
Oleh: Suhana
Sektor kelautan dan perikanan Indonesia sering kali dinobatkan sebagai salah satu benteng utama perekonomian nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, lonjakan biaya logistik maritim, dan ancaman perubahan iklim yang kian nyata, aktivitas perdagangan hasil laut Indonesia terus berdenyut. Namun, di balik narasi optimisme dan deretan angka surplus neraca perdagangan yang kerap dibanggakan pemerintah, terdapat dinamika struktural yang membutuhkan pembacaan kritis dan objektif.
Melihat kembali kinerja perdagangan ekspor-impor perikanan Indonesia dalam kurun waktu 2024 hingga 2025 memberikan cakrawala yang sangat berharga. Periode dua tahun ini bukan sekadar tentang pemulihan angka ekspor pasca-kelesuan ekonomi global tahun 2023, melainkan sebuah cermin yang memantulkan kerentanan, ketergantungan pasar, serta ketimpangan spasial yang masih mengakar dalam industri perikanan nasional.
Rebound Komoditas atau Sekadar Efek Inflasi Harga?
Jika kita menengok catatan historis perdagangan perikanan Indonesia sejak awal dekade 2020-an, grafik perjalanan ekspor nasional sempat mengalami guncangan cukup hebat pada tahun 2023. Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2022 dengan nilai ekspor sebesar USD 6,24 miliar, ekspor perikanan nasional terkoreksi tajam sebesar -9,79 persen pada tahun 2023 menjadi USD 5,63 miliar. Tekanan inflasi global di negara-negara tujuan utama serta penurunan daya beli konsumen internasional menjadi pukulan telak bagi eksportir dalam negeri.
Namun, memasuki tahun 2024, narasi perdagangan mulai berubah. Sektor perikanan berhasil mencatatkan pemulihan (rebound) dengan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 5,73 persen YoY, menembus angka USD 5,95 miliar. Tren positif ini terus berlanjut hingga sepanjang tahun 2025, di mana nilai ekspor perikanan Indonesia berhasil memecahkan rekor tertinggi baru sepanjang sejarah dengan capaian USD 6,27 miliar, atau tumbuh sebesar 5,25 persen YoY.
Tabel 1. Tren Kinerja Perdagangan Perikanan Indonesia (2020–2025)
| Tahun | Nilai Ekspor (Juta USD) | YoY Ekspor (%) | Nilai Impor (Juta USD) | Surplus (Juta USD) |
| 2000 | 5.205,19 | 405,39 | 4.799,81 | |
| 2021 | 5.718,83 | +9,87% | 476,97 | 5.241,86 |
| 2022 | 6.242,08 | +9,15% | 702,17 | 5.539,92 |
| 2023 | 5.630,95 | -9,79% | 650,74 | 4.980,21 |
| 2024 | 5.953,81 | +5,73% | 522,05 | 5.431,76 |
| 2025 | 6.266,16 | +5,25% | 670,41 | 5.595,75 |
Sumber: BPS RI (2026), diolah
Di atas kertas, pencapaian surplus perdagangan perikanan yang menembus USD 5,43 miliar pada tahun 2024 dan USD 5,60 miliar pada tahun 2025 adalah prestasi yang patut diapresiasi. Neraca perdagangan sektor ini membuktikan bahwa Indonesia konsisten menjadi net exporter hasil laut dengan nilai impor yang tergolong sangat kecil (berkisar 8 hingga 10 persen dari total nilai ekspor).
Akan tetapi, analisis yang lebih mendalam terhadap volume barang menyajikan cerita yang sedikit berbeda dan memerlukan kecermatan. Pada tahun 2024, lonjakan nilai ekspor didorong oleh kenaikan volume pengiriman barang yang cukup signifikan, yakni melonjak 16,71 persen menjadi 1,43 juta ton (dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 1,22 juta ton). Namun, pada tahun 2025, ketika nilai ekspor tumbuh ke angka USD 6,27 miliar, volume ekspor justru mengalami penurunan tipis sebesar -1,74 persen menjadi 1,40 juta ton.
Hal ini mengindikasikan bahwa lonjakan nilai ekspor pada tahun 2025 tidak sepenuhnya disebabkan oleh kenaikan kapasitas produksi atau kenaikan volume komoditas yang berhasil dijual ke luar negeri, melainkan turut dipengaruhi oleh faktor penyesuaian harga jual rata-rata di tingkat internasional serta dinamika nilai tukar. Ketergantungan pertumbuhan nilai pada pergerakan harga komoditas global ini menyimpan risiko tersembunyi jika sewaktu-waktu harga pasar internasional kembali melemah.
Baca juga: Ekspor perikanan penopang sunyi ekonomi Indonesia
Udang Memimpin, Namun Ketergantungan Pasar Menjadi Celah
Membedah komoditas utama pendulang devisa selama periode 2024–2025 memperlihatkan struktur ekspor yang masih sangat terkonsentrasi pada beberapa komoditas tradisional. Udang tetap memegang mahkota sebagai komoditas ekspor terbesar Indonesia.
Pada tahun 2024, nilai ekspor udang tercatat sebesar USD 1,68 miliar dan melonjak pesat 11,22 persen pada tahun 2025 menjadi USD 1,87 miliar. Nilai ekspor udang pada tahun 2025 saja menyumbang hampir sepertiga (29,83 persen) dari total devisa perikanan Indonesia. Di posisi kedua, kelompok Tuna-Tongkol-Cakalang (TTC) menyumbang USD 1,04 miliar (16,53 persen pangsa pasar), disusul oleh Cumi-Sotong-Gurita sebesar USD 889,73 juta (14,20 persen), Rajungan-Kepiting sebesar USD 507,74 juta (8,10 persen), serta Rumput Laut sebesar USD 315,62 juta (5,04 persen).
Tabel 2. Kontribusi Komoditas Utama Ekspor Perikanan Indonesia (2024 Vs 2025)
| Komoditas Utama | Nilai 2024 (Juta USD) | Nilai 2025 (Juta USD) | Pertumbuhan (%) | Pangsa 2025 (%) |
| Udang | 1,680.31 | 1,868.90 | 11.22 | 29.83 |
| Tuna-Cakalang-Tongkol | 1,034.71 | 1,036.04 | 0.13 | 16.53 |
| Cumi-Sotong-Gurita | 874.12 | 889.73 | 1.79 | 14.20 |
| Rajungan-Kepiting | 513.35 | 507.74 | (1.09) | 8.10 |
| Rumput Laut | 342.16 | 315.62 | (7.76) | 5.04 |
Sumber: BPS RI (2026), diolah
Meskipun kenaikan ekspor udang pada tahun 2025 nampak menggiurkan, kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa beberapa komoditas unggulan lainnya justru mengalami tekanan. Ekspor rumput laut nasional, misalnya, mengalami penurunan cukup dalam sebesar -7,76 persen pada tahun 2025. Penurunan ini mempertegas masalah klasik industri rumput laut Indonesia: ketergantungan pada ekspor bahan mentah (dried seaweed) yang harganya sangat rapuh terhadap fluktuasi permintaan industri olahan di Tiongkok. Begitu pula dengan kelompok Rajungan-Kepiting yang terkoreksi sebesar -1,09 persen, yang tak lepas dari makin ketatnya regulasi batas penangkapan serta isu kelestarian stok di habitat alam.
Di sisi lain, potret negara tujuan ekspor semakin mempertegas betapa ringkihnya posisi tawar Indonesia akibat ketergantungan pasar (market concentration). Selama periode 2024–2025, Amerika Serikat bertahan kokoh sebagai pasar utama produk perikanan Indonesia. Pada tahun 2025, nilai ekspor perikanan Indonesia ke AS mencapai USD 1,99 miliar, atau menguasai 31,81 persen dari total ekspor nasional. Pasar terbesar kedua adalah Tiongkok dengan nilai USD 1,22 miliar (19,54 persen), diikuti Jepang sebesar USD 613,65 juta (9,79 persen), dan Vietnam sebesar USD 479,06 juta (7,65 persen).
Tabel 3. Top 5 Negara Tujuan Ekspor Perikanan Indonesia (2025)
| Peringkat | Negara Tujuan | Nilai Ekspor (Juta USD) | Pangsa (%) |
| 1 | United States | 1,993.02 | 31.81 |
| 2 | China | 1,224.36 | 19.54 |
| 3 | Japan | 613.65 | 9.79 |
| 4 | Viet Nam | 479.06 | 7.65 |
| 5 | Thailand | 219.59 | 3.50 |
Sumber: BPS RI (2026), diolah
Kenyataan bahwa lebih dari setengah devisa perikanan Indonesia (51,35 persen) hanya bergantung pada dua negara—Amerika Serikat dan Tiongkok—merupakan alarm keras bagi kebijakan perdagangan internasional kita. Ketika AS memperketat regulasi impor melalui tuduhan sertifikasi proteksionisme, isu tuduhan antidumping pada komoditas udang, atau ketika Tiongkok memperlambat laju penyerapan industri pengolahannya, dampak sistemik langsung dirasakan oleh ribuan petambak dan nelayan lokal di pelosok nusantara.
Paradoks Geografis: Kekayaan Laut di Timur, Devisa Menumpuk di Barat
Pelajaran paling krusial sekaligus mengganjal dari kilas balik ekspor perikanan tahun 2024–2025 terletak pada aspek disparitas pembangunan wilayah. Data pendaftaran provinsi asal barang ekspor memperlihatkan sebuah paradoks pembangunan maritim yang nyata: Indonesia bagian timur kaya akan sumber daya laut, tetapi Indonesia bagian barat menikmati kue devisanya.
Pada tahun 2025, Provinsi Jawa Timur memimpin sebagai daerah asal ekspor perikanan terbesar di Indonesia dengan mencatatkan nilai sebesar USD 1,84 miliar, atau menyumbang 29,38 persen dari total ekspor nasional. Posisi kedua ditempati oleh DKI Jakarta dengan nilai USD 1,23 miliar (19,62 persen). Jika kita menjumlahkan seluruh provinsi di Pulau Jawa (Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten), maka Pulau Jawa secara akumulatif menguasai lebih dari 68 persen total nilai ekspor perikanan Indonesia.
Tabel 4. Top 5 Provinsi Asal Produk Ekspor Perikanan Indonesia (2025)
| Peringkat | Provinsi Asal | Nilai Ekspor (Juta USD) | Pangsa (%) |
| 1 | Jawa Timur | 1,840.99 | 29.38 |
| 2 | DKI Jakarta | 1,229.62 | 19.62 |
| 3 | Sulawesi Selatan | 453.93 | 7.24 |
| 4 | Sumatera Utara | 446.17 | 7.12 |
| 5 | Jawa Barat | 439.14 | 7.01 |
Sumber: BPS RI (2026), diolah
Pertanyaannya kemudian: Apakah perairan Pulau Jawa memang menghasilkan dua pertiga dari seluruh tangkapan dan hasil budidaya perikanan Indonesia? Jawabannya tentu saja tidak.
Mayoritas Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dengan potensi tangkapan terbesar berada di wilayah tengah dan timur Indonesia—seperti Laut Arafura, Perairan Maluku, dan Laut Sulawesi. Namun, karena keterbatasan infrastruktur unit pengolahan ikan (UPI), minimnya fasilitas cold storage bermutu tinggi, serta jangkauan rantai dingin (cold chain) yang belum merata, hasil laut dari wilayah timur terpaksa diangkut mentah menuju Pulau Jawa untuk diolah, dikemas, dan didaftarkan sebagai dokumen ekspor asal Jawa.
Disparitas ini menimbulkan beban biaya logistik antarwilayah yang sangat mahal (high-cost economy). Nelayan dan pelaku usaha kecil di kawasan Indonesia Timur tidak mendapatkan nilai tambah (added value) secara maksimal dari kekayaan laut daerahnya sendiri. Pemerintah daerah di luar Jawa pun kehilangan potensi penerimaan serta dampak berganda (multiplier effect) dari penciptaan lapangan kerja industri hilirisasi perikanan.
Rekomendasi Kebijakan Strategis
Pelajaran berharga dari capaian ekspor perikanan tahun 2024–2025 menggarisbawahi bahwa kesuksesan perdagangan perikanan tidak boleh lagi diukur semata-mata dari seberapa besar angka surplus yang diraih pada akhir tahun. Kebijakan pembangunan sektor perikanan nasional harus berani menyentuh akar masalah struktural melalui beberapa langkah pembenahan yang tegas.
Pertama, percepatan hilirisasi berbasis wilayah produksi. Pemerintah harus memberi insentif investasi yang nyata untuk membangun Unit Pengolahan Ikan (UPI) berstandar internasional langsung di wilayah pusat produksi utama di Indonesia Timur. Memindahkan sentra hilirisasi mendekati lokasi pendaratan ikan akan memangkas biaya rantai dingin secara signifikan, meningkatkan kualitas kesegaran produk ekspor, serta mengoreksi ketimpangan pembangunan antarwilayah.
Kedua, diversifikasi pasar luar negeri secara Agresif. Ketergantungan sebesar 31,81 persen pada pasar Amerika Serikat adalah kerentanan geopolitik yang membahayakan. Pemerintah bersama asosiasi eksportir harus lebih agresif melakukan penetrasi pasar ke kawasan non-tradisional yang potensial, seperti negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) di Timur Tengah, kawasan Eropa Timur, Asia Selatan, serta mengoptimalkan perjanjian kerja sama perdagangan bilateral maupun regional yang sudah ada.
Ketiga, pergeseran dari bahan mentah ke produk berorientasi nilai tambah. Penurunan nilai ekspor pada komoditas seperti rumput laut menunjukkan bahaya laten ketergantungan pada bahan baku mentah. Strategi industri perikanan nasional harus difokuskan pada pengolahan tingkat lanjut—seperti ekstraksi murni untuk industri farmasi, kosmetik, dan bahan pangan olahan—sehingga Indonesia tidak lagi menjadi sekadar penyedia bahan baku murah bagi industri negara lain.
Keempat, penguatan tata kelola keberlanjutan dan keterlacakan (Traceability). Pasar global masa depan semakin menuntut transparansi rantai pasok. Regulasi ketat terkait keberlanjutan ekosistem, sertifikasi penangkapan ikan yang legal (Anti-IUU Fishing), serta jaminan kesejahteraan tenaga kerja perikanan menjadi syarat mutlak jika Indonesia ingin mempertahankan daya saing produknya di pasar Eropa dan Amerika.
Dus, pencapaian rekor nilai ekspor USD 6,27 miliar pada tahun 2025 adalah landasan yang kokoh. Namun, mempertahankan pertumbuhan tersebut di masa depan membutuhkan keberanian untuk membenahi tata kelola dari hilir hingga ke hulu. Tanpa efisiensi logistik, efisiensi rantai dingin, pemerataan hilirisasi, dan diversifikasi pasar, rekor angka-angka ekspor tersebut akan selalu berada di bawah bayang-bayang kerentanan global.
Eksplorasi konten lain dari Literasi Ekonomi Kelautan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
