
Oleh: Suhana
Di tengah dinamika geopolitik yang terus berubah, berita utama Harian Kompas edisi 24 Juni 2026 mengenai upaya Indonesia mengaktifkan kembali “mesin diplomasi” Timur Tengah dan Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA) menjadi sinyal penting bagi masa depan perdagangan Indonesia. Langkah diplomasi yang dipimpin Kementerian Luar Negeri tersebut tidak hanya berkaitan dengan isu politik dan keamanan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang sangat besar, termasuk bagi sektor kelautan dan perikanan.
Salah satu negara yang layak mendapat perhatian khusus dalam strategi diplomasi ekonomi Indonesia adalah Qatar. Berdasarkan kajian FAO GLOBEFISH Market Profile 2023, Qatar merupakan pasar perikanan yang sangat bergantung pada impor, memiliki daya beli tinggi, dan menunjukkan permintaan yang terus meningkat terhadap berbagai produk seafood premium. Jika dikaitkan dengan inisiatif diplomasi terbaru Indonesia di kawasan MENA, Qatar dapat menjadi pintu masuk strategis bagi peningkatan ekspor perikanan nasional.
Diplomasi yang Berbasis Kepentingan Ekonomi
Dalam pemberitaan Kompas, Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menegaskan bahwa Indonesia akan memperkuat kemitraan strategis dengan negara-negara MENA melalui dialog yang lebih intensif, termasuk peningkatan kerja sama ekonomi. Data perdagangan menunjukkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan tersebut sebenarnya sudah cukup kuat. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi mencapai USD 6,53 miliar, Uni Emirat Arab USD 6,44 miliar, Turki USD 2,3 miliar, Mesir USD 2,38 miliar, dan Qatar USD 1,99 miliar.
Meski demikian, angka tersebut masih jauh di bawah potensi yang tersedia. Kawasan MENA memiliki populasi lebih dari 500 juta jiwa dengan tingkat pendapatan yang relatif tinggi, terutama di negara-negara Teluk. Selain itu, sebagian besar negara di kawasan ini menghadapi keterbatasan sumber daya air dan lahan sehingga bergantung pada impor pangan, termasuk produk perikanan.
Dalam konteks inilah diplomasi tidak lagi hanya dipahami sebagai instrumen politik luar negeri, tetapi juga sebagai alat untuk membuka akses pasar, memperkuat jaringan bisnis, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Qatar: Pasar Kecil dengan Daya Beli Besar
Hasil review terhadap Qatar GLOBEFISH Market Profile menunjukkan karakteristik pasar yang sangat menarik. Dengan populasi hanya sekitar 2,98 juta jiwa, Qatar memang bukan pasar terbesar di kawasan. Namun negara ini memiliki GDP per kapita mencapai USD 72.945, salah satu yang tertinggi di dunia.
Konsumsi ikan masyarakat Qatar mencapai sekitar 22 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, produksi domestik hanya sekitar 19 ribu ton dan hampir seluruhnya berasal dari perikanan tangkap. Akuakultur belum berkembang signifikan sehingga kemampuan produksi nasional sangat terbatas.
Akibatnya, Qatar sangat bergantung pada impor seafood untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Nilai impor produk perikanan mencapai sekitar USD 139,7 juta per tahun, sedangkan ekspornya hanya sekitar USD 1 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa Qatar merupakan pasar net importer yang sangat terbuka terhadap pasokan dari negara lain. Bagi Indonesia, situasi ini menghadirkan peluang yang sulit diabaikan.
Baca juga: melihat-potensi-pasar-ikan-saudi-arabia
Udang dan Tuna: Bintang yang Belum Bersinar Maksimal
Data impor Qatar memperlihatkan bahwa udang beku menjadi produk perikanan impor terbesar dengan nilai lebih dari USD 18 juta. Selain itu, produk tuna dan cakalang olahan juga masuk dalam kelompok impor utama.
Ironisnya, Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir udang serta tuna terbesar di dunia, tetapi belum menjadi pemain dominan di pasar Qatar. Padahal kedua komoditas tersebut merupakan produk unggulan ekspor perikanan nasional yang selama ini lebih banyak diarahkan ke Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa.
Ketergantungan yang tinggi terhadap pasar tradisional sering kali menjadi sumber kerentanan. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa perubahan tarif, hambatan non-tarif, atau perlambatan ekonomi di negara tujuan dapat langsung memukul kinerja ekspor.
Karena itu, diversifikasi pasar menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan.
Diplomasi MENA yang sedang digencarkan pemerintah dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar ekspor perikanan Indonesia ke negara-negara Teluk, termasuk Qatar.
Dari Diplomasi Politik ke Diplomasi Seafood
Pertemuan antara Indonesia dan Qatar yang disebutkan dalam laporan Kompas menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, termasuk dialog strategis tingkat menteri luar negeri, percepatan penyelesaian nota kesepahaman di bidang pendidikan, teknologi, kebudayaan, dan penguatan kerja sama ekonomi.
Namun, keberhasilan diplomasi tidak hanya diukur dari jumlah nota kesepahaman yang ditandatangani. Yang lebih penting adalah sejauh mana diplomasi tersebut mampu menghasilkan transaksi ekonomi nyata.
Dalam konteks perikanan, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, mendorong pembentukan forum bisnis perikanan Indonesia–Qatar yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan importir dan distributor utama di Doha.
Kedua, memperkuat promosi produk seafood Indonesia pada pameran pangan dan perhotelan di kawasan Teluk. Pasar Qatar sangat dipengaruhi sektor hospitality yang berkembang pesat, terutama setelah penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2022.
Ketiga, memperluas sertifikasi halal, keamanan pangan, dan ketelusuran produk yang menjadi syarat utama bagi pasar Timur Tengah.
Keempat, mengembangkan pusat distribusi (distribution hub) produk perikanan Indonesia di kawasan Teluk yang dapat melayani beberapa negara sekaligus.
Momentum Diversifikasi Pasar Ekspor
Langkah diplomasi ke kawasan MENA menjadi semakin relevan karena lanskap perdagangan global sedang mengalami perubahan besar. Konflik geopolitik, perang dagang, ketidakpastian tarif, dan meningkatnya proteksionisme mendorong banyak negara mencari pasar alternatif.
Indonesia tidak boleh bergantung pada beberapa pasar utama saja. Kawasan MENA menawarkan kombinasi yang menarik: daya beli tinggi, ketergantungan impor pangan, pertumbuhan sektor jasa, dan hubungan politik yang relatif baik dengan Indonesia.
Bahkan, dalam beberapa aspek, pasar MENA memiliki karakteristik yang lebih sesuai dengan produk Indonesia dibanding pasar negara maju yang semakin ketat menerapkan berbagai standar lingkungan dan keberlanjutan.
Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi juga tengah menjalankan strategi diversifikasi ekonomi yang membutuhkan pasokan pangan yang stabil. Dalam situasi tersebut, Indonesia berpeluang menjadi mitra strategis jangka panjang.
Menjadikan MENA sebagai Mesin Baru Pertumbuhan
Apa yang disampaikan Anis Matta dalam laporan Kompas sesungguhnya mencerminkan perubahan orientasi diplomasi ekonomi Indonesia. Kawasan MENA tidak lagi dipandang sekadar sebagai tujuan hubungan politik atau kerja sama keagamaan, tetapi sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi masa depan.
Bagi sektor perikanan, peluang tersebut sangat nyata. Data GLOBEFISH menunjukkan bahwa Qatar membutuhkan lebih banyak seafood daripada yang mampu diproduksinya sendiri. Indonesia memiliki kapasitas produksi, pengalaman ekspor, dan kedekatan budaya yang dapat menjadi modal penting untuk memasuki pasar tersebut.
Tantangan tentu tetap ada, mulai dari persaingan dengan India, Vietnam, Thailand, hingga kebutuhan peningkatan kualitas produk. Namun tanpa keberanian memperluas pasar, Indonesia akan terus bergantung pada pasar tradisional yang semakin kompetitif.
Karena itu, diplomasi MENA seharusnya tidak berhenti pada pertemuan tingkat tinggi atau penandatanganan nota kesepahaman. Diplomasi harus diterjemahkan menjadi peningkatan volume perdagangan, investasi, dan kerja sama bisnis yang konkret.
Jika mesin diplomasi MENA benar-benar berhasil dihidupkan kembali, maka bukan hanya hubungan politik yang menghangat. Ekspor perikanan Indonesia pun berpeluang menemukan mesin pertumbuhan baru di tengah ketidakpastian ekonomi global. Di sinilah Qatar dapat menjadi salah satu pintu masuk paling menjanjikan bagi masa depan seafood Indonesia.
