Oleh: Suhana

Dalam peta ekonomi maritim Indonesia, rumput laut sering kali dinobatkan sebagai komoditas dengan peran sosial-ekonomi paling inklusif. Tidak seperti sektor perikanan tangkap skala besar yang membutuhkan modal kapal miliaran rupiah atau tambak udang intensif yang menyerap biaya investasi tinggi, budidaya rumput laut hidup dan berkembang di tangan ratusan ribu keluarga pesisir. Di pulau-pulau kecil dan pesisir dangkal dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Kalimantan, bentangan tali bentang rumput laut menjadi penopang utama ekonomi rumah tangga, penyedia lapangan kerja perempuan pesisir, serta benteng pengentasan kemiskinan regional.

Namun, di balik perannya yang amat krusial bagi kesejahteraan masyarakat pesisir, industri rumput laut Indonesia menyimpan rapuhnya tata kelola perdagangan internasional. Narasi hilirisasi industri yang kerap digaungkan pemerintah seolah kontradiktif dengan kenyataan di lapangan: Indonesia adalah produsen rumput laut Eucheuma cottonii dan Gracilaria terbesar di dunia, namun kita masih terperangkap dalam kasta terendah rantai nilai global (global value chain) sebagai pemasok bahan mentah kering (dried seaweed). Akibatnya, ketika harga bahan mentah di pasar internasional terkoreksi tajam, petani di tingkat hulu menjadi pihak pertama yang langsung terhempas oleh kerugian.

Membaca Tren Data: Anomali Volume dan Keterpurukan Nilai Devisa

Analisis terhadap data transaksi ekspor perikanan Indonesia periode 2020 hingga awal 2026 menyajikan potret yang sangat memprihatinkan terkait industri rumput laut nasional. Komoditas ini pernah mengalami masa keemasan (booming) pada tahun 2022, ketika nilai ekspornya melonjak tinggi hingga menyentuh USD 600,36 juta dengan kontribusi mencapai 9,62 persen dari total devisa perikanan nasional. Namun, kejayaan tersebut berumur pendek.

Pasca-tahun 2022, ekspor rumput laut Indonesia mengalami penurunan nilai yang sangat drastis. Pada tahun 2023, nilai ekspor terperosok ke angka USD 433,72 juta (-27,76 persen), lalu turun kembali menjadi USD 342,16 juta pada tahun 2024 (-21,11 persen). Tren penurunan ini terus berlanjut hingga tahun 2025, di mana nilai ekspor rumput laut nasional menyusut ke titik USD 315,62 juta, atau hanya menyumbang 5,04 persen dari total devisa perikanan Indonesia. Bahkan pada triwulan pertama tahun 2026, nilai ekspor yang dibukukan baru mencapai USD 65,31 juta.

Tabel 1. Tren Perkembangan Ekspor Rumput Laut Indonesia (2020–2025)

Tahun Nilai Ekspor (Juta USD) Volume Ekspor (Ribu Ton) Porsi terhadap Total Ekspor Perikanan
2020 279.58 195.57 5.37
2021 345.11 225.61 6.03
2022 600.36 253.68 9.62
2023 433.72 265.84 7.70
2024 342.16 262.55 5.75
2025 315.62 242.73 5.04
2026 (Q1) 65.31 44.10 4.81

Sumber: BPS RI (2026), diolah

Hal yang sangat menyayat hati dari data di atas adalah adanya anomali antara volume pengiriman dan nilai yang diterima. Jika kita membandingkan tahun 2022 dan tahun 2025, volume rumput laut yang diekspor Indonesia sebenarnya relatif stabil di kisaran 240 hingga 250 ribu ton. Pada tahun 2022, Indonesia mengekspor 253,68 ribu ton rumput laut dan meraup devisa USD 600,36 juta. Namun pada tahun 2025, dengan volume yang tidak jauh berbeda yakni 242,73 ribu ton, devisa yang diraih Indonesia anjlok hampir separuhnya menjadi USD 315,62 juta.

Anomali ini menjadi bukti nyata betapa rentannya posisi Indonesia. Ketika kita mengekspor rumput laut dalam bentuk mentah, harga jual kita ditentukan sepenuhnya oleh pembeli luar negeri. Ketika industri olahan di negara pembeli melakukan downstocking atau menurunkan penawaran harga, nilai ekspor Indonesia langsung ambruk meskipun petani di hulu telah bekerja keras memanen tonase yang sama.

Baca juga: Standar global rumput laut dan masa depan pangan dunia

Peta Pasar Internasional: Cengkeraman Pasar Monopsoni Tiongkok

Mengapa harga rumput laut Indonesia begitu mudah didikte oleh pihak luar? Jawabannya terletak pada struktur pasar luar negeri yang sangat tidak seimbang dan cenderung bersifat monopsoni (satu pembeli dominan).

Data ekspor tahun 2025 mencatat bahwa Tiongkok menyerap nilai ekspor rumput laut Indonesia sebesar USD 218,24 juta. Angka ini setara dengan 69,15 persen dari seluruh total ekspor rumput laut Indonesia ke dunia. Porsi pasar di negara-negara lain terbilang sangat kerdil: Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan porsi 3,09 persen (USD 9,75 juta), Spanyol sebesar 3,09 persen (USD 9,74 juta), Jepang sebesar 2,49 persen (USD 7,87 juta), dan Belanda sebesar 2,32 persen (USD 7,34 juta).

Tabel 2. Top 5 Negara Tujuan Ekspor Rumput Laut Indonesia (Tahun 2025)

Peringkat Negara Tujuan Nilai Ekspor (Juta USD) Pangsa Pasar (%)
1 China 218.24 69.15
2 United States 9.75 3.09
3 Spain 9.74 3.09
4 Japan 7.87 2.49
5 Netherlands 7.34 2.32

Sumber: BPS RI (2026), diolah

Ketergantungan hampir 70 persen pada pasar Tiongkok adalah perangkap struktural yang sangat berbahaya. Pabrik-pabrik pengolahan karaginan dan agar-agar di Tiongkok membeli rumput laut kering berkualitas mentah dari Indonesia dengan harga murah. Di dalam negerinya, mereka mengolah rumput laut tersebut menjadi produk turunan hidrokoloid bernilai tinggi—seperti Refined Carrageenan (RC), Semi-Refined Carrageenan (SRC), serta tepung agar—lalu menjualnya kembali ke industri makanan, farmasi, kosmetik, dan pet food di Eropa dan Amerika Serikat dengan margin keuntungan berlipat ganda.

Indonesia pada dasarnya berada dalam posisi “menyubsidi” bahan baku murah bagi kemajuan industri ekstraksi Tiongkok. Ketika Tiongkok mengurangi pembelian atau menekan harga beli kering, seluruh rantai pasok rumput laut dari pengepul di daerah hingga petani di pesisir langsung mengalami kemacetan transaksi.

Anatomi Spasial: Sulawesi Selatan Sebagai Benteng Utama Produk Hulu

Melihat pendaftaran provinsi asal barang pada komoditas rumput laut menghadirkan pemandangan yang berbeda dari komoditas perikanan lainnya. Jika ekspor udang atau cumi didominasi oleh pendaftaran dari Pulau Jawa, ekspor rumput laut nasional secara mutlak dikuasai oleh Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2025, Provinsi Sulawesi Selatan mencatatkan nilai ekspor rumput laut sebesar USD 190,36 juta, atau menguasai 60,31 persen dari total ekspor nasional. Jawa Timur menempati posisi kedua dengan porsi 22,25 persen (USD 70,22 juta), diikuti oleh Kalimantan Utara sebesar 8,24 persen (USD 26,00 juta), Jawa Barat sebesar 2,30 persen (USD 7,25 juta), dan Jawa Tengah sebesar 1,47 persen (USD 4,63 juta).

Tabel 3. Top 5 Provinsi Asal Ekspor Rumput Laut Indonesia (Tahun 2025)

Peringkat Provinsi Asal Ekspor Nilai Ekspor (Juta USD) Pasar (%)
1 Sulawesi Selatan 190.36 60.31
2 Jawa Timur 70.22 22.25
3 Kalimantan Utara 26.00 8.24
4 Jawa Barat 7.25 2.30
5 Jawa Tengah 4.63 1.47

Sumber: BPS RI (2026), diolah

Dominasi Sulawesi Selatan sebesar lebih dari 60 persen mencerminkan posisi wilayah ini sebagai hub pengumpulan dan perdagangan rumput laut terbesar di kawasan Indonesia Timur. Hasil panen rumput laut dari daerah-daerah pesisir di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, hingga Maluku terkonsolidasi di Makassar sebelum dikirimkan dalam bentuk bahan mentah kering ke luar negeri melalui Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.

Akan tetapi, tingginya angka ekspor dari Sulawesi Selatan ini belum diimbangi oleh keberadaan pabrik-pabrik ekstraksi hilir skala besar yang mampu mengolah seluruh hasil panen regional menjadi produk jadi. Sebagian besar barang yang keluar dari pelabuhan tetap berupa karung-karung rumput laut kering yang belum tersentuh proses industrialisasi lanjutan.

Mengapa Hilirisasi Rumput Laut Dalam Negeri Selalu Terjal?

Gagasan untuk melarang atau membatasi ekspor rumput laut mentah guna mendorong hilirisasi dalam negeri telah berulang kali muncul dalam wacana kebijakan nasional. Namun, mengapa industri pengolahan rumput laut di dalam negeri begitu sulit berkembang dan bersaing dengan pabrik luar negeri? Ada tiga masalah mendasar yang membelenggu hilirisasi rumput laut nasional, yaitu pertama, tingginya biaya bahan kimia penolong dan energi industry. Proses ekstraksi rumput laut menjadi karaginan murni (Refined Carrageenan) atau Semi-Refined Carrageenan (SRC) membutuhkan pasokan bahan kimia alkali (seperti Potassium Hydroxide / KOH dan Sodium Hydroxide / NaOH) serta konsumsi energi uap dan listrik yang sangat besar. Di Indonesia, sebagian besar bahan kimia penolong ekstraksi ini masih harus diimpor atau dibeli dengan harga tinggi akibat biaya distribusi domestik. Ditambah dengan tarif listrik dan gas industri yang belum sepenuhnya kompetitif di kawasan timur, biaya operasional pabrik pengolahan di Indonesia menjadi jauh lebih mahal dibandingkan pabrik di Tiongkok.

Kedua, masalah mutu bahan baku di tingkat petani: kadar air dan impunitas. Pabrik pengolahan lokal sering kali mengeluhkan konsistensi mutu rumput laut kering yang dipanen petani. Akibat desakan kebutuhan uang cepat, banyak petani memanen rumput laut sebelum usianya matang (kurang dari 45 hari), sehingga kadar karaginan (gel strength) di dalamnya belum terbentuk optimal. Selain itu, praktik penjemuran di atas tanah tanpa alas yang memadai menyebabkan tingginya kadar air, porsi pasir, serta benda asing (foreign matter). Mutu bahan baku yang rendah dan tidak terstandar ini menyulitkan pabrik pengolahan lokal untuk menghasilkan produk hidrokoloid kelas farmasi atau makanan.

Ketiga, ketiadaan integrasi rantai Pasok dan akses industri pengguna. Industri pengolahan rumput laut di Indonesia selama ini berdiri secara terpisah dari industri pengguna akhir (end-user industries). Di Tiongkok atau Eropa, pabrik ekstraksi karaginan terhubung langsung dengan industri manufaktur makanan olahan (sosis, es krim, jeli), kosmetik, farmasi, serta pakan ternak. Di Indonesia, ekosistem industri pengguna hidrokoloid masih sangat terbatas. Akibatnya, ketika pengolah lokal berhasil membuat SRC atau tepung karaginan, mereka tetap kesulitan menjual produknya di dalam negeri dan harus berjuang keras menembus jaringan distribusi internasional yang sudah dikuasai oleh kartel pembeli global.

Peta Jalan Melepas Ketergantungan

Untuk memutus rantai ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan menyelamatkan perekonomian jutaan petani rumput laut di hulu, Indonesia membutuhkan langkah transformasi yang realistis dan terukur, diantaranya, pertama, Insentif Khusus Bagi Industri Ekstraksi di Pusat Produksi. Pemerintah harus memberikan paket insentif fiskal dan non-fiskal khusus—seperti penetapan harga gas industri murah, pembebasan bea masuk bahan kimia penolong, dan tax holiday—bagi investor yang bersedia membangun pabrik ekstraksi rumput laut (SRC, RC, dan Agar) langsung di kawasan sentra produksi utama seperti di Sulawesi Selatan, NTT, dan Jawa Timur.

Kedua, Standardisasi Tata Kelola Budidaya dan Pascapanen di Tingkat Petani. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama pemerintah daerah harus memperluas pembinaan teknik budidaya dengan masa tanam ideal (minimal 45 hari). Penyediaan bantuan sarana lantai jemur (drying platform), jaring, dan alat ukur kadar air di tingkat kelompok tani akan meningkatkan mutu bahan baku kering dan menaikkan harga tawar petani.

Ketiga, Inovasi Aplikasi Baru: Bioplastik, Pupuk Organik, dan Pakan Rendah Emisi. Hilirisasi rumput laut tidak boleh lagi terbatas pada produk pangan dan kosmetik konvensional. Indonesia harus memelopori riset dan komersialisasi aplikasi masa depan rumput laut, seperti pembuatan bioplastik ramah lingkungan berbasis agar/karaginan, pupuk hayati cair (bio-stimulant), serta bahan tambahan pakan ternak (feed additive) berbasis spesies Asparagopsis yang terbukti mampu menekan emisi gas metana.

Keempat, Penguatan Asosiasi dan Konsolidasi Pembeli Kolektif. Pemerintah perlu memfasilitasi pembentukan kelembagaan koperasi petani yang kuat untuk menghadapi tekanan harga dari pembeli tunggal. Melalui konsolidasi pasokan secara kolektif, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi harga dan dapat menjalin kemitraan langsung dengan pabrik pengolahan dalam negeri tanpa melalui perantara tengkulak berlapis.

Dus, rumput laut adalah “emas hijau” pesisir Indonesia yang memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pendorong kesejahteraan masyarakat maritim. Namun, penurunan nilai ekspor hingga menyusut ke angka USD 315,62 juta pada tahun 2025, di tengah volume pengiriman yang tetap besar, adalah teguran keras bahwa strategi mengekspor bahan mentah kering telah gagal memberikan nilai tambah yang adil bagi bangsa kita.

Membiarkan hampir 70 persen ekspor rumput laut terus dikuasai oleh pembeli tunggal di Tiongkok dalam bentuk mentah adalah bentuk pembiaran terhadap kebocoran nilai ekonomi nasional. Melepas ketergantungan dari bahan mentah bukan sekadar impian kebijakan, melainkan keharusan strategis. Dengan keberanian membenahi mutu di tingkat hulu, memberikan insentif efisiensi industri di tingkat tengah, serta membuka aplikasi pasar baru di tingkat hilir, Indonesia dapat mengubah rumput lautnya dari sekadar komoditas mentah murah menjadi pilar kekuatan industri maritim bernilai tinggi di panggung dunia.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca