
Oleh: Suhana
Sektor perikanan dan akuakultur memegang peran geopolitik dan ekonomi yang sangat krusial bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan (archipelago) terbesar di dunia yang dikelilingi oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, wilayah Indonesia mencakup sekitar 5,18 juta km2, dengan 3,26 juta km2 di antaranya merupakan perairan laut. Dengan porsi perairan laut mencapai hampir 70% dari total wilayah negara, sektor perikanan menjadi tumpuan hidup masyarakat, penyedia lapangan kerja utama di sektor primer, serta sumber ketahanan pangan protein nasional. Berdasarkan laporan FAO, posisi Indonesia di panggung global sangat signifikan: pada tahun 2024, Indonesia menempati peringkat kedua dunia untuk perikanan tangkap setelah Tiongkok dan peringkat ketiga dunia untuk produksi akuakultur setelah Tiongkok dan India. Nilai ekspor produk pangan akuatik nasional bahkan mencapai EUR 5,45 miliar pada tahun 2025, yang menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok seafood terbesar di pasar global (European Commission, 2026) .
Dalam rentang satu dekade terakhir (2015–2024), struktur produksi perikanan nasional mengalami dinamika perkembangan yang sangat menarik. Terjadi pergeseran dan penyesuaian peran antara sektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya (akuakultur). Meskipun perikanan tangkap terus mengalami pertumbuhan volume secara bertahap, akuakultur menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang jauh lebih pesat. Perbedaan pola pertumbuhan ini mencerminkan transisi penting dalam tata kelola perikanan nasional, perubahan pola konsumsi domestik, serta penyesuaian strategi industri ekspor dalam menghadapi dinamika pasar dunia.
Dinamika dan Pertumbuhan Perikanan Tangkap (2015–2024)
Perikanan tangkap Indonesia didasarkan pada tata kelola berbasis zonasi yang membagi perairan nasional ke dalam 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Pengelolaan ini diatur melalui sistem kuota guna menjaga keberlanjutan sumber daya laut serta membagi hak tangkap secara adil antara industri skala besar, nelayan lokal, dan nelayan skala kecil yang mendominasi armada nasional. Sepanjang periode 2015 hingga 2024, total tangkapan ikan laut dan air tawar Indonesia mencatatkan peningkatan dari 6,66 juta ton pada tahun 2015 menjadi 7,81 juta ton pada tahun 2024. Angka ini mencerminkan pertumbuhan total sebesar 17% selama sepuluh tahun, dengan tren yang relatif stabil dan naik secara konsisten, meskipun sempat mengalami penurunan singkat pada tahun 2020 akibat dampak pandemi global sebelum akhirnya pulih kembali.
Struktur produksi perikanan tangkap Indonesia sangat didominasi oleh perairan laut. Pada tahun 2024, sebesar 71% dari total volume tangkapan nasional berasal dari Samudra Pasifik (WPP perairan Indonesia bagian timur), 23% berasal dari Samudra Hindia bagian timur, dan sisanya sebesar 6% berasal dari perairan darat/umum (inland waters).
Berdasarkan kelompok komoditas, komoditas utama yang mendorong volume perikanan tangkap nasional adalah:
- Ikan Pantai Campuran (Miscellaneous Coastal Fishes): Kelompok ini menjadi kontributor volume terbesar yang tumbuh dari 1,11 juta ton pada tahun 2015 menjadi 1,84 juta ton pada tahun 2024.
- Ikan Pelagis Campuran (Miscellaneous Pelagic Fishes): Menyumbang volume terbesar kedua, meningkat dari 1,04 juta ton (2015) menjadi 1,76 juta ton (2024).
- Tuna, Cakalang, dan Tongkol (Tunas, Bonitos, Billfishes): Komoditas bernilai ekonomis tinggi ini mengalami pertumbuhan pesat, terutama pasca-2020. Produksi tuna meningkat dari 1,18 juta ton pada 2015 menjadi puncaknya sebesar 1,76 juta ton pada 2023, sebelum sedikit terkoreksi ke angka 1,71 juta ton pada 2024. Hal ini mempertegas posisi vital Indonesia sebagai produsen utama tuna dunia.
- Pelagis Kecil (Sarden dan Teri): Fluktuasi terjadi pada kelompok ini, namun tetap menunjukkan tren peningkatan dari 508 ribu ton (2015) menjadi 626 ribu ton (2024).
Di sisi lain, terdapat pergeseran menarik pada pencatatan data statistik. Kategori “ikan laut yang tidak teridentifikasi” (marine fishes not identified) mengalami penurunan tajam dari 1,06 juta ton pada 2015 menjadi hanya 107 ribu ton pada 2024. Penurunan Drastis ini bukan disebabkan oleh penurunan populasi ikan, melainkan menandakan perbaikan signifikan dalam pendataan, klasifikasi spesies, dan sistem pelaporan kepelabuhanan di Indonesia. Sebaliknya, beberapa komoditas laut bernilai tinggi justru menghadapi tekanan; misalnya kelompok cephalopoda (cumi-cumi dan gurita) yang jatuh drastis hingga 48% dari 284 ribu ton pada 2023 menjadi 148 ribu ton pada 2024, yang mengindikasikan adanya tekanan sumber daya atau perubahan alokasi upaya penangkapan (fishing effort).

Sumber: (European Commission, 2026)
Akselerasi Akuakultur: Pergeseran Dominasi Spesies
Berbeda dengan perikanan tangkap yang tumbuh pada kisaran 17%, sektor akuakultur (perikanan budidaya) Indonesia mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang jauh lebih masif. Total produksi akuakultur melonjak sebesar 35% dalam satu dekade, bergerak dari 4,38 juta ton pada tahun 2015 menjadi 5,90 juta ton pada tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi budidaya air tawar dan pesisir yang didukung oleh program modernisasi teknologi pemerintah serta perluasan kawasan kawasan budidaya.
Struktur akuakultur Indonesia ditopang kuat oleh beberapa spesies kunci yang memiliki segmentasi pasar berbeda antara kebutuhan konsumsi domestik dan komoditas ekspor (European Commission, 2026) :
- Ikan Nila (Nile Tilapia): Nila merupakan spesies budidaya dengan volume terbesar dan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Produksinya melesat dari 1,08 juta ton (2015) menjadi 1,56 juta ton (2024). Ikan nila menjadi tulang punggung pemenuhan protein murah berbasis konsumsi dalam negeri.
- Lele (North African Catfish): Menempati posisi kedua dalam hal volume, produksi lele melonjak dari 720 ribu ton pada 2015 menjadi 1,15 juta ton pada 2024. Secara gabungan, ikan nila dan lele menyumbang 46% dari total volume produksi akuakultur nasional dan 35% dari total nilai nominal akuakultur pada tahun 2024.
- Ikan Bandeng (Milkfish): Berada di posisi ketiga secara volume dengan produksi sebesar 793 ribu ton pada 2024 (tumbuh 18% dibanding 2015), bandeng tetap menjadi komoditas pangan lokal yang sangat stabil.
- Udang Vaname (Whiteleg Shrimp): Udang vaname merupakan raja komoditas bernilai tinggi (high-value species) dalam akuakultur Indonesia. Produksinya melonjak pesat sebesar 92%, dari 410 ribu ton pada 2015 menjadi 786 ribu ton pada 2024. Meskipun volumenya hanya menyumbang 13% dari total produksi akuakultur 2024, udang vaname menyumbangkan kontribusi nilai tertinggi yakni mencapai 27% dari total nilai nominal akuakultur Indonesia (senilai EUR 2,98 miliar).
Akselerasi udang vaname ini juga diiringi oleh pergeseran struktural di industri tambak. Komoditas udang tradisional seperti udang windu (giant tiger prawn) mengalami penurunan bertahap dari 128 ribu ton (2015) menjadi 114 ribu ton (2024). Hal ini mengindikasikan peralihan para pembudidaya nasional menuju udang vaname yang memiliki tingkat efisiensi pakan lebih baik, kepadatan tebar lebih tinggi, serta ketahanan terhadap penyakit yang lebih unggul. Secara keseluruhan, nilai nominal ekonomi sektor akuakultur Indonesia tumbuh dari EUR 7,14 miliar pada 2015 menjadi EUR 10,95 miliar pada 2024.
Perbandingan Struktur Produksi dan Nilai Ekonomi
Untuk memahami perbandingan komprehensif antara sektor perikanan tangkap dan akuakultur selama periode 2015–2024, tabel berikut menyajikan rangkuman perkembangan volume dan nilai ekonomi kedua sektor:
| Parameter Sektor | Tahun 2015 | Tahun 2024 | Tren & Pertumbuhan (2015–2024) | Komoditas Utama & Karakteristik |
| Perikanan Tangkap | 6,66 Juta Ton | 7,81 Juta Ton | Tumbuh +17% (Tren stabil, didominasi wilayah laut Pasifik 71% & Hindia 23%) | Didominasi ikan pantai campuran (1,84 juta ton), pelagis campuran (1,76 juta ton), dan kelompok tuna (1,71 juta ton) |
| Akuakultur (Volume) | 4,38 Juta Ton | 5,90 Juta Ton | Tumbuh +35% (Pertumbuhan cepat, didorong komoditas air tawar & pesisir) | Nila (1,56 juta ton) dan lele (1,15 juta ton) mendominasi 46% volume total akuakultur |
| Akuakultur (Nilai Nominal) | EUR 7,14 Miliar | EUR 10,95 Miliar | Tumbuh +53% (Peningkatan nilai ekonomi didorong spesies bernilai tinggi) | Udang vaname menyumbang nilai tertinggi (EUR 2,98 miliar atau 27% dari nilai total akuakultur) |
Sumber: (European Commission, 2026)
Perbandingan data di atas menunjukkan bahwa meskipun perikanan tangkap masih memimpin dari segi volume total (7,81 juta ton berbanding 5,90 juta ton pada tahun 2024), akselerasi akuakultur jauh lebih dominan dari sisi pertumbuhan kuantitas (+35%) dan nilai ekonomi. Perikanan tangkap Indonesia semakin berfokus pada pemenuhan pasokan industri olahan (seperti tuna dan pelagis) serta komoditas ekspor laut, sementara akuakultur berperan ganda: menjadi penopang utama konsumsi pangan protein domestik yang terjangkau (nila, lele, bandeng) sekaligus pencetak devisa negara bernilai tinggi melalui udang vaname.
Baca juga: eu-ri-cepa-2026-peluang-ekspor-tantangan-iuu-fishing
Pola Konsumsi Domestik dan Tantangan Biaya Pakan
Dinamika pertumbuhan tangkap vs budidaya ini berdampak langsung pada pola konsumsi masyarakat Indonesia. Data per kapita menunjukkan bahwa konsumsi seafood masyarakat Indonesia meningkat dari 38,27 kg/kapita/tahun pada tahun 2015 menjadi 40,42 kg/kapita pada tahun 2023. Pertumbuhan konsumsi domestik ini utamanya digerakkan oleh ketersediaan ikan air tawar dari hasil akuakultur serta ikan pelagis dari perikanan tangkap. Masyarakat Indonesia semakin mengandalkan pasokan ikan budidaya air tawar sebagai sumber protein harian yang stabil dan dapat diprediksi pasokannya dibanding ikan laut yang dipengaruhi oleh musim dan cuaca.
Namun demikian, akselerasi sektor akuakultur nasional membawa tantangan baru pada rantai pasok pakan. Lonjakan produksi ikan nila, lele, dan udang memicu kenaikan permintaan bahan baku pakan berkualitas tinggi, khususnya tepung ikan (fishmeal). Data perdagangan internasional mencatat bahwa impor fishmeal Indonesia melonjak signifikan dari 112 ribu ton pada 2022 menjadi lebih dari 211 ribu ton pada 2025 untuk memenuhi kebutuhan industri pakan budidaya dalam negeri. Ketergantungan pada bahan baku pakan impor ini menjadi titik kerentanan bagi pembudidaya nasional terhadap gejolak harga komoditas global.
Di samping itu, di pasar ekspor global, komoditas akuakultur unggulan seperti udang vaname mulai menghadapi tekanan harga (price pressure) dan persaingan ketat di pasar internasional. Meskipun volume ekspor secara umum meningkat, rata-rata nilai jual per unit udang mengalami penurunan akibat tingginya pasokan dari negara pesaing.
Perkembangan perikanan Indonesia periode 2015–2024 menegaskan terjadinya transisi strategis dari ketergantungan pada perikanan tangkap menuju penguatan perikanan budidaya. Perikanan tangkap tetap menjadi tulang punggung pengelolaan sumber daya laut dengan produksi yang terjaga di angka 7,8 juta ton, terutama untuk komoditas komersial seperti tuna dan pelagis. Di sisi lain, akuakultur terbukti menjadi mesin pertumbuhan baru dengan lonjakan produksi hingga 5,9 juta ton dan kontribusi nilai ekonomi mencapai EUR 10,95 miliar.
Dus, ke depan, tantangan utama perikanan Indonesia adalah menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekologi perikanan tangkap di 11 WPPNRI serta meningkatkan efisiensi biaya produksi akuakultur. Impor tepung ikan yang tinggi dan tekanan harga ekspor menuntut adanya kemandirian industri pakan lokal berbasis pemanfaatan produk sampingan (by-products) perikanan. Dengan integrasi sistem ketertelusuran (STELINA) dan kebijakan Ekonomi Biru yang inklusif, perikanan tangkap dan akuakultur Indonesia akan terus menjadi pilar utama ketahanan pangan nasional dan penggerak ekonomi kelautan di tingkat global.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
