
Oleh: Suhana
Dunia perikanan sedang mengalami perubahan besar. Jika selama puluhan tahun hasil tangkapan laut menjadi tulang punggung penyediaan ikan dunia, kini posisi tersebut mulai bergeser. Akuakultur atau budidaya perikanan tampil sebagai penggerak utama pertumbuhan produksi perikanan global.
Laporan terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) bertajuk The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2026 menunjukkan bahwa dunia memasuki era baru perikanan. Produksi budidaya tidak lagi menjadi pelengkap perikanan tangkap, melainkan telah menjadi mesin utama pertumbuhan sektor perikanan global.
Perubahan ini bukan sekadar persoalan statistik. Pergeseran tersebut membawa implikasi besar terhadap ketahanan pangan, perdagangan internasional, investasi, lapangan kerja, hingga arah pembangunan sektor perikanan Indonesia ke depan.
Rekor Produksi Perikanan Dunia
FAO mencatat bahwa produksi perikanan dan akuakultur dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni 235 juta ton pada tahun 2024. Jumlah tersebut terdiri atas 195 juta ton hewan akuatik dan sekitar 40 juta ton alga. Dari total produksi hewan akuatik tersebut, sebanyak 103 juta ton berasal dari akuakultur, sementara 92 juta ton berasal dari perikanan tangkap (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi Perikanan Dunia Tahun 1990-2024

Berdasarkan TAbel 1 terlihat bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, akuakultur menyumbang sekitar 53 persen dari total produksi hewan akuatik dunia. Jika hanya dihitung untuk konsumsi manusia, kontribusinya bahkan mencapai lebih dari 59 persen. Angka tersebut mengirimkan pesan yang sangat jelas, yaitu masa depan pasokan ikan dunia akan semakin bergantung pada sektor budidaya.
Sementara itu, produksi perikanan tangkap global cenderung stagnan. Sejak akhir 1980-an, produksi tangkap dunia hanya bergerak di kisaran 86 hingga 94 juta ton per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar sumber daya ikan dunia telah mendekati batas biologis pemanfaatannya.
Dengan kata lain, dunia tidak bisa lagi berharap pada peningkatan produksi melalui penangkapan ikan secara terus-menerus. Ruang pertumbuhan yang tersisa kini berada pada sektor budidaya.
Mengapa Akuakultur Menjadi Andalan?
Ada beberapa alasan mengapa akuakultur menjadi sektor yang paling menjanjikan.
Pertama, jumlah penduduk dunia terus bertambah. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan populasi dunia akan melampaui 9 miliar jiwa pada pertengahan abad ini. Kebutuhan pangan, termasuk protein hewani, akan terus meningkat.
Kedua, ikan merupakan salah satu sumber protein paling efisien dibandingkan banyak komoditas pangan lainnya. Selain kaya protein, ikan juga mengandung asam lemak omega-3, vitamin, dan berbagai mikronutrien penting.
FAO melaporkan bahwa rata-rata ketersediaan pangan akuatik dunia mencapai 21,3 kilogram per kapita pada tahun 2024. Bahkan lebih dari 40 persen penduduk dunia memperoleh sedikitnya 20 persen protein hewani dari ikan dan produk akuatik lainnya.
Ketiga, budidaya memberikan kontrol yang lebih baik terhadap produksi. Jika hasil tangkapan sangat dipengaruhi kondisi cuaca, musim, dan stok ikan di alam, maka budidaya memungkinkan produksi dilakukan secara lebih terencana dan terukur.
Keempat, kemajuan teknologi telah meningkatkan efisiensi akuakultur. Mulai dari teknologi pakan, sistem resirkulasi air, pemantauan kualitas air berbasis sensor, hingga penerapan kecerdasan buatan mulai diterapkan di berbagai negara.
Asia Masih Mendominasi
Meski pertumbuhan akuakultur terjadi di banyak negara, pusat produksi dunia masih berada di Asia. FAO mencatat sekitar 89 persen produksi akuakultur hewan akuatik dunia berasal dari kawasan Asia. Bahkan lima negara terbesar, yakni China, India, Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh, menguasai sekitar 82 persen produksi global.
China masih menjadi pemain terbesar dengan kontribusi sekitar 56 persen produksi akuakultur dunia. India berada di posisi kedua dengan 12 persen, disusul Indonesia sekitar 6 persen dan Vietnam sekitar 5 persen.
Data ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pemain utama dalam peta akuakultur dunia. Namun pertanyaannya adalah, apakah Indonesia sudah benar-benar menjadi pemimpin?
Baca juga: dinamika-produksi-ikan-budidaya-dunia-peran-penting-indonesia
Indonesia Masih Menghadapi Tantangan Produktivitas
Meskipun masuk kelompok produsen terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan struktural.
Pertama adalah produktivitas. Luas lahan budidaya Indonesia sangat besar, tetapi produktivitas rata-rata banyak komoditas masih tertinggal dibandingkan negara pesaing. Pada sektor udang misalnya, produktivitas tambak modern di beberapa negara dapat jauh melampaui produktivitas rata-rata tambak tradisional di Indonesia.
Kedua adalah persoalan benih dan pakan. Biaya pakan masih menjadi komponen biaya produksi terbesar dalam usaha budidaya. Ketergantungan terhadap bahan baku tertentu membuat biaya produksi sering kali berfluktuasi mengikuti kondisi pasar global.
Ketiga adalah infrastruktur. Masalah rantai dingin, akses listrik, kualitas jalan, dan logistik masih menjadi kendala di banyak sentra produksi perikanan budidaya. Akibatnya, biaya distribusi menjadi tinggi dan daya saing produk menurun.
Keempat adalah kualitas lingkungan. Ekspansi budidaya yang tidak terkendali dapat memicu pencemaran, konflik pemanfaatan ruang, serta penurunan kualitas perairan. Oleh karena itu, pertumbuhan akuakultur harus berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan.
Peluang Besar dari Blue Transformation
Dalam laporan SOFIA 2026, FAO menempatkan akuakultur sebagai salah satu pilar utama Blue Transformation.
Blue Transformation merupakan visi global yang bertujuan meningkatkan produksi pangan akuatik secara berkelanjutan melalui tiga pendekatan utama, yaitu pengembangan akuakultur berkelanjutan, pengelolaan perikanan yang efektif, dan rantai nilai yang inklusif serta ramah lingkungan.
Beberapa contoh yang ditampilkan FAO menarik untuk dicermati Indonesia.
Di China, misalnya, berkembang model integrasi antara akuakultur dan energi surya. Kolam budidaya dimanfaatkan sekaligus untuk pemasangan panel surya sehingga menghasilkan energi bersih tanpa mengurangi fungsi produksi ikan.
Di Peru, teknologi digital digunakan untuk memantau kesehatan ikan dan kualitas lingkungan secara real time. Informasi tersebut membantu petambak mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan efisiensi produksi.
Pendekatan-pendekatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia yang sedang mendorong modernisasi sektor perikanan.
Ikan Hias dan Rumput Laut Jangan Dilupakan
Ketika berbicara mengenai akuakultur, perhatian publik sering kali tertuju pada udang, nila, atau patin. Padahal Indonesia memiliki keunggulan unik yang tidak dimiliki banyak negara lain, yakni ikan hias dan rumput laut.
Indonesia merupakan salah satu eksportir ikan hias terbesar dunia. Keanekaragaman hayati yang tinggi menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pasar global.
Begitu pula dengan rumput laut. Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar dunia dan memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri hilir berbasis pangan, farmasi, kosmetik, hingga bioindustri.
Kedua sektor ini seharusnya menjadi bagian penting dalam strategi Blue Transformation Indonesia.
Menuju Indonesia sebagai Kekuatan Akuakultur Dunia
Laporan FAO 2026 memberikan pesan yang sangat jelas bahwa masa depan perikanan dunia akan semakin ditentukan oleh akuakultur.
Bagi Indonesia, perubahan ini harus dibaca sebagai peluang sekaligus tantangan. Peluangnya sangat besar karena Indonesia memiliki sumber daya lahan, perairan, keanekaragaman hayati, dan tenaga kerja yang melimpah. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh investasi, inovasi teknologi, perbaikan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan rantai pasok.
Ke depan, keberhasilan sektor perikanan Indonesia tidak lagi hanya diukur dari banyaknya ikan yang ditangkap di laut. Ukurannya adalah seberapa mampu Indonesia membangun sistem budidaya yang produktif, efisien, berkelanjutan, dan mampu bersaing di pasar global.
Dus, akuakultur telah menjadi raja baru perikanan dunia. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Indonesia akan ikut dalam perubahan ini, melainkan apakah Indonesia mampu menjadi salah satu pemimpinnya.
