Oleh: Suhana

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah berhenti bergerak, terdapat gugusan pulau kecil yang menawarkan pelajaran berharga tentang kehidupan, lingkungan, dan kebersamaan. Pulau Harapan, salah satu pulau berpenghuni di Kepulauan Seribu, menjadi destinasi perjalanan keluarga besar Universitas Teknologi Muhammadiyah (UTM) Jakarta dalam kegiatan yang memadukan wisata, edukasi, dan kepedulian lingkungan.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Muara Angke pada pagi hari. Kapal KM Pesona Alam membawa rombongan menembus perairan Teluk Jakarta menuju Pulau Harapan. Selama kurang lebih tiga jam perjalanan, hamparan laut menjadi ruang refleksi yang mengingatkan bahwa Indonesia sejatinya adalah negara maritim yang kehidupannya sangat bergantung pada kesehatan ekosistem laut.

Rombongan UTM Jakarta

Sesampainya di Pulau Harapan, rombongan disambut suasana khas pulau kecil yang tenang dan bersahaja. Berdasarkan data kelurahan, Pulau Harapan memiliki luas sekitar 2,45 kilometer persegi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.800 jiwa. Di pulau yang relatif kecil ini, masyarakat hidup berdampingan dengan laut yang menjadi sumber mata pencaharian sekaligus identitas budaya mereka.

Namun di balik pesonanya, Pulau Harapan juga menghadapi tantangan lingkungan yang tidak ringan. Salah satu yang paling terlihat adalah persoalan sampah laut. Di beberapa kawasan mangrove, berbagai jenis sampah seperti plastik, styrofoam, botol minuman, hingga limbah rumah tangga tersangkut di antara akar-akar mangrove. Pemandangan ini menjadi ironi ketika keindahan laut harus berdampingan dengan ancaman pencemaran yang sebagian besar berasal dari aktivitas manusia.

Sampah di Pulau Harapan

Persoalan sampah di pulau-pulau kecil bukan hanya soal estetika. Sampah yang menumpuk dapat mengganggu pertumbuhan mangrove, merusak habitat berbagai biota, menurunkan kualitas lingkungan, dan pada akhirnya mempengaruhi kehidupan masyarakat pesisir. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan berpotensi berubah menjadi tempat akumulasi limbah jika tidak dikelola dengan baik.

Sampai di sekitar Mangrove

Karena itu, salah satu kegiatan utama dalam perjalanan ini adalah penanaman mangrove. Kegiatan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata kontribusi terhadap upaya pelestarian ekosistem pesisir. Mangrove memiliki banyak fungsi penting, mulai dari melindungi pantai dari abrasi, menyerap karbon, menjaga kualitas perairan, hingga menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting.

Saat menanam bibit mangrove di kawasan pesisir Pulau Harapan, peserta diajak memahami bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui diskusi dan kampanye, tetapi juga memerlukan tindakan nyata. Setiap bibit yang ditanam merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekosistem pesisir.

Ekosistem mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai biota penting, salah satunya kepiting bakau. Hewan yang sering dijumpai di kawasan mangrove ini memiliki peran ekologis yang besar. Kepiting bakau membantu menguraikan bahan organik, memperbaiki kualitas sedimen, dan menjadi bagian penting dalam rantai makanan. Kehadirannya menjadi indikator bahwa ekosistem mangrove masih berfungsi dengan baik.

 

Penanaman Pohon Mangrove jenis Rhizopora

Selain kegiatan konservasi, peserta juga menikmati keindahan bawah laut melalui aktivitas snorkeling di sekitar Pulau Genteng dan Pulau Melintang. Air laut yang jernih dan keberadaan terumbu karang memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut. Terumbu karang bukan hanya objek wisata, tetapi juga habitat bagi ribuan spesies ikan dan organisme laut lainnya.

Perjalanan ini juga menghadirkan pelajaran sosial yang tidak kalah penting. Kebersamaan keluarga besar UTM Jakarta selama kegiatan memperlihatkan bahwa hubungan antarsivitas akademika tidak hanya dibangun melalui aktivitas akademik, tetapi juga melalui interaksi yang hangat di luar kampus. Berbagi pengalaman, bekerja sama dalam kegiatan lingkungan, hingga menikmati suasana pulau bersama menjadi bagian dari proses memperkuat rasa kekeluargaan.

Pada pagi hari berikutnya, matahari terbit menyambut Pulau Harapan dengan warna langit yang memukau. Aktivitas nelayan yang mulai melaut dan suasana pulau yang perlahan hidup kembali menghadirkan gambaran tentang keseharian masyarakat pesisir. Di sinilah terlihat bagaimana laut menjadi denyut kehidupan yang sesungguhnya.

Perjalanan ke Pulau Harapan memberikan pesan bahwa pulau-pulau kecil bukan sekadar destinasi wisata. Mereka adalah ruang hidup masyarakat, pusat keanekaragaman hayati, sekaligus benteng penting bagi keberlanjutan lingkungan pesisir Indonesia. Menjaga pulau-pulau kecil berarti menjaga masa depan bangsa maritim.

Pada akhirnya, perjalanan ini mengajarkan bahwa harapan tidak hanya terdapat pada nama Pulau Harapan. Harapan itu tumbuh dari setiap langkah menjaga lingkungan, setiap bibit mangrove yang ditanam, setiap sampah yang tidak dibuang sembarangan, dan setiap upaya bersama untuk merawat laut Indonesia.

Karena laut yang sehat akan melahirkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang peduli akan menjaga harapan itu tetap hidup untuk generasi mendatang.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!