Oleh: Suhana

 

 

Sektor perikanan selama ini dikenal sebagai salah satu penopang ekonomi nasional yang relatif stabil. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) konsisten berada di kisaran 2 hingga 2,5 persen, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi jutaan nelayan dan penyedia protein penting bagi masyarakat. Namun, data terbaru pada Triwulan I 2026 menunjukkan sinyal yang tidak bisa diabaikan. Sektor ini mengalami kontraksi sangat dalam secara triwulanan sebesar -20,55 persen, pertumbuhan tahunan yang melambat menjadi 2,78 persen, serta kontribusi terhadap PDB yang turun ke level 2,00 persen. Angka-angka ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tetapi menjadi tanda bahwa sektor perikanan sedang menghadapi tekanan yang lebih serius.

Selama ini, penurunan pada Triwulan I sebenarnya bukan hal baru. Sektor perikanan memang memiliki pola musiman yang kuat. Pada awal tahun, banyak nelayan mengurangi aktivitas melaut karena cuaca buruk, gelombang tinggi, atau faktor alam lainnya. Hal ini membuat produksi menurun, sehingga pertumbuhan ekonomi sektor ini sering kali negatif pada awal tahun. Namun yang menjadi perhatian adalah besarnya penurunan tersebut yang semakin dalam dari tahun ke tahun. Pada 2023, kontraksi Triwulan I tercatat sebesar -13,25 persen. Pada 2024 menjadi -14,30 persen, dan pada 2025 masih di angka -13,16 persen. Namun pada 2026, penurunannya melonjak tajam hingga -20,55 persen. Ini adalah penurunan terdalam dalam lebih dari satu dekade, dan menunjukkan bahwa ada masalah yang lebih besar dari sekadar faktor musiman.

Gambar 1. Pertumbuhan PDB Perikanan Harga Konstan (Y on Y) dan (Q to Q) Periode 2011-Triwulan 1 2026 (Persen) (Sumber: BPS RI, 2026)

Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor perikanan tidak hanya menghadapi tantangan alam, tetapi juga tekanan struktural. Salah satu faktor yang sering dikeluhkan nelayan adalah sulitnya mendapatkan bahan bakar dengan harga terjangkau. Ketika harga solar naik atau pasokan terbatas, banyak nelayan memilih tidak melaut karena biaya operasional menjadi terlalu tinggi. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan cuaca semakin tidak menentu juga memperburuk situasi. Gelombang tinggi dan musim yang sulit diprediksi membuat aktivitas penangkapan ikan semakin berisiko. Di sisi lain, sistem distribusi hasil tangkapan juga masih lemah. Tanpa fasilitas penyimpanan dingin yang memadai, banyak ikan tidak bisa dijual dengan harga optimal, bahkan terbuang.

Baca juga: Triwulan 1 2021 ekonomi perikanan kembali terkontraksi 

Jika dilihat dari pertumbuhan tahunan, sektor perikanan sebenarnya masih tumbuh positif. Namun, tren jangka panjang menunjukkan adanya pelemahan. Pada periode 2011 hingga 2015, pertumbuhan sektor ini cukup kuat, berada di kisaran 6 hingga 9 persen. Setelah itu, pertumbuhan mulai melambat ke kisaran 5 hingga 6 persen pada 2016 hingga 2019. Pandemi COVID-19 kemudian memberikan pukulan tambahan pada 2020 dan 2021. Meskipun sempat terjadi pemulihan pada 2022 dan 2023, bahkan mencapai hampir 10 persen pada salah satu triwulan, momentum tersebut tidak bertahan lama. Memasuki 2024 hingga 2026, pertumbuhan kembali melambat, hingga hanya 2,78 persen pada Triwulan I 2026. Ini menunjukkan bahwa sektor perikanan sedang kehilangan tenaga untuk tumbuh lebih cepat.

Kontribusi Perikanan Terhadap PDB Nasional Turun

Penurunan kontribusi sektor perikanan terhadap PDB juga menjadi tanda penting. Selama bertahun-tahun, kontribusi sektor ini relatif stabil. Namun pada awal 2026, kontribusinya turun menjadi 2,00 persen, yang merupakan level terendah dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir. Hal ini berarti peran sektor perikanan dalam perekonomian nasional semakin mengecil. Bisa jadi sektor lain tumbuh lebih cepat, tetapi bisa juga karena sektor perikanan sendiri tidak berkembang secara optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya karena dapat mengurangi perhatian terhadap sektor perikanan, padahal sektor ini sangat penting bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Semua kondisi ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi sektor perikanan sudah mulai bergeser dari sekadar masalah siklus menjadi masalah struktural. Fluktuasi yang dulu masih bisa dianggap normal kini menjadi semakin ekstrem. Pertumbuhan yang dulu cukup stabil kini cenderung melemah. Kontribusi terhadap ekonomi nasional pun mulai menurun. Ini berarti dibutuhkan perubahan pendekatan dalam kebijakan pembangunan sektor perikanan.

Selama ini, kebijakan pemerintah banyak berfokus pada subsidi, terutama subsidi bahan bakar untuk nelayan. Kebijakan ini memang membantu dalam jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang lebih mendasar. Yang dibutuhkan sekarang adalah peningkatan produktivitas dan efisiensi. Misalnya, dengan menyediakan teknologi penangkapan yang lebih modern, memperkuat sistem penyimpanan dan distribusi ikan, serta mendorong pengolahan hasil perikanan agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Dengan cara ini, sektor perikanan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan, tetapi juga bisa mendapatkan keuntungan dari proses pengolahan.

Selain itu, pemerintah juga perlu fokus pada stabilisasi kinerja sektor perikanan pada awal tahun. Kontraksi yang terlalu dalam pada Triwulan I menunjukkan bahwa sektor ini belum memiliki sistem penyangga yang kuat. Penyediaan bahan bakar yang lebih stabil, dukungan logistik, serta pemanfaatan teknologi untuk memantau cuaca dan produksi dapat membantu mengurangi risiko penurunan yang terlalu tajam. Dengan langkah-langkah ini, sektor perikanan bisa menjadi lebih tahan terhadap guncangan.

Peran distribusi juga tidak kalah penting. Kapal angkut ikan berukuran besar dapat membantu menghubungkan nelayan kecil dengan pasar yang lebih luas, sehingga hasil tangkapan bisa terserap dengan lebih baik. Namun, penggunaannya harus diatur dengan bijak agar tidak merugikan nelayan kecil. Kemitraan yang adil antara nelayan dan pelaku usaha dapat menjadi solusi untuk memastikan semua pihak mendapatkan manfaat.

Dus, pertumbuhan PDB sector perikanan Triwulan I 2026 harus dilihat sebagai peringatan dini. Sektor perikanan Indonesia masih memiliki potensi besar, tetapi tanpa perbaikan yang serius, sektor ini bisa semakin tertinggal. Dampaknya tidak hanya pada angka ekonomi, tetapi juga pada kehidupan jutaan nelayan dan masyarakat pesisir. Oleh karena itu, langkah cepat dan tepat sangat dibutuhkan agar sektor perikanan dapat kembali tumbuh kuat, stabil, dan berkelanjutan di masa depan.

 

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!