ILUSTRASI. Udang merupakan salah satu produk unggulan ekspor perikanan Indonesia (Photo : freefik.com)

Oleh Suhana

Dinamika industri perikanan budidaya global pada paruh pertama tahun 2026 mencatatkan pergeseran tektonik yang signifikan, di mana lonjakan panen dari Amerika Latin berhasil mengubah peta rantai pasok secara menyeluruh. Berdasarkan laporan triwulanan GLOBEFISH dari Food and Agriculture Organization (FAO) edisi September 2026, produksi udang budidaya dunia—khususnya vaname (vannamei)—pada kuartal pertama 2026 ditandai oleh pertumbuhan pesat di kawasan Amerika Latin yang dipimpin oleh Ekuador, disusul oleh Venezuela dan Brasil.

Pada kuartal pertama, volume produksi Ekuador mencapai sekitar 374.000 ton, dan secara kumulatif dari Januari hingga Juni 2026 produksinya melampaui 900.000 ton, mencatatkan kelebihan 100.000 hingga 150.000 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemandangan kontras terjadi di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur, di mana pasokan tambak mengalami penurunan musiman yang tajam antara November 2025 hingga Maret 2026 akibat cuaca dingin ekstrem yang tidak biasa serta peningkatan angka mortalitas udang. Akibatnya, total ekspor udang dunia sepanjang Januari hingga Maret 2026 hanya naik moderat sebesar 5,60 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 942.800 ton dengan nilai USD 6,83 miliar (+13,15 persen), di mana ekspansi masif dari Ekuador menjadi penyerap utama atas berkurangnya pasokan dari tambak-tambak Asia. Hingga Juni 2026, estimasi total ekspor udang global diperkirakan telah menembus angka 2 juta ton atau tumbuh sekitar 2 persen secara tahunan.

Pergeseran pasokan ini memicu perombakan bersejarah di pasar Amerika Serikat, importir terbesar kedua di dunia. Setelah lebih dari satu dekade bertengger sebagai pemasok utama di pasar Amerika Serikat, India harus rela tergeser ke posisi kedua oleh Ekuador pada kuartal pertama 2026. Total ekspor Ekuador ke pasar AS melonjak signifikan hingga mencapai 85.557 ton (+23 persen) senilai USD 552 juta, sementara catatan impor AS mencatat Ekuador memasok 63.730 ton (+15 persen) bernilai USD 482 juta atau menguasai pangsa 34,76 persen dari seluruh impor udang AS.

Keberhasilan Ekuador mendominasi pasar AS ditopang oleh kedekatan geografis yang menekan biaya transportasi, waktu pengiriman yang lebih singkat, serta beban tarif impor yang jauh lebih ringan dibandingkan produsen asal Asia. Sebaliknya, pengapalan udang India ke pasar Amerika Serikat anjlok drastis sebesar 29 persen secara tahunan, dengan volume impor AS dari India menyusut 34 persen menjadi 52.055 ton senilai USD 420 juta (-32 persen).

Penurunan di AS ini turut dipicu oleh kehati-hatian pembeli lokal yang masih dibebani kelebihan stok (surplus inventories) dari pembelian besar-besaran tahun sebelumnya menjelang kebijakan tarif baru, sehingga total impor udang AS secara keseluruhan turun 10,30 persen menjadi 183.311 ton dengan nilai USD 1,65 miliar.

Kendati kehilangan pangsa di AS, India masih membukukan total ekspor global sebesar 166.560 ton bernilai USD 1,127 miliar (+0,24 persen secara tahunan), tertolong oleh lonjakan penjualan ke pasar China sebesar 59,6 persen (33.960 ton) dan Vietnam sebesar 10,8 persen (14.560 ton). Komposisi ekspor India didominasi oleh produk beku mentah dan semi-olahan sebesar 89,46 persen, sementara produk olahan matang hanya menyumbang 9,14 persen.

Baca juga:

Udang Dunia Dikuasai AS, Indonesia Harus Bagaimana?

Nasib Produsen Udang Asia

Nasib negara produsen Asia lainnya bervariasi; Indonesia mencatat penurunan ekspor kuartal pertama sebesar 17 persen secara tahunan menjadi 47.840 ton dari 57.900 ton pada 2025, sementara Thailand dan China masing-masing mengalami penurunan ekspor sebesar 5 persen (menjadi 26.600 ton) dan 6 persen (menjadi 41.410 ton). Namun, Indonesia, Thailand, dan China memiliki bantalan nilai tambah berupa porsi ekspor udang olahan yang cukup besar, yakni berkisar antara 25 hingga 40 persen, yang mampu mendongkrak rata-rata nilai per unit ekspor mereka. Di sisi lain, Vietnam berhasil mencatatkan kinerja gemilang sebagai eksportir terbesar ketiga dunia dengan kenaikan ekspor hampir 12 persen menjadi 67.320 ton, kendati masih terbebani tingginya tarif anti-dumping AS pasca-kajian administratif pendahuluan 2024–2025. Di kawasan Amerika Selatan selain Ekuador, Argentina mencatat lonjakan ekspor tangkapan laut yang spektakuler sebesar 40 persen menjadi 34.890 ton.

Dari sisi penyerapan pasar, impor udang global pada kuartal pertama 2026 meningkat sebesar 3 persen menjadi 939.180 ton dengan nilai USD 6,86 miliar, didorong kuat oleh lonjakan konsumsi di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara selama perayaan Tahun Baru Imlek pada Februari 2026. China kian memperkuat posisinya sebagai importir udang terbesar di dunia dengan menyerap 273.245 ton udang (+23 persen) senilai USD 1,96 miliar pada kuartal pertama, yang mayoritas berupa udang vaname beku utuh dan tanpa kepala. Ekuador menyuplai 192.600 ton (+28 persen) ke China, disusul pasokan dari India sebanyak 35.520 ton (+53,7 persen). Tren belanja China terus berlanjut hingga semester pertama 2026 dengan membukukan rekor impor tertinggi periode 2022–2026 sebesar 563.940 ton (+21,73 persen) demi menutup rendahnya panen tambak domestik mereka.

Di belahan dunia lain, Uni Eropa mengimpor 148.300 ton (+2,06 persen) senilai USD 1,12 miliar dengan Spanyol sebagai pasar tunggal terbesar (36.564 ton), di mana Ekuador memimpin dengan 42.470 ton disusul India dengan 25.710 ton. Sementara itu, impor Inggris naik tipis 2,36 persen menjadi 17.347 ton dengan Vietnam dan India sebagai pemasok utama. Di kawasan Asia Pasifik, selain peningkatan impor di Korea Selatan (+15 persen menjadi 26.257 ton), Taiwan (16.385 ton), dan Hong Kong (14.210 ton), negara seperti Vietnam dan Thailand secara khusus mengimpor bahan baku beku dalam volume besar untuk diolah kembali menjadi produk siap ekspor bernilai tinggi. Jepang, sebagai pasar terbesar kedua di Asia Pasifik, mengimpor 45.637 ton senilai USD 424,49 juta, di mana produk olahan bernilai tambah asal Vietnam, Indonesia, dan Thailand menyumbang 14.700 ton.

Kelebihan pasokan vaname asal Amerika Latin menimbulkan tekanan berat pada struktur harga global. Ekuador yang didukung efisiensi biaya produksi mampu menetapkan harga penawaran ekspor di bawah harga produk Asia, sehingga memicu pelemahan harga grosir vaname dan udang windu (black tiger) asal Asia di pasar Amerika Serikat selama kuartal kedua 2026. Kategori udang kupas mudah (easy-peel) dan udang air tawar mengalami koreksi harga paling tajam, sementara pamor udang windu sebagai produk premium mulai tertekan oleh diskon mendalam akibat lesunya belanja konsumen dan ancaman banjir pasokan murah dari Ekuador.

Laporan European Fish Price Report edisi Agustus 2026 mencatat harga FOB udang vaname utuh Ekuador berada di kisaran USD 5,35 hingga USD 5,55 per kg untuk ukuran 20/30, sedangkan di tingkat ritel Asia Tenggara pada Juni 2026, udang vaname segar ukuran 30 ekor/kg dipatok sekitar USD 15 per kg. Ekuador sendiri tidak luput dari kendala logistik global berupa kelangkaan kontainer pendingin (reefer), waktu transit yang molor, dan tingginya tarif kargo ke rute pelayaran jauh seperti Eropa dan Asia. Guna memperkuat penetrasi dan diversifikasi produk bernilai tambah ke Asia, Kementerian Produksi, Perdagangan Luar Negeri, dan Investasi Ekuador menandatangani nota kesepahaman (MoU) komite bilateral dengan Jepang menyusul torehan ekspor non-migas ke Jepang yang mencapai USD 389,4 juta pada 2025.

Menghadapi persaingan sengit dan tekanan harga dari Ekuador, para petambak di kawasan Asia mulai mengambil langkah adaptasi strategis dengan mengalihkan fokus budidaya dari udang vaname ke udang windu (black tiger). Udang windu dipilih karena margin keuntungannya dinilai lebih menguntungkan dan daya serap pasar domestik di Asia Tenggara sangat kuat. Memasuki paruh kedua tahun 2026, pasokan udang budidaya di Asia diperkirakan akan mulai meningkat seiring membaiknya kondisi cuaca, kendati laju pertumbuhannya diprediksi lebih lambat dibandingkan tahun-tahun terdahulu. Lanskap perdagangan udang dunia pun bergerak menuju segmentasi geografis yang baru: kawasan Eropa dan Amerika Utara diperkirakan akan semakin mengandalkan impor vaname volume besar dari Amerika Latin, khususnya Ekuador, sementara pasar-pasar regional di Asia akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan intra-kawasan dan memperbesar produksi udang windu berkualitas tinggi.

Baca juga:

Dilema Udang RI: Ketergantungan Pasar AS Jadi Bom Waktu?

Pelajaran Bagi Indonesia

Bagi para pelaku industri dan petambak udang di Indonesia, laporan FAO ini memberikan sinyal peringatan sekaligus kompas navigasi bisnis yang sangat penting. Penurunan ekspor nasional sebesar 17 persen secara tahunan—dari 57.900 ton pada awal 2025 menjadi 47.840 ton—menegaskan bahwa ketergantungan pada komoditas vaname beku mentah (raw frozen) berisiko tinggi tergilas oleh efisiensi skala tambak raksasa Ekuador. Guna menjaga daya tahan usaha, pelaku industri di tanah air mutlak memperkuat benteng hilirisasi produk bernilai tambah (value-added), seperti produk siap masak maupun kupas olahan, yang terbukti telah menjadi penyelamat nilai ekspor Indonesia dengan kontribusi 25 hingga 40 persen dari total portofolio pengapalan.

Bersamaan dengan itu, langkah diversifikasi tambak ke spesies udang windu patut diperluas mengingat profitabilitasnya yang lebih menjanjikan dan kuatnya permintaan konsumsi di Asia Tenggara. Pelaku ekspor Indonesia juga harus bergerak lincah membidik pasar raksasa Asia Pasifik—terutama China yang membukukan rekor impor 563.940 ton pada semester pertama 2026 serta Jepang yang menyerap produk olahan dalam volume masif—agar tidak terus tersandera oleh tren penurunan permintaan dan ketidakpastian kebijakan tarif di pasar Amerika Serikat.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca