Infografis produksi aquatic animals dunia 2000–2024 (diolah dari FishStat 2026)

Oleh: Suhana

Ketika berbicara tentang masa depan perikanan dunia, banyak orang masih membayangkan kapal-kapal besar yang berlayar di samudra luas untuk menangkap ikan. Namun kenyataannya, wajah perikanan dunia telah berubah secara drastis dalam dua dekade terakhir. Masa depan perikanan kini semakin ditentukan oleh kolam, tambak, keramba, dan berbagai sistem budidaya modern yang menghasilkan ikan, udang, dan hewan akuatik lainnya dalam jumlah besar.

Perubahan tersebut ditegaskan dalam laporan The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA) 2026 yang diterbitkan oleh FAO. Laporan tersebut menyebutkan bahwa akuakultur telah menjadi mesin utama pertumbuhan produksi pangan akuatik dunia. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, produksi akuakultur telah melampaui produksi perikanan tangkap sebagai sumber utama pasokan hewan akuatik untuk konsumsi manusia.

Analisis terhadap data produksi aquatic animals (hewan akuatik budidaya) dunia periode 2000–2024 menunjukkan bahwa transformasi tersebut bukan sekadar slogan. Data memperlihatkan bagaimana dunia sedang bergerak menuju era baru, di mana udang, nila, patin, dan berbagai ikan air tawar menjadi tulang punggung ketahanan pangan global.

Akuakultur Dunia Tumbuh Hampir Tiga Kali Lipat

Pada tahun 2000, produksi akuakultur hewan akuatik dunia tercatat sekitar 42,1 juta ton. Dua puluh empat tahun kemudian, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 123,5 juta ton.

Tabel 1. Pertumbuhan Produksi Aquatic Animals Dunia 2000–2024

Indikator Nilai
Produksi Tahun 2000 42,10 juta ton
Produksi Tahun 2024 123,50 juta ton
Kenaikan Absolut 81,40 juta ton
Pertumbuhan Total 193,3%
CAGR 4,59% per tahun

Sumber: Diolah dari data produksi aquatic animals dunia 2000–2024.

Artinya, selama hampir seperempat abad terakhir produksi akuakultur dunia meningkat hampir tiga kali lipat. Dengan laju pertumbuhan rata-rata (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 4,59 persen per tahun, sektor ini tumbuh jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan populasi dunia.

Pertumbuhan tersebut menjadi alasan mengapa FAO menyebut akuakultur sebagai sektor yang paling menentukan masa depan sistem pangan akuatik global. Ketika produksi perikanan tangkap mulai menghadapi keterbatasan sumber daya, akuakultur menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan protein dunia yang terus meningkat. 

Baca juga: Akuakultur jadi raja baru perikanan dunia: siapkah Indonesia?

Asia Menjadi Pusat Akuakultur Dunia

Salah satu temuan paling menarik dari data ini adalah dominasi Asia dalam produksi hewan akuatik budidaya dunia.

Tabel 2. Sepuluh Besar Produsen Aquatic Animals Dunia Tahun 2024

Peringkat Negara Produksi 2024 (Ton)
1 China 75.739.213
2 India 12.094.195
3 Indonesia 5.901.434
4 Viet Nam 5.636.217
5 Bangladesh 2.978.650
6 Korea Selatan 2.279.009
7 Norwegia 1.667.250
8 Mesir 1.600.134
9 Chile 1.409.220
10 Filipina >1 juta

Tabel 2 tersebut menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh produsen terbesar dunia berada di Asia. Bahkan China sendiri menyumbang sekitar 61 persen dari total produksi akuakultur hewan akuatik dunia.

Dominasi Asia tidak terlepas dari tingginya permintaan pangan, ketersediaan sumber daya perairan, serta investasi besar dalam pengembangan teknologi budidaya.

Bagi Indonesia, posisi sebagai produsen terbesar ketiga dunia merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun di saat yang sama, posisi tersebut juga menunjukkan bahwa persaingan global semakin ketat.

Indonesia dan Vietnam Menjadi Bintang Baru

Meskipun China masih menjadi raksasa akuakultur dunia, laju pertumbuhannya relatif lebih rendah dibanding beberapa negara berkembang lainnya.

Tabel 3. CAGR Produsen Utama Dunia (2000–2024)

Negara CAGR (%)
Viet Nam 10,63
Indonesia 8,75
India 7,92
Brazil 7,04
Mesir 6,67
Bangladesh 6,50
Chile 5,48
Korea Selatan 5,25
Norwegia 5,22
Dunia 4,59
China 3,97

Vietnam mencatat pertumbuhan tertinggi di antara negara produsen utama dunia dengan CAGR sebesar 10,63 persen per tahun. Indonesia berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 8,75 persen per tahun.

Dalam kurun waktu 24 tahun, produksi akuakultur Indonesia meningkat dari sekitar 788 ribu ton menjadi hampir 6 juta ton. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu motor utama pertumbuhan akuakultur global.

Namun keberhasilan Vietnam memberikan pelajaran penting. Dengan wilayah yang jauh lebih kecil dibanding Indonesia, Vietnam mampu membangun industri akuakultur yang sangat kompetitif melalui fokus pada produktivitas, efisiensi rantai pasok, dan orientasi ekspor.

Pelajaran ini penting bagi Indonesia yang masih memiliki banyak ruang untuk meningkatkan produktivitas.

Udang Menjadi Mesin Pertumbuhan Dunia

Jika dilihat dari sisi komoditas, terdapat perubahan besar dalam struktur produksi akuakultur dunia.

Tabel 4. Top Aquatic Animals Dunia Tahun 2024

Peringkat Komoditas Produksi 2024 (Ton)
1 Whiteleg shrimp (Vaname) 7.656.263
2 Cupped oysters 7.292.710
3 Grass carp 6.439.159
4 Nile tilapia 5.612.925
5 Silver carp 5.266.139
6 Catla 4.839.379
7 Japanese carpet shell 4.756.359
8 Common carp 4.195.230
9 Freshwater fishes NEI 3.814.171
10 Bighead carp 3.545.074

Yang menarik, posisi pertama ditempati oleh udang vaname (Whiteleg Shrimp). Komoditas ini telah berkembang menjadi salah satu produk akuakultur paling sukses dalam sejarah modern.

Tabel 5. Komoditas dengan Pertumbuhan Tertinggi (2000–2024)

Komoditas CAGR (%)
Whiteleg shrimp 17,63
Striped catfish (Patin) 14,86
Marine bivalves NEI 11,03
Tilapias NEI 9,10
Catla 9,07
Black carp 7,55
Nile tilapia 7,44
Rohu 6,39

Produksi vaname meningkat dari sekitar 155 ribu ton pada tahun 2000 menjadi lebih dari 7,6 juta ton pada tahun 2024. Dengan CAGR mencapai 17,63 persen per tahun, tidak ada komoditas utama lain yang tumbuh secepat ini.

Hasil analisis ini menjelaskan mengapa hampir semua negara produsen perikanan saat ini berlomba mengembangkan industri udang.

Nila dan Patin Menjadi Protein Masa Depan Dunia

Selain udang, terdapat dua komoditas yang memiliki arti strategis bagi Indonesia, yaitu nila dan patin. Produksi nila dunia meningkat dari sekitar 1 juta ton menjadi lebih dari 5,6 juta ton dalam kurun waktu 24 tahun. Sementara itu, produksi patin melonjak dari sekitar 113 ribu ton menjadi lebih dari 3,1 juta ton. Patin bahkan mencatat CAGR mencapai 14,86 persen per tahun, menjadikannya salah satu komoditas dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Keberhasilan nila dan patin menunjukkan bahwa masa depan akuakultur dunia tidak hanya bergantung pada komoditas premium, tetapi juga pada ikan air tawar yang mampu menyediakan protein murah dan terjangkau bagi masyarakat. Di banyak negara berkembang, nila dan patin telah menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan nasional.

Peluang Besar Indonesia

Temuan paling menarik dari analisis ini adalah bahwa komoditas yang menjadi motor pertumbuhan akuakultur dunia justru merupakan komoditas yang selama ini menjadi unggulan Indonesia. Indonesia memiliki basis produksi yang kuat untuk Udang vaname, Nila, Patin, Lele, Bandeng, dan berbagai ikan air tawar lainnya.

Artinya, Indonesia tidak perlu mencari komoditas baru untuk bersaing di pasar global. Tantangan utamanya justru terletak pada bagaimana meningkatkan produktivitas, memperkuat biosekuriti, memperbaiki kualitas benih dan pakan, memperluas hilirisasi, serta membangun sistem logistik yang lebih efisien. Jika langkah-langkah tersebut dilakukan secara konsisten, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu kekuatan utama akuakultur dunia.

Data produksi periode 2000–2024 memperlihatkan bahwa dunia sedang memasuki era baru akuakultur. Pertumbuhan sektor ini tidak lagi didorong oleh satu negara atau satu komoditas saja, melainkan oleh kombinasi inovasi, teknologi, dan meningkatnya kebutuhan pangan global.

Udang vaname, nila, dan patin telah muncul sebagai simbol transformasi tersebut.

Bagi Indonesia, kondisi ini merupakan peluang yang sangat besar. Posisi sebagai produsen terbesar ketiga dunia menunjukkan bahwa fondasi telah tersedia. Namun untuk menjadi pemimpin global, Indonesia perlu melampaui sekadar peningkatan volume produksi.

Kepemimpinan masa depan akan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas, berkelanjutan, efisien, dan mampu memenuhi tuntutan pasar global yang semakin ketat.

Dus, masa depan perikanan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menghasilkan paling banyak, tetapi oleh siapa yang mampu menghasilkan secara paling cerdas dan berkelanjutan.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!