
Oleh : Suhana
Industri perikanan Indonesia, khususnya ekspor udang, kini menghadapi tantangan besar, namun juga kesempatan besar untuk merebut pasar internasional, terutama Amerika Serikat (AS). Dengan pemberlakuan tarif tinggi oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk dari negara-negara tertentu, serta masalah kontaminasi cesium-137 yang mengancam reputasi produk Udang, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah tantangan ini menjadi keuntungan.
Ketergantungan Pasar Udang USA dari Impor
Pasokan udang di pasar Amerika Serikat selama ini sangat tergantung pada impor dari negara-negara produsen udang dunia, termasuk Indonesia. Pada periode 2000-2020 rasio produksi udang lokal terhadap kebutuhan udang Amerika Serikat rata-rata dibawah 1% (Gambar 1). Artinya lebih dari 99% pasokan udang Amerika Serikat sangat tergantung pada pasokan dari impor.

Tabel 1. Impor Udang Amerika Serikat Tahun 2024 dan Tarrif Trump 2025

Tarif Trump dan Kasus Cesium-137
Pada awal Agustus 2025, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif hingga 50% terhadap impor udang dari India, yang merupakan pemasok terbesar udang ke AS. Tarif ini terdiri dari tarif balasan 25% dan tambahan 25% sebagai sanksi atas kebijakan energi India. Akibatnya, volume ekspor udang India ke AS diperkirakan akan turun sebesar 15–18% pada tahun fiskal 2025, dengan penurunan pendapatan sebesar 18–20% dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa eksportir India telah menghentikan pengiriman dan mencari pasar alternatif seperti China, Jepang, dan Eropa (Lalatendu Mishra, 2025).
Di sisi lain, negara-negara seperti Vietnam dan Indonesia, yang sebelumnya menghadapi tarif tinggi, kini menikmati tarif yang lebih rendah. Vietnam, misalnya, dikenakan tarif 20% setelah penurunan dari 25%, sementara Indonesia mendapatkan tarif 19% setelah negosiasi bilateral.
Dengan berkurangnya pasokan dari India, negara-negara yang berpeluang untuk meningkatkan ekspor udang mereka ke AS, yaitu pertama, Ecuador, sebagai pemasok terbesar kedua, Ecuador menghadapi tarif 15%, yang lebih rendah dibandingkan India. Mereka dapat memanfaatkan situasi ini untuk meningkatkan pangsa pasar mereka di AS (Peroni & Ignacio Garcia, 2025). Kedua, Vietnam dan Indonesia, dengan tarif yang lebih rendah, kedua negara ini dapat meningkatkan volume ekspor mereka ke AS. Vietnam, misalnya, mengalami peningkatan ekspor sebesar 6,9% pada tahun 2025 (Reuters Team, 2025). Ketiga, Thailand dan Meksiko, kedua negara ini masing-masing memiliki tarif 19% dan 25% (BBC Visual Journalism team, 2025). Meskipun tarif Meksiko lebih tinggi, kedekatannya dengan AS dapat menjadi keuntungan logistik.
Namun demikian, pada 14 Agustus 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mendeteksi keberadaan cesium-137 (Cs-137) pada udang dari perusahaan Indonesia, PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods). Kadar Cs-137 yang terdeteksi adalah 68,48 Bq/kg dengan margin of error ±8,25 Bq/kg. Kadar ini masih jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh FDA, yaitu 1.200 Bq/kg (FDA, 2025). Bahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1031 tahun 2011 disebutkan bahwa batas maksimum Cs-137 dalam komoditas ikan dan hasil laut lainnya adalah 500 Bq/kg (Menteri Kesehatan RI, 2011).
Akan tetapi, meskipun rendah, kadar ini lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat latar belakang alami, yang biasanya sekitar 0,1–0,2 Bq/kg. Penting untuk dicatat bahwa meskipun kadar ini tidak menimbulkan bahaya langsung, paparan jangka panjang terhadap radiasi dapat meningkatkan risiko kanker (FDA, 2025). Temuan cesium-137 (Cs-137) tersebut telah memicu dampak signifikan, baik dari segi kesehatan, ekonomi, maupun reputasi industri perikanan Indonesia di pasar internasional. Terlebih kontribusi PT. Bahari Makmur Sejati selama ini sangat signifikan dalam ekspor udang Indonesia.
Meskipun kadar radioaktifnya berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh FDA, kejadian ini dapat menimbulkan ketidakpercayaan terhadap kualitas produk ekspor Indonesia. Hal ini berdampak pada pembatasan ekspor udang ke pasar AS, dengan potensi kerugian besar bagi petambak dan pelaku usaha di sektor ini.
Isu ini bukan hanya menjadi tantangan bagi sektor perikanan, tetapi juga bagi kebijakan perdagangan dan pengawasan pangan Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan dan langkah-langkah yang lebih terintegrasi dan terkoordinasi antara pemerintah dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak yang lebih luas serta memastikan keberlanjutan industri udang di pasar global.
Menangkap Ketidakpastian dengan Kualitas dan Keamanan
Indonesia memiliki kesempatan besar untuk kembali menguasai pasar. Setelah penurunan ekspor dari India dan China, permintaan terhadap udang tetap tinggi di pasar AS. Jika Indonesia dapat memastikan bahwa produknya bebas dari kontaminasi dan memenuhi standar kualitas internasional, negara ini dapat memperluas pangsa pasarnya dengan cepat.
Sebagai tambahan, Indonesia juga harus mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat daya saing produk udang dipasar global, yaitu pertama, Meningkatkan Sistem Keamanan Pangan. Keamanan pangan dan sertifikasi bebas radiasi adalah langkah penting untuk memulihkan kepercayaan pasar. Indonesia perlu meningkatkan proses sertifikasi dan memastikan bahwa produk udang yang diekspor ke AS memenuhi standar yang lebih ketat.
Kedua, Diversifikasi Pasar. Selain pasar AS, Indonesia juga harus menjajaki pasar alternatif seperti Jepang, Eropa, dan negara-negara di Timur Tengah. Diversifikasi pasar akan mengurangi ketergantungan pada satu negara, sekaligus memberikan stabilitas bagi industri.
Ketiga, Inovasi dalam Pemasaran dan Branding. Pasar global semakin peduli dengan keberlanjutan dan kualitas. Indonesia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan meningkatkan brand udangnya sebagai produk yang aman, berkualitas, dan ramah lingkungan.
Keempat, bangun strategi komunikasi proaktif. Setiap isu yang menyangkut keamanan pangan, seperti tuduhan kontaminasi radioaktif, harus ditangani dengan pendekatan komunikasi yang cepat dan berbasis data. Pemerintah Bersama Pelaku usaha dan asosiasi industri perlu membentuk Crisis Communication Desk yang dapat merilis klarifikasi publik secara resmi dan transparan. Publikasi hasil uji laboratorium secara berkala juga perlu dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen dan mitra dagang internasional.
Menyeimbangkan Antara Tantangan dan Peluang
Jika Indonesia berhasil memanfaatkan peluang ini, dampak positifnya terhadap ekonomi Indonesia bisa sangat besar. Ekspor udang yang meningkat tidak hanya akan mendatangkan devisa, tetapi juga memberikan manfaat sosial-ekonomi. Industri perikanan dapat menjadi sumber pekerjaan bagi lebih banyak orang, mengurangi tingkat pengangguran, dan meningkatkan taraf hidup nelayan dan pengolah udang di berbagai daerah.
Selain itu, Indonesia juga dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam pasar global udang. Dengan kualitas yang terjamin dan sistem pengawasan yang lebih baik, Indonesia dapat mendapatkan kepercayaan dari konsumen global, terutama di pasar-pasar yang lebih sensitif terhadap kualitas produk seperti AS dan Eropa.
Tentu saja, peluang ini tidak datang tanpa risiko. Ketergantungan pada kebijakan perdagangan AS dan negara-negara besar lainnya bisa menjadi tantangan jangka panjang. Selain itu, persaingan dengan negara-negara penghasil udang lain seperti Vietnam, Ecuador, dan Thailand juga perlu diperhitungkan. Namun, dengan strategi yang tepat, Indonesia memiliki potensi untuk mengubah tantangan ini menjadi peluang besar.
Dus, meskipun menghadapi beberapa tantangan serius, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor udangnya ke AS dan pasar global lainnya. Dengan tarif yang lebih kompetitif, kemampuan untuk mengatasi isu kontaminasi, dan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas serta diversifikasi pasar, Indonesia bisa meraih kesuksesan di pasar internasional. Pasar udang global akan terus berkembang, dan dengan pendekatan yang tepat, Indonesia bisa menjadi pemain utama yang mampu memenuhi permintaan pasar internasional dengan produk udang yang aman, berkualitas, dan terpercaya.
Referensi
BBC Visual Journalism team. (2025, August 7). See the Trump tariffs list by country. Https://Www.Bbc.Com/. https://www.bbc.com/news/articles/c5ypxnnyg7jo
FDA. (2025, October 7). FDA Advises Public Not to Eat, Sell, or Serve Certain Imported Frozen Shrimp from an Indonesian Firm. Https://Www.Fda.Gov/Food/Alerts-Advisories-Safety-Information/Fda-Advises-Public-Not-Eat-Sell-or-Serve-Certain-Imported-Frozen-Shrimp-Indonesian-Firm?Utm_source=chatgpt.Com. https://www.accessdata.fda.gov/cms_ia/importalert_1187.html
[FUS] Fisheries of the United States. (2025, October 18). US Trade in Fishery ProductsTrade. Https://Www.Fisheries.Noaa.Gov/. https://www.fisheries.noaa.gov/foss/f?p=215:2:17031829526272:::::
Lalatendu Mishra. (2025, August 29). Shrimp export volume set to decline 15-18% on higher U.S. tariffs, says CRISIL. Https://Www.Thehindu.Com/. https://www.thehindu.com/business/Industry/shrimp-export-volume-set-to-decline-15-18-on-higher-us-tariffs-says-crisil/article69988096.ece
Peraturan Menteri Kesehatan RI No 1031 Tahun 2011 Tentang Batas Maksimum Cemaran Radioaktif Dalam Pangan, Kementerian Kesehatan RI (2011).
Peroni, F., & Ignacio Garcia. (2025, August 1). US tariffs reshape shrimp market, favoring Ecuador over India. Https://Www.Spglobal.Com/. https://www.spglobal.com/commodity-insights/en/news-research/latest-news/agriculture/081125-us-tariffs-reshape-shrimp-market-favoring-ecuador-over-india?
Reuters Team. (2025, September 16). Vietnam asks United States reconsider seafood export ban (https://www.reuters.com/, Trans.). Https://Www.Reuters.Com/. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/vietnam-asks-united-states-reconsider-seafood-export-ban-2025-09-16/?utm_source=chatgpt.com
