Oleh: Suhana

 

Di tengah hiruk-pikuk perbincangan tentang nikel, batu bara, dan minyak sawit, ada satu sektor ekspor Indonesia yang jarang menjadi headline, tetapi terus bekerja tanpa banyak sorotan, yaitu perikanan. Sektor ini tidak menawarkan lonjakan surplus spektakuler seperti komoditas energi atau mineral, namun justru menjadi penyangga yang membuat perdagangan non-migas Indonesia tetap berdiri tegak saat ekonomi global bergejolak.

Selama hampir dua dekade terakhir, perdagangan internasional Indonesia mengalami pasang surut yang tajam (Gambar 1). Krisis keuangan global, perang dagang, pandemi, hingga konflik geopolitik telah membuat kinerja ekspor nasional naik turun mengikuti harga komoditas dunia. Namun di balik fluktuasi itu, ekspor perikanan menunjukkan pola yang berbeda, yaitu tumbuh perlahan, relatif stabil, dan hampir selalu mencatat surplus.

Gambar 1. Total Neraca Perdagangan Internasional Komoditas Indonesia Tahun 2006-2025 (Sumber: International Trade Centre, 2026)

Inilah mengapa perikanan layak disebut sebagai “penopang sunyi” ekonomi Indonesia. Ia tidak mencuri perhatian publik, tetapi berperan penting dalam menjaga keseimbangan neraca perdagangan non-migas. Ikan, udang, dan produk olahan laut Indonesia terus mengalir ke pasar dunia, memenuhi kebutuhan pangan global yang tidak pernah benar-benar surut, bahkan saat krisis melanda.

Artikel singkat ini mengajak pembaca melihat lebih dekat bagaimana peran ekspor perikanan Indonesia dalam perdagangan internasional, khususnya sektor non-migas, selama periode 2006–2025. Dengan membaca data dan tren secara sederhana, kita akan memahami mengapa sektor ini stabil, apa saja tantangan yang dihadapi, dan mengapa perikanan seharusnya mendapat tempat lebih strategis dalam agenda kebijakan ekonomi ke depan.

Perdagangan Non-Migas dan Posisi Strategis Perikanan

Perdagangan non-migas menjadi tulang punggung ekonomi eksternal Indonesia. Ketergantungan pada migas terus dikurangi, sementara komoditas berbasis sumber daya alam dan manufaktur menjadi andalan. Namun, tidak semua komoditas non-migas memiliki karakter yang sama.

Sebagian komoditas, seperti mineral dan energi, sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga tinggi, surplus melonjak; ketika harga jatuh, kinerja perdagangan ikut terpuruk. Di sisi lain, komoditas perikanan bergerak lebih stabil, karena didorong oleh permintaan pangan global yang relatif konstan.

Inilah konteks penting untuk memahami peran perikanan, yaitu bukan sebagai pengerek lonjakan surplus, tetapi sebagai penyangga neraca perdagangan non-migas dalam jangka panjang.

Dalam statistik perdagangan internasional, komoditas perikanan Indonesia terutama tercermin dalam dua kelompok besar, yaitu (1) ikan dan hasil perikanan primer (ikan, udang, cumi, kerang, dan invertebrata air lainnya) (HS03); dan (2) produk olahan perikanan, seperti ikan kaleng, udang olahan, fillet beku, dan berbagai produk siap saji berbasis laut (HS16)

Data neraca perdagangan 2006–2025 menunjukkan gambaran yang cukup jelas (Tabel 1). Pada 2006, nilai surplus perdagangan komoditas perikanan primer berada di kisaran USD 1,6 miliar. Angka ini terus meningkat secara bertahap, menembus USD 2 miliar pada awal 2010-an, dan mencapai sekitar USD 3,7 miliar pada 2025 (Tabel 1). Artinya, dalam dua puluh tahun, nilai surplus sektor ini lebih dari dua kali lipat.

Tabel 1. Top 20 Neraca Perdagangan Internasional Komoditas Indonesia Periode 2006-2025

No HS Code (2 Digit) Deskripsi Produk 2006 2016 2025
Total Komoditas Total Produk 39,733,151 8,841,292 41,052,205
1 15 Animal, vegetable or microbial fats and oils and their cleavage products; prepared edible fats; 5,989,232 18,052,259 34,055,933
2 72 Iron and steel (1,602,976) (4,354,179) 18,443,127
3 75 Nickel and articles thereof 1,249,572 549,979 9,627,654
4 27 Mineral fuels, mineral oils and products of their distillation; bituminous substances; mineral 8,578,207 8,624,235 8,310,817
5 64 Footwear, gaiters and the like; parts of such articles 1,528,670 4,150,406 6,660,158
6 71 Natural or cultured pearls, precious or semi-precious stones, precious metals, metals clad 680,909 5,474,138 6,504,190
7 38 Miscellaneous chemical products (75,265) 1,361,189 4,305,460
8 61 Articles of apparel and clothing accessories, knitted or crocheted 2,129,253 3,119,430 4,108,832
9 62 Articles of apparel and clothing accessories, not knitted or crocheted 3,335,907 3,641,069 3,931,360
10 03 Fish and crustaceans, molluscs and other aquatic invertebrates 1,606,927 2,665,571 3,760,365
11 44 Wood and articles of wood; wood charcoal 3,133,264 3,534,348 3,379,084
12 40 Rubber and articles thereof 4,830,710 3,959,726 3,068,745
13 09 Coffee, tea, maté and spices 885,769 1,668,105 3,033,445
14 48 Paper and paperboard; articles of paper pulp, of paper or of paperboard 2,298,023 2,136,442 2,738,906
15 74 Copper and articles thereof 1,650,269 477,003 2,094,312
16 26 Ores, slag and ash 4,747,647 3,283,747 2,060,223
17 47 Pulp of wood or of other fibrous cellulosic material; recovered (waste and scrap) paper or 273,680 215,517 2,052,330
18 80 Tin and articles thereof 919,193 1,113,673 1,737,579
19 18 Cocoa and cocoa preparations 779,016 889,249 1,443,729
20 16 Preparations of meat, of fish, of crustaceans, molluscs or other aquatic invertebrates, or 302,788 907,486 1,437,215

Sumber: International Trade Centre, 2026.

 

Produk olahan perikanan menunjukkan pola serupa, bahkan dengan laju pertumbuhan relatif lebih cepat. Dari sekitar USD 300 juta pada 2006, surplus produk olahan meningkat menjadi lebih dari USD 1,4 miliar pada 2025. Meski nilai absolutnya masih jauh di bawah perikanan primer, tren ini penting karena mencerminkan awal proses hilirisasi.

Salah satu kekuatan utama sektor perikanan adalah ketahanannya terhadap guncangan global. Ketika krisis keuangan global 2008 melanda dan banyak komoditas manufaktur terpukul, ekspor perikanan Indonesia memang sempat melambat, tetapi tidak jatuh bebas. Demikian pula pada periode defisit perdagangan nasional 2012–2014, ketika impor mesin, elektronik, dan pangan melonjak, sektor perikanan tetap mencatat surplus.

Bahkan saat pandemi COVID-19 pada 2020, ketika rantai pasok global terganggu, ekspor perikanan Indonesia relatif cepat pulih. Permintaan dunia terhadap protein hewani—termasuk ikan dan udang—tidak hilang, hanya berubah pola distribusinya.

Hal ini menunjukkan satu fakta penting, yaitu perikanan adalah sektor dengan elastisitas permintaan yang relatif rendah. Orang mungkin menunda membeli mobil atau mesin, tetapi tidak bisa menunda makan.

Meski stabil, peran perikanan sering terlihat kecil jika dibandingkan dengan komoditas raksasa. Pada 2022, misalnya, surplus perdagangan Indonesia melampaui USD 54 miliar, terutama didorong oleh lonjakan harga energi, mineral, dan hilirisasi nikel. Dalam angka tersebut, kontribusi perikanan “hanya” sekitar USD 3–4 miliar.

Namun, melihat perikanan hanya dari kontribusi nominal adalah kesalahan perspektif. Perikanan memiliki empat keunggulan strategis dibanding banyak komoditas non-migas lainnya, yaitu stabilitas jangka panjang; berbasis ekonomi rakyat dan wilayah pesisir; padat karya, bukan padat modal ekstrem; dan lebih ramah lingkungan dibanding pertambangan jika dikelola dengan benar

Dengan kata lain, perikanan bukan sekadar penyumbang devisa, tetapi juga alat pemerataan ekonomi dan stabilitas sosial.

Udang, Tuna, dan “Pahlawan Sunyi” Ekspor

Di balik angka agregat, terdapat komoditas-komoditas kunci yang menopang ekspor perikanan Indonesia. Udang merupakan kontributor terbesar nilai ekspor perikanan. Pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa menyerap sebagian besar produksi udang Indonesia. Akuakultur udang berkembang pesat, terutama di wilayah pesisir Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Tuna dan cakalang juga memainkan peran penting, terutama dalam bentuk produk beku dan olahan. Indonesia memiliki posisi geografis strategis di jalur migrasi tuna dunia, memberikan keunggulan komparatif alami.

Namun, keunggulan ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi keunggulan nilai tambah. Sebagian besar produk masih diekspor dalam bentuk bahan mentah atau olahan sederhana, sementara margin keuntungan terbesar sering dinikmati oleh negara pengolah lanjutan.

Meski kinerjanya relatif baik, sektor perikanan Indonesia menghadapi tantangan struktural yang serius. Pertama, nilai tambah masih rendah. Perbedaan harga antara ikan mentah dan produk siap konsumsi di pasar global bisa sangat besar. Tanpa penguatan industri pengolahan, Indonesia berisiko terjebak sebagai pemasok bahan baku.

Kedua, ketergantungan pada pasar tertentu membuat ekspor rentan terhadap kebijakan dagang negara tujuan, seperti tarif, standar mutu, dan isu keberlanjutan.

Baca juga: Ekspor perikanan Indonesia makin rapuh, kenapa?

Baca juga: Ekspor perikanan RI terancam! Strategi hadapi tarif 32% AS 

Ketiga, rantai dingin dan logistik masih menjadi kendala, terutama bagi nelayan kecil dan daerah terpencil. Tanpa infrastruktur yang memadai, kualitas produk sulit bersaing di pasar premium. Keempat, isu keberlanjutan sumber daya tidak bisa diabaikan. Overfishing, degradasi ekosistem laut, dan konflik pemanfaatan ruang pesisir dapat menggerus basis produksi jangka panjang.

Sementara itu dalam diskursus ekonomi biru, perikanan sering ditempatkan sebagai sektor inti. Data perdagangan 2006–2025 mendukung pandangan ini. Perikanan membuktikan bahwa ekonomi berbasis sumber daya alam dapat tumbuh tanpa harus sangat fluktuatif, asalkan permintaan global kuat dan pengelolaan relatif baik. Namun, agar perannya meningkat dari penopang menjadi penggerak, diperlukan perubahan strategi.

Fokus ke depan seharusnya bukan sekadar meningkatkan volume ekspor, tetapi mengembangkan produk olahan bernilai tinggi, memperluas diversifikasi pasar, memperkuat sertifikasi dan ketertelusuran, dan mengintegrasikan perikanan dengan industri logistik, pariwisata, dan ekonomi pesisir

Dus, selama periode 2006–2025, komoditas perikanan Indonesia telah membuktikan diri sebagai aktor penting dalam perdagangan internasional non-migas. Ia bukan bintang utama yang mencuri perhatian, tetapi pemain konsisten yang menjaga keseimbangan.

Di tengah ketergantungan Indonesia pada komoditas yang fluktuatif, perikanan menawarkan sesuatu yang langka, yaitu stabilitas. Tantangannya kini bukan apakah perikanan penting, melainkan bagaimana menjadikannya lebih bernilai, lebih adil, dan lebih berkelanjutan.

Jika transformasi ini berhasil, maka di masa depan perikanan tidak lagi sekadar “penopang sunyi”, tetapi pilar utama perdagangan non-migas Indonesia.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!