Oleh: Suhana

 

Industri rajungan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja ekspor yang besar sekaligus menyimpan tantangan struktural yang tidak sederhana. Data periode 2022–2025 memperlihatkan bahwa ekspor rajungan tidak bergerak secara linear, melainkan melalui fase naik-turun sebelum akhirnya mulai stabil. Pada tahun 2022, nilai ekspor tercatat sebesar US$209,4 juta dengan volume 7,35 juta kg.

Namun pada 2023 terjadi penurunan cukup tajam menjadi US$173 juta dan 6,42 juta kg, yang mencerminkan tekanan pasar global seperti melemahnya permintaan dan kondisi ekonomi internasional. Tahun 2024 menjadi titik balik dengan lonjakan nilai ekspor hingga US$232,2 juta dan volume 9,2 juta kg, tetapi peningkatan ini justru diiringi penurunan harga rata-rata menjadi sekitar US$25 per kg.

Gambar 1. Perkembangan Ekspor Rajungan Indonesia (Sumber: BPS RI, 2026)

Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan saat itu lebih didorong oleh peningkatan volume daripada nilai tambah. Pada 2025, kondisi mulai membaik dan lebih seimbang, dengan nilai ekspor mencapai US$237,3 juta—tertinggi dalam periode ini—meskipun volume sedikit turun menjadi 8,78 juta kg, sementara harga kembali naik ke kisaran US$27 per kg. Pola ini menegaskan bahwa pengelolaan produksi yang terkendali justru menghasilkan nilai ekonomi yang lebih optimal dibanding sekadar mengejar volume.

Struktur Pasar Rajungan Indonesia

Di sisi lain, struktur pasar ekspor rajungan Indonesia menunjukkan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi pada satu negara tujuan, yaitu Amerika Serikat. Pada tahun 2025, sekitar 90,5% nilai ekspor atau setara US$214,8 juta berasal dari pasar AS, dengan kontribusi volume mencapai 87,7%. Negara-negara lain seperti Singapura, Australia, Inggris, Hong Kong, dan Prancis memang menjadi tujuan ekspor, namun nilainya relatif kecil dan secara keseluruhan tidak mencapai 10% dari total ekspor.

Gambar 2. Nilai Ekspor Rajuangan Indonesia TAhun 2025 Menurut Negara Tujuan (Sumber: BPS RI, 2026)

Ketergantungan yang sangat besar ini menimbulkan risiko serius, karena perubahan kecil di pasar AS—baik dari sisi regulasi, permintaan, maupun isu keberlanjutan—dapat langsung berdampak signifikan terhadap seluruh industri rajungan di Indonesia. Menariknya, terdapat indikasi bahwa beberapa pasar alternatif justru menawarkan harga lebih tinggi. Singapura, misalnya, mencatat harga rata-rata jauh di atas rata-rata global, sementara negara seperti Malaysia menunjukkan harga yang jauh lebih rendah. Ini mengindikasikan adanya segmentasi pasar berdasarkan kualitas dan jenis produk, sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan nilai ekspor melalui diversifikasi pasar dan peningkatan kualitas produk.

Selain konsentrasi pasar, struktur logistik ekspor rajungan Indonesia juga sangat terpusat di Pulau Jawa. Data tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 87,7% ekspor dilakukan melalui tiga pelabuhan utama, yaitu Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak di Surabaya, dan Tanjung Emas di Semarang. Padahal, sumber bahan baku rajungan banyak berasal dari wilayah luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Kondisi ini mencerminkan bahwa aktivitas pengolahan dan ekspor masih terkonsentrasi di Jawa, sehingga menciptakan rantai pasok yang panjang dan kurang efisien. Produk dari daerah harus terlebih dahulu dikirim ke Jawa sebelum diekspor, yang berpotensi meningkatkan biaya logistik dan menurunkan kualitas akibat risiko dalam rantai dingin. Di sisi lain, kontribusi pelabuhan di luar Jawa seperti Belawan, Makassar, dan Banjarmasin masih relatif kecil, sementara peran bandara dalam ekspor rajungan juga sangat terbatas, yakni kurang dari 1% dari total ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor rajungan Indonesia sangat bergantung pada jalur laut dan infrastruktur logistik di wilayah tertentu.

Jika ketiga aspek tersebut—tren ekspor, struktur pasar, dan distribusi logistik—dilihat secara bersamaan, terlihat bahwa industri rajungan Indonesia memiliki kekuatan besar namun juga menghadapi risiko ganda. Di satu sisi, nilai ekspor yang tinggi menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki daya saing global yang kuat. Namun di sisi lain, ketergantungan pada satu pasar utama dan satu wilayah logistik menciptakan kerentanan yang signifikan. Oleh karena itu, arah pengembangan industri ke depan tidak lagi cukup berfokus pada peningkatan volume ekspor, melainkan harus mengarah pada penguatan struktur bisnis secara keseluruhan. Diversifikasi pasar menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, sementara pengembangan industri pengolahan di dekat sumber bahan baku di luar Jawa dapat meningkatkan efisiensi dan nilai tambah. Selain itu, pelaku usaha perlu mulai mengarahkan strategi pada produk bernilai tinggi dan pasar premium, bukan sekadar mengejar kuantitas.

Baca juga: apakah-rajungan-dunia-menuju-batas-produksi 

Strategi Memperbesar Kinerja Rajungan

Untuk menjawab tantangan tersebut, pelaku usaha rajungan perlu melakukan penyesuaian strategi secara lebih terarah. Pertama, fokus bisnis harus bergeser dari sekadar volume ke nilai tambah, dengan memperkuat pengolahan produk seperti pasteurized crab meat, ready-to-eat, atau produk olahan bernilai tinggi lainnya yang memiliki margin lebih besar. Kedua, pelaku usaha perlu secara aktif melakukan diversifikasi pasar dengan membangun jaringan dagang di luar Amerika Serikat, terutama ke negara-negara dengan daya beli tinggi seperti Jepang, Uni Eropa, dan Singapura. Ketiga, penting untuk memperkuat standar kualitas dan keberlanjutan, termasuk penerapan sertifikasi internasional, karena pasar global semakin menuntut produk yang ramah lingkungan dan dapat ditelusuri asalnya. Keempat, efisiensi rantai pasok harus ditingkatkan dengan mendekatkan fasilitas pengolahan ke lokasi produksi, sehingga biaya logistik dapat ditekan dan kualitas produk tetap terjaga.

Di sisi lain, pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem yang mendukung transformasi industri ini. Pemerintah perlu mendorong diversifikasi pasar melalui diplomasi perdagangan dan pembukaan akses pasar baru, sekaligus mengurangi hambatan tarif maupun non-tarif di negara tujuan potensial. Selain itu, pembangunan dan penguatan infrastruktur logistik di luar Pulau Jawa menjadi sangat penting, termasuk pengembangan pelabuhan ekspor di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia Timur agar ekspor dapat dilakukan langsung dari daerah sumber bahan baku. Pemerintah juga perlu memberikan insentif bagi investasi industri pengolahan di daerah, sehingga tercipta pemerataan nilai tambah. Di aspek keberlanjutan, penguatan regulasi pengelolaan rajungan—seperti pengaturan ukuran tangkap, musim penangkapan, dan perlindungan induk—menjadi kunci untuk menjaga ketersediaan sumber daya dalam jangka panjang. Terakhir, dukungan terhadap sistem rantai dingin dan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil menengah akan memperkuat daya saing industri secara keseluruhan.

Dus, dengan kombinasi strategi dari pelaku usaha dan dukungan kebijakan pemerintah, industri rajungan Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari sekadar eksportir berbasis volume menjadi pemain global yang unggul dalam kualitas, keberlanjutan, dan nilai tambah.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!