Oleh: Suhana

Selama dua dekade terakhir, rajungan (blue swimming crab) telah menjelma menjadi salah satu komoditas perikanan bernilai tinggi di pasar global. Produk ini tidak hanya menjadi primadona ekspor bagi negara-negara Asia, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan nelayan skala kecil di wilayah pesisir. Namun, di balik pertumbuhan industri yang pesat, tersimpan dinamika yang kompleks—mulai dari ekspansi produksi, lonjakan ekstrem, hingga tanda-tanda tekanan serius terhadap keberlanjutan sumber daya. Berdasarkan data produksi rajungan dunia periode 2005–2024 (FAO-FishStat 2026), terlihat jelas bahwa industri ini sedang berada di titik krusial yang akan menentukan arah masa depannya.

Pada periode awal, yaitu antara tahun 2005 hingga 2014, produksi rajungan dunia menunjukkan tren pertumbuhan yang stabil. Total produksi global meningkat dari sekitar 150.290 ton pada tahun 2005 menjadi 207.257 ton pada tahun 2014. Kenaikan ini mencerminkan laju pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 3–4 persen. Pendorong utama dari pertumbuhan ini adalah meningkatnya permintaan pasar internasional, terutama dari Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa. Di saat yang sama, negara-negara produsen utama seperti Indonesia, China, Filipina, dan Thailand mulai meningkatkan intensitas penangkapan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Fase ini dapat disebut sebagai fase ekspansi, di mana akses terhadap sumber daya masih relatif terbuka dan tekanan terhadap stok belum menjadi perhatian utama.

Gambar 1. Perkembangan Produksi Rajungan Dunia Periode 2005-2024 (Sumber: FAO-FishStat 2026)

Namun, memasuki periode 2015 hingga 2017, industri rajungan global mengalami lonjakan produksi yang sangat signifikan dan tidak biasa. Produksi dunia meningkat dari 238.294 ton pada tahun 2015 menjadi 256.933 ton pada tahun 2016, lalu melonjak drastis hingga mencapai 424.626 ton pada tahun 2017. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan produksi yang sangat besar dari Indonesia, yang pada tahun 2017 tercatat menghasilkan 272.422 ton—sekitar 64 persen dari total produksi dunia. Angka ini jauh melampaui pola pertumbuhan normal dan menandai sebuah anomali dalam statistik perikanan global.

Baca juga: krisis-kepiting-global-dan-masa-depan-rajungan-indonesia 

Fenomena ini perlu dipahami secara hati-hati. Lonjakan produksi yang sangat tinggi dalam waktu singkat biasanya tidak hanya disebabkan oleh peningkatan aktivitas penangkapan, tetapi juga bisa dipengaruhi oleh perubahan metode pencatatan data, perbaikan sistem pelaporan, atau bahkan re-klasifikasi komoditas dalam statistik perikanan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa periode ini juga mencerminkan tekanan eksploitasi yang sangat besar terhadap sumber daya rajungan, khususnya di Indonesia. Fase ini dapat disebut sebagai fase “shock supply”, di mana peningkatan produksi terjadi secara ekstrem dan berpotensi melampaui kapasitas regenerasi alami sumber daya.

Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2017, produksi rajungan dunia mulai mengalami penurunan yang cukup tajam. Pada tahun 2018, produksi global turun menjadi 318.861 ton, kemudian terus menurun hingga mencapai 277.969 ton pada tahun 2019 dan 249.024 ton pada tahun 2020. Penurunan ini berlanjut hingga tahun 2021 dengan total produksi sebesar 248.780 ton. Secara keseluruhan, dalam kurun waktu 2017 hingga 2021, terjadi penurunan produksi sekitar 22 persen. Penurunan ini bukanlah fenomena kebetulan, melainkan indikasi kuat bahwa sumber daya rajungan mulai mengalami tekanan serius akibat penangkapan berlebih (overfishing).

Selain faktor biologis, penurunan ini juga dipengaruhi oleh kebijakan pengelolaan yang mulai diperketat di berbagai negara produsen. Indonesia, misalnya, mulai menerapkan berbagai regulasi seperti larangan penangkapan rajungan bertelur, pembatasan ukuran minimum tangkap, serta penguatan pengawasan terhadap praktik penangkapan ilegal. Kebijakan-kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan stok, meskipun dalam jangka pendek berdampak pada penurunan volume produksi. Fase ini dapat disebut sebagai fase koreksi sumber daya, di mana sistem mulai menyesuaikan diri terhadap batas-batas ekologis yang ada.

Memasuki periode 2022 hingga 2024, produksi rajungan dunia menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Total produksi global tercatat sebesar 246.250 ton pada tahun 2022, meningkat menjadi 269.627 ton pada tahun 2023, dan mencapai 275.507 ton pada tahun 2024. Meskipun terjadi sedikit pemulihan, angka ini masih berada di bawah puncak produksi tahun 2017. Hal ini menunjukkan bahwa industri rajungan global kemungkinan telah mencapai batas produksi biologisnya, di mana peningkatan produksi secara signifikan menjadi semakin sulit dicapai tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya.

Jika dilihat dari struktur produksinya, industri rajungan dunia sangat terkonsentrasi di kawasan Asia. Pada tahun 2024, Indonesia menjadi produsen terbesar dengan produksi sebesar 125.214 ton atau sekitar 45 persen dari total dunia. China berada di posisi kedua dengan 68.321 ton (sekitar 25 persen), diikuti oleh Thailand dengan 42.409 ton (15 persen), dan Filipina dengan 21.099 ton (sekitar 8 persen). Dengan demikian, lebih dari 85 persen produksi rajungan dunia berasal dari hanya empat negara. Konsentrasi ini menunjukkan bahwa dinamika produksi global sangat bergantung pada kondisi dan kebijakan di negara-negara tersebut, khususnya Indonesia.

Tabel 1. Top Produsen Rajungan Dunia Tahun 2024

Negara Produksi (Ton) Pangsa (%)
Indonesia 125.214 45,45%
China 68.321 24,80%
Thailand 42.409 14,72%
Philippines 21.099 7,66%
Lainnya (13 Negara) 18.465 6,70%

Sumber: FAO-FishStat (2026), diolah

Indonesia memainkan peran yang sangat strategis dalam industri ini. Dalam dua dekade terakhir, produksi rajungan Indonesia meningkat drastis dari 18.760 ton pada tahun 2005 menjadi 125.214 ton pada tahun 2024, dengan puncak ekstrem pada tahun 2017. Fluktuasi produksi Indonesia terbukti memiliki dampak langsung terhadap total produksi dunia. Ketika produksi Indonesia melonjak, produksi global ikut meningkat tajam. Sebaliknya, ketika produksi Indonesia menurun, produksi global juga ikut terkoreksi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai “price maker” dalam pasar rajungan dunia, di mana perubahan kecil dalam produksi domestik dapat mempengaruhi harga dan pasokan global.

Di sisi lain, China menunjukkan pola produksi yang relatif stabil sepanjang periode analisis. Produksi China berada dalam kisaran 60.000 hingga 85.000 ton per tahun, tanpa fluktuasi ekstrem seperti yang terjadi di Indonesia. Stabilitas ini mencerminkan sistem pengelolaan yang lebih terkendali, meskipun tetap menghadapi tantangan keberlanjutan. Thailand menunjukkan tren pemulihan dalam beberapa tahun terakhir, dengan produksi meningkat hingga 42.409 ton pada tahun 2024. Sementara itu, Filipina justru mengalami penurunan produksi secara bertahap dari sekitar 34.000 ton pada pertengahan 2000-an menjadi hanya 21.099 ton pada tahun 2024. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan jangka panjang terhadap stok yang belum sepenuhnya teratasi.

Menariknya, industri rajungan global hampir sepenuhnya bergantung pada perikanan tangkap, dengan kontribusi budidaya yang sangat terbatas. Hal ini berbeda dengan komoditas perikanan lain seperti udang atau salmon, yang telah mengalami perkembangan signifikan dalam sektor akuakultur. Ketergantungan pada sumber daya alam membuat industri rajungan sangat rentan terhadap fluktuasi stok dan perubahan lingkungan. Tanpa inovasi dalam budidaya atau sistem pengelolaan yang lebih baik, risiko terjadinya penurunan produksi di masa depan akan semakin besar.

Dari perspektif siklus industri, data ini menunjukkan pola klasik “boom and bust” yang sering terjadi dalam sektor perikanan. Fase pertumbuhan dan ekspansi diikuti oleh lonjakan produksi yang tidak terkendali, kemudian diikuti oleh penurunan akibat tekanan terhadap sumber daya, dan akhirnya stabilisasi pada tingkat produksi yang lebih rendah. Pola ini menjadi peringatan penting bahwa eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali hanya akan memberikan keuntungan jangka pendek, tetapi berpotensi merugikan dalam jangka panjang.

Ke depan, tantangan utama industri rajungan bukan lagi sekadar meningkatkan volume produksi, tetapi bagaimana menjaga keberlanjutan sumber daya sambil tetap memenuhi permintaan pasar. Negara-negara importir utama seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin menuntut produk yang berasal dari sumber yang berkelanjutan, dengan sistem ketelusuran (traceability) yang jelas dan sertifikasi ekolabel. Hal ini membuka peluang bagi negara produsen untuk meningkatkan nilai tambah melalui praktik perikanan yang bertanggung jawab.

Bagi pelaku industri, kondisi ini menuntut perubahan strategi. Alih-alih mengejar volume semata, fokus perlu dialihkan pada kualitas, efisiensi rantai pasok, dan kepatuhan terhadap standar internasional. Sementara itu, bagi pemerintah, diperlukan kebijakan yang seimbang antara kepentingan ekonomi dan konservasi, termasuk penguatan data, pengawasan, dan pemberdayaan nelayan. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung konsumsi produk yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data produksi rajungan dunia periode 2005–2024 menunjukkan bahwa industri ini telah memasuki fase matang, di mana pertumbuhan tidak lagi mudah dicapai dan keberlanjutan menjadi isu utama. Dengan produksi global yang cenderung stagnan di kisaran 250.000 hingga 300.000 ton per tahun, masa depan industri rajungan akan sangat ditentukan oleh kemampuan para pemangku kepentingan dalam mengelola sumber daya secara bijak. Indonesia, sebagai pemain utama, memiliki tanggung jawab sekaligus peluang besar untuk memimpin transformasi menuju industri rajungan yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di pasar global.

 

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!