Infografis perkembangan impor ikan hias China

Oleh: Suhana

Dalam beberapa tahun terakhir, China menjelma menjadi salah satu mesin pertumbuhan terpenting bagi perdagangan ikan hias dunia. Pertumbuhan kelas menengah, meningkatnya budaya memelihara hewan peliharaan, serta berkembangnya industri akuarium modern telah mendorong permintaan ikan hias ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi Indonesia, perkembangan ini merupakan kabar baik sekaligus peringatan. Di satu sisi, Indonesia berhasil menjadi pemasok terbesar ikan hias ke China. Namun di sisi lain, sejumlah negara pesaing mulai menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih agresif. Dengan kata lain, Indonesia memang sedang memimpin pasar, tetapi posisi tersebut tidak sepenuhnya aman.

Tabel 1. Perkembangan Impor Ikan Hias China 2021–2025

Tahun Nilai Impor (US$ Ribu) Pertumbuhan (%)
2021 14.117
2022 23.476 66,3
2023 40.918 74,3
2024 37.281 -8,9
2025 35.473 -4,9

Sumber: Diolah dari ITC Trade Map (2026)

Data International Trade Centre (ITC) menunjukkan bahwa nilai impor ikan hias China meningkat dari US$14,1 juta pada tahun 2021 menjadi US$35,5 juta pada tahun 2025 (Tabel 1). Dalam kurun waktu lima tahun, nilai impor tersebut melonjak lebih dari 150 persen. Pertumbuhan paling tinggi terjadi pada periode 2021–2023 ketika pasar mengalami ekspansi pesat pasca-pandemi. Meskipun pada tahun 2024 dan 2025 terjadi penurunan masing-masing sebesar 8,9 persen dan 4,9 persen, nilai impor tetap berada jauh di atas tingkat sebelum lonjakan pasar terjadi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ikan hias telah menjadi bagian dari ekonomi gaya hidup (lifestyle economy) masyarakat urban China. Akuarium tidak lagi sekadar elemen dekoratif, tetapi telah menjadi simbol estetika, relaksasi, dan bahkan investasi bagi sebagian penghobi. Pertumbuhan komunitas pecinta ikan hias di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen menciptakan permintaan yang terus meningkat terhadap berbagai spesies ikan tropis dari seluruh dunia.

Salah satu karakteristik utama pasar China adalah dominasi ikan hias air tawar. Pada tahun 2025, sekitar 73,5 persen impor ikan hias China berasal dari kelompok live ornamental freshwater fish, sementara sisanya merupakan kelompok ikan hias hidup lainnya yang sebagian besar terdiri atas ikan laut (Tabel 2).

Tabel 2. Struktur Impor Ikan Hias China Tahun 2025

Produk Nilai (US$ Ribu) Pangsa (%)
Live ornamental freshwater fish 26.084 73,5
Other live ornamental fish 9.389 26,5
Total 35.473 100

Sumber: ITC Trade Map (2026)

Dominasi ikan air tawar menunjukkan bahwa pasar China sangat cocok dengan struktur produksi ikan hias Indonesia. Sebagian besar spesies unggulan Indonesia, seperti cupang, arwana, corydoras, rainbowfish, rasbora, dan berbagai ikan tropis lainnya berasal dari kelompok ikan air tawar. Selain lebih mudah dipelihara dibandingkan ikan laut, ikan air tawar juga memiliki biaya pemeliharaan yang lebih rendah sehingga menjangkau konsumen yang lebih luas.

Keunggulan tersebut tercermin pada posisi Indonesia sebagai pemasok utama ikan hias ke China. Pada tahun 2025, nilai ekspor ikan hias Indonesia ke China mencapai US$16,2 juta atau setara dengan 45,7 persen total impor China. Artinya, hampir separuh ikan hias yang diimpor China berasal dari Indonesia (Tabel 3).

Tabel 3. Pemasok Utama Ikan Hias ke China Tahun 2025

Negara Nilai (US$ Ribu) Pangsa (%)
Indonesia 16.221 45,7
Malaysia 6.909 19,5
Thailand 3.547 10,0
Filipina 2.530 7,1
Brazil 1.377 3,9
Sri Lanka 1.335 3,8
Tanzania 995 2,8
Kolombia 933 2,6
Jepang 825 2,3
Amerika Serikat 264 0,7

Sumber: ITC Trade Map (2026)

Pencapaian ini tidak terlepas dari keunggulan biodiversitas Indonesia yang merupakan salah satu negara megabiodiversitas terbesar di dunia. Ribuan spesies ikan air tawar dan laut tersebar dari Sumatra hingga Papua. Selain itu, perkembangan teknologi budidaya dalam dua dekade terakhir telah memungkinkan Indonesia menghasilkan ikan hias berkualitas ekspor dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Namun demikian, membaca data secara kritis menunjukkan bahwa dominasi Indonesia menghadapi tantangan yang semakin nyata. Ancaman terbesar justru datang dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Malaysia menjadi contoh paling mencolok. Pada tahun 2021, nilai ekspor ikan hias Malaysia ke China hanya sekitar US$279 ribu. Empat tahun kemudian, nilainya melonjak menjadi US$6,9 juta. Pertumbuhan hampir 25 kali lipat ini merupakan sinyal kuat bahwa Malaysia sedang memperkuat posisinya dalam rantai pasok ikan hias regional.

Jika tren tersebut terus berlanjut, Malaysia berpotensi menjadi pesaing utama Indonesia di pasar China. Keunggulan Malaysia tidak hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada efisiensi logistik, dukungan regulasi ekspor, dan reputasi internasional pada beberapa spesies premium seperti arwana.

Thailand juga tidak bisa diabaikan. Negara ini telah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri ikan hias dunia dengan keunggulan pada guppy, koi, goldfish, serta berbagai strain ikan tropis hasil pemuliaan yang bernilai tinggi. Meskipun pertumbuhannya lebih moderat dibandingkan Malaysia, Thailand memiliki kekuatan pada aspek inovasi produk dan branding global.

Menariknya, jika seluruh negara ASEAN digabungkan, kawasan ini menguasai lebih dari 82 persen pasar impor ikan hias China (Tabel 4).

Tabel 4. Dominasi ASEAN dalam Pasar Ikan Hias China Tahun 2025

Negara ASEAN Nilai (US$ Ribu)
Indonesia 16.221
Malaysia 6.909
Thailand 3.547
Filipina 2.530
Total ASEAN 29.207 

Baca juga: asia-mengubah-peta-dagang-ikan-hias-dunia

Pangsa ASEAN terhadap total impor China: 82,3%

Dominasi ASEAN menunjukkan bahwa kedekatan geografis masih menjadi faktor penting dalam perdagangan ikan hidup. Semakin pendek waktu pengiriman, semakin rendah tingkat kematian ikan selama transportasi dan semakin kompetitif biaya logistik yang harus ditanggung eksportir. Faktor inilah yang membuat negara-negara Asia Tenggara memiliki keunggulan yang sulit ditandingi oleh pemasok dari kawasan lain.

Meski demikian, pemain non-ASEAN mulai menunjukkan perkembangan yang menarik. Brazil dan Kolombia memperoleh keuntungan dari kekayaan spesies Amazon yang unik dan sulit ditemukan di wilayah lain. Cardinal tetra, altum angelfish, dan berbagai jenis corydoras liar menjadi daya tarik tersendiri bagi penghobi premium di China. Sementara itu, Tanzania dan Sri Lanka semakin dikenal sebagai pemasok spesies ikan laut eksotik yang memiliki nilai jual tinggi.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut mengandung pelajaran penting. Keunggulan biodiversitas memang memberikan fondasi yang kuat, tetapi keunggulan tersebut tidak akan bertahan lama apabila tidak didukung oleh inovasi dan penguatan daya saing. Banyak negara pesaing kini tidak hanya menjual ikan, tetapi juga menjual kualitas, sertifikasi, ketelusuran produk (traceability), dan cerita di balik produk yang mereka pasarkan.

Karena itu, strategi pengembangan industri ikan hias Indonesia perlu bergerak dari orientasi volume menuju orientasi nilai tambah. Penguatan sertifikasi kesehatan ikan, pengembangan strain unggul, peningkatan kualitas logistik, digitalisasi pemasaran, serta branding spesies endemik Indonesia harus menjadi prioritas. Spesies seperti rainbowfish Papua, arwana super red, botia, dan berbagai ikan endemik Nusantara memiliki potensi besar untuk diposisikan sebagai produk premium yang sulit ditiru negara lain.

Selain itu, ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasar China juga perlu diantisipasi. Meskipun China saat ini menjadi pasar terbesar, diversifikasi tujuan ekspor ke Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Timur Tengah, dan India akan memperkuat ketahanan industri ikan hias nasional terhadap gejolak pasar global.

Dus, data impor China menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berada pada posisi yang sangat strategis dalam perdagangan ikan hias dunia. Dengan pangsa pasar mencapai 45,7 persen, Indonesia merupakan pemimpin pasar yang sulit disaingi dalam jangka pendek. Namun data yang sama juga memperlihatkan munculnya pesaing-pesaing baru yang tumbuh lebih cepat dan semakin kompetitif. Oleh karena itu, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukanlah bagaimana merebut pasar China, melainkan bagaimana mempertahankan dominasi tersebut di tengah persaingan global yang semakin ketat. Dalam industri yang terus berkembang dan berubah cepat seperti ikan hias, keunggulan hari ini tidak selalu menjamin keunggulan di masa depan. Indonesia telah memimpin, tetapi untuk tetap berada di depan, inovasi dan transformasi harus menjadi agenda utama.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!