
Oleh: Suhana
Ada sebuah paradoks besar dalam peta ekonomi ikan demersal dunia. Negara yang memiliki produksi besar belum tentu menjadi kekuatan besar dalam perdagangan internasional. Sebaliknya, negara dengan produksi jauh lebih kecil justru mampu mengirim sebagian besar produksinya ke pasar dunia. Data neraca komoditas ikan demersal tahun 2021 memperlihatkan paradoks tersebut dengan sangat jelas: Indonesia merupakan salah satu produsen demersal terbesar dunia, tetapi posisi ekspornya masih sangat kecil dibandingkan kapasitas produksinya.
Berdasarkan data yang dianalisis, produksi ikan demersal dunia pada 2021 mencapai 22,54 juta ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia menghasilkan 1,94 juta ton, atau sekitar 8,59 persen produksi dunia. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar keempat, setelah China, Rusia, dan Amerika Serikat. China menghasilkan 3,94 juta ton, Rusia 2,88 juta ton, Amerika Serikat 2,30 juta ton, sedangkan Indonesia 1,94 juta ton. Pasted markdown
Namun, ketika indikator produksi digeser menjadi perdagangan, posisi Indonesia berubah secara drastis. Indonesia hanya mengekspor 76.349 ton ikan demersal pada 2021. Angka tersebut setara dengan sekitar 3,94 persen produksinya sendiri. Sebaliknya, Rusia mengekspor sekitar 1,41 juta ton, Amerika Serikat 1,02 juta ton, China 1,39 juta ton, Norway 771 ribu ton, dan Iceland 579 ribu ton ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026a) .
Tabel 1. Posisi Indonesia dalam Produksi dan Perdagangan Demersal Dunia, 2021
| Indikator | Dunia | Indonesia | Pangsa/rasio Indonesia |
| Produksi | 22.539.882 ton | 1.936.116 ton | 8,59% |
| Ekspor | 10.769.478 ton | 76.349 ton | 0,71% |
| Impor | 10.623.712 ton | 14.716 ton | 0,14% |
| Net ekspor | 145.766 ton | 61.633 ton | — |
| Ekspor/produksi | 47,78%* | 3,94% | — |
*Rasio ekspor dunia terhadap produksi dunia, bukan rasio yang identik dengan tingkat keterbukaan perdagangan nasional.
Sumber: ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026a); perhitungan penulis. Total dunia tercatat 22.539.882 ton produksi, 10.769.478 ton ekspor, dan 10.623.712 ton impor
Tabel tersebut memperlihatkan persoalan yang jauh lebih penting daripada sekadar besarnya produksi. Indonesia mempunyai 8,59 persen produksi demersal dunia, tetapi hanya sekitar 0,71 persen ekspor demersal dunia. Dengan kata lain, bobot Indonesia dalam produksi sekitar dua belas kali lebih besar daripada bobotnya dalam ekspor.
Inilah kesenjangan yang perlu dibaca sebagai persoalan strategis. Indonesia bukan kekurangan ikan. Indonesia justru memiliki basis produksi yang sangat besar. Persoalannya adalah bagaimana mengubah keunggulan produksi tersebut menjadi keunggulan perdagangan, industri, dan nilai tambah.
Baca juga: pelagis-dunia-berubah-indonesia-mau-menang-di-mana
Baca juga: tiga-wajah-ekonomi-krustasea-china-ekuador-dan-indonesia
FAO sendiri menjadikan data produksi, perdagangan, impor, ekspor dan re-ekspor sebagai komponen penting dalam analisis global perikanan. Data perdagangan FAO mencakup arus impor, ekspor dan re-ekspor komoditas perikanan menurut negara, komoditas, volume dan nilai. Data tersebut juga digunakan sebagai basis Food Balance Sheets dan berbagai kajian sektor perikanan ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026c, 2026b).
Karena itu, membaca kekuatan perikanan Indonesia hanya melalui angka produksi sudah tidak memadai. Dalam ekonomi kelautan modern, pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa nilai yang berhasil diciptakan dari setiap ton ikan yang diproduksi? Indonesia berada di posisi keempat, tetapi bukan pemain ekspor utama. Jika dilihat dari produksi, Indonesia sebenarnya berada dalam kelompok elit dunia.
Tabel 2. Enam Negara Utama dalam Neraca Demersal Dunia, 2021
| Negara | Produksi (ton) | Pangsa produksi dunia | Ekspor (ton) | Impor (ton) | Ekspor/produksi |
| China | 3.940.269 | 17,48% | 1.392.631 | 1.318.472 | 35,34% |
| Rusia | 2.880.088 | 12,78% | 1.413.919 | 123.948 | 49,09% |
| Amerika Serikat | 2.300.341 | 10,21% | 1.016.603 | 802.491 | 44,19% |
| Indonesia | 1.936.116 | 8,59% | 76.349 | 14.716 | 3,94% |
| Norway | 1.213.628 | 5,38% | 771.094 | 60.316 | 63,54% |
| Iceland | 684.836 | 3,04% | 579.305 | 3.924 | 84,59% |
Sumber: ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026a) dan perhitungan penulis.
Perbandingan ini menunjukkan sesuatu yang sangat menarik. Indonesia hanya berada sedikit di bawah Amerika Serikat dari sisi produksi, tetapi sangat jauh berbeda dalam orientasi ekspor. Amerika Serikat mengekspor sekitar 44,19 persen produksinya, sedangkan Indonesia hanya 3,94 persen. Rusia berada pada 49,09 persen, China 35,34 persen, Norway 63,54 persen, dan Iceland bahkan mencapai 84,59 persen.
Artinya, Indonesia bukan negara yang tidak mampu mengekspor. Indonesia memang mencatat net ekspor positif sebesar sekitar 61.633 ton. Akan tetapi, ekspor tersebut sangat kecil dibandingkan kapasitas produksinya. Dengan kata lain, Indonesia lebih tepat disebut sebagai production giant with domestic-market orientation, sementara Norway dan Iceland dapat disebut sebagai trade-oriented producers.
Empat model kekuatan demersal dunia
Jika data produksi dan orientasi ekspor digabungkan, setidaknya terlihat empat model strategi yang berbeda. Pertama adalah model produksi besar dan ekspor besar, seperti Rusia dan China. Negara-negara ini mempunyai basis produksi yang besar sekaligus terhubung kuat dengan pasar internasional.
Kedua adalah model produksi besar dan pasar domestik besar, yang paling mencolok adalah Indonesia. Produksinya tinggi, tetapi proporsi yang masuk ekspor relatif kecil.
Ketiga adalah model produksi relatif kecil tetapi sangat berorientasi ekspor, seperti Iceland dan Norway. Negara-negara ini menunjukkan bagaimana spesialisasi, industri, standar dan integrasi perdagangan dapat mengubah produksi menjadi kekuatan pasar.
Keempat adalah model pasar yang relatif bergantung pada impor, yang dapat ditemukan pada sejumlah negara Eropa dan Asia Timur.
Persoalannya adalah Indonesia tidak seharusnya terjebak hanya dalam model kedua. Pasar domestik yang besar memang merupakan kekuatan. Tetapi jika seluruh keunggulan produksi hanya berputar di pasar domestik, Indonesia kehilangan kesempatan untuk menggunakan perdagangan internasional sebagai sarana peningkatan nilai tambah.
Dunia demersal sebenarnya tidak terlalu terkonsentrasi
Temuan lain yang menarik berasal dari perhitungan Herfindahl-Hirschman Index (HHI). HHI digunakan untuk melihat tingkat konsentrasi suatu pasar. Semakin tinggi nilainya, semakin terkonsentrasi pasar tersebut pada sejumlah kecil negara. Sebaliknya, nilai rendah menunjukkan struktur yang lebih tersebar.
Tabel 3. HHI Produksi dan Perdagangan Demersal Dunia, 2021
| Indikator | HHI | Skala 0–10.000 | Interpretasi umum |
| Produksi | 741,64 | 741,64 | Konsentrasi rendah |
| Ekspor | 630,62 | 630,62 | Konsentrasi rendah |
| Impor | 520,52 | 520,52 | Konsentrasi rendah |
Sumber: Perhitungan penulis berdasarkan [FAO] Food and Agriculture Organization (2026a) .
Ketiga indikator tersebut berada di bawah ambang 1.500 yang umum digunakan untuk menunjukkan pasar dengan konsentrasi rendah. Artinya, perdagangan ikan demersal dunia tidak dikuasai oleh satu atau dua negara saja.
Pada sisi produksi, China memiliki pangsa sekitar 17,48 persen, Rusia 12,78 persen, Amerika Serikat 10,21 persen dan Indonesia 8,59 persen. Pada sisi ekspor, Rusia memiliki pangsa sekitar 13,13 persen, China 12,93 persen, Amerika Serikat 9,44 persen, Norway 7,16 persen, Belanda 5,66 persen dan Iceland 5,38 persen. Pada sisi impor, China menyumbang sekitar 12,41 persen, Amerika Serikat 7,55 persen, Korea Selatan 7,14 persen, Jerman 6,81 persen, Belanda 6,43 persen dan Prancis 6,15 persen.
Struktur tersebut memperlihatkan bahwa pasar global masih relatif terbuka dan terfragmentasi. Ini merupakan kabar baik bagi Indonesia. Indonesia tidak sedang berhadapan dengan pasar yang sepenuhnya dimonopoli satu negara. Kompetisinya memang kuat, tetapi ruang masuk tetap tersedia.
China: produksi besar sekaligus pemain perdagangan
China memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Produksi demersal China mencapai sekitar 3,94 juta ton, terbesar di dunia. Namun China juga mengekspor sekitar 1,39 juta ton dan mengimpor sekitar 1,32 juta ton ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026a). Dengan demikian, China tidak hanya menggunakan sumber daya domestiknya. China juga terintegrasi dengan perdagangan global.
Tabel 4. Perbandingan Neraca Perdagangan Enam Negara
| Negara | Net ekspor (ton) | Pangsa produksi dunia | Pangsa ekspor dunia | Proxy spesialisasi ekspor* |
| China | +74.159 | 17,48% | 12,93% | 0,74 |
| Rusia | +1.289.971 | 12,78% | 13,13% | 1,03 |
| Amerika Serikat | +214.112 | 10,21% | 9,44% | 0,92 |
| Indonesia | +61.633 | 8,59% | 0,71% | 0,08 |
| Norway | +710.778 | 5,38% | 7,16% | 1,33 |
| Iceland | +575.381 | 3,04% | 5,38% | 1,77 |
*Proxy spesialisasi ekspor = pangsa ekspor negara dibagi pangsa produksi negara.
Sumber: Perhitungan penulis dari ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2026a) .
Angka Indonesia sebesar 0,08 sangat mencolok. Ini menunjukkan bahwa pangsa ekspor Indonesia hanya sekitar 8,3 persen dari bobot yang secara sederhana akan terlihat jika posisi ekspornya sebanding dengan posisi produksinya. Sebaliknya, Iceland mencapai sekitar 1,77, Norway 1,33, dan Rusia sekitar 1,03.
Norway dan Iceland menunjukkan persoalan sebenarnya
Norway dan Iceland mungkin justru merupakan pembanding paling menarik bagi Indonesia. Norway menghasilkan 1,21 juta ton, atau hanya 5,38 persen produksi dunia. Namun ekspornya mencapai 771 ribu ton. Artinya, lebih dari tiga perlima produksi demersalnya masuk ke pasar ekspor.
Iceland lebih ekstrem. Produksinya hanya sekitar 685 ribu ton, tetapi ekspornya mencapai 579 ribu ton. Dengan kata lain, 84,59 persen produksi tercatat sebagai ekspor.
Di sinilah kita melihat perbedaan antara resource advantage dan market advantage. Indonesia mempunyai resource advantage yang sangat besar. Namun Norway dan Iceland menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi dalam menghubungkan produksi dengan pasar internasional.
Dalam ekonomi perikanan, hubungan tersebut dibangun melalui banyak hal: pengolahan, cold chain, standardisasi, traceability, sertifikasi, efisiensi pelabuhan, logistik, akses pasar, konsistensi mutu dan kemampuan memenuhi spesifikasi pembeli. Jadi, persoalan Indonesia bukan semata-mata “ikan Indonesia kurang kompetitif”. Bisa jadi persoalan utamanya adalah ekosistem yang menghubungkan ikan Indonesia dengan konsumen global belum cukup kompetitif.
Jangan mengukur keberhasilan hanya dari tonase
Ada satu jebakan kebijakan yang perlu dihindari, yaitu menjadikan peningkatan volume ekspor sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Misalnya, Indonesia berhasil meningkatkan ekspor demersal dari 76 ribu ton menjadi 200 ribu ton. Secara statistik hal itu terlihat positif.
Tetapi apakah nilai tambahnya meningkat? Belum tentu. Jika tambahan ekspor tersebut berupa produk primer atau bahan baku dengan harga rendah, peningkatan volume belum tentu menghasilkan lompatan pendapatan yang signifikan bagi pelaku usaha.
Sebaliknya, ekspor dengan volume lebih kecil tetapi dalam bentuk fillet, portioned fish, ready-to-cook, ready-to-eat, frozen premium product atau produk bersertifikat dapat menghasilkan nilai yang jauh lebih tinggi.
Karena itu, ukuran keberhasilan harus bergeser dari “Berapa ton ikan yang kita ekspor?” menjadi “Berapa nilai ekonomi yang kita ciptakan dari setiap ton ikan?”. Perubahan cara pandang ini semakin relevan karena perdagangan produk akuatik global terus berkembang. FAO mencatat bahwa produk akuatik termasuk komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan secara internasional. Dalam 2024, sekitar 36 persen produksi hewan akuatik dunia diperdagangkan, melibatkan sekitar 230 negara dan wilayah serta menghasilkan sekitar US$186 miliar perdagangan ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2024).
Artinya, pasar global bukan sekadar tempat menjual surplus. Pasar global merupakan bagian penting dari ekosistem penciptaan nilai sektor perikanan.
Indonesia memiliki kombinasi yang sebenarnya sangat kuat. Indonesia memiliki tiga modal yang tidak mudah ditiru negara lain. Pertama, basis sumber daya dan produksi yang besar. Kedua, pasar domestik yang besar. Ketiga, posisi geografis yang strategis di kawasan Asia-Pasifik.
Masalahnya adalah ketiga modal tersebut belum sepenuhnya diintegrasikan. Pasar domestik seharusnya tidak menjadi lawan pasar ekspor. Justru keduanya dapat saling memperkuat. Pasar domestik dapat menyediakan skala bagi industri pengolahan. Industri pengolahan menciptakan kapasitas, teknologi dan standar. Kapasitas tersebut kemudian dapat digunakan untuk memenuhi pasar ekspor.
China memberikan contoh bahwa negara dengan pasar domestik sangat besar tetap dapat menjadi salah satu eksportir utama produk perikanan dunia. FAO mencatat China sebagai eksportir terbesar produk akuatik pada 2024 dengan sekitar 11 persen pangsa ekspor global ([FAO] Food and Agriculture Organization, 2024).
Pelajaran bagi Indonesia bukan meniru China secara langsung. Pelajarannya adalah jangan mempertentangkan ketahanan pangan domestik dengan daya saing ekspor. Keduanya dapat dibangun secara simultan.
Jika Indonesia ingin naik kelas, maka strategi demersal tidak cukup berhenti pada peningkatan produksi. Yang diperlukan adalah membangun rantai nilai dari laut sampai konsumen akhir. Nelayan menangkap ikan. Pelabuhan menjaga kualitas. Cold storage mempertahankan mutu. Industri mengolah bahan baku. Sistem sertifikasi menjamin standar. Logistik mengurangi biaya. Branding meningkatkan persepsi produk. Digitalisasi mempertemukan produsen dengan pembeli. Dan pasar global memberikan ruang bagi produk bernilai tambah.
Dengan demikian, setiap ton ikan tidak berhenti sebagai komoditas. Ia berubah menjadi aset ekonomi. Di sinilah konsep industrialisasi perikanan menjadi sangat penting. Indonesia tidak boleh terus-menerus berada di posisi awal rantai nilai, sementara margin terbesar dinikmati oleh pihak yang menguasai pengolahan, distribusi, merek dan pasar.
[FAO] Food and Agriculture Organization (2026a) memberikan peringatan yang jelas bahwa Indonesia sudah memiliki skala produksi. Yang harus diperkuat adalah kemampuan mengonversi skala tersebut menjadi market power. Indonesia sudah memiliki ikan, tetapi belum sepenuhnya memiliki pasar. Indonesia menghasilkan 1,94 juta ton ikan demersal, sekitar 8,59 persen produksi dunia, dan menempati posisi keempat dunia. Namun ekspornya hanya 76.349 ton, atau hanya setara 3,94 persen produksi Indonesia. Bandingkan dengan Rusia sebesar 49,09 persen, Amerika Serikat 44,19 persen, China 35,34 persen, Norway 63,54 persen dan Iceland 84,59 persen.
Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana menangkap lebih banyak ikan. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuat ikan yang sudah diproduksi Indonesia memiliki nilai yang lebih tinggi, pasar yang lebih luas, dan posisi tawar yang lebih kuat. Indonesia tidak perlu mengejar ekspor dengan membabi buta. Indonesia juga tidak perlu mengorbankan pasar domestik. Yang dibutuhkan adalah strategi dual market: pasar domestik sebagai fondasi ketahanan pangan dan skala industri, sementara pasar global menjadi mesin peningkatan nilai tambah, devisa, standar, teknologi dan daya saing.
Dus, Indonesia sudah memiliki salah satu modal terpenting: produksi. Tetapi dalam ekonomi kelautan modern, produksi hanyalah awal. Pertarungan sesungguhnya adalah siapa yang menguasai nilai setelah ikan keluar dari laut. Indonesia masih mempunyai pekerjaan besar untuk mengubah raksasa produksi menjadi kekuatan pasar global.
Referensi
[FAO] Food and Agriculture Organization. (2024). The State of World Fisheries and Aquaculture 2024. In The State of World Fisheries and Aquaculture 2024. FAO. https://doi.org/10.4060/cd0683en
[FAO] Food and Agriculture Organization. (2026a). FishStatJ-Software for Fishery and Aquaculture Statistical Time Series. [FAO] Food and Agriculture Organization. https://www.fao.org/fishery/statistics/software/fishstatj/en
[FAO] Food and Agriculture Organization. (2026b, October). Data Collection. Https://Www.Fao.Org/Statistics/Data-Collection/Fishery-and-Aquaculture/En?Utm_source=chatgpt.Com. https://www.fao.org/statistics/data-collection/fishery-and-aquaculture/en?utm_source=chatgpt.com
[FAO] Food and Agriculture Organization. (2026c, October). Methods, standards and classifications. Https://Www.Fao.Org/Statistics/Methods-and-Standards/Fishery-and-Aquaculture/En?Utm_source=chatgpt.Com. https://www.fao.org/statistics/methods-and-standards/fishery-and-aquaculture/en?utm_source=chatgpt.com
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
