Oleh: Suhana

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati ikan hias terbesar di dunia. Di antara ribuan jenis ikan hias yang diperdagangkan, arwana menempati posisi yang sangat istimewa. Ikan yang sering dijuluki dragon fish atau ikan naga ini bukan sekadar ikan hias biasa. Nilai ekonominya dapat mencapai jutaan hingga ratusan juta rupiah per ekor, bahkan untuk individu dengan kualitas kontes tertentu nilainya bisa jauh lebih tinggi. Tidak mengherankan apabila arwana menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor ikan hias Indonesia dan memiliki pasar yang kuat di Asia maupun berbagai negara lainnya. Budidaya arwana juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi karena beberapa spesies, khususnya Arwana Asia, berstatus dilindungi dan perdagangan internasionalnya diatur secara ketat melalui CITES. Oleh karena itu, perdagangan legal hanya dapat dilakukan terhadap hasil penangkaran yang memenuhi ketentuan perizinan.

Namun, muncul pertanyaan menarik. Daerah mana sebenarnya yang menjadi produsen utama ikan hias arwana di Indonesia? Banyak orang mengira sentra produksi arwana berada di Kalimantan karena daerah tersebut merupakan habitat asli Arwana Super Red yang terkenal di dunia. Kenyataannya, data produksi nasional periode 2019–2024 menunjukkan gambaran yang jauh lebih dinamis. Produksi arwana Indonesia justru didominasi oleh beberapa kabupaten dan kota di Pulau Jawa, sementara daerah asal plasma nutfah seperti Kapuas Hulu tetap memainkan peran strategis sebagai pusat pengembangan indukan dan budidaya.

Gambar 1. Produksi Ikan Hias Arwana Nasional (Sumber: KKP 2025, diolah)

Data produksi ikan hias yang dipublikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (2025) menunjukkan bahwa volume arwana nasional mengalami fluktuasi yang cukup tajam. Pada 2019, produksi mencapai sekitar 4,35 juta ekor, kemudian turun menjadi 2,12 juta ekor pada 2020. Tahun 2021 produksi kembali melonjak hingga 4,17 juta ekor, sebelum turun lagi menjadi sekitar 2,04 juta ekor pada 2022. Pada 2023 produksi meningkat menjadi 2,18 juta ekor, dan pada 2024 kembali naik menjadi 2,92 juta ekor. Pola naik-turun tersebut menunjukkan bahwa industri arwana Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan beberapa sentra produksi utama. Ketika produksi di daerah-daerah besar meningkat atau menurun, dampaknya langsung terlihat pada angka nasional.

Produsen Ikan Arwana

Salah satu fakta paling menarik adalah munculnya Kota Bekasi sebagai produsen arwana terbesar di Indonesia. Pada 2019 produksi Kota Bekasi tercatat sekitar 658 ribu ekor, relatif stabil pada 2020 dengan 656 ribu ekor, kemudian melonjak drastis menjadi lebih dari 2,48 juta ekor pada 2021. Setelah itu produksi menurun menjadi sekitar 970 ribu ekor pada 2022, namun kembali meningkat menjadi 1,07 juta ekor pada 2023 dan mencapai 1,20 juta ekor pada 2024. Besarnya kontribusi Kota Bekasi menunjukkan bahwa kawasan perkotaan sekalipun mampu berkembang menjadi pusat budidaya ikan hias modern apabila didukung oleh teknologi, jaringan pemasaran, dan pelaku usaha yang kuat.

Di sisi lain, Kabupaten Magelang mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra produksi arwana paling konsisten di Indonesia. Produksi daerah ini mencapai sekitar 1,28 juta ekor pada 2019, turun menjadi 1,11 juta ekor pada 2020, kembali meningkat menjadi 1,19 juta ekor pada 2021, kemudian berada pada kisaran 600 ribu ekor selama periode 2022–2024. Stabilitas tersebut menunjukkan bahwa Magelang memiliki ekosistem budidaya yang matang, didukung pengalaman pembudidaya, ketersediaan induk berkualitas, serta jaringan distribusi yang telah berkembang selama bertahun-tahun.

Daerah Istimewa Yogyakarta juga berkembang menjadi salah satu klaster budidaya arwana nasional. Kabupaten Sleman secara konsisten menghasilkan sekitar 95–105 ribu ekor setiap tahun, sedangkan Kabupaten Bantul menunjukkan tren peningkatan yang cukup menarik. Jika pada 2020 produksinya sekitar 21 ribu ekor, maka pada 2024 telah meningkat menjadi hampir 39 ribu ekor. Sebaliknya, produksi Kota Yogyakarta justru mengalami penurunan sehingga pusat produksi DIY semakin terkonsentrasi di Sleman dan Bantul. Kondisi ini memperlihatkan bahwa budidaya arwana di DIY tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang melalui spesialisasi wilayah.

Selain Jawa Tengah dan DIY, Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat juga menunjukkan perkembangan yang cukup konsisten. Produksi meningkat dari sekitar 118 ribu ekor pada 2019 menjadi lebih dari 139 ribu ekor pada 2024. Pertumbuhan yang relatif stabil ini memperlihatkan bahwa Sukabumi menjadi salah satu sentra budidaya yang terus berkembang tanpa mengalami fluktuasi ekstrem sebagaimana terjadi di beberapa daerah lainnya.

Lalu bagaimana dengan daerah asal Arwana Super Red yang mendunia? Jawabannya terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Wilayah ini merupakan habitat alami Arwana Super Red yang telah lama dikenal di pasar internasional. Menariknya, data produksi menunjukkan dinamika yang sangat besar. Setelah menghasilkan sekitar 136 ribu ekor pada 2019, produksi turun tajam hingga di bawah 20 ribu ekor pada 2020–2022. Namun pada 2023 mulai pulih menjadi sekitar 81 ribu ekor, dan pada 2024 melonjak drastis menjadi hampir 688 ribu ekor. Kebangkitan ini menjadi salah satu fenomena paling menarik dalam industri arwana Indonesia. Lonjakan tersebut dapat mencerminkan meningkatnya keberhasilan budidaya, ekspansi usaha penangkaran, maupun perbaikan sistem pencatatan produksi.

Di luar sentra-sentra besar tersebut, beberapa daerah lain juga memberikan kontribusi penting. Kota Pekanbaru di Provinsi Riau secara konsisten menghasilkan sekitar 70–80 ribu ekor setiap tahun. Kabupaten Cilacap, Pati, dan Tulungagung juga berkontribusi dalam jumlah yang lebih kecil tetapi relatif stabil. Sebaliknya, sebagian besar kabupaten dan kota lainnya hanya memproduksi ratusan hingga beberapa ribu ekor per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa industri arwana Indonesia masih memiliki tingkat konsentrasi yang cukup tinggi, dengan sebagian besar produksi berasal dari sejumlah kecil wilayah.

Mengapa sentra produksi justru berkembang di Pulau Jawa, padahal plasma nutfah arwana banyak berasal dari Kalimantan dan Papua? Jawabannya berkaitan dengan faktor ekonomi dan infrastruktur. Pulau Jawa memiliki akses logistik yang lebih baik, kedekatan dengan eksportir, kemudahan memperoleh pakan dan sarana produksi, serta pasar domestik yang besar. Selain itu, banyak pembudidaya telah mengembangkan teknologi pemijahan, pembesaran, dan pemeliharaan induk secara intensif sehingga produktivitasnya lebih tinggi. Di sisi lain, wilayah asal seperti Kapuas Hulu memiliki keunggulan sebagai sumber genetik dan pusat konservasi, sehingga perannya tidak hanya sebagai lokasi produksi tetapi juga sebagai penjaga keberlanjutan sumber daya arwana Indonesia.

Baca juga: ekosistem-bisnis-ikan-hias-indonesia-menuju-dunia 

Data ini juga memperlihatkan bahwa industri arwana memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan komoditas ikan konsumsi. Nilai ekonomi arwana lebih ditentukan oleh kualitas, warna, ukuran, sertifikasi, dan keturunan dibandingkan volume semata. Seekor arwana berkualitas tinggi dapat memiliki nilai yang setara dengan ribuan ekor ikan konsumsi. Oleh sebab itu, peningkatan daya saing industri tidak hanya dilakukan melalui peningkatan jumlah produksi, tetapi juga melalui perbaikan mutu genetik, sertifikasi, penelusuran asal (traceability), kesehatan ikan, serta penguatan merek Indonesia di pasar internasional.

Melihat perkembangan tersebut, terdapat beberapa agenda strategis yang layak menjadi perhatian. Pertama, pemerintah perlu memperluas sentra budidaya agar produksi nasional tidak terlalu bergantung pada beberapa daerah saja. Kedua, penguatan sistem statistik produksi perlu terus dilakukan sehingga perubahan volume dapat mencerminkan kondisi riil di lapangan. Ketiga, pengembangan budidaya harus berjalan seiring dengan konservasi plasma nutfah, khususnya untuk jenis-jenis arwana endemik Indonesia. Keempat, peningkatan akses pasar ekspor melalui sertifikasi dan digitalisasi perdagangan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya saing Indonesia sebagai pemasok arwana dunia.

Dus, data produksi arwana Indonesia memberikan pelajaran penting bahwa pusat produksi tidak selalu berada di daerah asal spesies tersebut. Kota Bekasi, Kabupaten Magelang, Sleman, Sukabumi, Pekanbaru, dan Kapuas Hulu menjadi contoh bagaimana kombinasi teknologi, pengalaman pembudidaya, akses pasar, dan dukungan kelembagaan mampu membentuk klaster industri yang kuat. Di tengah meningkatnya permintaan ikan hias dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya menjadi produsen terbesar, tetapi juga menjadi pemimpin dalam budidaya arwana yang berkelanjutan, legal, dan berbasis konservasi. Dengan strategi yang tepat, arwana tidak hanya akan menjadi simbol kemewahan di akuarium para kolektor, tetapi juga menjadi salah satu penggerak ekonomi biru Indonesia di masa depan.

 


Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

   Send article as PDF   

Anda mungkin juga menyukai:

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca