Oleh: Suhana

Di pasar pangan hewani internasional, guncangan rantai pasok tengah melanda spesies ikan pelagis kecil (small pelagics). Berdasarkan laporan kuartalan FAO GLOBEFISH edisi September 2026, periode Januari hingga Maret 2026 ditandai dengan penurunan drastis pasokan komoditas perikanan utama dunia akibat pemangkasan kuota penangkapan berkelanjutan dan pukulan fenomena iklim El Niño yang kian intensif. Di balik ketidakpastian rantai pasok global tersebut, tersimpan celah strategis dan momentum ekspansi yang sangat bernilai bagi industri perikanan Indonesia.

Jantung krisis pasokan global bermula dari dua komoditas utama, yaituikan teri (anchovy) di Amerika Selatan dan ikan makarel Atlantik di perairan Eropa Utara. Di Peru, produsen utama bahan baku tepung dan minyak ikan dunia, kuota penangkapan anchovy zona utara-tengah untuk musim pertama 2026 dipangkas tajam hingga 36 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 1,91 juta ton demi keberlanjutan sumber daya.

Namun, hingga pertengahan Juli 2026, realisasi tangkapan hanya menyentuh 24,36 persen atau setara 466.285 ton. Kenaikan anomali suhu air laut akibat El Niño memaksa Kementerian Produksi Peru (PRODUCE) menutup total penangkapan di zona tersebut sejak 11 Juni 2026 untuk melindungi melimpahnya populasi ikan anakan (juveniles). Bank Sentral Peru (BCRP) memproyeksikan kontraksi sektor perikanan sebesar 6,6 persen pada 2026. Mengingat Peru menyumbang sekitar 20 persen produksi fishmeal dan minyak ikan global, kelangkaan ini langsung memicu kekhawatiran akut pada industri pakan akuakultur dunia.

Di belahan bumi lain, pasokan Atlantic mackerel mengalami krisis kuota tangkap yang tak kalah serius. Kuota bersama periode 2026–2028 ditetapkan sebesar 299.010 ton, anjlok 48 persen dibanding tahun 2025. Lembaga riset industri Kontali memproyeksikan penurunan hasil tangkapan makarel Atlantik dapat melebihi 60 persen sepanjang 2026, yang berujung pada penyusutan 4 persen total pasokan seluruh pelagis komersial dunia menjadi sekitar 21,2 juta ton. Ekspor makarel beku Norwegia pada kuartal I-2026 ambles 54,8 persen dengan lonjakan harga menembus rekor historis di atas NOK 50 per kg (sekitar USD 4,97 per kg).

Tingginya harga ini memicu resistensi konsumen global dan mendorong industri pengolahan beralih ke spesies substitusi berbiaya lebih kompetitif, seperti Chilean jack mackerel (USD 1,25–2,51 per kg) dan Pacific chub mackerel (USD 1,85 per kg).

Dinamika Perdagangan Pelagis Global (Kuartal I 2022–2026)

Meskipun tangkapan bahan baku mentah beku di belahan Atlantik dan Pasifik Timur tertekan, industri pengalengan hilir justru mencatatkan rekor volume ekspor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Tabel berikut merangkum pergeseran volume ekspor dan tren harga komoditas pelagis kecil di pasar global:

Kategori Komoditas / Spesies Ekspor Global Q1-2025 (Ton) Ekspor Global Q1-2026 (Ton) Pertumbuhan Tahunan (%) Tren Harga Ritel / Ekspor (2026)
Sarden Olahan / Kaleng (HS 160413) 96.781 122.051 +26,11% Premi 20–30% untuk varian olive oil
Makarel Olahan / Kaleng (HS 160415) 53.434 54.440 +1,88% Beralih ke produk kantong (pouch) siap saji
Herring Olahan / Kaleng (HS 160412) 36.327 33.996 -6,42% Pasokan beku Norwegia melimpah (+40% H1)
Teri Olahan / Kaleng (HS 160416) 7.374 6.216 -15,70% Teri kering stabil tinggi: USD 25–30/kg
Total Produk Olahan / Kaleng 193.916 216.703 +11,75% Nilai impor global naik 11,72% (USD 753 Juta)
Bahan Mentah: Atlantic Mackerel (Norwegia) 53.520 24.190 -54,80% Rekor tertinggi >NOK 50/kg (~USD 4,97/kg)
Bahan Mentah: Chilean Jack Mackerel — — Permintaan naik Harga kompetitif: USD 1,25 – 2,51/kg

Sumber: FAO Globefish (2026)

Kilau Eksportir Indonesia dan Paradoks Impor Bahan Baku

Indonesia menorehkan prestasi gemilang dengan memantapkan posisinya sebagai eksportir sarden olahan terbesar kedua di dunia setelah China. Sepanjang kuartal I-2026, ekspor sarden kaleng Indonesia melesat 33,7 persen menjadi 11.302 ton. Kinerja ekspansif ini melampaui Maroko yang hanya tumbuh 3 persen (10.897 ton) dan Thailand yang terperosok hingga minus 23 persen (12.121 ton). Kebijakan Maroko yang membatasi ekspor sarden mentah lewat rezim lisensi sejak Februari 2026 secara langsung membuka celah pasar yang berhasil dimanfaatkan oleh manufaktur Indonesia.

Di sisi lain, neraca logistik bahan baku beku Indonesia menunjukkan dinamika kontras antara sarden dan makarel:

Komoditas Bahan Baku Beku Impor RI Q1-2025 (Ton) Impor RI Q1-2026 (Ton) Perubahan Volume (%) Konteks Rantai Pasok Domestik
Sarden Beku (Frozen Sardine) 2.869 3.959 +37,99% Diserap pabrik pengalengan untuk memenuhi lonjakan ekspor.
Makarel Beku (Frozen Mackerel) 20.315 12.167 -40,11% Penurunan akibat lonjakan harga global dan lesunya serapan pabrik.

Sumber: FAO Globefish (2026)

Penurunan tajam impor makarel beku mengonfirmasi bahwa pabrik pengolahan di Indonesia mulai merem pengadaan bahan baku impor yang terlampau mahal demi melindungi efisiensi modal kerja. Sementara itu, pasar regional Asia Tenggara tetap mempertahankan daya beli tinggi terhadap komoditas teri kering (salted/dried anchovy), dengan kemasan ritel 100–200 gram yang dihargai USD 25–30 per kg.

Baca juga:

Pelagis Dunia Berubah: Indonesia Mau Menang di Mana?

Strategis Pelaku Usaha Indonesia

Melihat peta disrupsi dan pergeseran permintaan pelagis dunia, para pemangku kepentingan industri perikanan nasional dapat menerapkan empat langkah terukur, yaitu Pertama, agresif mengisi kekosongan pasar ekspor sarden olahan. Manufaktur pengalengan nasional perlu mempertahankan momentum lonjakan ekspor (+33,7%) untuk mengambil alih pangsa pasar yang ditinggalkan Thailand dan Maroko. Targetkan pasar importir yang sedang tumbuh pesat, seperti Malaysia (+53,9%), Republik Dominika (+11,7%), dan Prancis (+16,4%). Selain itu, kembangkan varian sarden dalam minyak zaitun (olive oil) yang memiliki harga jual 20–30 persen lebih tinggi dibanding saus tomat standar guna menjaring konsumen kelas menengah-atas di kawasan Asia Timur dan Eropa.

Kedua, substitusi bahan baku makarel ke spesies alternatif. Harga makarel Atlantik yang melambung di atas USD 4,97 per kg menuntut diversifikasi sumber bahan baku segera. Importir dan pengolah ikan dianjurkan beralih ke Chilean jack mackerel (USD 1,25–2,51/kg) atau Pacific chub mackerel (USD 1,85/kg), sembari mengoptimalkan serapan armada tangkap lokal untuk spesies ikan layang dan kembung tropis.

Ketiga, inovasi pakan akuakultur antisipasi krisis tepung ikan (fishmeal). Potensi ketiadaan musim tangkap kedua di Peru hingga awal 2027 akan membuat harga tepung dan minyak ikan meroket. Produsen pakan mandiri dan asosiasi akuakultur nasional perlu mempercepat formulasi pakan berbasis protein nabati alternatif (bungkil kedelai, bungkil kelapa sawit) serta larva black soldier fly (BSF) untuk meredam risiko lonjakan biaya produksi budidaya ikan dan udang.

Keempat, modernisasi hilirisasi ikan teri ritel bernilai tambah. Stabilnya harga teri kering premium di kisaran USD 25–30 per kg di Malaysia, Singapura, dan Thailand membuka peluang cerah bagi sentra nelayan pesisir. Pelaku UMKM perikanan sebaiknya diarahkan pada standardisasi penanganan higienis, fasilitas pengeringan modern (solar dryer), serta pengemasan kedap udara ukuran kecil (100–200 g) tanpa kepala (headless/split) dan produk sambal olahan siap saji guna menembus jaringan ritel modern internasional.


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca