
Oleh: Suhana
“Science is essential to ensure that fisheries and aquaculture contribute to food security, nutrition and sustainable development.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang berulang dalam laporan The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2026 yang diterbitkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Di balik kalimat yang sederhana itu tersimpan sebuah pesan besar: masa depan perikanan dunia tidak lagi dapat dikelola hanya berdasarkan pengalaman, intuisi, atau kepentingan ekonomi jangka pendek. Perikanan membutuhkan fondasi yang lebih kuat, yaitu ilmu pengetahuan.
Pesan ini menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim menggeser daerah penangkapan ikan, tekanan eksploitasi meningkat di berbagai wilayah, permintaan terhadap pangan laut terus bertambah, sementara ekosistem pesisir dan laut menghadapi berbagai ancaman. Dalam kondisi seperti ini, keputusan yang tidak didasarkan pada bukti ilmiah berisiko mempercepat penurunan sumber daya ikan dan melemahkan ketahanan pangan masyarakat.
Bagi Indonesia sebagai salah satu negara perikanan terbesar di dunia, pesan tersebut layak menjadi bahan refleksi. Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar, yaitu sudahkah kebijakan perikanan kita benar-benar bertumpu pada sains?
Dunia Semakin Mengandalkan Bukti Ilmiah
Laporan SOFIA 2026 menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan global mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Salah satu indikator penting adalah meningkatnya proporsi stok ikan yang dikelola secara berkelanjutan di wilayah-wilayah yang menerapkan sistem pengelolaan berbasis sains.
FAO mencatat bahwa stok ikan yang berada di bawah pengelolaan efektif umumnya memiliki tingkat keberlanjutan yang jauh lebih tinggi dibanding wilayah yang pengelolaannya lemah. Sebaliknya, stok yang tidak dipantau secara ilmiah cenderung mengalami penangkapan berlebih (overfishing) dan penurunan produktivitas. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan tidak semata ditentukan oleh banyaknya aturan, tetapi oleh kualitas data dan analisis yang menjadi dasar penyusunan kebijakan.
Produksi Meningkat, Tetapi Tekanan Juga Bertambah
SOFIA 2026 mencatat bahwa produksi perikanan dan akuakultur dunia mencapai sekitar 235 juta ton pada tahun 2024, tertinggi sepanjang sejarah. Dari jumlah tersebut, sekitar 195 juta ton merupakan hewan akuatik, sementara sisanya berasal dari alga. Akuakultur hewan akuatik sendiri telah melampaui 100 juta ton, menjadikannya sumber utama pasokan pangan akuatik dunia.
Pencapaian ini merupakan kabar baik. Namun di balik angka tersebut terdapat tantangan besar. Permintaan terhadap ikan diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dunia yang diproyeksikan mendekati 10 miliar jiwa pada pertengahan abad ini. Di sisi lain, banyak stok ikan tangkap tidak dapat lagi ditingkatkan produksinya karena telah berada pada batas biologis.
Situasi ini membuat setiap keputusan kebijakan menjadi semakin penting. Kesalahan dalam menetapkan kuota tangkap, membuka wilayah penangkapan baru, atau mengabaikan kondisi stok ikan dapat berdampak besar terhadap keberlanjutan sumber daya.
Baca juga: transparansi-kunci-keberlanjutan-industri-perikanan
Mengapa Sains Menjadi Sangat Penting?
Dalam dunia perikanan, sains bukan sekadar kegiatan penelitian di laboratorium. Sains merupakan proses menghasilkan bukti yang dapat digunakan untuk memahami kondisi sumber daya dan memprediksi dampak suatu kebijakan.
Sebagai contoh, sebelum pemerintah menetapkan kuota penangkapan ikan, para peneliti perlu mengestimasi ukuran stok, tingkat eksploitasi, kemampuan reproduksi, serta dinamika populasi. Tanpa informasi tersebut, kuota yang ditetapkan hanya menjadi perkiraan yang berisiko terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Begitu pula dalam akuakultur. Pengembangan budidaya tidak cukup hanya melihat peluang pasar. Diperlukan penelitian mengenai kualitas benih, efisiensi pakan, kesehatan ikan, biosekuriti, daya dukung lingkungan, hingga dampak perubahan iklim terhadap produktivitas.
Dengan kata lain, sains membantu memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar menghasilkan manfaat jangka panjang.
Bukti Bahwa Sains Bekerja
SOFIA 2026 memberikan pesan yang optimistis. Negara dan organisasi pengelola perikanan yang secara konsisten menggunakan hasil penelitian ilmiah menunjukkan kinerja yang lebih baik dibanding wilayah yang belum menerapkan pendekatan serupa.
Di berbagai kawasan, penerapan kuota berbasis stok, pemantauan ilmiah secara berkala, evaluasi hasil tangkapan, serta penggunaan model stok telah membantu memulihkan beberapa sumber daya ikan yang sebelumnya mengalami tekanan.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa investasi pada penelitian bukanlah biaya, melainkan investasi untuk menjaga keberlanjutan produksi dan kesejahteraan nelayan.
Indonesia Memiliki Modal Besar
Indonesia sebenarnya memiliki modal ilmiah yang cukup kuat. Berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta instansi pemerintah telah menghasilkan banyak kajian mengenai stok ikan, dinamika oseanografi, teknologi budidaya, kesehatan ikan, hingga perubahan iklim.
Selain itu, Indonesia telah memiliki berbagai perangkat ilmiah seperti Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI), kajian stok ikan, estimasi Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB), dan berbagai hasil riset yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan.
Namun tantangan utamanya bukan lagi kekurangan penelitian, melainkan bagaimana memastikan bahwa hasil penelitian tersebut benar-benar digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Masih sering ditemukan kondisi ketika kebijakan disusun lebih cepat dibanding proses pengumpulan data. Dalam beberapa kasus, data produksi, data stok, maupun data sosial ekonomi belum sepenuhnya terintegrasi sehingga menghasilkan kebijakan yang kurang optimal.
Data Berkualitas Menjadi Fondasi
SOFIA 2026 juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas data. Tanpa data yang baik, sains tidak dapat bekerja secara optimal.
Data yang dibutuhkan tidak hanya berupa volume produksi, tetapi juga meliputi:
- ukuran ikan yang ditangkap,
- lokasi penangkapan,
- musim penangkapan,
- jenis alat tangkap,
- kondisi habitat,
- kualitas lingkungan,
- produktivitas budidaya,
- penggunaan pakan,
- tingkat kelangsungan hidup,
- hingga data sosial ekonomi masyarakat.
Perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar untuk memperbaiki sistem pengumpulan data. Penggunaan logbook elektronik, pemantauan kapal berbasis satelit, sensor kualitas air, kecerdasan buatan, dan analisis data besar (big data) dapat meningkatkan akurasi sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan.
Kebijakan yang Adaptif
Salah satu pelajaran penting dari SOFIA 2026 adalah bahwa kebijakan perikanan tidak boleh bersifat kaku. Ekosistem laut terus berubah akibat perubahan iklim, dinamika oseanografi, dan tekanan aktivitas manusia.
Karena itu, kebijakan juga harus mampu beradaptasi.
Pendekatan adaptive fisheries management memungkinkan pemerintah melakukan penyesuaian kuota, wilayah penangkapan, atau strategi pengelolaan berdasarkan hasil pemantauan ilmiah terbaru. Dengan cara ini, kebijakan menjadi lebih responsif terhadap perubahan kondisi di lapangan.
Pendekatan adaptif ini juga relevan untuk akuakultur, terutama dalam menghadapi meningkatnya risiko penyakit, perubahan kualitas air, serta cuaca ekstrem.
Blue Transformation Membutuhkan Sains
Dalam SOFIA 2026, FAO memperkenalkan Blue Transformation sebagai arah pembangunan sektor perikanan dan akuakultur dunia. Transformasi ini bertujuan meningkatkan produksi pangan akuatik secara berkelanjutan sekaligus menjaga kesehatan ekosistem.
Namun transformasi tersebut tidak mungkin berhasil tanpa dukungan ilmu pengetahuan.
Blue Transformation membutuhkan inovasi teknologi, pemodelan sumber daya, pemantauan ekosistem, peningkatan efisiensi produksi, hingga pengembangan sistem ketelusuran berbasis data.
Dengan kata lain, sains menjadi fondasi yang menghubungkan produktivitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan.
Dari Penelitian Menjadi Kebijakan
Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat pendekatan science-based policy dalam sektor perikanan. Beberapa langkah yang dapat diprioritaskan antara lain:
- Memperkuat sistem pengumpulan data produksi dan stok ikan secara nasional.
- Meningkatkan integrasi data antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.
- Memastikan setiap kebijakan strategis didukung oleh kajian ilmiah yang transparan.
- Mengembangkan sistem pemantauan digital untuk perikanan tangkap dan akuakultur.
- Memperkuat komunikasi antara peneliti dan pembuat kebijakan agar hasil penelitian lebih mudah diterjemahkan menjadi kebijakan publik.
Menjadikan Sains sebagai Kompas
Data, model, dan hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai laporan ilmiah yang tersimpan di rak perpustakaan atau server komputer. Nilai sebenarnya dari sains terletak pada kemampuannya membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik.
Ketika stok ikan berubah, sains memberi peringatan. Ketika teknologi baru lebih efisien, sains memberikan solusi. Ketika perubahan iklim mulai memengaruhi produksi, sains membantu merancang strategi adaptasi.
Karena itu, di tengah semakin kompleksnya tantangan sektor perikanan, ilmu pengetahuan bukan lagi pelengkap kebijakan, melainkan kompas yang menunjukkan arah.
Indonesia telah memiliki sumber daya, tenaga ahli, dan institusi penelitian yang memadai. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap kebijakan perikanan benar-benar berpijak pada bukti ilmiah, bukan sekadar asumsi.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan perikanan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ikan yang dihasilkan, tetapi juga oleh seberapa baik ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi kebijakan yang melindungi sumber daya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menjamin keberlanjutan bagi generasi mendatang.
