
Oleh: Suhana
Laut Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Salah satunya adalah rumput laut, komoditas yang selama ini menjadi andalan ekspor perikanan Indonesia sekaligus sumber penghidupan bagi ribuan pembudidaya pesisir. Namun, di balik posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama perdagangan rumput laut dunia, terdapat persoalan struktural yang semakin terlihat, yaitu ketergantungan terhadap pasar China.
Laporan Quarterly Seaweed Analysis – August 2026 yang diterbitkan Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan gambaran menarik mengenai perubahan perdagangan rumput laut dunia pada awal 2026. Pasar global sedang mengalami perlambatan, tetapi dampaknya tidak dirasakan secara merata oleh seluruh negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling merasakan tekanan tersebut.
Persoalannya bukan semata-mata karena permintaan rumput laut dunia menurun. Lebih dari itu, struktur perdagangan Indonesia yang sangat bergantung pada satu negara tujuan ekspor membuat industri rumput laut nasional rentan terhadap perubahan permintaan di pasar internasional.
Ketika Pasar Rumput Laut Dunia Melambat
Perdagangan internasional rumput laut konsumsi dan agar-agar mengalami kontraksi cukup tajam selama Januari–Maret 2026. FAO mencatat volume ekspor dunia turun 13,3 persen menjadi 56.950 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor dunia mengalami penurunan lebih besar, yakni 19,3 persen menjadi 58.404 ton.
Penurunan tersebut merupakan volume ekspor kuartal pertama terendah dalam tiga tahun terakhir. Menariknya, perlambatan perdagangan ini sangat terkonsentrasi pada hubungan perdagangan Indonesia dan China. Penurunan ekspor Indonesia ke China hampir setara dengan keseluruhan penurunan ekspor dunia. Sementara itu, berkurangnya impor China menyumbang lebih dari 80 persen kontraksi impor global.
China memang memiliki posisi sangat strategis dalam industri rumput laut dunia. Negara tersebut bukan hanya konsumen, melainkan juga pusat pengolahan bahan baku rumput laut menjadi produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi, terutama karagenan dan agar-agar.
Ketika aktivitas pengolahan dan permintaan bahan baku di China melemah, dampaknya dapat menjalar ke negara-negara pemasok, termasuk Indonesia. Dengan kata lain, perubahan aktivitas industri pengolahan di China dapat memengaruhi perdagangan internasional sekaligus harga yang diterima pembudidaya rumput laut di tingkat domestik.

Indonesia Masih Dominan, tetapi Kehilangan Momentum
Indonesia sebenarnya masih mempertahankan posisinya sebagai eksportir rumput laut terbesar dunia. Pada kuartal pertama 2026, ekspor rumput laut Indonesia tercatat mencapai 33.978 ton. Namun, angka tersebut turun 20,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 42.887 ton.
Penurunan ini membuat pangsa Indonesia dalam perdagangan ekspor dunia menyusut dari 65,3 persen menjadi 59,7 persen. Sebagai perbandingan, Korea Selatan justru mencatat peningkatan ekspor sebesar 7,1 persen menjadi 9.777 ton. China juga meningkatkan ekspornya sebesar 33,6 persen menjadi 4.799 ton.
Ketiga negara eksportir utama tersebut secara bersama-sama menguasai 85,3 persen perdagangan ekspor rumput laut dunia. Data ini memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki posisi dominan, tetapi keunggulan tersebut belum sepenuhnya memberikan perlindungan ketika pasar utama mengalami perubahan.
Persoalan yang lebih mendasar terlihat dari struktur negara tujuan ekspor Indonesia. China menerima 29.046 ton rumput laut Indonesia selama Januari–Maret 2026. Jumlah tersebut setara dengan 85,5 persen dari total ekspor Indonesia dalam kelompok produk yang dianalisis FAO.
Lebih jauh lagi, pengiriman Indonesia ke China turun 22,8 persen atau berkurang sebanyak 8.583 ton. Penurunan tersebut menyumbang sekitar 98 persen dari penurunan ekspor dunia dalam kelompok produk yang sama.
Artinya, satu jalur perdagangan bilateral memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja ekspor rumput laut global. Sementara itu, ekspor Indonesia ke Vietnam meningkat 44,9 persen menjadi 1.482 ton. Pengiriman ke Prancis dan Jepang juga mengalami peningkatan, meskipun masih dalam volume relatif kecil.
Pertumbuhan pasar alternatif tersebut merupakan sinyal positif. Namun, besarnya ketergantungan terhadap China membuat diversifikasi pasar belum cukup kuat untuk mengimbangi penurunan permintaan dari negara tersebut.
China: Pasar Besar yang Sekaligus Menjadi Risiko
Mengapa China begitu menentukan masa depan ekspor rumput laut Indonesia? Jawabannya berkaitan dengan karakteristik industri rumput laut nasional. Indonesia memiliki basis produksi rumput laut tropis, terutama jenis Kappaphycus alvarezii atau cottonii yang menjadi bahan baku utama karagenan, serta Gracilaria yang banyak digunakan untuk menghasilkan agar-agar.
Kedua jenis rumput laut tersebut memiliki pasar industri yang luas, mulai dari pangan, farmasi, kosmetik hingga berbagai produk manufaktur. Namun, sebagian besar perdagangan Indonesia masih berkaitan dengan bahan baku rumput laut kering yang selanjutnya diproses di negara tujuan.
Dalam konteks tersebut, China menjadi salah satu pusat pengolahan yang sangat penting. Penurunan aktivitas ekonomi dan penyesuaian kapasitas industri pengolahan di China menyebabkan kebutuhan impor bahan baku ikut melemah.
Data impor China menunjukkan penurunan dari 40.795 ton pada Januari–Maret 2025 menjadi 29.421 ton pada periode yang sama 2026, atau turun 27,9 persen.
Dari total impor tersebut, Indonesia memasok 27.008 ton atau sekitar 91,8 persen. Angka ini memperlihatkan dua sisi sekaligus. Pertama, Indonesia memiliki posisi pemasok yang sangat kuat di pasar China. Kedua, ketergantungan terhadap industri pengolahan China menjadikan Indonesia rentan terhadap perubahan permintaan bahan baku.
Ketika industri pengolahan China mengurangi pembelian, dampaknya tidak berhenti pada eksportir. Tekanan tersebut berpotensi diteruskan kepada pedagang pengumpul, pengolah domestik, hingga pembudidaya rumput laut di daerah pesisir.
Baca juga:
Belajar dari Korea Selatan: Nilai Tambah Mengubah Permainan
Di tengah perlambatan perdagangan global, Korea Selatan memberikan pelajaran penting bagi Indonesia.
Ketika ekspor rumput laut Indonesia mengalami penurunan, Korea Selatan justru berhasil meningkatkan ekspornya. Salah satu faktor pembeda adalah kekuatan industri produk olahan dan produk bermerek, terutama gim atau lembaran rumput laut konsumsi yang berasal dari spesies Pyropia.
Produk tersebut dipasarkan dalam berbagai bentuk, seperti rumput laut kering, panggang, berbumbu, hingga makanan ringan siap konsumsi.
Pada 2025, nilai ekspor produk gim Korea Selatan bahkan melampaui USD1 miliar untuk pertama kalinya. Kinerja ini memperlihatkan bahwa rumput laut tidak harus diperdagangkan hanya sebagai bahan baku. Pengolahan, inovasi produk, pengemasan, dan penguatan merek dapat menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Perubahan orientasi pasar Korea Selatan juga menarik. Selama Januari–Maret 2026, ekspor Korea Selatan ke Jepang meningkat 72,2 persen menjadi 3.780 ton. Jepang menjadi tujuan ekspor terbesar, menyerap 38,7 persen ekspor Korea Selatan dalam kelompok produk yang dianalisis.
Sementara itu, ekspor Korea Selatan ke China justru turun 46,9 persen. Artinya, Korea Selatan tidak hanya mengandalkan satu pasar. Negara tersebut memiliki kemampuan mengembangkan produk yang dapat menjangkau konsumen dengan karakteristik permintaan berbeda.
Pelajaran bagi Indonesia cukup jelas: keunggulan produksi harus diikuti kemampuan membangun industri pengolahan dan mengembangkan produk akhir.
Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri pengolahan negara lain. Indonesia perlu memperkuat posisinya sebagai produsen karagenan, agar-agar, bahan pangan olahan, dan berbagai produk rumput laut siap konsumsi.
Jepang Membuka Peluang Pasar Baru
Selain Korea Selatan, Jepang juga memberikan sinyal menarik bagi perdagangan rumput laut dunia. Impor Jepang pada kuartal pertama 2026 meningkat 33,1 persen menjadi 8.205 ton. Peningkatan tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi di antara pasar impor utama yang dianalisis FAO.
China memasok 5.576 ton, sementara Korea Selatan memasok 2.225 ton. Kedua negara tersebut secara bersama-sama menguasai 95,1 persen impor rumput laut Jepang.
Peningkatan impor Jepang tidak semata-mata mencerminkan kenaikan konsumsi. Perubahan iklim juga memengaruhi kemampuan produksi domestik.
Pemanasan perairan menyebabkan periode budidaya menjadi lebih pendek dan meningkatkan gangguan akibat ikan pemakan rumput laut. Kondisi tersebut menekan hasil produksi nori, kombu, dan jenis rumput laut budidaya lainnya.
Situasi ini mendorong Jepang mencari alternatif pasokan sekaligus mengembangkan teknologi budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Bagi Indonesia, perkembangan tersebut membuka peluang untuk memperluas pasar ekspor. Namun, peluang itu tidak otomatis dapat dimanfaatkan. Standar mutu, konsistensi pasokan, keamanan pangan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan spesifikasi produk menjadi faktor penting.
Indonesia perlu melihat Jepang bukan hanya sebagai pasar tambahan, tetapi juga sebagai peluang untuk mengembangkan ekspor produk rumput laut dengan nilai tambah lebih tinggi.
Nilai Ekspor Naik, Volume Justru Turun
Salah satu temuan menarik dalam laporan FAO adalah perbedaan antara perkembangan volume dan nilai ekspor rumput laut Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dikutip dalam laporan tersebut, nilai ekspor rumput laut Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai USD62,21 juta, turun 15,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data resmi yang tersedia hingga Februari 2026 mencatat ekspor sebanyak 28.500 ton dengan nilai USD43,5 juta. Menariknya, penurunan volume ekspor lebih besar dibandingkan penurunan nilai. Kondisi ini mengindikasikan kenaikan nilai satuan rata-rata ekspor sekitar 12 persen.
Lebih jauh, nilai ekspor produk rumput laut olahan meningkat 10,5 persen secara tahunan. Produk olahan tersebut menyumbang 48,3 persen dari total nilai ekspor rumput laut Indonesia.
Temuan ini memberikan pesan penting: kinerja ekspor tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya volume yang dikirim ke pasar internasional.
Peningkatan nilai satuan dan kontribusi produk olahan menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir berpotensi menjadi strategi untuk mengurangi dampak perlambatan permintaan bahan baku.
Namun, peningkatan nilai satuan rata-rata tidak serta-merta berarti seluruh pembudidaya menikmati kenaikan harga. Distribusi manfaat nilai tambah masih bergantung pada struktur rantai pasok, efisiensi pengolahan, dan posisi tawar pembudidaya.
Saatnya Mengubah Strategi Ekonomi Rumput Laut Indonesia
FAO memperkirakan perdagangan rumput laut dunia masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek apabila aktivitas industri pengolahan China dan permintaan bahan bakunya belum pulih.
Pemulihan pembelian bahan baku oleh industri karagenan dan agar-agar China dapat mendukung perbaikan perdagangan. Namun, ketergantungan Indonesia terhadap pasar tersebut tetap menjadi kelemahan utama.
Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk memperkuat posisi melalui tiga agenda strategis. Pertama, diversifikasi pasar ekspor. Indonesia perlu memperluas penetrasi ke Jepang, Korea Selatan, Eropa, dan pasar potensial lainnya. Diversifikasi bukan sekadar menambah negara tujuan, melainkan membangun jaringan perdagangan yang mampu menyerap berbagai jenis dan kualitas produk rumput laut.
Kedua, percepatan hilirisasi. Pengembangan industri karagenan, agar-agar, bahan pangan, kosmetik, dan produk berbasis bioteknologi perlu menjadi bagian dari strategi peningkatan nilai tambah. Penguatan teknologi, kapasitas pengolahan, dan inovasi produk harus berjalan bersama.
Ketiga, peningkatan kualitas dan ketertelusuran produk. Standar mutu, konsistensi pasokan, pengendalian penyakit, serta penerapan sistem traceability menjadi kebutuhan penting untuk memasuki pasar dengan standar lebih tinggi.
Ketiga agenda tersebut juga perlu dihubungkan dengan penguatan posisi pembudidaya. Hilirisasi tidak boleh hanya meningkatkan keuntungan industri pengolahan, tetapi harus memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat pesisir.
Pemerintah menargetkan nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai USD647 juta pada 2026. Target tersebut membutuhkan strategi yang tidak hanya bertumpu pada peningkatan produksi, tetapi juga transformasi struktur industri dan perdagangan.
Jangan Hanya Menjadi Raja Bahan Baku
Perdagangan rumput laut dunia pada awal 2026 memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Dominasi produksi dan ekspor tidak selalu identik dengan kekuatan ekonomi yang sesungguhnya.
Indonesia masih menjadi eksportir terbesar, tetapi ketergantungan pada China memperlihatkan kerentanan struktur perdagangan nasional. Di sisi lain, pengalaman Korea Selatan membuktikan bahwa pengolahan, inovasi, dan penguatan merek dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.
Pasar rumput laut dunia sedang bergerak menuju dua karakter yang semakin berbeda. Rumput laut kering sebagai bahan baku industri sangat sensitif terhadap perubahan permintaan dan persediaan. Sebaliknya, produk siap konsumsi, karagenan, dan agar-agar olahan memiliki peluang memperoleh harga lebih tinggi, meskipun membutuhkan teknologi, pengendalian mutu, dan pengembangan pasar yang lebih kuat.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar mempertahankan posisi sebagai eksportir terbesar dunia. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah keunggulan sumber daya menjadi kekuatan industri.
Dus, sudah saatnya Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara penghasil rumput laut, tetapi juga sebagai pusat industri dan inovasi produk rumput laut dunia. Sebab, dalam ekonomi kelautan modern, negara yang menguasai bahan baku belum tentu menjadi negara yang menikmati nilai tambah terbesar. Indonesia tidak cukup menjadi raja bahan baku rumput laut. Indonesia harus mulai menjadi raja nilai tambah rumput laut dunia.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
