembudidaya. Integrasi semacam ini membuat budidaya menjadi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih hemat tenaga kerja. Di beberapa negara, penerapan IoT dalam akuakultur mampu mengurangi kebutuhan tenaga kerja hingga 30 persen dan menurunkan biaya operasional secara signifikan.

Di berbagai negara produsen akuakultur seperti China, Norwegia, dan Vietnam, penerapan IoT telah menjadi bagian penting dari modernisasi industri.

Kamera dan Computer Vision Mengawasi Perilaku Ikan

Teknologi berikutnya adalah computer vision, yaitu pemanfaatan kamera yang dipadukan dengan kecerdasan buatan. Kamera bawah air dapat memantau perilaku ikan sepanjang hari.

Dari rekaman tersebut, sistem mampu mengenali berbagai pola, seperti:

  • aktivitas makan,
  • kecepatan berenang,
  • kepadatan populasi,
  • ukuran ikan,
  • hingga gejala awal penyakit.

Jika ikan mulai berenang tidak normal atau nafsu makan menurun, sistem akan memberikan peringatan kepada pembudidaya.

Pendekatan ini memungkinkan tindakan dilakukan sebelum kerugian menjadi besar. Dalam beberapa uji coba di industri salmon Norwegia, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi pemberian pakan hingga 10–15 persen. 

Artificial Intelligence Membantu Mengambil Keputusan

Perkembangan paling menarik adalah penggunaan Artificial Intelligence (AI).

Berbeda dengan sensor yang hanya mengumpulkan data, AI mampu menganalisis jutaan data dalam waktu singkat dan menghasilkan rekomendasi.

Sebagai contoh, AI dapat membantu menjawab pertanyaan seperti:

  • kapan waktu pemberian pakan terbaik,
  • berapa jumlah pakan yang optimal,
  • kapan panen memberikan keuntungan tertinggi,
  • bagaimana memprediksi risiko penyakit,
  • bagaimana mengurangi biaya produksi.

AI belajar dari data historis, kondisi cuaca, kualitas air, pertumbuhan ikan, hingga harga pasar.

Semakin banyak data yang tersedia, semakin akurat rekomendasi yang dihasilkan.

Dengan demikian, keputusan budidaya tidak lagi didasarkan pada dugaan, tetapi pada analisis yang objektif. Beberapa perusahaan teknologi akuakultur melaporkan bahwa penggunaan AI dapat meningkatkan rasio konversi pakan (FCR) hingga 10 persen, yang berarti penghematan biaya yang sangat signifikan.

Pakan Menjadi Lebih Efisien

Dalam usaha budidaya, pakan dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi. Karena itu, efisiensi pemberian pakan menjadi salah satu sasaran utama digitalisasi.

Melalui kamera dan AI, sistem dapat mendeteksi apakah ikan masih aktif makan atau sudah kenyang. Ketika aktivitas makan mulai menurun, mesin pemberi pakan otomatis akan berhenti.

Teknologi ini mampu mengurangi pemborosan pakan hingga 20 persen sekaligus menjaga kualitas air karena sisa pakan tidak menumpuk di dasar kolam.

Selain menghemat biaya, pendekatan ini juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan, terutama dalam menekan emisi nitrogen dan fosfor ke perairan.

Baca juga: era baru ekspor ikan bukan soal volume tetapi ketelusuran 

Digitalisasi Membantu Ketelusuran

Transformasi digital tidak berhenti pada proses produksi. Dalam artikel sebelumnya telah dibahas bahwa perdagangan perikanan dunia memasuki era baru yang menuntut ketelusuran (traceability).

Digitalisasi menjadi fondasi utama sistem tersebut. Setiap tahapan produksi dapat direkam secara otomatis, mulai dari:

  • asal benih,
  • kualitas air,
  • penggunaan pakan,
  • penggunaan obat,
  • tanggal panen,
  • proses pengolahan,
  • hingga distribusi.

Data tersebut kemudian dapat dihubungkan dengan QR Code sehingga pembeli mengetahui riwayat produk secara lengkap.

Menurut FAO, lebih dari 60 persen pasar ekspor utama seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat kini mulai menerapkan standar ketelusuran digital yang ketat, termasuk kewajiban pelaporan elektronik untuk produk perikanan.

Indonesia Memiliki Peluang Besar

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat. Produksi akuakultur Indonesia telah mencapai hampir 6 juta ton per tahun, dengan nilai produksi lebih dari Rp 200 triliun, dan menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar ketiga dunia.

Komoditas utama seperti:

  • udang vaname (target ekspor USD 2 miliar),
  • nila,
  • lele,
  • patin,
  • bandeng,

sebagian besar dibudidayakan pada lokasi yang tetap sehingga relatif lebih mudah menerapkan teknologi digital dibanding sektor penangkapan ikan.

Selain itu, penetrasi telepon pintar di Indonesia telah mencapai lebih dari 70 persen populasi, membuka peluang besar untuk mengembangkan aplikasi digital yang mudah digunakan oleh pembudidaya skala kecil sekalipun.

Tantangan yang Masih Harus Diatasi

Meskipun peluangnya besar, transformasi digital masih menghadapi beberapa tantangan. Biaya investasi awal masih menjadi kendala bagi sebagian pembudidaya, terutama untuk perangkat sensor dan sistem otomatisasi yang masih relatif mahal.

Selain itu, kualitas jaringan internet di beberapa sentra budidaya belum merata. Data menunjukkan bahwa sekitar 30 persen wilayah pesisir dan perdesaan masih memiliki keterbatasan akses internet yang stabil.

Kemampuan sumber daya manusia dalam mengoperasikan teknologi digital juga perlu terus ditingkatkan.

Karena itu, digitalisasi tidak cukup hanya menyediakan perangkat keras. Diperlukan pula pelatihan, pendampingan, pembiayaan, dan dukungan kebijakan agar teknologi benar-benar dimanfaatkan secara luas.

Masa Depan Tambak Ada di Data

Laporan SOFIA 2026 menunjukkan bahwa masa depan akuakultur tidak hanya ditentukan oleh luas kolam atau banyaknya benih yang ditebar. Keunggulan akan dimiliki oleh negara yang mampu memanfaatkan data untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan.

Sensor, IoT, kamera pintar, analitik data, dan Artificial Intelligence bukanlah pengganti pembudidaya. Sebaliknya, teknologi tersebut menjadi alat yang membantu pembudidaya mengambil keputusan yang lebih cepat dan lebih tepat.

Dus, bagi Indonesia, transformasi digital merupakan peluang besar untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu kekuatan utama akuakultur dunia. Di masa depan, keberhasilan budidaya tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa luas tambak yang dimiliki, tetapi oleh seberapa cerdas data dimanfaatkan. Karena pada akhirnya, tambak masa depan bukan hanya menghasilkan ikan. Tambak masa depan juga menghasilkan informasi, pengetahuan, dan keputusan yang lebih baik.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!