
Oleh: Suhana
Di banyak kampus, kita sering menjumpai dua gejala yang tampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya berangkat dari masalah yang sama. Di satu sisi, ada akademisi yang sangat sibuk: mengajar, rapat, menulis laporan, mengejar akreditasi, mengurus administrasi, mengisi seminar, dan mengejar publikasi. Di sisi lain, ada keluhan bahwa kampus makin jauh dari masyarakat, makin ramai oleh aktivitas, tetapi makin sepi dari gagasan yang benar-benar mengubah keadaan. Penelitian menumpuk, tetapi kebijakan publik tidak banyak bergerak. Diskusi akademik berlangsung, tetapi suara nelayan, petani, buruh, masyarakat pesisir, dan kelompok rentan masih sering tercecer di pinggir ruang percakapan. Kampus hidup, tetapi tidak selalu terasa menghidupkan.
Di titik inilah pertanyaan mendasar perlu diajukan ulang, yaitu untuk apa seorang akademisi belajar, meneliti, menulis, mengajar, dan membangun reputasi? Apakah semata-mata untuk memenuhi beban kerja, mengejar jabatan fungsional, mengumpulkan angka sitasi, dan menambah gelar di belakang nama? Ataukah ada tujuan yang lebih besar: menghadirkan ilmu yang menenangkan akal, menuntun kebijakan, menolong sesama, dan memperbaiki kehidupan bersama? Pertanyaan ini penting, sebab kampus tidak hanya membutuhkan orang pintar. Kampus membutuhkan orang yang tahu ke mana ilmunya diarahkan. Kampus membutuhkan akademisi yang tidak sekadar produktif, tetapi juga taat, strategis, dan berpihak.
Taat berarti memiliki kompas moral dan spiritual yang membuat ilmu tidak lepas dari adab. Strategis berarti mampu mengubah pengetahuan menjadi karya, karya menjadi pengaruh, dan pengaruh menjadi perubahan nyata. Berpihak berarti menjadikan ilmu sebagai alat untuk memudahkan hidup orang lain, membela yang lemah, dan memperbaiki ketimpangan, bukan sekadar mempercantik portofolio pribadi. Tiga kata ini—taat, strategis, dan berpihak—bukan slogan tempel di dinding seminar. Ia seharusnya menjadi watak dasar akademisi, terutama di tengah zaman ketika kampus mudah terjebak pada dua ekstrem sekaligus: ritualisme akademik yang sibuk tetapi hampa, atau intelektualisme yang cerdas tetapi dingin terhadap penderitaan sosial.
Lima Falsafah Akademisi
Untuk merumuskan sosok akademisi seperti itu, saya ingin merangkai lima sumber yang datang dari medan yang berbeda, tetapi dapat saling menerangi, yaitu Surah An-Nahl ayat 78, hikmah shalat, Surah Al-Ma’un, teori transcend, dan Sun Tzu. Kelimanya, jika dibaca secara utuh, menghadirkan satu kerangka yang kuat tentang bagaimana seharusnya kampus melahirkan akademisi yang bukan hanya pandai berpikir, tetapi juga jernih niatnya, peka sosialnya, luas horizon hidupnya, dan cerdas langkahnya.
Baca juga: Ekonomi kelautan lestari perspektif epistemologi qurani
Surah An-Nahl ayat 78 memberi fondasi pertama yang sangat penting. Ayat ini mengingatkan bahwa Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, lalu memberinya pendengaran, penglihatan, dan hati agar manusia bersyukur. Dalam satu ayat singkat itu, ada pelajaran besar tentang ilmu. Pertama, ilmu dimulai dari kerendahan hati. Tidak ada manusia yang lahir sebagai profesor. Tidak ada peneliti yang sejak awal menguasai metodologi, teori, dan data. Kita semua memulai dari ketidaktahuan. Maka, akademisi yang sehat bukanlah mereka yang merasa paling tahu, melainkan mereka yang terus belajar, terus mengoreksi diri, dan tidak malu mengatakan, “Saya belum tahu, saya perlu membaca lagi, saya perlu mendengar lebih banyak.” Kesadaran bahwa manusia lahir dalam keadaan tidak tahu adalah vaksin paling dasar terhadap kesombongan intelektual.
Kedua, ayat ini menjelaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui tiga instrumen: pendengaran, penglihatan, dan hati. Pendengaran berarti kesediaan mendengar—mendengar ilmu, mendengar kritik, mendengar suara masyarakat, mendengar mahasiswa, mendengar mereka yang selama ini tak punya panggung. Penglihatan berarti kemampuan mengamati realitas—membaca data, menelaah gejala sosial, melihat perubahan, dan menangkap pola. Sementara hati adalah ruang tempat manusia merenung, menimbang, dan memberi makna. Hati membuat ilmu tidak berhenti pada angka dan informasi, tetapi tumbuh menjadi kebijaksanaan. Dalam dunia kampus, tiga instrumen ini seharusnya bekerja bersamaan. Akademisi tidak cukup hanya pandai membaca jurnal, tetapi juga perlu mendengar lapangan, melihat kenyataan, dan merenungkan nilai dari pengetahuan yang ia hasilkan.
Ketiga, tujuan dari seluruh proses itu adalah syukur. Ilmu bukan sekadar alat untuk unggul dalam kompetisi, melainkan amanah yang harus dipakai dengan benar. Syukur dalam konteks akademik berarti menggunakan pengetahuan untuk kebaikan, bukan untuk manipulasi; untuk pencerahan, bukan untuk penyesatan; untuk pengabdian, bukan untuk kesombongan. Jika seorang akademisi memiliki gelar tinggi tetapi ilmunya justru membuatnya makin angkuh, maka ada yang keliru dalam cara ia memahami pengetahuan. Surah An-Nahl ayat 78 mengajarkan bahwa kampus semestinya melahirkan manusia yang rendah hati di hadapan ilmu dan bertanggung jawab dalam menggunakannya.
Namun pengetahuan saja tidak cukup. Seorang akademisi bisa sangat cerdas, sangat rajin menulis, bahkan sangat terkenal, tetapi tetap kehilangan arah jika batinnya tidak tertata. Di sinilah hikmah shalat menjadi fondasi kedua. Shalat bukan hanya ibadah ritual, melainkan sekolah karakter yang membentuk orientasi, disiplin, dan integritas. Setiap kali seorang Muslim berdiri untuk shalat, ia sedang dilatih untuk menata kembali pusat hidupnya: menghadap Allah, bukan menghadap ego. Dari sini kita belajar bahwa akademik pun seharusnya dimulai dari pertanyaan niat. Untuk apa saya menulis? Untuk apa saya meneliti? Untuk apa saya mengajar? Jika jawabannya hanya berhenti pada jabatan, honorarium, atau pengakuan, maka ilmu akan mudah terseret menjadi komoditas. Tetapi jika niatnya adalah ibadah, pengabdian, dan pencarian kebenaran, maka ilmu memperoleh arah moral yang kokoh.
Shalat juga mengajarkan disiplin waktu. Lima waktu shalat adalah pelajaran tentang ritme hidup. Ia melatih manusia untuk tidak hidup serampangan, tidak membiarkan hari mengalir tanpa arah, dan tidak menunda-nunda hal penting. Dalam dunia kampus, pelajaran ini sangat relevan. Banyak akademisi bukan kekurangan kecerdasan, melainkan kekurangan ritme. Gagasan ada, bahan bacaan ada, peluang riset ada, tetapi semua tercerai-berai karena tidak ada disiplin yang menjaga. Shalat mengingatkan bahwa kerja besar lahir dari keteraturan: ada waktu untuk membaca, waktu untuk menulis, waktu untuk membimbing, waktu untuk beristirahat, dan waktu untuk memeriksa kembali niat. Kampus membutuhkan akademisi yang bukan hanya produktif saat ada tenggat, tetapi tertib dalam menata hari-harinya.
Di saat yang sama, shalat mengajarkan kerendahan hati dan integritas. Puncak shalat adalah sujud, dan sujud adalah simbol bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, ada titik di mana ia harus menundukkan dirinya. Sujud adalah pengingat bahwa pengetahuan tidak boleh melahirkan keangkuhan. Dari shalat pula lahir dorongan untuk menjauhi yang mungkar. Dalam dunia akademik, maknanya sangat konkret: tidak memanipulasi data, tidak menjiplak karya orang lain, tidak mempermainkan jabatan, tidak memperlakukan mahasiswa secara sewenang-wenang, dan tidak menukar kebenaran dengan kenyamanan. Akademisi yang rajin shalat tetapi culas dalam kerja ilmiah sesungguhnya sedang memperlihatkan jurang antara ritual dan karakter. Karena itu, hikmah shalat semestinya menjelma menjadi kejujuran ilmiah, kedisiplinan kerja, dan ketenangan batin dalam menghadapi tekanan.
Setelah ilmu diberi dasar kerendahan hati oleh An-Nahl dan jiwa diberi disiplin oleh shalat, datanglah Surah Al-Ma’un untuk memberi arah keberpihakan. Surah ini sangat keras nadanya. Ia menegur orang yang menghardik anak yatim, tidak mendorong memberi makan orang miskin, lalai dalam shalat, dan enggan memberi bantuan yang berguna. Bagi akademisi, pesan Al-Ma’un sangat menggugah: ilmu yang tidak punya kepedulian sosial berisiko kehilangan ruhnya. Kampus tidak boleh menjadi menara gading yang sibuk membicarakan keadilan, tetapi buta terhadap orang-orang yang menderita di sekitarnya. Penelitian tidak boleh berhenti sebagai tumpukan laporan yang hanya dibaca oleh penulisnya sendiri. Pengajaran tidak boleh menjadi rutinitas formal yang tidak benar-benar memerdekakan mahasiswa untuk berpikir dan bertumbuh.
Al-Ma’un mengubah cara kita mengukur keberhasilan akademik. Selama ini ukuran sukses sering dibatasi pada jumlah publikasi, indeks sitasi, hibah yang dimenangkan, atau jabatan struktural yang diraih. Semua itu tentu penting, tetapi tidak cukup. Akademisi yang baik juga harus diukur dari pertanyaan-pertanyaan yang lebih sosial: apakah ilmunya membantu memecahkan masalah nyata? Apakah tulisannya memberi pencerahan bagi publik? Apakah risetnya memberi masukan bagi kebijakan yang lebih adil? Apakah kehadirannya membuat mahasiswa merasa ditolong, bukan ditakuti? Apakah ia menggunakan otoritas intelektualnya untuk membela yang lemah, atau justru hanya untuk memperbesar dirinya sendiri? Al-Ma’un mengingatkan bahwa agama tidak diukur dari banyaknya ritual semata, tetapi dari seberapa jauh seseorang peduli pada nasib sesama. Maka kampus yang sehat harus melahirkan akademisi yang melihat ilmu sebagai sarana memudahkan, menguatkan, dan membela, bukan sekadar sarana naik pangkat.
Baca juga: kampus-jangan-hanya-melahirkan-orang-pintar
Tetapi hidup akademik tidak hanya soal ilmu, ibadah, dan kepedulian sosial. Ada satu pertanyaan lain yang tak kalah penting: ke mana semua ini diarahkan dalam jangka panjang? Di sinilah teori transcend menjadi relevan. Dalam perkembangan pemikiran Abraham Maslow, puncak pertumbuhan manusia tidak berhenti pada aktualisasi diri—yakni menjadi versi terbaik dari diri sendiri—melainkan bergerak ke tahap yang lebih tinggi, yaitu transcendence, melampaui diri. Scott Barry Kaufman mengembangkan gagasan ini dengan menunjukkan bahwa manusia yang matang tidak lagi hanya mengejar prestasi pribadi, tetapi mulai mencari makna yang lebih besar, kontribusi yang lebih luas, dan warisan yang lebih abadi.
Bagi dunia kampus, teori transcend adalah kritik halus terhadap budaya akademik yang terlalu berpusat pada CV. Tidak sedikit akademisi yang sangat sukses secara administratif—gelarnya lengkap, artikelnya banyak, jabatannya tinggi—tetapi pengaruh ilmunya tipis, murid-muridnya tak bertumbuh, dan jejak manfaatnya tidak terasa. Teori transcend mengajak akademisi bertanya lebih dalam: apa yang saya wariskan? Apakah saya hanya ingin dikenang sebagai orang yang produktif, atau sebagai orang yang membangun tradisi berpikir? Apakah saya hanya ingin menambah daftar publikasi, atau ingin menyiapkan generasi penerus yang lebih kuat? Apakah saya hanya ingin hadir dalam seminar, atau ingin meninggalkan ekosistem ilmu yang terus bekerja bahkan setelah saya tidak lagi aktif?
Transcendence menggeser orientasi akademik dari sekadar “apa yang saya capai?” menjadi “apa yang saya bangun untuk melampaui diri saya sendiri?” Seorang dosen yang transenden tidak hanya mengejar artikel, tetapi juga menumbuhkan mahasiswa. Ia tidak hanya meneliti, tetapi juga menyiapkan sistem pengetahuan agar riset-riset berikutnya bisa tumbuh. Ia tidak hanya mengejar reputasi, tetapi juga membangun pusat studi, jaringan kolaborasi, buku ajar, dan tradisi intelektual yang hidup. Kampus sangat membutuhkan tipe akademisi seperti ini: orang yang tidak habis di kepentingan dirinya sendiri, tetapi berpikir dalam horizon yang lebih panjang, lebih luas, dan lebih beradab.
Namun niat yang baik, ibadah yang kuat, kepedulian sosial, dan visi transenden masih memerlukan satu hal lagi: strategi. Tanpa strategi, banyak gagasan besar hanya berakhir sebagai wacana. Banyak orang baik kelelahan di tengah jalan karena tidak tahu bagaimana mengelola energi, memilih medan, dan mengubah pengetahuan menjadi pengaruh. Di sinilah Sun Tzu masuk sebagai sumber kelima. Tentu Sun Tzu tidak kita baca sebagai kitab perang literal, melainkan sebagai filsafat strategi: seni membaca keadaan, mengenali diri, memilih momentum, dan memenangkan tujuan dengan efisien.
Salah satu pelajaran paling penting dari Sun Tzu adalah perlunya mengenal diri dan mengenal medan. Dalam konteks akademik, ini berarti memahami dengan jujur bidang unggulan kita, kelemahan kita, serta ekosistem tempat kita bekerja. Tidak semua akademisi harus bicara tentang semua hal. Justru salah satu penyakit kampus adalah keinginan untuk hadir di terlalu banyak arena sekaligus, sehingga energi habis tetapi pengaruh tak mendalam. Akademisi yang strategis tahu apa tema intinya, jurnal mana yang relevan, mitra mana yang penting, dan audiens mana yang ingin ia pengaruhi. Ia tidak mengejar semua kesempatan, tetapi memilih yang paling selaras dengan misi hidupnya.
Sun Tzu juga mengajarkan bahwa kemenangan diraih sebelum pertempuran dimulai. Dalam akademik, itu berarti persiapan. Artikel yang baik tidak lahir dari kerja semalam. Policy brief yang kuat tidak lahir dari kemarahan spontan. Proposal riset yang tajam tidak lahir dari kebetulan. Semua itu lahir dari kebiasaan membaca, mengarsipkan data, menyusun catatan, memetakan argumen, dan menyiapkan langkah sebelum momentum datang. Kampus membutuhkan akademisi yang bukan hanya pandai bereaksi, tetapi piawai menyiapkan diri.
Prinsip lain yang sangat penting adalah memilih pertempuran yang layak. Tidak semua seminar perlu dihadiri, tidak semua proyek perlu diambil, tidak semua polemik perlu dikomentari. Banyak akademisi lelah bukan karena kurang kuat, tetapi karena terlalu sering masuk ke medan yang tidak relevan dengan panggilan intelektualnya. Strategi berarti berani mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak memperkuat arah hidup. Strategi juga berarti mengubah satu kerja menjadi banyak manfaat. Satu riset yang baik semestinya bisa melahirkan artikel jurnal, policy brief, bahan ajar, tulisan populer, dan rekomendasi kebijakan. Dengan begitu, energi intelektual tidak terbuang sia-sia.
Jika lima sumber ini kita susun, tampaklah satu arsitektur yang utuh. An-Nahl ayat 78 mengajarkan bahwa ilmu adalah amanah yang harus diperoleh dengan mendengar, melihat, dan merenung. Hikmah shalat mengajarkan bahwa ilmu harus dijaga oleh niat yang lurus, disiplin, dan integritas. Al-Ma’un mengajarkan bahwa ilmu harus berpihak kepada yang lemah dan menghadirkan manfaat sosial. Teori transcend mengajarkan bahwa kerja akademik harus melampaui kepentingan diri dan diarahkan pada warisan yang lebih abadi. Sun Tzu mengajarkan bagaimana semua itu dijalankan dengan cerdas, fokus, dan efektif.
Dari sini kita bisa merumuskan satu gambaran tentang akademisi yang dibutuhkan kampus hari ini. Ia adalah orang yang belajar dengan rendah hati, sebab tahu bahwa dirinya lahir dalam keadaan tidak tahu. Ia beribadah dengan sungguh-sungguh, sebab sadar bahwa ilmu tanpa jiwa yang tertata akan mudah tersesat. Ia berpihak pada kemaslahatan, sebab paham bahwa ilmu yang tak menyentuh penderitaan sosial hanyalah kemewahan intelektual. Ia melampaui dirinya sendiri, sebab tidak ingin kariernya berakhir sebagai daftar prestasi pribadi. Dan ia bergerak secara strategis, sebab tahu bahwa niat baik tanpa strategi sering kali kalah oleh kebisingan dan kekacauan.
Apa artinya semua ini dalam kehidupan kampus sehari-hari? Artinya, dosen perlu mulai melihat kelas bukan hanya sebagai kewajiban mengajar, tetapi sebagai ruang menanam akal dan akhlak. Peneliti perlu melihat data bukan hanya sebagai bahan publikasi, tetapi sebagai jalan membaca penderitaan dan peluang perubahan. Pembimbing perlu melihat mahasiswa bukan sebagai beban administratif, tetapi sebagai amanah intelektual. Pimpinan kampus perlu melihat kebijakan akademik bukan hanya sebagai urusan tata kelola, tetapi sebagai cara membentuk budaya ilmu yang sehat. Dan kampus secara keseluruhan perlu berhenti mengukur keberhasilan semata-mata dari banyaknya dokumen, lalu mulai bertanya: apakah kita melahirkan manusia yang ilmunya bermanfaat, akhlaknya terjaga, keberpihakannya jelas, dan strateginya matang?
Kampus memang membutuhkan sarana, laboratorium, anggaran, dan tata kelola yang baik. Tetapi di atas semua itu, kampus membutuhkan manusia akademik yang utuh. Sebab gedung yang megah tidak otomatis melahirkan pemikiran yang jernih. Sistem yang rapi tidak otomatis menghasilkan keberanian moral. Kurikulum yang modern tidak otomatis membuat ilmu berpihak pada rakyat. Pada akhirnya, wajah kampus ditentukan oleh kualitas manusianya: apakah mereka menjadikan ilmu sebagai amanah, ibadah sebagai penuntun, kepedulian sebagai orientasi, transcendence sebagai horizon, dan strategi sebagai cara bergerak.
Karena itu, jika kampus ingin kembali relevan, ia tidak cukup hanya mendorong produktivitas. Ia harus membentuk karakter akademik. Ia harus menumbuhkan dosen dan peneliti yang bukan hanya sibuk, tetapi sadar; bukan hanya cerdas, tetapi jujur; bukan hanya taat secara personal, tetapi juga peduli secara sosial; bukan hanya baik niatnya, tetapi juga cermat langkahnya. Kampus butuh akademisi yang taat, strategis, dan berpihak—sebab hanya dengan itulah ilmu tidak berhenti menjadi wacana, melainkan menjelma cahaya yang menuntun kebijakan, menolong sesama, dan memperbaiki kehidupan bersama.
Dus, akademisi sejati bukan hanya orang yang tahu banyak hal. Ia adalah orang yang membuat pengetahuan menjadi jalan syukur, jalan ibadah, jalan keberpihakan, dan jalan peradaban. Dan kampus yang mampu melahirkan akademisi seperti itulah kampus yang tidak sekadar hidup, tetapi menghidupkan.
