
Oleh: Suhana
Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga malam, tetapi tetap merasa rezekinya “begitu-begitu saja”. Target tercapai, gaji naik, usaha jalan, namun hati tetap gelisah. Di sisi lain, ada orang yang hidupnya tampak lebih tenang, jalannya terasa dimudahkan, dan rezeki seolah datang mendekat dengan sendirinya.
Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam Kajian Ba’da Dzuhur DPP HA IPB (Minggu/01/03) bersama Jamil Azzaini. Pesan utamanya sederhana namun dalam, yaitu rezeki tidak hanya dicari, tetapi juga didekatkan. Kuncinya terletak pada keseimbangan antara ikhtiar profesional dan kedalaman spiritual.

Dua Cara Pandang tentang Rezeki
Dalam khazanah pemikiran Islam, terdapat dua pendekatan besar dalam memahami rezeki. Yang menarik, keduanya lahir dari ulama besar, hidup saleh, dan sama-sama berilmu tinggi. Di satu sisi ada pandangan bahwa rezeki adalah sesuatu yang diantar. Di sisi lain, rezeki dipahami sebagai sesuatu yang dijemput. Sekilas tampak berlawanan, padahal justru saling melengkapi.
Pandangan ini sering dikaitkan dengan dua imam besar mazhab fikih, yaitu Imam Malik dan Imam Syafi’i. Imam Malik dikenal sebagai ulama Madinah yang sangat menjaga adab dan wibawa ilmu. Sepanjang hidupnya, beliau tidak gemar berpindah-pindah tempat demi mencari dunia. Fokus beliau adalah mengajar, menjaga tradisi keilmuan, dan memelihara ketakwaan.
Dalam kisah yang sering disampaikan sebagai hikmah, Imam Malik pernah menyampaikan kurang lebih maknanya: jika rezeki telah ditetapkan untukmu, ia akan datang kepadamu meskipun kamu tidak mencarinya.
Pandangan ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Justru ini adalah bentuk tawakal tingkat tinggi. Imam Malik ingin menegaskan bahwa rezeki bukan semata hasil kejar-kejaran manusia, melainkan karunia Allah yang datang pada waktu dan cara yang Dia kehendaki. Dalam kacamata Imam Malik, rezeki ibarat tamu. Jika rumah hati bersih, adab terjaga, dan ketakwaan kuat, tamu itu akan datang sendiri.
Sementara itu, Imam Syafi’i menempuh jalan hidup yang sangat berbeda. Beliau berpindah dari Gaza, Makkah, Madinah, Yaman, Irak, hingga Mesir. Hidupnya penuh perjalanan, perjuangan, dan kerja keras.
Ada syair yang dinisbatkan kepada beliau dan sangat populer hingga hari ini:
Barang siapa tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat,
ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Syair ini mencerminkan pandangan hidup Imam Syafi’i, yaitu hasil menuntut usaha. Rezeki tidak akan datang kepada orang yang hanya menunggu. Allah menyediakan peluang, tetapi manusia diminta bergerak menjemputnya. Bagi Imam Syafi’i, rezeki seperti air di sumur. Ia ada, tetapi tidak akan mengalir jika tidak ditimba.
Jika kedua jalan ini disandingkan, pandangan Imam Malik dan Imam Syafi’i bukanlah pertentangan, melainkan keseimbangan. Imam Malik mengajarkan ketenangan, tawakal, dan kedalaman spiritual. Sementara itu Imam Syafi’i mengajarkan ikhtiar, kerja keras, dan keberanian bergerak. Yang satu mengingatkan agar kita tidak sombong dengan usaha, yang lain mengingatkan agar kita tidak malas berlindung di balik doa. Rezeki menjadi luar biasa ketika langkah kaki bergerak dan hati bersandar.
Dalam konteks kehidupan modern, rezeki sering hadir melalui peran yang kita jalani: karyawan, profesional mandiri, pemilik usaha, atau investor. Apa pun jalannya, satu hal yang sama, yaitu rezeki perlu dijemput dengan profesionalitas.

Profesionalitas berarti bekerja dengan sungguh-sungguh, terus meningkatkan kompetensi, dan memberi manfaat nyata bagi orang lain. Kerja yang asal-asalan bukan hanya mengurangi kepercayaan manusia, tetapi juga menggerus keberkahan. Inilah makna mengetuk pintu bumi, yaitu berusaha maksimal, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun usaha saja tidak cukup. Ada pintu lain yang harus diketuk, yaitu pintu langit. Dalam kajian ini, disoroti tiga amalan spiritual yang diyakini mampu mendekatkan dan melipatgandakan rezeki. Pertama, bertakwa. Allah menjanjikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa. Refleksi yang menohok: jika rezeki kita selalu terasa biasa dan bisa ditebak, mungkin ketakwaan kita masih perlu ditingkatkan.

Kedua, berbuat baik. Senyum, menyapa, berbagi dengan orang sekitar, hingga memperhatikan orang tua dan karyawan. Kebaikan kecil yang dilakukan konsisten sering kali menjadi magnet rezeki yang tak disadari.

Ketiga, bertaubat dan memperbanyak istighfar. Kadang rezeki terasa sempit bukan karena kurang usaha, tetapi karena terlalu banyak penghalang. Taubat membersihkan jalan itu.

Tantangan 40 Hari
Kajian ini tidak berhenti pada teori. Peserta diajak mempraktikkan tiga amalan spiritual—takwa, berbuat baik, dan taubat—selama 40 hari berturut-turut. Tujuannya bukan mengejar keajaiban instan, melainkan merasakan perubahan pelan-pelan, yaitu hati lebih tenang, relasi membaik, dan keputusan hidup terasa lebih jernih. Sering kali, itulah bentuk rezeki paling awal yang datang.
Dus, pesan akhirnya sederhana namun kuat, yaitu profesionalitas adalah cara mengetuk pintu bumi, dan spiritualitas adalah cara mengetuk pintu langit. Ketika keduanya dijalankan bersama, rezeki tidak lagi terasa seperti beban yang harus dikejar tanpa henti. Ia mendekat, mengalir, dan kadang datang dari arah yang sama sekali tidak kita rencanakan. Mungkin yang perlu kita tanyakan hari ini bukan seberapa keras kita bekerja, atau seberapa sering kita berdoa. Melainkan sudahkah kita mengetuk pintu bumi dan langit secara bersamaan?
