Lonjakan harga tuna dunia pada September 2026 memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi penangkapan, kenaikan biaya operasional, dan gangguan pasokan dapat memengaruhi industri pengolahan serta perdagangan global. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi momentum untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai tuna dunia.
Oleh Suhana
Tuna merupakan salah satu komoditas strategis dalam perdagangan perikanan global. Ikan ini memasok kebutuhan industri pengalengan, produk beku, hingga pasar konsumsi langsung. Namun, besarnya pasar tuna tidak membuat rantai pasoknya kebal terhadap perubahan kondisi lingkungan dan kenaikan biaya operasional.
Pada September 2026, pasar tuna dunia menghadapi tekanan yang cukup kuat. Menurut European Fish Price Report September 2026 yang diterbitkan FAO GLOBEFISH (2026), harga skipjack tuna di Bangkok meningkat menjadi US$2.200 per ton, mencapai tingkat tertinggi sejak November 2017.
Kenaikan tersebut penting karena Bangkok menjadi salah satu acuan harga utama dalam perdagangan skipjack untuk industri pengalengan. Ketika harga di pasar acuan ini meningkat, tekanan harga dapat menjalar ke pasar lainnya.
Di Manta, Ekuador, harga bahkan meningkat sekitar US$100 per ton lebih tinggi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan pasokan tidak hanya menjadi persoalan di satu pasar, tetapi juga berkaitan dengan kondisi produksi dan kebutuhan bahan baku industri.
Bagi industri pengolahan tuna, kenaikan harga bahan baku menghadirkan dilema. Produsen harus memastikan ketersediaan ikan untuk menjaga kelangsungan operasi, tetapi pada saat yang sama menghadapi peningkatan biaya pembelian bahan baku.
Persoalannya bukan semata-mata apakah harga tuna naik atau turun. Yang lebih penting adalah bagaimana perubahan harga tersebut memengaruhi biaya produksi, kemampuan memenuhi pesanan, dan keuntungan di sepanjang rantai nilai.
El Niño Menekan Perikanan Tuna Ekuador
Salah satu faktor yang disoroti laporan FAO GLOBEFISH (2026) adalah dampak fenomena El Niño terhadap perikanan tuna Ekuador. Kapal penangkap harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk mencapai daerah penangkapan yang lebih menguntungkan. Kondisi ini meningkatkan biaya operasional, terutama bahan bakar, yang pada saat itu juga dilaporkan berada pada tingkat tinggi.
Perjalanan yang lebih panjang turut meningkatkan pembayaran kepada awak kapal. Pada saat yang sama, jumlah tangkapan dilaporkan menurun dan ukuran ikan yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Kombinasi tersebut menimbulkan persoalan ganda: biaya untuk memperoleh ikan meningkat, sedangkan volume bahan baku yang tersedia berkurang. FAO GLOBEFISH (2026) menyebut kondisi pasokan bahan baku mulai mengkhawatirkan bagi industri pengolahan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa harga ikan di pasar internasional tidak hanya ditentukan oleh permintaan konsumen. Kondisi lingkungan yang memengaruhi lokasi dan hasil penangkapan dapat mengubah struktur biaya produksi, kemudian diteruskan ke harga perdagangan.
Namun, laporan tersebut tidak memberikan estimasi kuantitatif mengenai kontribusi El Niño terhadap kenaikan harga tuna dunia. Karena itu, dampaknya perlu dipahami sebagai salah satu faktor tekanan pasokan yang diidentifikasi dalam laporan, bukan sebagai satu-satunya penyebab perubahan harga.
Seychelles Menghadapi Musim Penangkapan yang Buruk
Tekanan serupa terlihat di Samudra Hindia. Seychelles mengalami musim penangkapan yang buruk pada kuartal kedua 2026. Ketika harga skipjack di Bangkok dan Manta meningkat, industri pengolahan di negara tersebut harus membayar harga bahan baku yang lebih tinggi.
FAO GLOBEFISH (2026) melaporkan harga yang dibayarkan pengolah mencapai sekitar EUR1.600 per ton. Perkembangan ini memperlihatkan hubungan erat antara ketersediaan ikan di laut dan kelangsungan industri pengolahan di darat. Ketika hasil tangkapan menurun, pengolah menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk memperoleh bahan baku.
Dampaknya dapat meluas ke pemanfaatan kapasitas pabrik, biaya produksi per unit, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar. Meskipun laporan tidak merinci perubahan tingkat utilisasi pabrik Seychelles, keterbatasan bahan baku jelas menjadi risiko yang perlu diperhatikan oleh industri pengolahan tuna.
Pada saat yang sama, perkembangan kelembagaan turut memengaruhi masa depan industri. Pada Juli 2026, Uni Eropa dan Seychelles menandatangani Sustainable Fisheries Partnership Agreement (SFPA). Perjanjian ini berpotensi membentuk kembali industri tuna di kawasan Samudra Hindia (FAO GLOBEFISH, 2026).
Perjanjian semacam ini penting karena tata kelola akses terhadap sumber daya ikan dan kerja sama perikanan dapat memengaruhi hubungan antara negara penangkap, industri pengolahan, dan pasar internasional. Akan tetapi, laporan FAO GLOBEFISH (2026) belum menguraikan secara terperinci dampak implementasi perjanjian tersebut terhadap volume tangkapan, nilai ekspor, maupun distribusi manfaat ekonomi.
Tidak Semua Jenis Tuna Bergerak Searah
Meskipun harga skipjack meningkat kuat, kondisi tersebut tidak berarti semua jenis tuna mengalami kenaikan serupa. FAO GLOBEFISH (2026) mencatat bahwa harga yellowfin tuna turun menjadi sekitar EUR2.050 per ton. Laporan juga memperkirakan kapal pukat cincin Uni Eropa tidak akan mampu menangkap seluruh kuota yang dialokasikan untuk tahun tersebut.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar tuna tidak dapat diperlakukan sebagai satu pasar yang homogen. Skipjack dan yellowfin memiliki karakteristik perdagangan dan penggunaan industri yang berbeda, sehingga pergerakan harganya juga dapat berbeda.
Bagi pelaku usaha, informasi mengenai harga perlu dibaca berdasarkan spesies, wilayah penangkapan, ukuran ikan, bentuk produk, dan tujuan penggunaan. Harga ikan utuh untuk pengalengan, misalnya, tidak dapat langsung dibandingkan dengan harga loin tuna yang telah melalui proses pengolahan.
FAO GLOBEFISH (2026) memperlihatkan perbedaan nilai menurut bentuk produk dan titik perdagangan. Produk tuna yang telah dimasak atau diolah menjadi loin memiliki harga per kilogram yang jauh lebih tinggi daripada ikan utuh untuk pengalengan. Namun, selisih tersebut tidak dapat dianggap sebagai keuntungan bersih karena biaya pengolahan, tenaga kerja, energi, penyusutan, dan logistik belum dikurangkan.
Inilah alasan mengapa peningkatan nilai ekspor tidak selalu identik dengan peningkatan keuntungan industri.
Baca juga: cakalang-menembus-us2-100-normal-baru-atau-krisis
Apa Artinya bagi Indonesia?
Bagi Indonesia, dinamika pasar tuna dunia memberikan sejumlah pelajaran strategis. Sebagai negara yang memiliki kegiatan penangkapan dan industri pengolahan tuna, Indonesia perlu membaca perubahan pasar global bukan hanya sebagai persoalan harga, tetapi juga sebagai peluang memperkuat posisi dalam rantai nilai.
Pertama, ketahanan pasokan harus menjadi prioritas. Industri pengolahan membutuhkan bahan baku yang cukup dan konsisten. Pengelolaan perikanan, informasi daerah penangkapan, efisiensi operasi kapal, serta koordinasi antara nelayan dan pengolah perlu diperkuat agar perubahan kondisi di laut tidak langsung menimbulkan gangguan besar pada industri.
Kedua, kenaikan harga harus dibaca bersama dengan biaya produksi. Ketika harga tuna meningkat akibat keterbatasan pasokan, keuntungan tidak otomatis naik. Biaya bahan bakar, perjalanan penangkapan, penanganan ikan, dan pengolahan dapat ikut meningkat. Pengukuran daya saing perlu menggunakan margin yang benar-benar diterima pelaku usaha, bukan hanya harga jual.
Ketiga, peningkatan nilai tambah perlu menjadi agenda industri. Pengembangan produk loin, tuna beku dengan spesifikasi tertentu, dan produk siap konsumsi dapat memperluas pilihan pasar. Namun, strategi ini membutuhkan investasi, standar mutu, ketertelusuran, dan akses pasar yang sesuai. Nilai produk yang lebih tinggi baru memberikan manfaat apabila biaya tambahan dapat dikelola secara efisien.
Keempat, diplomasi perikanan perlu dihubungkan dengan manfaat ekonomi yang nyata. Perjanjian kerja sama akses sumber daya seperti SFPA Uni Eropa–Seychelles menunjukkan bahwa perdagangan tuna juga dipengaruhi oleh aturan, akses penangkapan, dan hubungan antarnegara. Indonesia perlu memastikan bahwa kerja sama perikanan mendukung keberlanjutan sumber daya sekaligus memperkuat posisi nelayan dan industri domestik.
Kelima, ketertelusuran dan keberlanjutan harus menjadi bagian dari daya saing. Konferensi Perdagangan Tuna INFOFISH yang dirujuk FAO GLOBEFISH (2026) turut membahas keberlanjutan, ketertelusuran, pengurangan limbah, kondisi tenaga kerja, dan penangkapan ikan ilegal. Isu-isu tersebut menunjukkan bahwa persaingan industri tuna tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga dengan kredibilitas produk dan praktik produksinya.

Momentum untuk Memperkuat Industri Tuna
Lonjakan harga skipjack pada September 2026 menjadi pengingat bahwa pasar tuna dunia sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan biaya operasi. El Niño di Ekuador, musim penangkapan yang buruk di Seychelles, dan perbedaan pergerakan harga antarkomoditas menunjukkan kompleksitas yang dihadapi industri tuna.
Bagi Indonesia, momentum ini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peluang menjual ikan dengan harga lebih tinggi. Yang lebih penting adalah memperkuat sistem produksi, menjaga pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi pengolahan, dan memperluas akses ke pasar bernilai tambah.
Dus, pertanyaan strategis bagi Indonesia bukan sekadar berapa banyak tuna yang dapat ditangkap atau diekspor. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa besar nilai ekonomi yang dapat dipertahankan di dalam negeri dari setiap kilogram tuna yang dihasilkan. Di tengah pasar global yang semakin dinamis, keunggulan Indonesia akan ditentukan oleh kemampuannya menghubungkan sumber daya ikan yang berkelanjutan dengan industri pengolahan yang efisien, tata kelola yang kuat, dan perdagangan yang memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha serta masyarakat pesisir.
Referensi
FAO GLOBEFISH, European Fish Price Report, September 2026, bagian Tuna dan Tuna (cont.), halaman 6–7; tabel harga tuna pada halaman 15.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
