
Oleh: Suhana
Indonesia memiliki posisi yang menarik dalam peta komoditas ikan air tawar dan diadromous dunia. Negara ini bukan pemain kecil. Dengan produksi sekitar 4,99 juta ton pada 2021, Indonesia merupakan produsen terbesar ketiga dunia setelah China dan India. Namun, ketika ukuran yang digunakan bukan lagi produksi, melainkan orientasi perdagangan, posisi Indonesia berubah secara drastis. Dari hampir 5 juta ton produksi, hanya sekitar 65,85 ribu ton yang diekspor, atau sekitar 1,32 persen dari produksinya.
Angka tersebut menghadirkan sebuah paradoks. Indonesia memiliki basis produksi yang besar, pasar domestik yang luas, dan sumber daya perairan yang beragam, tetapi belum menjadikan kekuatan produksi tersebut sebagai kekuatan perdagangan global. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar berapa banyak ikan yang mampu diproduksi Indonesia, tetapi berapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan dari produksi tersebut.
Analisis ini menggunakan data neraca komoditas ikan air tawar dan diadromous tahun 2021. Dalam kerangka Food Balance Sheets, FAO menghubungkan produksi, impor, ekspor, penggunaan non-pangan, dan perubahan stok untuk menggambarkan ketersediaan ikan bagi konsumsi manusia. FAO menjelaskan bahwa neraca tersebut merupakan instrumen untuk melihat pola pasokan dan pemanfaatan ikan suatu negara([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026).
Secara global, produksi ikan air tawar dan diadromous mencapai sekitar 67,97 juta ton pada 2021. Dari jumlah tersebut, sekitar 66,36 juta ton tercatat sebagai food availability, sementara ekspor mencapai 8,90 juta ton dan impor sekitar 8,85 juta ton. Angka ini menunjukkan bahwa komoditas ikan air tawar dan diadromous bukan hanya komoditas pangan domestik, tetapi juga telah menjadi bagian penting dari perdagangan ikan dunia.
Namun, perdagangan tersebut sangat tidak merata. China mendominasi produksi dunia dengan sekitar 27,37 juta ton, atau 40,26 persen produksi global. China juga mengekspor sekitar 1,14 juta ton. Meski demikian, ekspor tersebut hanya setara sekitar 4,16 persen dari produksinya. Artinya, kekuatan China tidak terutama dibangun melalui ekspor, melainkan melalui kombinasi antara produksi dalam skala sangat besar dan pasar domestik yang mampu menyerap sebagian besar produksinya.
India menempati posisi kedua dengan produksi sekitar 9,97 juta ton, atau 14,67 persen produksi dunia. Namun ekspornya hanya sekitar 26,84 ribu ton, atau sekitar 0,27 persen produksinya. Pola India bahkan lebih domestik daripada China. Ini penting karena menunjukkan bahwa rendahnya rasio ekspor tidak otomatis berarti suatu negara tidak kompetitif. Bisa saja produksi tersebut memang memiliki pasar domestik yang sangat besar.
Indonesia berada di posisi ketiga. Produksi sebesar 4,99 juta ton memberikan pangsa sekitar 7,34 persen produksi dunia. Dengan demikian, Indonesia menghasilkan lebih dari tujuh persen produksi ikan air tawar dan diadromous dunia. Produksi Indonesia juga sekitar 1,5 kali produksi Vietnam yang mencapai 3,41 juta ton.
Masalahnya muncul ketika angka tersebut dibandingkan dengan ekspor. Indonesia hanya mengekspor 65,85 ribu ton, sementara impor hanya sekitar 9,07 ribu ton. Rasio ekspor terhadap produksi hanya 1,32 persen. Dengan kata lain, sekitar 98,68 persen produksi Indonesia tidak masuk ke pasar ekspor.

Apakah kondisi tersebut buruk? Tidak selalu.
Pasar domestik Indonesia memang sangat besar. Data menunjukkan food availability ikan air tawar dan diadromous Indonesia mencapai sekitar 4,93 juta ton. Dengan demikian, sebagian besar produksi terserap untuk kebutuhan domestik. Dalam perspektif ketahanan pangan, kondisi tersebut justru merupakan kekuatan. Indonesia tidak bergantung secara besar pada impor untuk memenuhi kebutuhan kelompok komoditas ini.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika dilihat dari perspektif nilai tambah dan daya saing global. Besarnya produksi seharusnya memberikan ruang lebih besar bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan, memperluas pasar ekspor, menciptakan merek, dan meningkatkan nilai ekonomi di sepanjang rantai pasok.
Perbandingan dengan Vietnam memberikan pelajaran penting. Vietnam hanya menghasilkan sekitar 3,41 juta ton, jauh di bawah Indonesia. Akan tetapi, ekspornya mencapai 1,13 juta ton. Rasio ekspor terhadap produksinya sekitar 33,19 persen. Vietnam dengan produksi lebih kecil mampu membangun orientasi ekspor yang jauh lebih kuat.
Baca juga: Indonesia raksasa demersal tapi lemah di pasar global
Contoh yang lebih ekstrem terlihat pada Norwegia dan Chile. Norwegia menghasilkan sekitar 1,66 juta ton, tetapi mengekspor sekitar 1,59 juta ton, sehingga orientasi ekspornya mencapai hampir 95,76 persen. Chile menghasilkan sekitar 995 ribu ton, tetapi ekspornya sekitar 989 ribu ton, atau sekitar 99,42 persen produksi. Kedua negara tersebut menunjukkan model yang sangat berbeda dengan China, India, maupun Indonesia: produksi diarahkan secara kuat ke pasar global.
Di antara negara-negara produsen lainnya, Myanmar mengekspor sekitar 16,88 persen produksinya, sedangkan Rusia sekitar 12,27 persen. Sebaliknya, Bangladesh yang produksinya mencapai 3,89 juta ton hanya mengekspor sekitar 0,36 persen. Artinya, dunia ikan air tawar dan diadromous memperlihatkan beberapa model sekaligus: ada negara berbasis pasar domestik, negara berbasis ekspor, dan negara yang menggabungkan keduanya.
Dari sisi struktur pasar, konsentrasi produksi juga cukup tinggi. China, India, dan Indonesia secara bersama-sama menyumbang sekitar 62,27 persen produksi dunia. Bahkan China dan India saja menguasai sekitar 54,94 persen. Hal ini menunjukkan bahwa basis produksi dunia sangat terkonsentrasi pada sejumlah negara besar.
Indonesia karena itu sebenarnya memiliki posisi tawar yang kuat. Ia bukan negara yang harus membangun industri dari nol. Produksi sudah tersedia. Pasar domestik sudah ada. Basis pembudidaya dan pelaku usaha juga telah terbentuk. Tantangan berikutnya adalah mengubah keunggulan berbasis volume menjadi keunggulan berbasis nilai.
Di sinilah kebijakan perikanan Indonesia perlu bergerak dari sekadar mengejar peningkatan produksi menuju pembangunan ekosistem industri ikan air tawar. Produksi ikan tidak cukup jika tidak diikuti dengan fasilitas rantai dingin, pengolahan, standardisasi mutu, sertifikasi, traceability, logistik, pembiayaan, riset pasar, dan pengembangan merek.
Indonesia juga tidak perlu meniru Vietnam, Norway, atau Chile secara mentah. Model yang lebih sesuai adalah strategi pasar ganda: pasar domestik tetap menjadi fondasi, sementara sebagian produksi diarahkan ke pasar ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi.
Dengan produksi hampir 5 juta ton, misalnya, peningkatan orientasi ekspor dari 1,32 persen menjadi 5 persen secara hipotetis akan menghasilkan ekspor sekitar 249 ribu ton. Jika meningkat menjadi 10 persen, potensinya sekitar 499 ribu ton. Angka tersebut bukan ramalan, melainkan ilustrasi mengenai besarnya ruang yang tersedia apabila sebagian kecil produksi domestik berhasil dialihkan ke pasar global dalam bentuk produk yang kompetitif.
Karena itu, pertanyaan strategis Indonesia bukan “mengapa ekspor ikan air tawar kita kecil?” semata. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “mengapa produksi yang begitu besar belum sepenuhnya dikonversi menjadi nilai tambah yang besar?”
Jawabannya tidak cukup dicari di sektor produksi. Ia harus dicari di hilir: industri pengolahan, teknologi, standar, logistik, pemasaran, pembiayaan, dan akses pasar. Indonesia sudah memiliki ikan dan pasar. Yang masih harus dibangun adalah industri yang mampu menghubungkan keduanya dengan pasar dunia.
Inilah paradoks Indonesia sebagai raksasa ikan air tawar: besar dalam produksi, besar dalam pasar domestik, tetapi belum besar dalam perdagangan bernilai tambah. Tantangan kebijakan ke depan bukan sekadar menghasilkan lebih banyak ikan, melainkan memastikan bahwa setiap ton ikan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang semakin tinggi bagi pembudidaya, industri, tenaga kerja, dan perekonomian nasional.
Referensi
[FAO] Food and Agriculture Organization. (2026). FishStatJ-Software for Fishery and Aquaculture Statistical Time Series. [FAO] Food and Agriculture Organization. https://www.fao.org/fishery/statistics/software/fishstatj/en
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
