
Oleh: Suhana
Industri tuna global sedang menghadapi paradoks. Harga bahan baku meningkat, tetapi permintaan di sejumlah pasar utama justru melemah. Biaya bahan bakar yang melonjak, ketidakpastian geopolitik, pembatasan aktivitas penangkapan, dan perubahan pola konsumsi membuat perdagangan tuna dunia memasuki periode yang tidak mudah.
Laporan Quarterly Tuna Analysis – September 2026 dari FAO GLOBEFISH menggambarkan tekanan tersebut melalui perkembangan perdagangan tuna segar, beku, dan olahan selama paruh pertama 2026. Data menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak otomatis menghasilkan peningkatan nilai perdagangan. Ketika biaya produksi naik dan konsumen menahan belanja, pelaku industri menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus.
Bagi Indonesia, salah satu produsen tuna penting dunia, situasi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sektor perikanan tidak cukup diukur dari kemampuan menangkap ikan. Daya saing juga ditentukan oleh efisiensi produksi, kemampuan mengolah bahan baku, ketepatan memilih pasar, dan nilai tambah yang dapat dipertahankan di dalam negeri.
Biaya Energi Mengubah Peta Persaingan
Salah satu faktor penting di balik kenaikan harga tuna adalah lonjakan harga minyak mentah. Menurut laporan FAO, harga minyak meningkat dari sekitar US$60 per barel pada Juli 2025 menjadi US$120 per barel pada Juli 2026.
Kenaikan tersebut berdampak pada seluruh rantai pasok tuna, mulai dari operasi kapal penangkap, penyimpanan dingin, pengangkutan, hingga distribusi produk ke pasar internasional. Pada industri yang bergantung pada perjalanan laut jarak jauh dan rantai dingin, peningkatan biaya energi dapat menggerus margin usaha secara signifikan.
Tekanan pasokan juga muncul di Samudra Pasifik Barat dan Tengah. Penutupan sementara penangkapan menggunakan alat pengumpul ikan atau fish aggregating devices (FAD) selama Juli–September membatasi aktivitas penangkapan. Pada saat yang sama, FAO memperkirakan bahwa pengaruh El Niño yang menguat pada akhir 2026 hingga awal 2027 berpotensi mengubah persebaran tuna dan menekan hasil tangkapan di Pasifik Barat.
Kombinasi faktor tersebut mendorong harga tuna cakalang beku (frozen skipjack) untuk pengiriman ke Bangkok menjadi sekitar US$2.000 per ton pada awal Agustus 2026. Angka ini sekitar 25–30 persen lebih tinggi dibandingkan harga Juli 2025, yang tercatat sekitar US$1.550 per ton.
Namun, kenaikan harga bukan berarti industri pengolahan memperoleh keuntungan lebih besar. Produsen tuna kaleng justru menghadapi bahan baku yang lebih mahal ketika permintaan terhadap produk akhirnya melemah. Kondisi ini membuat pembeli lebih berhati-hati dalam melakukan pengadaan.
Perdagangan Tuna Dunia Kehilangan Momentum
Pelemahan pasar terlihat jelas pada perdagangan tuna segar dan beku. Selama Januari–Maret 2026, impor global tuna segar dan beku turun 12,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi sekitar 481.329 ton.
Penurunan terutama terjadi pada tuna utuh beku. Impornya menyusut 14,58 persen menjadi 413.966 ton. Sebaliknya, impor fillet tuna beku meningkat 5,76 persen menjadi 55.416 ton.
Perbedaan ini penting. Pasar tidak hanya mengalami penurunan permintaan, tetapi juga menunjukkan perubahan komposisi produk yang dibeli. Produk yang lebih praktis dan siap diolah masih memiliki ruang pertumbuhan, meskipun pasar secara keseluruhan sedang melemah.
Data Januari–Mei 2026 memperlihatkan tekanan yang berlanjut. Impor global seluruh jenis tuna turun 11,92 persen secara volume menjadi sekitar 1,55 juta ton. Nilai impornya juga menurun 4,78 persen, menjadi sekitar US$6,76 miliar sebagaimana dilaporkan FAO.
Jepang, yang dikenal sebagai pasar penting untuk tuna sashimi, memperlihatkan perubahan menarik. Pada kuartal pertama 2026, impor tuna segar melalui angkutan udara turun 63 persen secara tahunan menjadi 409 ton. Sebaliknya, impor fillet tuna beku meningkat 36 persen menjadi 22.810 ton.
Pergeseran ini mengindikasikan bahwa produk segar bernilai tinggi tidak selalu kebal terhadap perubahan permintaan. Produk beku yang lebih mudah dikelola dalam penyimpanan dan distribusi justru memperoleh ruang lebih besar di pasar tertentu.
Di China, situasinya berbeda. Impor tuna segar pada kuartal pertama 2026 mencapai 344 ton, meningkat sekitar 7,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan pasar utama lainnya, tetapi memperlihatkan adanya kantong pertumbuhan di tengah perlambatan global.
Tuna Olahan: Peluang di Tengah Tekanan
Tekanan juga menjalar ke industri tuna kaleng dan olahan. Pada kuartal pertama 2026, ekspor global tuna setengah olahan, olahan, dan kaleng dalam kelompok HS 160414 mencapai sekitar 404.300 ton, dengan nilai US$2,05 miliar. Volume ekspor turun 5 persen dan nilainya menyusut 3,65 persen secara tahunan.
Thailand masih menjadi eksportir terbesar berdasarkan volume, dengan ekspor sekitar 125.560 ton. Namun, jumlah tersebut turun 11 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Ekspor Ekuador juga menurun 4 persen menjadi 74.160 ton.
Di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru mencatat perkembangan positif. Ekspor tuna olahan dan kaleng Indonesia meningkat 8 persen, dari sekitar 20.050 ton pada kuartal pertama 2025 menjadi 21.590 ton pada periode yang sama tahun 2026.
China juga tumbuh 10 persen menjadi 42.890 ton. Sementara itu, ekspor Belanda meningkat 47 persen menjadi 17.870 ton.
Menurut analisis FAO, peningkatan ekspor China dan Indonesia berkaitan dengan bertambahnya pasokan bahan baku setengah olahan, khususnya cooked frozen loins, kepada industri pengalengan di Eropa dan Thailand.
Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Ketika permintaan produk akhir melemah, rantai pasok bahan baku olahan masih dapat menawarkan peluang. Indonesia tidak harus selalu bersaing melalui produk tuna kaleng bermerek; pemasokan bahan baku yang memenuhi spesifikasi industri juga dapat menjadi strategi ekspor.
Namun, strategi tersebut perlu diikuti peningkatan nilai tambah domestik. Jika Indonesia hanya memasok bahan baku setengah olahan, sebagian peluang keuntungan dari pengolahan akhir, pengemasan, dan pemasaran produk bermerek dapat dinikmati negara lain.
Baca juga:
Pasar Amerika dan Eropa Tidak Lagi Seragam
Amerika Serikat dan Uni Eropa masih menjadi pasar penting, tetapi perkembangan impornya menunjukkan tekanan yang cukup luas.
Pada Januari–Maret 2026, impor tuna kaleng dan olahan Amerika Serikat turun hampir 10 persen menjadi 58.030 ton. Impor dari Thailand, pemasok utama, menurun 15,62 persen. Meski demikian, pengiriman dari Indonesia, Meksiko, dan Maladewa meningkat.
Di Uni Eropa, impor tuna kaleng dan olahan turun 5,8 persen pada kuartal pertama. Untuk periode Januari–Mei 2026, FAO melaporkan penurunan kumulatif yang lebih tajam, yakni 29 persen menjadi 211.872 ton.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi ekspor Indonesia perlu lebih selektif. Mengandalkan pertumbuhan permintaan di pasar tradisional tanpa memperhatikan perubahan biaya, pola konsumsi, dan persaingan akan meningkatkan risiko bisnis.
Sebaliknya, pasar Asia-Pasifik tetap menawarkan peluang tertentu. Pada Januari–Mei 2026, pengolah tuna Thailand mengimpor 31.823 ton cooked frozen loins dari China dan Indonesia untuk diolah kembali menjadi produk siap konsumsi.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa hubungan dagang regional dapat menjadi penyangga ketika permintaan di pasar Barat melemah. Namun, peluang itu juga menuntut Indonesia untuk menjaga konsistensi pasokan, mutu, keamanan pangan, dan efisiensi logistik.
Agenda Indonesia: Dari Volume ke Nilai Tambah
Apa yang dapat dipelajari Indonesia dari dinamika tuna dunia 2026? Pertama, penguatan efisiensi energi harus menjadi bagian dari strategi daya saing perikanan. Kenaikan harga bahan bakar memengaruhi biaya penangkapan dan distribusi. Perbaikan efisiensi operasi kapal, pengelolaan rantai dingin, dan sistem logistik dapat membantu menekan biaya per unit produk.
Kedua, diversifikasi produk perlu dipercepat. Data FAO menunjukkan bahwa impor fillet tuna beku masih tumbuh ketika perdagangan tuna segar dan tuna utuh beku melemah. Indonesia dapat memperkuat kapasitas pemrosesan fillet, loins, serta produk siap olah untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumen yang berbeda.
Ketiga, diversifikasi pasar harus berbasis data. Amerika Serikat dan Eropa tetap penting, tetapi perlambatan impornya mengharuskan eksportir mengevaluasi risiko konsentrasi pasar. Perkembangan permintaan di China, Jepang, dan negara-negara Asia-Pasifik lainnya perlu dipantau berdasarkan jenis produk, harga, dan persyaratan pasar.
Keempat, Indonesia perlu meningkatkan posisi dalam rantai nilai global. Pertumbuhan ekspor tuna olahan dan kaleng sebesar 8 persen merupakan sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa daya saing industri nasional telah menguat secara menyeluruh. Diperlukan evaluasi lanjutan terhadap nilai ekspor, harga satuan, struktur biaya, kandungan nilai tambah domestik, serta kontribusi terhadap pendapatan nelayan dan pekerja pengolahan.
Terakhir, ketidakpastian iklim dan pasokan perlu masuk dalam perencanaan bisnis. Potensi perubahan persebaran tuna akibat El Niño dapat memengaruhi volume tangkapan, lokasi operasi, dan biaya pengadaan. Pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab serta koordinasi antara nelayan, pengolah, eksportir, dan pemerintah menjadi semakin penting.
Berdasarkan kondisi pasar tuna dunia pada 2026 tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan harga dan pelemahan permintaan dapat terjadi secara bersamaan. Biaya energi meningkat, pasokan menghadapi kendala, sementara konsumen dan industri pengolahan menahan pembelian.
Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar mempertahankan volume produksi dan ekspor. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa setiap ton tuna menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.
Pertumbuhan ekspor tuna olahan Indonesia memberikan pijakan awal. Akan tetapi, peluang tersebut harus diterjemahkan menjadi investasi pengolahan, efisiensi rantai pasok, diversifikasi produk, dan penguatan akses pasar.
Dus, dalam industri tuna global yang semakin tidak pasti, keunggulan Indonesia tidak cukup bertumpu pada kekayaan sumber daya laut. Keunggulan itu harus dibangun melalui kemampuan membaca pasar, mengendalikan biaya, menciptakan nilai tambah, dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
Referensi
FAO GLOBEFISH, Quarterly Tuna Analysis – September 2026
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
