Oleh: Suhana

Pasar perikanan global memasuki babak baru pada awal tahun 2026, yang ditandai oleh pemulihan signifikan dan pergeseran struktural pada aktivitas perdagangan hasil laut di Tiongkok. Berdasarkan laporan berkala Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bekerja sama dengan China Aquatic Products Processing and Marketing Alliance (CAPPMA) dalam GLOBEFISH Chinese Fish Price Report Issue 2/2026, nilai impor produk perikanan dan budidaya Tiongkok pada Kuartal I (Q1) 2026 menembus angka USD 7,28 miliar (FAO & CAPPMA, 2026). Angka ini mencerminkan lonjakan tajam sebesar 24 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencatatkan nilai USD 5,86 miliar (FAO & CAPPMA, 2026).

Meskipun secara kuartalan angka ini cenderung stabil jika dibandingkan dengan Kuartal IV 2025 sebesar USD 7,4 miliar, pergerakan bulanan pada Q1 2026 memperlihatkan pola musiman yang sangat dinamis sekaligus ketahanan struktural industri pengolahan hasil laut Tiongkok. Pembacaan kritis terhadap data Fish Trade Watch ini sangat krusial bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar dengan ambisi menjadi raksasa ekonomi biru dunia, Indonesia perlu memahami bagaimana konstelasi pasokan global dibentuk oleh raksasa konsumsi Tiongkok, serta mengidentifikasi celah strategis guna meningkatkan daya saing ekspor perikanan nasional.

Volatilitas Musiman dan Dominasi Sektor Pengolahan

Pola perdagangan perikanan Tiongkok pada kuartal pertama tahun 2026 mencerminkan siklus konsumsi domestik dan jadwal operasional industri yang khas. Impor perikanan dibuka pada bulan Januari dengan nilai USD 2,56 miliar, sebelum mengalami penurunan sementara pada Februari menjadi USD 2,16 miliar akibat penghentian aktivitas pabrik pengolahan dan perlambatan logistik selama perayaan Tahun Baru Imlek (FAO & CAPPMA, 2026). Namun, pasca-libur panjang, kinerja impor dengan cepat melenting (rebound) kembali ke angka USD 2,56 miliar pada bulan Maret (FAO & CAPPMA, 2026).

Rebound yang kuat pada bulan Maret terutama didorong oleh lonjakan impor bahan baku ikan demersal (whitefish) berbasis pengolahan. Hal ini menegaskan dua fungsi ganda Tiongkok dalam rantai nilai perikanan dunia, yaitu sebagai pasar konsumen raksasa dan sebagai hub pemrosesan re-ekspor perikanan terbesar di dunia.

Laporan FAO & CAPPMA (2026) tersebut juga memperlihatkan dinamika sector pengolahan Tiongkok, yaitu Pertama, lonjakan bahan baku whitefish dan keunggulan industri pemrosesan. Segmen ikan demersal menjadi pendorong utama ekspansi nilai impor Tiongkok pada Q1 2026. Impor ikan Alaska pollock beku (Theragra chalcogramma, HS 03036700) mencatatkan peningkatan luar biasa dari USD 62,9 juta pada Januari dan USD 67,9 juta pada Februari, menjadi USD 200,4 juta pada bulan Maret—sebuah lonjakan tiga kali lipat dalam satu bulan (FAO & CAPPMA, 2026). Dari total nilai impor Maret tersebut, Federasi Rusia mendominasi secara mutlak dengan memasok USD 194,75 juta atau lebih dari 97 persen dari total kebutuhan Alaska pollock Tiongkok (FAO & CAPPMA, 2026).

Pola serupa terlihat pada komoditas cod beku (Gadus morhua / Gadus macrocephalus, HS 03036300) yang meningkat dari USD 68,1 juta pada Januari menjadi USD 130,2 juta pada Maret, dengan Rusia sebagai pemasok utama senilai USD 64,6 juta (FAO & CAPPMA, 2026). Komoditas lain seperti haddock beku (Melanogrammus aeglefinus, HS 03036400) dan coalfish beku (Pollachius virens, HS 03036500) juga mencatatkan pertumbuhan impor masing-masing sebesar 74 persen dan 147 persen secara bulanan pada Maret 2026 (FAO & CAPPMA, 2026). Fenomena ini menunjukkan bahwa pasca-Imlek, industri pengolahan Tiongkok langsung bergerak cepat memenuhi pesanan kontrak ekspor olahan ikan global.

Kedua, segmen Udang dan konsolidasi pemasok tunggal. Di segmen krustasea, produk udang beku kecil non-kupas (Penaeus vannamei dan sejenisnya, HS 03061790) tetap memegang predikat sebagai kategori impor tunggal terbesar secara nilai. Impor kategori ini mencapai USD 489,9 juta pada Januari, terkoreksi ke USD 356,9 juta pada Februari, dan pulih kembali ke USD 411,8 juta pada Maret 2026 (FAO & CAPPMA, 2026).

Republik Ekuador membuktikan dominasi monopolis pasokannya di pasar Tiongkok. Sepanjang Q1 2026, Ekuador konsisten menguasai lebih dari 70 persen pangsa pasar impor udang Tiongkok, dengan mengirimkan udang senilai USD 362,2 juta pada Januari (73,9%), USD 264,7 juta pada Februari (74,1%), dan USD 297,1 juta pada Maret (72,1%) (FAO & CAPPMA, 2026). Efisiensi skala produksi masif dan integrasi hulu-hilir industri udang Ekuador membuatnya menjadi pemasok yang sangat sulit digoyahkan oleh kompetitor lain.

Ketiga, konsumsi produk bernilai tinggi dan dinamika akuakultur. Pasar Tiongkok juga menunjukkan daya serap yang sangat kuat terhadap produk seafood segar dan kelas atas (premium products). Impor salmon Atlantik segar/dingin (HS 03021410) bertahan stabil di level tinggi, yakni sebesar USD 160,6 juta pada Januari, mencapai puncak musiman USD 177,5 juta pada Februari untuk perayaan Imlek, dan sedikit melandai ke USD 153,3 juta pada Maret 2026 (FAO & CAPPMA, 2026). Norwegia menjadi pemasok utama salmon segar ini dengan nilai ekspor mencapai USD 103,47 juta pada Maret (FAO & CAPPMA, 2026).

Sebaliknya, produk akuakultur bernilai tinggi seperti benih belut (eel fry, HS 03019210) menunjukkan tren kelangkaan biologis yang ekstrem. Meskipun volume impornya sangat kecil—turun dari 2.026 kg pada Januari menjadi hanya 740 kg pada Maret—harga rata-ratanya melonjak hingga di atas USD 2.357 per kilogram (FAO & CAPPMA, 2026). Hal ini mencerminkan ketatnya pasokan benih belut liar di tingkat global dan tingginya ketergantungan industri akuakultur belut Tiongkok terhadap pasokan luar negeri.

Pembelajaran Strategis Bagi Sektor Perikanan Indonesia

Data dan dinamika yang tersaji dalam laporan Fish Trade Watch Q1 2026 ini memberikan sejumlah pelajaran kritis bagi perumusan kebijakan dan strategi bisnis perikanan di Indonesia, yaitu pertama, re-evaluasi posisi Indonesia dalam rantai nilai Udang global. Dominasi Ekuador yang menguasai lebih dari 70 persen pasar udang Tiongkok dengan harga rata-rata bersaing—berada di kisaran USD 4,67 hingga USD 4,94 per kg (FAO & CAPPMA, 2026)—harus menjadi peringatan keras bagi industri udang Indonesia.

Selama ini, Indonesia terlalu bergantung pada pasar Amerika Serikat. Ketika pasar AS memperketat hambatan masuk (seperti isu tarif anti-dumping dan countervailing duties), Indonesia kesulitan mengalihkan pasokan ke Tiongkok karena kalah bersaing dari segi harga dan volume skala besar yang ditawarkan Ekuador. Indonesia perlu melakukan efisiensi struktur biaya budidaya udang nasional, memperkuat konektivitas logistik dingin (cold chain), dan mendorong hilirisasi produk udang bernilai tambah (value-added shrimp) daripada sekadar mengandalkan udang beku utuh mentah.

Kedua, pemanfaatan peluang industri pengolahan ikan Demersal. Lonjakan impor whitefish Tiongkok hingga mencapai USD 200 juta lebih pada Maret 2026 memperlihatkan betapa besarnya kapasitas pengolahan sekunder (secondary processing) negara tersebut (FAO & CAPPMA, 2026). Indonesia memiliki potensi sumber daya ikan demersal dan pelagis yang kaya di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), namun belum mampu membangun industri pengolahan sekunder berskala masif yang efisien. Indonesia harus bertransformasi dari sekadar eksportir bahan baku mentah (raw materials) menjadi processing hub regional. Penguatan investasi pada fasilitas pembekuan, teknik filleting otomatis, dan sertifikasi keamanan pangan internasional adalah kunci untuk merebut pasar olahan global.

Ketiga, diversifikasi pasar dan penetrasi produk premium. Tren tingginya konsumsi salmon segar dan lobster di Tiongkok saat perayaan hari besar menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat urban Tiongkok yang menginginkan protein berkualitas tinggi (FAO & CAPPMA, 2026). Indonesia memiliki komoditas tropis bernilai tinggi yang setara, seperti kerapu hibrida, kakap putih, tuna segar, dan udang galah. Namun, kehadiran produk ekspor perikanan Indonesia di tabel utama kustom Tiongkok masih sangat terbatas dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam yang mendominasi pasar patin/catfish (FAO & CAPPMA, 2026). Indonesia perlu memperkuat diplomasi perdagangan perikanan, mempermudah protokol karantina bilateral dengan Tiongkok, dan mempromosikan branding produk perikanan tropis yang berkelanjutan.

Keempat, perlindungan dan pengelolaan sumber daya Nutfah local. Fenomena harga benur belut sidat (eel fry) yang menembus USD 2.300/kg akibat kelangkaan biologis menegaskan pentingnya perlindungan plasma nutfah (FAO & CAPPMA, 2026). Indonesia adalah rumah bagi spesies belut (Anguilla celebesensis dan Anguilla marmorata) serta benih bening lobster (BBL). Ketergiuran untuk mengekspor benih mentah demi keuntungan jangka pendek dapat menghancurkan potensi industri budidaya domestik di masa depan. Indonesia harus memperketat pengawasan lalu lintas benih alam dan fokus menguasai teknologi pembenihan (hatchery) buatan agar memiliki kedaulatan industri akuakultur yang mandiri.

Dus, dinamika impor perikanan Tiongkok pada Kuartal I 2026 membuktikan bahwa perdagangan hasil laut dunia kini sangat ditentukan oleh efisiensi skala produksi, ketangguhan rantai pasok, dan fleksibilitas industri pengolahan. Pertumbuhan impor sebesar 24 persen YoY menjadi USD 7,28 miliar di pasar Tiongkok adalah peluang sekaligus tantangan nyata (FAO & CAPPMA, 2026). Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton pasif atau sekadar pemasok komoditas mentah bernilai rendah. Reformasi tata kelola perikanan nasional—yang mencakup efisiensi budidaya, modernisasi industri olahan, proteksi genetika, dan penetrasi pasar yang agresif—adalah syarat mutlak jika Indonesia ingin mengonversi potensi maritimnya menjadi kekuatan ekonomi nyata di panggung dunia.

 

Daftar Pustaka

Food and Agriculture Organization of the United Nations [FAO], & China Aquatic Products Processing and Marketing Alliance [CAPPMA]. (2026). GLOBEFISH Chinese Fish Price Report (Issue 2/2026). FAO. https://www.globefish.org


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca