Sinopsis Jurnal

Oleh: Suhana

Industri perikanan selama ini lebih sering dilihat dari sisi produksi: berapa banyak ikan yang ditangkap, dibudidayakan, diolah, dan dipasarkan. Namun, artikel Singaravel Vijayapoopathi berjudul Engineering the Blue Circular Economy: Advanced Technologies, Process Intensification, and Industrial Pathways for Sustainable Seafood Waste Valorisation and Resource Recovery mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Artikel yang diterbitkan dalam Results in Engineering pada 2026 ini membahas bagaimana sisa hasil pengolahan hasil perikanan atau seafood-processing side-streams dapat diubah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi sumber bahan baku baru yang memiliki nilai ekonomi. Gagasan utamanya adalah bahwa masa depan industri perikanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan ikan dalam jumlah besar, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan dan meningkatkan nilai dari setiap bagian biomassa yang telah dihasilkan.

Dalam proses pengolahan ikan, tidak semua bagian ikan masuk ke produk utama. Kepala, tulang, kulit, sisik, jeroan, darah, sirip, frames, potongan daging, cangkang, hingga fraksi organik dari air limbah dapat menjadi side-stream. Selama ini sebagian material tersebut dimanfaatkan untuk produk dengan nilai ekonomi relatif rendah, seperti tepung ikan, pakan, pupuk, atau bahkan dibuang. Padahal, menurut artikel ini, berbagai bagian tersebut masih mengandung protein, peptida, kolagen, gelatin, lipid, omega-3, pigmen, enzim, mineral, kitin, kitosan, serta berbagai senyawa bioaktif. Karena itu, cara pandang terhadap limbah perlu diubah. Limbah tidak selalu merupakan akhir dari sebuah proses produksi. Dalam perspektif ekonomi sirkular biru, limbah dapat menjadi awal dari proses produksi berikutnya.

Perubahan cara pandang tersebut membawa kita pada konsep cascading valorisation, yaitu pemanfaatan biomassa secara bertingkat berdasarkan nilai ekonominya. Prinsipnya sederhana: komponen yang memiliki nilai paling tinggi sebaiknya dipulihkan terlebih dahulu, kemudian material yang tersisa diarahkan untuk menghasilkan produk dengan nilai lebih rendah, hingga akhirnya residu terakhir dapat dimanfaatkan untuk energi atau pemulihan nutrien. Dengan pendekatan seperti ini, satu aliran biomassa tidak harus berakhir menjadi satu produk saja. Sebagai contoh, fraksi tertentu dapat diarahkan untuk memperoleh minyak atau senyawa bioaktif bernilai tinggi, kemudian protein dan kolagen dipulihkan dari material berikutnya, sementara residu akhirnya dapat digunakan untuk pakan, pupuk, fermentasi, biogas, atau energi. Dengan demikian, tujuan utamanya bukan sekadar menghilangkan limbah, melainkan mempertahankan sebanyak mungkin nilai material dan ekonomi yang terdapat di dalam biomassa tersebut.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Vijayapoopathi (2026) membahas berbagai teknologi process intensification. Beberapa di antaranya adalah ultrasound-assisted extraction atau UAE, microwave-assisted processing atau MAE, subcritical water extraction, supercritical fluid extraction atau SFE, pulsed electric field atau PEF, enzyme-assisted extraction, serta teknologi membran. Teknologi-teknologi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pemisahan dan pemulihan komponen yang bernilai dari seafood side-streams. UAE, misalnya, dapat meningkatkan perpindahan massa melalui efek kavitasi, sementara MAE dapat mempercepat proses pemanasan dan ekstraksi. PEF dapat digunakan sebagai perlakuan awal untuk membantu proses ekstraksi, sedangkan enzim dapat digunakan untuk memecah struktur bahan secara lebih selektif. Teknologi membran kemudian dapat digunakan untuk memisahkan atau memekatkan komponen tertentu dengan beban panas yang relatif rendah.

Namun, salah satu pesan penting artikel ini adalah bahwa rendemen ekstraksi yang tinggi tidak otomatis berarti teknologi tersebut merupakan teknologi terbaik. Inilah bagian yang sangat penting bagi mahasiswa dan peneliti perikanan. Penelitian di laboratorium sering kali berfokus pada pertanyaan berapa persen produk yang dapat diperoleh dari suatu bahan. Industri memiliki pertanyaan yang jauh lebih kompleks. Berapa banyak energi yang diperlukan? Berapa banyak air dan bahan kimia yang digunakan? Berapa biaya investasinya? Berapa biaya operasionalnya? Apakah proses tersebut dapat berlangsung secara kontinu? Apakah kualitas bahan baku selalu sama? Bagaimana jika volume limbah berubah karena musim? Berapa biaya pemurnian produknya? Dan yang paling penting, apakah produk tersebut memiliki pasar? Artikel ini menegaskan bahwa evaluasi teknologi harus mempertimbangkan energi spesifik, produktivitas, selektivitas, kapasitas produksi, kebutuhan media, stabilitas proses, serta performa ketika teknologi tersebut diterapkan pada kondisi bahan baku perikanan yang nyata.

Karena itu, Vijayapoopathi (2026) memperkenalkan pentingnya menghubungkan teknologi dengan tiga pendekatan evaluasi, yaitu Technology Readiness Level (TRL), Techno-Economic Analysis (TEA), dan Life Cycle Assessment (LCA). TRL diperlukan karena banyak teknologi valorisasi hasil perikanan masih berada pada tahap laboratorium atau awal pengembangan. Keberhasilan pada skala laboratorium belum menjamin keberhasilan pada skala industri. TEA diperlukan untuk melihat apakah teknologi tersebut layak secara ekonomi dengan mempertimbangkan investasi, biaya operasi, kebutuhan utilitas, logistik bahan baku, pemurnian, hasil produksi, dan harga pasar. Sementara itu, LCA digunakan untuk melihat apakah proses pemanfaatan kembali limbah benar-benar menghasilkan manfaat lingkungan dibandingkan dengan metode pengelolaan atau pembuangan sebelumnya. Dengan demikian, teknologi yang ideal bukan sekadar teknologi yang menghasilkan produk dalam jumlah besar, tetapi teknologi yang secara bersamaan layak secara teknis, ekonomis, dan lingkungan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika teknologi akan diterapkan oleh usaha kecil dan menengah. Artikel menunjukkan bahwa industri perikanan skala kecil menghadapi keterbatasan modal, keterampilan teknis, volume bahan baku yang tidak selalu stabil, lokasi bahan baku yang tersebar, serta keterbatasan akses terhadap teknologi pengolahan canggih. Oleh sebab itu, membangun satu fasilitas biorefinery yang sangat kompleks di setiap unit pengolahan belum tentu menjadi solusi yang realistis. Artikel justru menawarkan pendekatan seperti sistem modular, fasilitas prapengolahan yang terdesentralisasi, pusat pengolahan regional, penggunaan utilitas bersama, pemanfaatan panas sisa, serta penempatan fasilitas valorisasi di dekat sentra pengolahan hasil perikanan. Pendekatan tersebut dapat menurunkan biaya investasi sekaligus meningkatkan efisiensi logistik dan pemanfaatan infrastruktur yang sudah tersedia.

Sumber: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2590123026043793#fig0006

Relevansi dengan Indonesia

Dalam konteks Indonesia, gagasan tersebut memiliki relevansi yang sangat besar. Indonesia memiliki banyak sentra pengolahan udang, tuna, cakalang, rajungan, ikan demersal dan berbagai komoditas perikanan lainnya. Masing-masing komoditas menghasilkan side-stream dengan karakteristik berbeda. Persoalannya bukan hanya apakah limbah tersebut mengandung bahan yang bernilai, tetapi apakah bahan tersebut tersedia dalam jumlah yang cukup, terkonsentrasi di lokasi tertentu, dapat dikumpulkan dan disimpan dengan baik, serta dapat dikirim ke fasilitas pengolahan dengan biaya yang masuk akal. Dengan demikian, pengembangan ekonomi sirkular perikanan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar penelitian teknologi ekstraksi. Kita membutuhkan pemetaan aliran material, lokasi bahan baku, kapasitas pengolahan, infrastruktur rantai dingin, biaya logistik, kebutuhan energi, teknologi yang tersedia, pasar produk, serta regulasi yang berlaku.

Dari perspektif penelitian, Vijayapoopathi (2026) memberikan pelajaran penting bahwa penelitian seafood waste valorisation sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan, “teknologi apa yang dapat digunakan untuk mengolah limbah?” Pertanyaan tersebut perlu dikembangkan menjadi, “produk apa yang memiliki nilai pasar, bahan baku apa yang tersedia, teknologi apa yang paling sesuai, berapa biaya produksinya, bagaimana dampak lingkungannya, dan siapa yang akan memperoleh manfaat ekonominya?” Dengan demikian, penelitian perikanan dapat bergerak dari pendekatan yang hanya berorientasi pada teknologi menuju pendekatan yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi, lingkungan, industri, pasar, dan kebijakan.

Vijayapoopathi (2026) juga melihat peran digitalisasi dan kecerdasan buatan dalam pengembangan biorefinery perikanan. Artificial intelligence, machine learning, Internet of Things, computer vision, robotika, dan digital twins dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik bahan baku, memantau proses, memprediksi rendemen, mengoptimalkan kondisi operasi, menjaga kualitas produk, dan melakukan predictive maintenance. Hal ini penting karena karakteristik seafood side-streams dapat berubah berdasarkan spesies, musim, ukuran ikan, kondisi bahan baku, dan metode pengolahan. Sistem digital memungkinkan proses menjadi lebih adaptif terhadap perubahan tersebut. Namun, artikel juga memberikan catatan penting bahwa penerapan AI membutuhkan data industri yang representatif, validasi proses, serta perhitungan biaya dan dampak lingkungan tambahan. Artinya, AI bukan solusi otomatis, tetapi salah satu instrumen untuk membuat sistem produksi menjadi lebih cerdas dan adaptif.

Meskipun memiliki cakupan yang luas, artikel Vijayapoopathi (2026) tetap perlu dibaca secara kritis. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai komponen yang sebelumnya sering dibahas secara terpisah, mulai dari teknologi ekstraksi, biorefinery, cascading valorisation, scale-up, TRL, TEA, LCA, digitalisasi, hingga implementasi industri. Metodologi kajiannya menggunakan pencarian terstruktur pada Web of Science, Scopus, PubMed, dan ScienceDirect serta melakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Namun, sintesis yang dilakukan bersifat komparatif-kualitatif dan tidak menggunakan meta-analisis kuantitatif. Karena itu, artikel ini lebih tepat dipahami sebagai sebuah kerangka engineering untuk memahami arah pengembangan ekonomi sirkular hasil perikanan, bukan sebagai pembuktian kuantitatif bahwa satu teknologi tertentu selalu lebih unggul daripada teknologi lainnya.

Keterbatasan lainnya adalah bahwa pembahasan mengenai pasar dan distribusi manfaat ekonomi belum sedalam pembahasan mengenai teknologi. Padahal, bagi Indonesia, pertanyaan mengenai siapa yang menangkap nilai tambah sangat penting. Ketika limbah kepala udang berubah menjadi kitosan atau kulit ikan menjadi kolagen, siapa yang memperoleh keuntungan? Apakah manfaat tersebut kembali kepada nelayan dan pembudidaya sebagai pemasok bahan baku? Apakah dinikmati oleh industri pengolahan? Apakah menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar sentra perikanan? Pertanyaan seperti ini dapat menjadi pengembangan penting dari kerangka yang ditawarkan artikel tersebut, khususnya jika ekonomi sirkular ingin dikaitkan dengan pembangunan wilayah dan inclusive blue economy.

Bagi mahasiswa perikanan Indonesia, artikel ini memberikan satu pelajaran yang sangat penting: perikanan masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang produksi ikan, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankan nilai dari setiap kilogram biomassa yang telah diproduksi. Cara berpikirnya dapat digambarkan sebagai sebuah rantai yang lebih panjang, yaitu sumber daya perikanan, produksi, pengolahan, side-stream, pemulihan bahan bernilai tinggi, produk sekunder, energi dan nutrien, kemudian pasar. Perspektif seperti ini memperluas bidang ilmu perikanan dari sekadar produksi dan pemanfaatan sumber daya menjadi ilmu yang juga memahami teknologi, industri, ekonomi, lingkungan dan pasar.

Pesan utama Vijayapoopathi (2026) bukan sekadar bahwa limbah perikanan dapat diolah menjadi berbagai produk. Pesan yang lebih penting adalah bahwa nilai ekonomi dari sumber daya perikanan tidak berhenti ketika produk utama keluar dari pabrik. Nilai tersebut masih dapat diperpanjang melalui pemanfaatan side-stream secara bertingkat. Karena itu, tujuan ekonomi sirkular bukan sekadar mencapai “zero waste” dengan menghasilkan sebanyak mungkin produk, tetapi mempertahankan nilai material dan ekonomi setinggi mungkin dengan penggunaan energi, air, biaya, serta dampak lingkungan serendah mungkin. Vijayapoopathi (2026) bahkan menekankan bahwa klaim zero waste seharusnya didukung oleh keseimbangan karbon, nutrien, air, dan residu secara menyeluruh.

Dus, bagi Indonesia, pertanyaan strategisnya akhirnya berubah. Kita tidak lagi cukup bertanya, “Bagaimana mengurangi limbah perikanan?” Pertanyaan yang lebih maju adalah, “Bagaimana mengubah setiap side-stream perikanan menjadi sumber nilai tambah baru?” Dan bagi para peneliti, pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: teknologi mana yang paling layak, untuk komoditas apa, di lokasi mana, pada skala berapa, dengan pasar seperti apa, dan siapa yang memperoleh manfaat ekonominya? Di sinilah ekonomi sirkular bertemu dengan teknologi, industri, pasar, lingkungan, dan pembangunan masyarakat pesisir. Perspektif tersebut menjadikan seafood waste valorisation bukan lagi sekadar isu pengelolaan limbah, melainkan bagian dari strategi untuk membangun industri perikanan Indonesia yang lebih efisien, bernilai tambah, dan berkelanjutan.

 

Referensi

Singaravel Vijayapoopathi (2026), Engineering the Blue Circular Economy: Advanced Technologies, Process Intensification, and Industrial Pathways for Sustainable Seafood Waste Valorisation and Resource Recovery, Results in Engineering. DOI: 10.1016/j.rineng.2026.113368.


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca