Lima jenis ikan kebutuhan pokok nasional, apa saja?

Ilustrasi Produk Perikanan. (Photo : https://pngtree.com/)

Sejak tahun 2015 pemerintah telah tetapkan ikan segar sebagai salah satu jenis barang kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia melalui Peraturan Presiden No 71 Tahun 2015 yang direvisi menjadi Peraturan Presiden No 59 tahun 2020. Artinya bahwa ikan segar tergolong dalam barang yang menyangkut hajat hidup orang banyak dengan skala pemenuhan kebutuhan yang tinggi serta menjadi faktor pendukung kesejahteraan masyarakat.

Mengacu pada Pasal 2 PerPres 71/2015 disebutkan bahwa penetapan barang kebutuhan pokok nasional didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu (1) alokasi pengeluaran rumah tangga secara nasional untuk barang tersebut tinggi; (2) memiliki pengaruh terhadap tingkat inflasi dan (3) memiliki kandungan gizi tinggi untuk kebutuhan manusia. Berdasarkan ketiga pertimbangan tersebut pemerintah memutuskan lima jenis ikan segar yang masuk dalam barang kebutuhan pokok, yaitu Bandeng, Kembung, Tuna, Cakalang dan Tongkol.

Oleh sebab itu pemerintah perlu menjamin ketersediaan ikan segar yang telah ditetapkan sebagai Barang Kebutuhan Pokok. Berdasarkan hal tersebut sangat penting untuk memetakan kelima jenis ikan segar yang menjadi Barang Kebutuhan Pokok tersebut. Penulis mencoba memetakan dari data-data produksi perikanan, harga ikan di tingkat produsen, lalulintas ikan antar provinsi dan ekspor-impor. Hasil penulusuran tersebut akan diulas dalam beberapa bagian tulisan kedepan.

**

Bagian Pertama : Ikan Bandeng

Bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau (tambak) yang sekaligus juga merupakan bahan konsumsi masyarakat luas. Data FAO (2020) menunjukkan bahwa produksi ikan Bandeng dunia dalam periode 1950-2018 terus mengalami peningkatan. Pada periode 1950-1954 produksi ikan Bandeng dunia rata-rata baru mencapai 70.032 ton pertahun. Sementara itu pada periode 2015-2018 produksi ikan Bandeng dunia rata-rata mencapai 1.201.111 ton pertahun. Secara detail perkembangan produksi ikan Bandeng dunia dalam periode 1950-2018 dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Perkembangan Rata-Rata Produksi Ikan Bandeng Dunia Menurut Sumber Periode 1950-2018 (Sumber : FAO 2020, diolah)

Berdasarkan Gambar 1 diatas terlihat bahwa produksi ikan Bandeng dunia mengalami peningkatan yang sangat tinggi pertama kali terjadi pada periode tahun 1980-1984. Hal ini seiring dengan semakin berkembangnya hatchery ikan Bandeng, termasuk di Indonesia. Sehingga pasokan benih ikan Bandeng untuk kebutuhan budidaya dapat di suplai dari hatchery. Hatchery ikan Bandeng mulai berkembang sejak tahun 1970-an, sebelumnya pasokan benih untuk kebutuhan budidaya disuplai dari hasil tangkapan alam.

Data FAO (2020) menunjukkan bahwa pada periode 1950 – 1964 produksi ikan Badeng dunia masih disuplai oleh aktivitas perikanan tangkap dan budidaya. Namun demikian sejak periode 1965-2018 kontribusi perikanan tangkap terhadap produksi ikan Bandeng dunia terus menurun. Hal ini seiring dengan terus menurunnya stock ikan Bandeng di alam.

Sementara itu produksi ikan Bandeng dari aktivitas budidaya terus mengalami peningkatan, seiring dengan semakin berkembangnya pasokan benih ikan Bandeng dari hatchery. Artinya kebutuhan benih Bandeng tidak lagi tergantung pada pasokan tangkapan dari alam, akan tetapi sudah dipasok dari aktivitas hatchery. Data FAO (2020) menunjukkan bahwa pada periode 2015-2018 kontribusi budidaya perikanan terhadap total poduksi ikan Bandeng dunia mencapai 98,76%. Secara grafis perkembangan kontribusi produksi ikan Bandeng menurut sumber dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Perkembangan Share Produksi Ikan Bandeng Dunia Menurut Sumber Periode 1950-2018 (Sumber : FAO 2020, diolah)

Data FAO (2020) menunjukkan bahwa dalam periode 1950-2018 negara produsen utama ikan Bandeng dunia adalah Philippines dan Indonesia. Dalam periode 1950-2009 Philippines tercatat sebagai negara terbesar pertama produsen ikan Bandeng dunia, disusul Indonesia di urutan kedua. Namun demikian sejak tahun 2010 sampai 2018 Indonesia tercatat sebagai negara terbesar pertama produsen ikan Bandeng dunia. Secara detail perkembangan 10 negara utama produsen ikan Bandeng dunia dapat dilihat pada Tabel 1.

Top 10 Produsen Ikan Bandeng Dunia Periode 1985-2018

Pada periode 2015-2018 share Indonesia terhadap total produksi ikan Bandeng dunia mencapai 61,60%, sementara share Philippines mencapai 33,15%. Padahal pada periode 1950-1954 kontribusi Philippines terhadap total produksi ikan Bandeng dunia rata-rata mencapai 62,67%, sementara Indonesia hanya sekitar 20,46%. Hal ini menunjukkan perkembangan produksi ikan Bandeng di Indonesia yang cukup berhasil.

Berdasarkan data FAO (2020) terlihat bahwa dalam periode 1950-2018 produksi ikan Bandeng Indonesia rata-rata mencapai 175.881 ton pertahun. Produksi terendah terjadi pada periode 1950-1954, yaitu hanya mencapai 21.480 ton pertahun. Sementara produksi tertinggi terjadi pada periode 2015-2018, yaitu rata-rata sebesar 749.166 ton pertahun.  Catatan FAO (2020) terlihat bahwa produksi ikan Bandeng Indonesia 100% merupakan hasil aktivitas perikanan budidaya. Secara grafis perkembangan produksi ikan Bandeng Indonesia dalam periode 1950-2018 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Perkembangan Produksi Ikan Bandeng Indonesia Periode 1950-2018 (Sumber : FAO 2020, diolah)

Produksi ikan Bandeng Indonesia dalam periode 1950-2018 rata-rata tumbuh sebesar 6,41% pertahun. Pertumbuhan produksi terendah terjadi pada periode 1970-1974, yaitu mencapai minus 0,90% pertahun. Sementara tertinggi terjadi pada periode 1980-1984, yaitu rata-rata mencapai 12,94% pertahun. Menurunnya pertumbuhan produksi ikan Bandeng dalam periode 1970-1974 dipicu oleh menurunnya pasokan benih ikan Bandeng (nener) dari alam. Selain itu juga benih ikan Bandeng banyak diekspor, akibatnya kebutuhan para pembudidaya nasional semakin berkurang. Pemerintah pada tahun 1973 mengeluarkan kebijakan pelarang ekspor benih ikan Bandeng dari Indonesia. Hal ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 214 Tahun 1973 tentang Larangan Ekspor/Perdagangan ke Luar Negeri.

Pada tahun 1973 nener masih tergantung pada pasokan alam, baru 1990-an nener bisa dibenihkan secara buatan (Hatchery). Bandeng hidup di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan cenderung berkawanan di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut selama 2–3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau berair payau, dan kadangkala danau-danau berair asin. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak. Ikan muda (nener) dikumpulkan orang dari sungai-sungai dan dibesarkan di tambak-tambak. Di sana mereka bisa diberi makanan apa saja dan tumbuh dengan cepat.

Dalam 30 tahun terakhir nelayan sulit menangkap nener atau bandeng lagi di alam. Pasokan nener saat ini dipasok oleh hasil hatchery, bukan lagi pasokan alam. Keberhasilan hatchery pada ikan Bandeng merupakan modal besar Indonesia dalam produksi ikan Bandeng. Dan dampaknya saat ini Indonesia tercatat sebagai negara produsen terbesar ikan Bandeng dunia.

Dimana Saja Produksi Ikan Bandeng Indonesia ?

Data KKP (2020) menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 27 provinsi penyuplai ikan Bandeng Budidaya di Indonesia. Lima provinsi penyuplai ikan Bandeng Budidaya terbesar di Indonesia pada tahun 2018 adalah Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sulawesi Tenggara. Total produksi ikan Bandeng dari lima provinsi tersebut mencapai 633.523 ton.  Secara grafis produksi Ikan Bandeng tahun 2018 menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Produksi Ikan Bandeng Budidaya Menurut Provinsi Tahun 2018 (Sumber : satudata.kkp.go.id diakses 15 Oktober 2020)

Berdasarkan Gambar 3 terlihat bahwa total share produksi ikan Bandeng dari lima provinsi terbesar mencapai 72,52 % dari total produksi ikan Bandeng nasional. Share produksi ikan Bandeng dari masing-masing lima provinsi terbesar tersebut terhadap total produksi nasional berturut-turut adalah 22,15%, 18,95%, 13,76%, 10,65% dan 7,00%. Secara grafis share produksi ikan Bandeng menurut provinsi tahun 2018 dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Share Produksi Ikan Bandeng Menurut Provinsi Tahun 2018

***

(Bersambung)

   Send article as PDF   

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *