Oleh: Suhana
Ikan pelagis selama ini sering dipandang sebagai komoditas perikanan yang relatif sederhana. Ikan ditangkap di laut, didaratkan, sebagian dikonsumsi di dalam negeri, dan sebagian lainnya diperdagangkan ke pasar internasional. Namun, jika neraca komoditas kelompok ikan pelagis dunia tahun 2021 dibaca lebih dalam, gambaran tersebut ternyata jauh lebih kompleks. Di balik angka produksi, ekspor dan impor terdapat strategi yang berbeda-beda antarnegara dalam memanfaatkan sumber daya pelagisnya. Ada negara yang membangun kekuatan melalui produksi dalam jumlah besar, ada yang menjadikan ikan pelagis sebagai bahan baku industri non-pangan, ada yang menguasai perdagangan internasional meskipun produksinya tidak terbesar, dan ada pula yang menjadikan pasar domestik sebagai kekuatan utama. Bagi pelaku usaha perikanan Indonesia, membaca perbedaan strategi tersebut menjadi penting karena persaingan ke depan bukan hanya mengenai siapa yang mampu menangkap ikan paling banyak, tetapi siapa yang mampu mengubah ikan menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.
Neraca komoditas pelagis dunia tahun 2021 menunjukkan bahwa produksi mencapai sekitar 37,61 juta ton. Dari jumlah tersebut, food availability tercatat sekitar 23,50 juta ton, sedangkan penggunaan untuk kebutuhan non-pangan mencapai 14,36 juta ton. Pada saat yang sama, perdagangan internasional juga berlangsung dalam skala besar, dengan ekspor sekitar 14,53 juta ton dan impor sekitar 14,69 juta ton. Besarnya penggunaan non-pangan tersebut memberikan pesan penting bahwa ikan pelagis dunia bukan hanya komoditas untuk konsumsi manusia. Sebagian besar produksi di sejumlah negara justru diarahkan ke berbagai kebutuhan industri. Dengan demikian, pasar pelagis global sesungguhnya memiliki dua wajah besar, yaitu sebagai sumber pangan dan sebagai bahan baku industri.

Membandingkan Negara Produsen Utama
Perbedaan strategi tersebut terlihat sangat jelas ketika membandingkan negara-negara produsen utama. Peru merupakan contoh paling ekstrem. Pada 2021, produksi pelagis Peru mencapai sekitar 5,69 juta ton, tertinggi dalam data yang tersedia. Namun, food availability hanya sekitar 481,6 ribu ton, sementara penggunaan non-pangan mencapai sekitar 5,17 juta ton (Tabel 1). Artinya, sekitar 90,8 persen produksi Peru tercatat dalam kategori penggunaan non-pangan. Ini menunjukkan bahwa kekuatan pelagis Peru terutama dibangun melalui pemanfaatan ikan sebagai bahan baku industri, bukan semata-mata untuk memenuhi konsumsi domestik.
Indonesia justru memiliki struktur yang sangat berbeda. Produksi pelagis Indonesia pada 2021 mencapai sekitar 3,46 juta ton, tetapi food availability mencapai 3,12 juta ton. Sementara itu, penggunaan non-pangan hanya sekitar 89,1 ribu ton (Tabel 1). Struktur tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pelagis Indonesia berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan. Jika dibandingkan dengan Peru, terlihat adanya dua model pemanfaatan sumber daya yang sangat berbeda. Peru lebih kuat pada model pelagis sebagai bahan baku industri, sedangkan Indonesia lebih kuat pada model pelagis sebagai sumber pangan dan penopang pasar domestik.
Tabel 1. Neraca Komoditas Ikan Pelagis Dunia
| Negara | Produksi (ton) | Food availability | Non-food uses | Persentase Non-food/Produksi |
| Peru | 5.690.917 | 481.620 | 5.170.189 | 90,8% |
| Indonesia | 3.455.038 | 3.119.716 | 89.060 | 2,6% |
| China | 3.076.644 | 544.548 | 1.614.900 | 52,5% |
| Jepang | 2.031.493 | 1.409.462 | 849.400 | 41,8% |
| Chile | 1.745.336 | 261.319 | 1.317.086 | 75,5% |
| India | 1.238.734 | 798.152 | 310.000 | 25,0% |
| Rusia | 1.222.654 | 670.417 | 410.000 | 33,5% |
| Filipina | 1.213.533 | 1.371.374 | — | — |
| Maroko | 1.157.431 | 486.418 | 84.200 | 7,3% |
| Norwegia | 905.682 | 43.264 | 120.000 | 13,2% |
Sumber: FishStat (2026), diolah
Posisi Indonesia menjadi semakin menarik ketika perdagangan internasional diperhitungkan. Indonesia mencatat ekspor pelagis sekitar 345,6 ribu ton, sementara impornya sekitar 99,3 ribu ton. Dengan demikian, Indonesia memiliki net ekspor sekitar 246,3 ribu ton. Indonesia jelas bukan negara yang sepenuhnya bergantung pada impor pelagis. Namun, dibandingkan dengan produksinya yang mencapai 3,46 juta ton, ekspor tersebut hanya sekitar 10 persen dari produksi. Dengan kata lain, sebagian besar produksi pelagis Indonesia masih terserap oleh pasar domestik.
Kondisi tersebut sebenarnya bukan kelemahan. Justru pasar domestik yang besar merupakan salah satu aset strategis Indonesia. Ketika banyak negara harus mencari pasar luar negeri untuk menyerap produksinya, Indonesia memiliki basis konsumen domestik yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana pasar tersebut tidak hanya menjadi pasar untuk menjual ikan segar dengan margin relatif terbatas, tetapi berkembang menjadi pasar bagi produk ikan pelagis bernilai tambah. Dengan demikian, kekuatan konsumsi domestik dapat menjadi fondasi untuk membangun industri pengolahan yang lebih kuat.
Baca juga: tiga-wajah-ekonomi-krustasea-china-ekuador-dan-indonesia
Negara Eksportir dan Importir Ikan Pelagis
China menunjukkan model yang berbeda lagi. Produksi pelagis China pada 2021 mencapai sekitar 3,08 juta ton, lebih rendah daripada Peru dan sedikit di bawah Indonesia. Namun, ekspor China mencapai sekitar 1,20 juta ton, sedangkan impornya sekitar 286,5 ribu ton. China juga memiliki penggunaan non-pangan sekitar 1,61 juta ton (Tabel 2). Dengan demikian, China tidak hanya mengandalkan produksi, tetapi juga mengembangkan hubungan yang kuat antara produksi, industri dan perdagangan. Net ekspornya mencapai sekitar 917,2 ribu ton.
Tabel 2. Perbandingan Ekspor dan Produksi Ikan Pelagis Dunia
| Negara | Produksi (juta ton) | Ekspor (juta ton) | Persentase Ekspor/Produksi | Net ekspor (ton) |
| Peru | 5,69 | 0,14 | 2,4% | +39.108 |
| Indonesia | 3,46 | 0,35 | 10,0% | +246.262 |
| China | 3,08 | 1,20 | 39,1% | +917.197 |
| Jepang | 2,03 | 0,37 | 18,1% | −227.369 |
| Chile | 1,75 | 0,27 | 15,4% | +166.931 |
| Rusia | 1,22 | 0,47 | 38,3% | +142.237 |
| Maroko | 1,16 | 0,63 | 54,5% | +586.812 |
| Norwegia | 0,91 | 0,91 | 100,0% | +742.418 |
| Ekuador | 0,78 | 0,59 | 75,9% | +494.402 |
| Thailand | 0,52 | 1,11 | 214,9% | −395.854 |
Sumber: FishStat (2026), diolah
Thailand bahkan memperlihatkan fenomena yang lebih menarik. Produksi pelagis Thailand hanya sekitar 517,7 ribu ton, jauh di bawah Indonesia. Namun ekspornya mencapai 1,11 juta ton, sementara impornya mencapai 1,51 juta ton. Dengan demikian, ekspor Thailand bahkan lebih dari dua kali produksi domestiknya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan Thailand tidak dapat dijelaskan hanya dari kemampuan produksinya sendiri. Thailand memperlihatkan model sebagai pusat pengolahan dan perdagangan, yaitu mengimpor bahan baku, mengolah atau mengonsolidasikannya, kemudian mengekspornya kembali. Pasted markdown(6)
Pelajaran dari Thailand sangat relevan bagi Indonesia. Industri perikanan modern tidak selalu harus dibangun dengan prinsip bahwa seluruh bahan baku harus berasal dari produksi domestik. Dalam kondisi tertentu, daya saing industri justru membutuhkan kepastian pasokan bahan baku melalui kombinasi produksi domestik dan perdagangan internasional. Karena itu, kebijakan produksi, impor bahan baku, pengolahan, cold chain, pelabuhan, logistik dan ekspor seharusnya tidak dipandang sebagai kebijakan yang terpisah. Semuanya merupakan bagian dari satu ekosistem industri perikanan.
Norwegia memperlihatkan model lain. Produksinya sekitar 905,7 ribu ton, tetapi ekspornya juga sekitar 905,7 ribu ton. Sementara itu, food availability domestiknya hanya sekitar 43,3 ribu ton. Rasio ekspor terhadap produksi dengan demikian mendekati 100 persen. Pasted markdown(6) Model tersebut menunjukkan orientasi yang sangat kuat pada pasar internasional. Indonesia tentu tidak harus meniru Norwegia karena struktur populasi, konsumsi, sumber daya dan industri kedua negara berbeda. Namun, terdapat pelajaran penting bahwa orientasi pasar harus menjadi bagian dari strategi produksi. Produksi yang besar tanpa kepastian pasar akan menghasilkan tekanan terhadap harga, sedangkan produksi yang dirancang berdasarkan kebutuhan pasar memiliki peluang lebih besar menghasilkan margin.
Ekuador dan Maroko juga memperlihatkan bagaimana produksi dapat diarahkan menjadi kekuatan ekspor. Ekuador menghasilkan sekitar 780,9 ribu ton, tetapi ekspornya mencapai 592,7 ribu ton, atau sekitar 75,9 persen dari produksinya. Maroko menghasilkan sekitar 1,16 juta ton dan mengekspor sekitar 631,3 ribu ton, dengan rasio ekspor terhadap produksi sekitar 54,5 persen. Pasted markdown(6) Kedua negara tersebut memperlihatkan bahwa produksi dan pasar ekspor dapat dirancang sebagai satu strategi. Bagi Indonesia, pelajaran ini penting karena ekspor bukan hanya persoalan mencari pembeli setelah ikan ditangkap. Pasar ekspor seharusnya menjadi bagian dari desain produksi sejak awal, mulai dari ukuran ikan, kualitas, penanganan pascapanen, keamanan pangan, traceability, bentuk produk hingga standar yang ditetapkan pembeli.
Di sisi lain, Amerika Serikat memperlihatkan bahwa kekuatan dalam perikanan tidak selalu berasal dari produksi. Produksi pelagis Amerika Serikat pada 2021 tercatat sekitar 731,5 ribu ton, sementara impor mencapai 675,9 ribu ton dan ekspor hanya sekitar 54,1 ribu ton. Dengan demikian, Amerika Serikat merupakan net importer sekitar 621,8 ribu ton. Bagi eksportir Indonesia, kondisi seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa negara dengan produksi terbatas dapat menjadi pasar yang sangat strategis apabila memiliki basis konsumen besar dan daya beli tinggi. Oleh karena itu, strategi perikanan Indonesia tidak cukup hanya berorientasi pada lokasi produksi. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah di mana konsumen berada dan produk seperti apa yang bersedia mereka bayar dengan harga lebih tinggi.
Model Ekonomi Ikan Pelagis Dunia dan Peluang Indonesia
Jika seluruh pola tersebut disatukan, terlihat bahwa terdapat beberapa model utama dalam peta strategi pelagis dunia. Peru dapat dibaca sebagai contoh production-industrial powerhouse, yaitu negara yang mengubah produksi besar menjadi bahan baku industri. Indonesia lebih dekat dengan model domestic market powerhouse, karena produksi besar terutama diarahkan untuk memenuhi pasar pangan domestik. China memperlihatkan model trade-industrial powerhouse, karena menggabungkan produksi, perdagangan dan penggunaan industri. Norwegia dan Ekuador memperlihatkan model export powerhouse, sedangkan Thailand menunjukkan model processing and trading hub. Amerika Serikat dan Jepang memperlihatkan kekuatan lain, yaitu sebagai pasar konsumsi dan importir penting. Dengan demikian, kekuatan pelagis dunia tidak dibentuk oleh satu faktor saja.
Bagi Indonesia, posisi sebagai negara dengan produksi besar dan pasar domestik besar sebenarnya memberikan peluang yang sangat menarik. Indonesia tidak harus memilih secara ekstrem antara pasar domestik dan ekspor. Keduanya dapat dibangun secara simultan. Pasar domestik dapat menjadi basis pengembangan produk baru, sementara pasar ekspor dapat menjadi pendorong peningkatan standar, efisiensi dan kualitas. Dengan pendekatan tersebut, pasar domestik bukan lagi sekadar tempat menjual ikan, melainkan laboratorium inovasi industri perikanan.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah. Produksi Indonesia sebesar 3,46 juta ton menunjukkan bahwa basis bahan bakunya sudah tersedia. Namun, selama ikan terutama dipasarkan sebagai komoditas primer, ruang peningkatan nilai ekonomi akan tetap terbatas. Sebaliknya, apabila sebagian produksi diarahkan menjadi fillet, loin, produk beku siap masak, produk siap konsumsi, produk kaleng, produk berbasis protein ikan, maupun produk olahan lainnya, maka nilai yang tercipta di sepanjang rantai pasok dapat semakin besar. Pada titik inilah pelaku usaha pengolahan, logistik, cold chain, perdagangan dan pemasaran memiliki peran yang sama pentingnya dengan pelaku penangkapan.
Peru memberikan pelajaran mengenai pentingnya membangun industri hilir. Struktur penggunaan pelagis Peru menunjukkan bahwa sebagian besar produksinya masuk ke kategori non-pangan. Indonesia tentu tidak harus meniru struktur Peru karena karakter sumber daya, pasar dan industrinya berbeda. Namun, Indonesia perlu mengajukan pertanyaan yang sama: apa yang terjadi pada ikan setelah didaratkan? Jika jawabannya hanya berupa penjualan ikan segar atau komoditas primer, maka sebagian besar peluang nilai tambah masih berada di luar rantai nilai domestik. Sebaliknya, semakin panjang dan produktif rantai nilai yang dibangun di Indonesia, semakin besar peluang ekonomi yang dapat dinikmati oleh nelayan, pelaku usaha, pekerja pengolahan, distributor dan sektor pendukung lainnya.
Berdasarkan hal tersebut, neraca pelagis dunia 2021 memberikan satu pesan penting: persaingan perikanan masa depan bukan hanya mengenai siapa yang memiliki ikan paling banyak, tetapi siapa yang paling mampu mengubah ikan menjadi nilai. Peru menunjukkan kekuatan industri, China memperlihatkan integrasi produksi dan perdagangan, Norwegia memperlihatkan orientasi ekspor, Thailand menunjukkan kekuatan pengolahan dan perdagangan, sedangkan Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana kekuatan pasar konsumsi dapat menarik pasokan dari seluruh dunia. Indonesia memiliki modal yang tidak kalah penting, yaitu produksi pelagis yang besar sekaligus pasar domestik yang besar.
Karena itu, pertanyaan strategis bagi pelaku usaha perikanan Indonesia seharusnya tidak berhenti pada “bagaimana menangkap lebih banyak ikan pelagis?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “bagaimana setiap ton ikan pelagis menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia?” Pergeseran cara berpikir tersebut akan mengubah cara kita melihat pelagis. Ikan tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas volume, tetapi sebagai bahan baku sebuah ekosistem industri yang mencakup penangkapan, pelabuhan, cold chain, pengolahan, perdagangan, logistik, teknologi, pembiayaan dan pemasaran.
Dus, Indonesia tidak perlu menjadi Peru, China, Norwegia ataupun Thailand. Indonesia memiliki peluang membangun modelnya sendiri: produksi besar, pasar domestik kuat, industri pengolahan yang semakin dalam, dan keterhubungan yang lebih baik dengan pasar global bernilai tinggi. Jika strategi tersebut dapat dibangun, maka kekuatan pelagis Indonesia tidak hanya diukur dari berapa juta ton ikan yang ditangkap, tetapi dari berapa besar nilai ekonomi yang mampu diciptakan dari setiap ton ikan tersebut.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
