
Oleh: Suhana
Perubahan iklim kini bukan lagi isu jauh di masa depan, tetapi realitas yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu solusi berbasis alam yang semakin mendapat perhatian adalah mangrove, hutan pesisir yang dikenal sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang sangat efektif. Indonesia, sebagai negara dengan luas mangrove terbesar di dunia, memiliki peran strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai program penanaman mangrove digencarkan oleh pemerintah, swasta, hingga komunitas masyarakat. Ribuan bahkan jutaan bibit ditanam dengan harapan mampu memulihkan ekosistem pesisir sekaligus menyerap karbon dari atmosfer. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah mangrove yang ditanam memiliki kemampuan yang sama dengan mangrove yang tumbuh alami dalam menyimpan karbon?
Penelitian terbaru yang ditulis Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) menunjukkan bahwa tidak semua mangrove memiliki kapasitas yang setara. Mangrove yang tumbuh secara alami seringkali memiliki struktur ekosistem yang lebih kompleks dan kemampuan penyimpanan karbon yang lebih tinggi dibandingkan mangrove hasil restorasi. Temuan ini menjadi penting untuk dievaluasi, terutama dalam konteks kebijakan rehabilitasi mangrove di Indonesia yang selama ini lebih berfokus pada jumlah pohon yang ditanam.
Mangrove dan “Blue Carbon”: Kenapa Penting?
Mangrove termasuk dalam ekosistem “blue carbon”, yaitu ekosistem pesisir yang mampu menyerap karbon dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa dan sedimen tanah.
Penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) menunjukkan bahwa mangrove dapat menyimpan karbon hingga ratusan ton per hectare, dan sekitar 80–98% karbon tersimpan di dalam tanah, bukan pada pohonnya.
Artinya, mangrove bukan hanya soal pohon, tapi juga soal tanah dan ekosistemnya secara utuh. Jika mangrove rusak, karbon yang tersimpan bisa lepas kembali ke atmosfer dan memperparah perubahan iklim.
Penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) di Guyana membandingkan dua jenis mangrove, yaitu mangrove hasil restorasi (ditanam manusia) dan mangrove alami (tumbuh sendiri tanpa intervensi)
Hasilnya cukup mengejutkan, yaitu (1) mangrove alami memiliki stok karbon sekitar 30% lebih tinggi; dan (2) mangrove restorasi masih tertinggal, terutama pada usia muda (5–11 tahun)
Mengapa bisa begitu? Pertama, struktur ekosistem lebih kompleks. Mangrove alami memiliki banyak jenis pohon, akar yang kompleks, dan interaksi biologis yang lebih beragam. Semua ini membantu menyimpan karbon lebih banyak.

Kedua, tanah lebih kaya karbon. Mangrove alami biasanya memiliki lapisan sedimen yang lebih stabil dan kaya bahan organik, sehingga karbon lebih banyak tersimpan. Ketiga, proses alami lebih efisien. Tanpa campur tangan manusia, mangrove tumbuh sesuai kondisi lingkungan yang optimal.
Apakah ini berarti menanam mangrove tidak penting? Tentu tidak. Namun, penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) menunjukkan bahwa mangrove hasil restorasi membutuhkan waktu 20–40 tahun untuk menyamai mangrove alami. Selain itu juga pada usia muda, kemampuan menyimpan karbon masih terbatas
Dengan kata lain, restorasi adalah investasi jangka panjang. Ini penting dipahami agar kita tidak menganggap penanaman mangrove sebagai solusi instan untuk perubahan iklim.
Penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) juga menemukan hal menarik, yaitu mangrove berusia 5–6 tahun justru memiliki tingkat penyerapan karbon yang cukup tinggi pada beberapa lokasi
Hal ini terjadi karena pohon sedang tumbuh cepat dan biomassa bertambah dengan pesat. Namun, total karbon yang tersimpan tetap belum setinggi mangrove alami yang sudah matang.
Baca juga: Mangrove kekuasaan dan masa depan pesisir Indonesia
Apa Artinya bagi Indonesia?
Indonesia adalah salah satu negara dengan mangrove terluas di dunia, sekaligus pemain utama dalam agenda blue carbon global. Pemerintah bahkan menargetkan restorasi 600.000 hektare mangrove dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini sangat penting.
Namun, hasil penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) memberikan beberapa pelajaran penting bagi Indonesia, yaitu pertama jangan hanya fokus pada penanaman. Selama ini, keberhasilan rehabilitasi mangrove sering diukur dari jumlah bibit yang ditanam dan luas area tanam
Padahal, yang lebih penting adalah apakah mangrove tersebut tumbuh dan bertahan dan apakah ekosistemnya berfungsi dengan baik. Banyak kasus di Indonesia menunjukkan bahwa bibit ditanam, tetapi mati karena kondisi lingkungan tidak sesuai. Artinya, menanam saja tidak cukup.
Kedua, dorong regenerasi alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove alami lebih efektif. Karena itu, strategi terbaik adalah melindungi mangrove yang masih ada dan membuka peluang regenerasi alami. Caranya bisa dengan menghentikan konversi lahan mangrove, memperbaiki aliran air (hidrologi), dan mengurangi gangguan manusia. Dalam banyak kasus, jika kondisi lingkungan diperbaiki, mangrove akan tumbuh sendiri tanpa perlu ditanam.
Ketiga, hindari monokultur. Banyak proyek restorasi hanya menanam satu jenis mangrove, misalnya Rhizophora. Padahal, mangrove alami terdiri dari berbagai jenis yang saling melengkapi. Penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) menunjukkan keanekaragaman jenis meningkatkan kapasitas penyimpanan karbon. Artinya, restorasi sebaiknya menggunakan berbagai jenis mangrove dan menyesuaikan dengan kondisi local.
Keempat, penting untuk pasar karbon. Saat ini, mangrove juga mulai dilirik sebagai bagian dari pasar karbon (carbon market). Perusahaan bisa berinvestasi dalam proyek mangrove untuk mengimbangi emisi karbon mereka. Namun, ada tantangan, yaitu nilai ekonomi mangrove tergantung pada berapa banyak karbon yang disimpan. Jika estimasi karbon tidak akurat maka proyek bisa kehilangan kepercayaan investor. Karena itu, data ilmiah seperti penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) sangat penting untuk menghitung nilai karbon secara realistis dan menarik investasi hijau
Kelima, restorasi bukan solusi instan. Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah restorasi mangrove bukan solusi cepat untuk perubahan iklim. Akan tetapi butuh waktu puluhan tahun, pengelolaan yang tepat, dan monitoring jangka Panjang. Jika tidak, hasilnya bisa jauh dari harapan.
Keenam, mangrove lebih dari sekadar karbon. Walaupun fokus penelitian ini adalah karbon, mangrove memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting, yaitu melindungi pantai dari abrasi, menjadi habitat ikan dan udang, dan mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir. Artinya, keberhasilan mangrove tidak hanya diukur dari karbon, tetapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi.
Dus, penelitian Mark Ram, Marcus Sheaves, and Nathan J. Waltham (2026) memberikan pelajaran penting, yaitu mangrove alami menyimpan karbon lebih tinggi dibandingkan mangrove hasil penanaman, restorasi tetap penting, tetapi membutuhkan waktu lama, dan strategi terbaik adalah menggabungkan perlindungan mangrove alami, restorasi berbasis ekosistem, dan dukungan ilmu pengetahuan. Untuk Indonesia, ini berarti fokus tidak hanya pada menanam, tetapi pada membangun ekosistem mangrove yang sehat. Karena pada akhirnya, mangrove bukan sekadar pohon yang ditanam, melainkan sistem kehidupan pesisir yang kompleks.
Referensi Utama:
Mark Ram, Marcus Sheaves, Nathan J. Waltham, 2026. Blue carbon stock of restored mangrove forests is lower than naturally recruited mangroves. Ocean & Coastal Management. Volume 276. DOI: https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2026.108138
